
Kridha Langit menghentikan langkahnya. Peringatan Sena tidak bisa dipandang remeh. Meski ia yakin prajurit Bhayangkara mampu mengatasi 12 orang itu dengan kelebihan personil dan persenjataan lengkap, namun 12 orang anak buah Kidang Panah pasti memiliki kemampuan tempur di atas rata-rata. Apalagi jika nanti ada korban jatuh dari antara mereka, Kidang Panah bisa terpancing kemarahannya dan berubah pikiran ikut melawan. Akibatnya bisa sangat merugikan. Korban dari pihak prajurit Bhayangkara bisa sangat besar. Dengan mengukur kemampuan bela diri Kidang Panah, Kridha Langit memperkirakan amukan Kidang Panah setara dengan kekuatan 50 prajuritnya. Namun, sebagai perwira Bhayangkara, pantang baginya pulang dengan membawa kegagalan.
" Jangan coba-coba menghalangi tugas Negara kau, Sena ! Kami Bhayangkara tidak bisa ditekan siapapun, " hardik Kridha Langit.
Sena tertawa mengejek, " Kau yang jangan coba-coba menguji nyali kami, Kridha Langit. Tiap hari urusan kami berhadapan dengan kematian. Mati hari ini atau esok hari tidak ada bedanya. Kakang Kidang Panah pemimpin kami, bapak bagi keluarga kami, membahayakan nyawanya berarti mengail kematianmu sendiri!"
Kridha Langit sejenak dilanda dilema, antara menjaga keselamatan sebagian besar prajuritnya atau melaksanakan tugas Negara. Namun, sebagai prajurit, tidak ada yang lebih berharga dalam hidupnya kecuali melayani kepentingan Negara dengan melaksanakan tugas sebaik-baiknya, meski itu berarti harus ditebus dengan kematian. Ia akan menyambut maut dengan bangga.
" Prajurit, siaga panah !" Perintah Kridha Langit menggelegar tanpa sangsi.
Prajurit Bhayangkara secepat kilat merentangkan gendewa, memasang anak panah dan membentuk formasi serang.
" Kura Makuwu ! " Sena membalas dengan memerintahkan 12 rekannya membentuk formasi Kura Makuwu ( Tenda Kura-Kura), sebuah formasi pertahanan khas gerombolan Kidang Panah dalam menghadapi serangan panah. Pertahanan Kura Makuwu dilakukan dengan cara 12 orang berkumpul jadi satu dan menangkupkan perisai saling melindungi satu sama lain dari depan dan atas. Bila dilihat saat mereka menggunakan formasi ini, bentuknya menyerupai kura-kura. Di antara sela-sela perisai yang ditangkupkan di depan, menyembul ujung-ujung senjata seperti tombak dan pedang. Formasi Kura Makuwu memerlukan kedisiplinan untuk berjalan perlahan-lahan secara bersamaan persis sambil menahan panah yang menghujani tenda perisai. Bila gelombang panah mereda, biasanya saat para penyerangnya mengganti anak panah, formasi Kura Makuwu akan berubah dengan berlari cepat menerjang rombongan penyerang. Saat itulah mereka merubah jalan pertempuran menjadi tawuran jarak pendek. Bila itu sudah terjadi, dipastikan para penyerangnya akan kacau balau.
Kridha Langit terkejut tidak menyangka gerombolan Kidang Panah mempunyai strategi menghadapi perang massal. Ia makin khawatir jumlah korban akan bertambah besar. Namun, Kridha Langit juga meyakini kemampuan prajuritnya. Dalam setiap pertempuran sebesar apapun, pasukan Bhayangkara tidak pernah kalah.
Sementara, Kidang Panah berusaha mencegah perang yang akan pecah. Ia tahu anak buahnya yang sudah nekat pasti akan menimbulkan korban yang berlipat-lipat dari pihak Bhayangkara. Namun, semua itu akan sia-sia. Pada akhirnya, para prajurit yang sudah sangat terlatih pasti akan mampu membantai habis seluruh anak buahnya.
" Kang Kridha Langit, jangan menyerang!" Seru Kidang Panah.
Kridha Langit tertegun sejenak sebelum menjawab, " Maaf, Kang Kidang Panah. Tapi teman-teman Anda tidak memberi saya pilihan lain. Saya tidak bisa mengabaikan tugas sebagai prajurit."
