
Kekerasan kepala Panembah Swara membangkitkan kemarahan Kidang Panah yang sudah menahan diri sedari tadi pada sikap tanpa kompromi pendekar tua itu. Tangan Kidang Panah sampai gemetar menahan sulut emosinya, " Kau...!!! Kau orang tua, jangan paksa aku melupakan adab karena sikapmu. Ini terakhir kali, serahkan surat itu padaku. Sekarang!!!"
Setitik darah menetes dari sudut bibir Panembah Swara. Namun itu tidak juga menghalangi bibirnya untuk tersenyum mengejek, " Kalau tidak?"
" Kubunuh kau!" pekik Kidang Panah seraya mengepalkan tangan dan siap menghujamkan pukulan mematikan pada Panembah Swara.
" Hehe...bunuh saja. Siapa yang takut? Atau kau yang takut membunuhku?"
Karna menahan lengan Kidang Panah yang sudah terangkat, " Sabar, Kang. Sabar! Yang kita butuhkan surat, bukan nyawa Bapa Guru Panembah Swara."
" Wingit, diam kau! Jangan sebut dia sebagai guru. Tak layak dia menyandang gelar guru!" sahut Kidang Panah. " Bersikap sebagai orang tua saja dia tak mampu. Bagaimana layak disebut guru kalau pekerjaannya mencuri surat yang bukan miliknya? Maling lebih tepat jadi namamu, orang tua keparat!"
" Iya, Kang, " Karna merendahkan suaranya untuk meredam amarah Kidang Panah, " Tapi jangan sampai karena marah, kita justru kehilangan surat itu."
Melihat Kidang Panah dan Karna berdebat sendiri, Panembah Swara tertawa terbahak di antara batuk darahnya, " Hahahaha....ada dua pemuda sakti tapi tak punya otak!"
Mendengar ejekan itu, kemarahan Kidang Panah kembali membara. Ia tepis tangan Karna yang menahannya, "'Kau diam dan jangan ikut campur dulu, Wingit. Kalau tidak tahan dengan caraku, menyingkir ke sana dan jangan lihat apa yang akan kulakukan pada tua bangka ini!'
Karna menatap mata Kidang Panah dan ingin membuka mulutnya, namun Kidang Panah mendahului dengan menggeram, " Pergi kau, Karna. Biar aku yang mengurus orang tua tak tahu malu ini. Aku tidak punya banyak waktu untuk berdebat!"
Karna melihat sorot mata Kidang Panah berkilat merah tanda sangat marah. Terlintas kilau kekejaman di sana. Karna tahu, Kidang Panah tidak bisa dicegah lagi. Ia memundurkan langkahnya, sebagai upaya terakhir sebelum meninggalkan mereka Karna masih berkata, " Bapa Panembah, mohon serahkan saja surat itu, kami akan pergi baik-baik."
Panembah Swara menatap Karna. Ia tersenyum seperti orang dewasa melihat tingkah lucu anak kecil. Dengan menggelengkan kepala, ia menjawab lirih namun tegas, " Tidak...."
Karna melompat turun dari ceruk goa, meninggalkan mereka berdua. Saat kakinya menapak lantai goa, belasan siswa Panembah Swara berdiri dengan sikap waspada. Karna melangkah lelah. Ia sebenarnya juga sangat lelah menghadapi sikap keras kepala Panembah Swara. Melihat mereka menatapnya dengan sikap waspada, Karna berujar lirih, " Aku tidak punya urusan dengan kalian. Urusanku hanya dengan guru kalian. Jangan coba-coba menggugah kemarahanku. Untuk membunuh kalian semua bukan hal yang sulit bagiku."
__ADS_1
Tidak seorang pun berani menjawab kalimat Karna. Baru kali ini Karna berucap dengan kata-kata sekeras itu. Tapi memang Karna sedang sangat lelah pikirannya setelah sejauh ini dia, Kidang Panah dan Julig bertaruh nyawa dan berhasil memenangkan semua pertarungan fisik, pada akhirnya kembali mentah karena kepribadian Panembah Swara yang tidak mau menerima kekalahan. Para siswa membiarkan Karna berjalan ke pojok goa untuk duduk bersila memulihkan tenaga.
Sementara di ceruk atas, Kidang Panah yang sudah gelap hatinya tak memiliki cara lain untuk meminta sobekan surat Gajahmada selain dengan menyiksa Panembah Swara.
Kidang Panah menghunus belati yang terselip di pinggangnya. Dengan perlahan duduk di samping Panembah Swara.
" Kau tahu aku punya ilmu sihir? " dengus Kidang Panah sambil memainkan belati di depan wajah Panembah Swara yang sudah tidak mampu berdiri.
Panembah Swara dengan ekspresi wajah datar menoleh membalas tatapan Kidang Panah, " Aku tahu. Apa kau pikir kau bisa menguasai pikiranku dengan sihirmu? Tidak. Kau tidak bisa menguasai pikiranku. Pikiranku hanya dapat diperintah oleh niatku, bukan sihirmu. Sekali aku berniat tidak, pikiranku tetap berkata tidak."