Kidang Panah kembali membujuk Sena, " Sena, jangan melawan demi keselamatan kalian sendiri."
" Kami tidak bisa membiarkan Kang Kidang dibunuh di depan kami. Maaf, sekali ini saya terpaksa menolak perintah Kakang."
" Aku hanya ditangkap untuk diadili. Bukan dibunuh, Sena."
Sena mendengus, " Apa Kakang lupa, Kakang selama ini melarikan diri karena difitnah prajurit Majapahit kan? Mereka tidak bisa dipegang omongannya !"
" Yang memfitnah aku bukan prajurit Bhayangkara, Sena."
" Sama saja. Semua prajurit sama. Mereka mau menang sendiri saat berurusan dengan rakyat jelata. Kakang boleh percaya sama mereka, tapi saya tidak !"
Kidang Panah menarik napas panjang kecewa tidak bisa melembutkan kekerasan hati Sena. Meski begitu, terselip rasa bangga melihat walaupun anak buahnya membantah perintahnya, namun itu karena didorong oleh rasa cinta kepadanya. Mereka sangat setia. Kalau sampai ia tidak bisa mencegah peperangan ini, bagaimanapun juga di harus berdiri di depan anak buahnya sebagai pilihan terakhir. Jika harus matipun, rasanya itu layak demi membalas kecintaan mereka pada dirinya.
" Begini saja, Kakang Kridha Langit, " Kidang Panah mencoba menawarkan jalan tengah, " Beri saya waktu untuk meyakinkan teman-teman saya bahwa saya menyerahkan diri sebagai jalan terbaik. Tetapi untuk sementara, biar saya bersama mereka untuk menenangkan perasaan dulu. Nanti begitu teman-teman saya sudah bisa menerima penjelasan saya, saya yang akan mendatangi prajurit Bhayangkara untuk menyerahkan diri."
Krdha Langit tersenyum pahit, " Secara pribadi saya percaya kepada Anda, kang Kidang. Tetapi tidak mungkin atasan saya mau menerima alasan itu. Tugas prajurit seperti saya adalah melaksanakan perintah, bukan menawarnya. Maaf, saya tidak bisa menerima tawaran Anda. Saya harus membawa Anda ke Kotaraja hari ini juga sebagai tawanan, Kang Kidang."
Kidang Panah mengangguk paham, " Jika demikian memang tidak ada jalan tengah. Saya terpaksa melawan jika Anda dan prajurit menyerang teman-teman saya."
" Silahkan. Jika di antara kita harus ada yang mati, kita mati sebagai satria yang membela kebenaran masing-masing. Anda mempertahankan keselamatan teman-teman Anda, dan saya melaksanakan tugas Negara."
Kidang Panah menghela napas panjang, menghunus pedangnya lagi. Sementara Kridha Langit mengganti senjata cambuknya yang telah putus dengan pedang juga.
Dua Satria itu berhadap-hadapan siap bertarung lagi. Bedanya, kali ini untuk bertarung tanpa aturan menang kalah, melainkan hingga mati.
" Prajuriiiittt... ," Kridha Langit berteriak untuk memberi aba-aba menyerang.
Gendewa prajurit Bhayangkara terentang dalam posisi siap bidik. Formasi Kura Makuwu oleh gerombolan Kidang Panah siap menerima serangan sambil mengatur celah untuk melakukan serangkaian serangan balik.
Pertumpahan darah tidak bisa dihindarkan.
Tiba-tiba....' Tahan ! Hentikan serangan ! " Terdengar suara perempuan.
" Gusti Putri Padma Dewi!" serentak Kridha Langit menoleh ke arah suara itu. Terlihat Padma Dewi keluar dari kereta dan berdiri.
" Kakang Bekel Kridha Langit, aku minta serangan dibatalkan ! " Ujar Padma Dewi.
Bekel Kridha Langit menghaturkan hormat. Bekel adalah jabatan keprajuritan pada masa itu yang membawai ratusan prajurit dan para lurah.
" Tapi Tuan Putri, saya mendapat perintah langsung dari Gusti Senopati untuk membawa Kidang Panah untuk diadili. Saya tidak bisa mengabaikan perintah atasan. "
" Siapa yang menyuruh kau mengabaikan perintah Senopati? Aku hanya menyuruhmu membatalkan serangan. Bawa saja Kidang Panah sebagai tawanan, tapi jangan serang anak buahnya."
" Mereka menolak menyerahkan Kidang Panah, Tuan Putri. Mereka melawan Negara. Saya tidak bisa membiarkan..."
" Biar aku yang bicara pada mereka, " Padma Dewi memotong pembicaraan.
" Sendhika dhawuh, Tuan Putri, " Kridha Langit menjawab dengan hormat.
Padma Dewi selanjutnya menudingkan tangannya pada Sena.
" Heh, kau begal Sena. Kau tahu dengan siapa kau sedang berhadapan? " Padma Dewi berkata dengan menggunakan nada suara penuh kuasa.
" Saya tidak tahu, Tuan Putri, " jawab Sena.
" Aku Padma Dewi, putri keluarga besar Wijaya, pemilik bumi Majapahit. "
Sena tertegun. Tak dinyana ia berhadapan langsung dengan anggota inti keluarga kraton, " Mohon ampun, Gusti. Hamba tidak bermaksud melawan kecuali ingin mendapatkan jaminan atas keselamatan jiwa Kakang kami, kakang Kidang Panah."
" Kalau aku yang menjamin keselamatan jiwanya, apa kau masih tidak percaya? Jangankan kepada Senopati, aku bisa minta jaminan pribadi dari Rakyan Tumenggung, atau sekalian mohon langsung kepada paman Mahapatih Gajahmada untuk meminta agar Kidang Panah tidak dihukum mati, apa kau masih tidak percaya?"
Sena menundukkan wajah. Seketika ia melepaskan senjatanya dan menghaturkan sembah. Teman-temannya mengikuti melakukan hal yang sama.
" Ampun, Gusti. Bila Gusti Putri sendiri yang memberi jaminan, hamba percaya. Bahkan hamba siap mengabdi kepada Negara sebagai balas kebaikan budi Paduka. "
__ADS_1
Padma Dewi mengangguk dengan anggun. Selanjutnya ia berkata, " Baiklah, sekarang Kidang Panah silahkan dibawa ke Kotaraja menghadap Senopati. Nanti aku akan bicara dengan orang yang mengurusi masalah pidananya. "
Kridha Langit dan Kidang Panah tersenyum lega. Pertumpahan darah yang dikhawatirkan tidak terjadi.
Tangan Kidang Panah diikat tanpa perlawanan. Sena minta ijin untuk bicara sejenak dengan Kidang Panah sebelum dibawa sebagai tawanan.
" Kakang Kidang, kami harus ke mana untuk menunggu kebebasanmu kelak?"
Kidang Panah tersenyum getir. Ada perasaan haru harus berpisah dengan 12 orang gerombolannya yang sudah seperti saudara. " Kalian pergilah ke Lodhaya di kaki gunung Kampud. Bila aku bebas nanti, aku akan mencari kalian. "
***
Kidang Panah ditahan di sebuah penjara di Kotaraja. Untuk menghormati jaminan keselamatan yang diberikan oleh Padma Dewi, Kidang Panah diperlukan dengan baik oleh para prajurit. Lagipula cerita tentang pertarungannya melawan Kridha yang dilakukan dengan aturan kekastriaan telah menimbulkan rasa kagum pada banyak orang. Mereka tidak menganggap Kidang Panah sebagai penjahat, namun seorang ksatria yang secara kebetulan sedang memiliki masalah hukum dengan Negara.
Sudah 4 pekan Kidang Panah ditahan, belum ada kabar apapun dari Padma Dewi mengenai status hukum maupun hukuman apa yang akan diterimanya. Berkali-kali bila ada kegiatan kedatangan pejabat negara, Kidang Panah berharap itu adalah Padma Dewi. Namun selalu berakhir kecewa. Batang hidung atau bahkan sekedar kabar pun tiada. Tanpa sadar yang ada di dalam pikiran Kidang Panah hanya bayangan Padma Dewi. Ia mengingat-ingat bentuk wajahnya, tubuhnya, rambutnya, hingga cara bicaranya yang cerdas namun sangat tegas dalam keanggunan yang penuh kuasa. Nada suaranya halus namun sangat besar kuasanya hingga sulit dibantah.