Kidang Panah tersenyum sinis, " Aku tahu itu, Tua Bangka. Aku bisa mengukur ketahanan pikiranmu. Kau ahli meditasi, pertahanan pikiranmu kuat. Tapi bukan itu yang akan aku katakan. Aku tidak akan menggunakan sihir apapun padamu."
" Lalu?" justru Panembah Swara dengan senyum mengejek memotong pembicaraan Kidang Panah.
" Tidak perlu menceramahiku tentang agama, Bocah kemarin sore. Katakan saja apa yang akan kau lakukan, karena jawabanku tetap tidak," sahut Panembah Swara dengan nada tajam.
" Kau memang orang tua bangka yang tak tahu malu. Aku tidak perlu minta maaf dan menyesal telah kehilangan seluruh rasa hormat dan kesopananmu padamu, karena kau memang tidak layak dianggap tua dan dihormati. Yang ingin kukatakan adalah, belati asli ini sangat senang menyayat-nyayat dagingmu. Potong per potong. Kalau perlu memotong lidahmu yang berbisa sebagai guru gadungan, berbisa melebihi ular. Mencongkel matamu yang tidak bisa melihat keinginan damaiku. Kalau pun harus kulakukan membelah dadamu dan memakan jantungmu agar kau menyerahkan sobekan suratku itu, akan kulakan, Keparat! Kau mau menantang kekejamanku? Kau bilang pikiranmu hanya bisa diperintah oleh tekadmu? Aku juga begitu! Sampai surat itu kudapat, kau akan merasakan siksaanku, manusia terkutuk!"
Namun, bukannya takut Panembah Swara atas ancaman siksaan Kidang Panah, justru ia tertawa terkekeh mengejek, " Jangan banyak omong. Seorang ksatria tidak dinilai dari besarnya omongan, tapi dari bukti perbuatannya. Cepat siksa aku, aku siap menikmatinya! Hahaha...dasar ksatria tanpa otak!'
Kidang Panah menggeram, tak dapat menahan lagi luap kemarahannya. Seketika ia tancapkan belati ke paha Panembah Swara.
" Craaasshh . . !!! " Pisau belati menancap menembus daging Panembah Swara hingga ujungnya terbentur tulang.
" Zzzzzrrrrr...." darah muncrat deras dari paha Panembah Swara.
__ADS_1
Seluruh permukaan bangku berwarna merah oleh darah Panembah Swara yang mengalir deras bagai pancuran.
Kidang Panah menatap wajah Panembah Swara. Paras mukanya memucat, makin lama makin memutih karena kehilangan darah, namun tak ada sedikitpun kesan sakit terlihat. Justru Panembah Swara tersenyum dengan bibir yang mulai membiru.
" Hehehe... kau pikir ini menyakitkan aku, Bocah bodoh? Aku telah menguasai pikiran sampai ke syaraf-syarafnya...jika aku memerintahkan pikiranku untuk tidak merasa sakit, syarafku pun tidak akan merasa sakit. Hehehe...kubantu kau cara memahami rasa sakit, Bocah Bodoh. Lihat sekarang!"
Panembah Swara memegang gagang belati. Tiba-tiba ia menggerakkan belati itu naik mengiris pahanya sendiri sampai ke pangkal paha.
Daging paha Panembah Swara terbuka hingga permukaan tulangnya terlihat. Justru Kidang Panah yang bergidik ngeri menatap Panembah Swara mengiris-iris dagingnya sendiri.
Kidang Panah berdiri dan meluruhkan langkah tidak menyangka Panembah Swara ternyata lebih gila dari dirinya sendiri. Belati dan daging itu nyata, bukan sihir, tetapi Panembah Swara memperlakukan tubuhnya sendiri seperti sihir. Kidang Panah baru sadar, bahwa kemampuan Panembah Swara jauh di atas yang ia perkirakan sebelumnya. Panembah Swara telah sampai di tingkat meditasi puncak yang mampu mengendalikan syaraf perasa hingga tidak merasakan sakit. Percuma menyiksa orang yang sudah tidak bisa merasakan rasa sakit!
Wajah Kidang Panah memucat, kehilangan cara terakhir untuk menaklukkan Panembah Swara. Harapannya untuk memperoleh sobekan surat Gajahmada melalui siksaan pudar seketika.
Saat Kidang Panah linglung tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan, tiba-tiba dari bawah terdengar lirih namanya disebut
" Kang Kidang, sini...turun sebentar ..."
Kidang Panah melongokkan kepalanya ke bawah melewati lantai ceruk. Ia melihat Karna menggandeng seseorang yang melambai-lambaikan tangannya.
Orang yang melambai-lambaikan tangannya di samping Karna itu adalah Julig yang sudah berpakaian laki-laki.
Ya, Julig sedang memanggil nama Kidang Panah yang sedang kehabisan cara.
***.
__ADS_1