Bahkan lama-lama Kidang Panah merasa ia tidak keberatan kalau harus ditahan berlama-lama di penjara, asal dikunjungi Padma Dewi. Astaga!!! Kidang Panah baru saja takut menyadari kalau ia jatuh cinta pada Padma Dewi pada pandangan pertama. "Ini tidak boleh dibiarkan, " demikian batinnya berkata. Ia hanya seorang begal, dan sekarang bahkan hanya seorang tahanan, bagaimana mungkin jatuh cinta pada seorang putri keraton?
Untuk menepis angan-angannya yang terlalu tinggi dan mustahil terpenuhi, Kidang Panah berusaha membayang wajah-wajah wanita yang pernah dekat dengannya. Namun, semua usahanya sia-sia. Semakin ia berusaha menghilangkan atau mengganti citra Padma Dewi dari pikirannya, makin kuat pesona bayangan Padma Dewi mencengkeram batinnya.
" Ada kunjungan pembesar Istana! " Seorang prajurit berteriak sambil melintas lewat di depan ruang penjara Kidang Panah.
" Siapa? " Kidang Panah berbisik dengan harap-harap cemas.
" Belum tahu. Tapi ini agak aneh, sangat mendadak dan diam-diam tanpa pengawalan besar, " jawab prajurit itu.
" Tanpa pengawalan besar?" desah Kidang Panah. Ia segera teringat saat berjumpa dengan Padma Dewi yang tidak membawa banyak pengawal. Jangan-jangan....
" Sembah bhakti hamba, Gusti..."
" Sembah bhakti hamba, Gusti .."
" Sembah bhakti hamba, Gusti..."
Terdengar suara bersahut-sahutan di sepanjang perjalanan yang dilewati rombongan pembesar yang datang. Tapi, ternyata rombongan yang datang hanya terdiri dari dua orang yang berjalan seperti terburu-buru tidak menanggapi salam hormat yang diberikan oleh para prajurit yang tidak menyangka ada kunjungan mendadak.
Kidang Panah gelisah. Sementara sayup-sayup terdengar langkah dua pembesar yang segera diapit oleh banyak prajurit kiri kanan makin mendekat ke arah jalan di depan ruang tahanannya.
" Langsung saja, aku tidak punya banyak waktu, " terdengar suara berat saat rombongan pembesar itu melintas.
Kidang Panah mendongak-dongakkan kepalanya berusaha melihat siapa pembesar yang datang. Namun, karena dua pembesar itu telah diapit kiri kanan oleh para perwira prajurit, Kidang Panah harus kecewa tidak bisa melihat sosok dua pembesar itu. Mereka berlalu sangat cepat.
Tapi... tercium aroma wangi harum bunga khas wanita sesaat setelah rombongan pembesar itu berlalu
" Perempuan? Jangan-jangan...." Kidang Panah tidak berani meneruskan angan-angannya.
Hati Kidang Panah bergetar keras. Itu seperti suara Padma Dewi !!!
" Aku tahu, " suara laki-laki yang bernada berat itu terdengar menjawab.
" Paman mengabulkan permohonan saya?" suara yang seperti Padma Dewi itu bertanya.
" Rara di sini dulu, biar aku yang melihat dia, " sahut suara laki-laki.
Kemudian terdengar langkah dan pintu dibuka. Tampaknya orang bersuara berat itu memasuki ruangan, " Prajurit, bawa orang itu menghadap!"'
" Sendhika, Gusti. "
Seorang prajurit membuka ruang tahanan Kidang Panah. Berkata dengan halus, "'Maaf, Kidang Panah. Aku harus mengikat tanganmu dulu karena kau akan menghadap...."
Terdengar suara dari ruangan sebelah memotong pembicaraan prajurit, " Tidak perlu diikat tangannya. Bisa apa seorang begal?" terdengar suara berat laki-laki itu.
Kidang Panah dibawa ke sebuah ruangan. Di sana sudah duduk seorang yang bertubuh tinggi besar.
" Tinggalkan kami! " Laki-laki bersuara berat itu berkata pada prajurit.
Kini Kidang Panah tinggal berdua dengan laki-laki bersuara berat itu. Mata Kidang Panah mengamati orang yang duduk tenang di depannya. Orang itu berwajah keras. Terlihat karakter yang sangat tegas.
Laki-laki itu balik menatap mata Kidang Panah. Kidang Panah merasa tersengat oleh sorot matanya yang tajam dan berkharisma kuat. Sebentuk sorot mata penuh tenaga dan keberanian. Kidang Panah belum pernah menyaksikan sorot mata sewibawa itu.
" Kau begal yang bernama Kidang Panah?" tanya laki-laki bersuara berat itu.
" I...iya...iya, Tuan...mohon maaf, saya sedang berhadapan dengan tuan siapa?" Kidang Panah tergagap karena masih terkesiap oleh sinar mata orang yang dihadapinya.
Laki-laki itu tidak menjawab pertanyaan Kidang Panah, malah melemparkan tantangan,
" Serang aku tiga kali. Kalau dalam hitungan ketiga kau bisa menyentuh tubuhku, menyentuh saja, tidak perlu harus merobohkan aku, kau kubebaskan! "
Kidang Panah terkesiap. Hanya dengan bisa menyentuhnya saja ia akan dibebaskan? Orang ini gila atau apa? Apa dia tidak pernah mendengar kemampuan kecepatan gerakannya?
" Apa maksud Anda, Tuan?"
" Kau tuli atau apa?" Laki-laki itu menjawab sinis, " Kau mau berjuang untuk kebebasanmu atau tidak? Serang aku! Kalau dalam hitungan ketiga kau bisa menyentuh tubuhku, kau kubebaskan dari segala hukuman! "
Kidang Panah menghela napas, " Baik, Tuan sendiri yang meminta."
Kidang Panah menyiapkan kuda-kuda siap menerjang. Menurut perhitungannya, cukup sekali hitungan saja pasti ia mampu menjangkau tubuh orang itu. Serangan jarak pendeknya selama ini tidak pernah gagal.
__ADS_1
Tetapi, orang itu seperti tidak peduli dengan persiapan serangan Kidang Panah. Ia tidak beranjak dari kursinya.
" Maaf, Tuan. Silahkan Tuan berdiri. Saya siap menyerang sekarang," ujar Kidang Panah.
Orang itu tertawa dingin, " Siapa kau berani menyuruh aku berdiri? Serang aku sekarang juga atau aku mulai menghitung !"
Kidang Panah menjejakkan kaki. Berjingkat dan menerjang lawan dengan tendangan secepat kilat, tendangan yang tidak pernah gagal.
" Ciaaaaatttt....!!!"
Kaki Kidang Panah meluncur. Ia mengincar sasaran perut. Orang yang diserang masih tak beranjak dari duduknya. Sebenarnya Kidang Panah malu menyerang orang yang tidak melawan, bahkan sambil duduk. Tapi idemi kebebasannya, harus ia lakukan. Toh orang itu sendiri yang meminta.
Ujung kaki tinggal sejengkal lagi dari perut. Tidak mungkin dapat dihindarkan.
Tiba-tiba, orang itu menjatuhkan tubuhnya ke kiri, membebankan seluruh berat badannya yang besar ke satu sisi kursi. Kursi menjadi miring dan bertumpu hanya dengan satu kaki. Bersamaan dengan itu, ia memutar kursi sehingga kursi bergeser dari posisinya. Lolos terjangan kaki Kidang Panah tidak menemui sasaran!
" Satu ! Gerakanmu terlalu lamban, Begal. "
Kidang Panah melenggong. Belum pernah ia menemukan lawan yang mampu mengatasi kecepatannya.
" Ayo, serang lagi! Lebih cepat !" Ujar orang itu sambil duduk di kursi yang sudah kembali tenang.
" Hiyaaaaaaa....."
Kali ini Kidang Panah memutuskan menyerang dengan gerakan tangan karena jaraknya sudah sangat dekat dan masuk ke jangkauan pukulan.
Kidang Panah mengayun pukulan kombinasi ke arah kepala dan pinggang kiri kanan agar tidak ada lagi kesempatan lawannya untuk miring seperti gebrakan pertama. Dalam satu detik, kecepatan dua tangan Kidang Panah mampu melancarkan 7 kombinasi pukulan dengan arah yang berbeda.
Orang itu tersenyum. Sebelum kepalan tangan Kidang Panah menjangkau tubuhnya, ia mendahului dengan merebahkan diri sehingga kursi rubuh ke belakang dan jarak menjadi memanjang tak terjangkau tangan Kidang Panah.
Merasa serangan tangan gagal, Kidang Panah memanfaatkan waktu yang belum usai sedetik untuk melakukan serangan susulan dengan kaki menyapu kaki kursi dengan harapan dapat membuat orang itu jatuh bila kaki kursinya patah sehingga tubuhnya tersentuh. Bukankah perjanjiannya hanya cukup menyentuh?
Tapi harapan Kidang Panah harus pupus. Orang itu dalam posisi berbaring di atas kursi menggunakan telapak tangannya untuk 'menjejak' lantai sehingga tubuhnya terlontar ke udara masih dalam keadaan berbaring.
" Dua ! Kecepatan gerakmu ternyata tidak seperti yang diceritakan orang!"
Tubuh laki-laki yang terlontar ke udara dalam keadaan berbaring itu memutar beberapa kali sebelum dengan anggun mendarat tanpa tersentuh sedikitpun.
Kidang Panah ternganga. Segesit-gesitnya gerakannya, kemampuan memutar diri dengan ancang-ancang berbaring itu belum pernah ia saksikan dapat dilakukan orang.
Laki-laki bersuara berat itu menatap Kidang Panah dengan tajam, " Kemampuanmu sebenarnya lumayan. Sayangnya kau sudah terlanjur puas dengan apa yang kau mampu. Padahal itu belum cukup. Sekarang pukul aku sekeras-kerasnya. Sekeras-kerasnya seperti kau berjuang sekeras-kerasnya untuk kebebasanmu sendiri. "
" Maksud Tuan? "
Laki-laki itu berjalan mendekat. Mereka berdiri tanpa jarak. Hanya sejengkal saja.
" Pukul aku sekeras-kerasnya ! Sekarang! "
" Hyaaaaattttt.... !!!" Kepalan tangan Kidang Panah melaju kencang dengan sekuat tenaga. Kali ini harus berhasil. Harus mampu menyentuh tubuh laki-laki itu.
Pukulan tunggal yang sangat cepat dan kuat meluncur menuju lambung orang itu.
Tinggal seujung jari, pasti kena !
" Bluk ! " kepalan tangan Kidang Panah mendarat mulus di lambung laki-laki itu.
Kidang Panah terkejut. Laki-laki sama sekali tidak bergerak. Sama sekali tidak berusaha menghindar.
Tiba-tiba....
Berbarengan dengan datangnya pukulan, orang itu melontarkan napasnya dengan kuat.
Dan....
Kidang Panah diterjang tenaga raksasa seperti badai keluar dari tubuh laki-laki itu. Akibatnya tubuhnya terhempas sangat keras membentur kursi yang seketika hancur berantakan. Punggungnya terasa patah.
" Hoooaaakkk....!" Dari mulut Kidang Panah mengucur darah segar.
Orang itu menghampiri Kidang Panah. Menotok beberapa bagian tubuh Kidang Panah yang segera berhenti muntah darah.
" Kau berhasil menyentuhku. Kau kubebaskan!"
Kidang Panah menata napasnya yang memburu.
" Tidak. Saya tidak berhasil. Tuan sengaja
tidak menghindar. "
" Tubuhmu menyimpan racun tanpa kau sadari karena olah pernapasan yang kau lakukan untuk meringankan tubuh ada yang salah. Kau berlatih tanpa bimbingan kan? Sekarang racunnya sudah keluar melalui muntahan darah."
" Beribu terima kasih, Tuan. Saya berhutang nyawa pada Anda. Kalau saya boleh tahu, siapakah nama Anda, Tuan?"
Laki-laki bersuara berat itu tidak menjawab. Ia melangkah keluar dari ruangan, dan terdengar suaranya," Prajurit, bebaskan Kidang Panah!"
Tiba-tiba dari arah luar ruangan terdengar suara lain. Suara perempuan, "Ribuan terima kasih saya haturkan, Paman Gajahmada. "
Kidang Panah terkejut bukan kepalang. Suara itu jelas suara Padma Dewi, dan ternyata laki-laki sakti yang telah membebaskannya adalah Mahapatih Gajahmada.
__ADS_1
***