
Jasad sekarat Kidang Panah dibawa pengemis tua itu ke sebuah goa yang pintunya tertutup oleh air terjun. Tidak seorangpun menyangka bahwa ada goa tepat di bawah puncak gunung Kampud. Jangankan manusia, binatang buas pun tidak ada yang mampu masuk ke goa itu, kecuali lintah dan beberapa jenis hewan melata. Padahal di dalamnya terdapat ruangan yang cukup luas, nyaman dan kering.
Setelah dibaringkan semalam dalam kondisi pingsan tanpa kesadaran, Kidang Panah siuman dan melihat pengemis tua yang semalam berdiri di permukaan danau kawah sedang memejamkan mata dalam sikap semadi. Kidang Panah ingat kejadian semalam saat terjun di danau kawah yang melelehkan seluruh daging tubuhnya. Spontan ia memeriksa anggota tubuhnya. Dilihatnya sekujur tubuhnya lengkap tanpa cacat secuilpun. Jadi benar apa yang dia pikirkan, bahwa kejadian semalam hanya sensasi sihir yang sangat hebat hingga bagai kenyataan, baik di pengelihatan maupun perasaan.
Namun, satu hal yang pasti dan disadari Kidang Panah, bahwa ternyata pengemis sakti itu tidak bermaksud buruk padanya, bahkan pengemis itu jelas telah menolong dirinya dan membawanya ke goa yang nyaman ini. Sebagai orang yang tahu berterimakasih, Kidang Panah bangkit dari tidurnya, beringsut mendekat tepat di hadapan pengemis tua yang sedang bersila, meletakkan kepala ke tanah menghaturkan sujud.
Rupanya pengemis tua itu mengetahui Kidang Panah sudah siuman. Ia membuka matanya dan berkata, " Apa kau pernah mendengar nama Mpu Kuricak?"
Kidang Panah yang masih dalam sikap sembah sehingga matanya hanya menatap lantai menjawab, " Terima kasih sudah menyelamatkan nyawa saya, Bapa."
" Aku tidak butuh terimakasihmu. Yang aku tanya, apa kau pernah mendengar nama Mpu Kuricak?"
Kidang Panah memutar ingatannya. Ia pernah mendengar nama itu. Nama serupa dongeng, antara ada dan tiada. Yang jelas, nama Mpu Kuricak mengacu pada seorang ahli ilmu gaib golongan hitam yang kesaktiannya mengerikan. Cerita yang beredar menyebutkan Mpu Kuricak adalah pewaris tunggal ilmu Calon Arang, ratu ilmu hitam yang mampu mendatangkan wabah penyakit yang membunuh ribuan orang ratusan tahun yang lalu. Mpu Kuricak adalah jenis makhluk paling bengis berujud manusia yang paling menakutkan. Itulah dongeng yang beredar di kalangan dunia persilatan dan pelaku supranatural.
" Saya pernah mendengar domgeng nama itu, Bapa. Tapi saya belum pernah bertemu dengannya."
Pengemis tua itu tertawa lirih, " Heh...heh..heh... sekarang kau bertemu dengannya. Kau bertemu dengan kenyataannya, bukan dongengnya. Hahaha..."
Kidang Panah terkesiap. Pantas saja kesaktian pengemis itu di luar jangkauan nalarnya. Segara ia angkat badannya dalam sikap duduk bersila untuk menghatur penghormatan dengan menakupkan telapak tangan di atas kapalanya, " Mohon beribu maaf dan ampun atas kekurangajaran warga Padma Dewi dan saya yang tidak mengenali Anda, Bapa Mpu."
Mpu Kuricak terbahak-bahak, " Hahaha...apa kau mau jadi muridku, Bocah?"
Kidang Panah tercekat. Ini jauh dari semua bayangan yang pernah ia pikirkan. Hanya orang gila yang menolak menjadi murid orang sesakti Mpu Kuricak. Jangankan membayang, bermimpi saja ia tidak berani karena selama ini jika orang memikirkan nama Mpu Kuricak ada di antara dongeng dan khayalan. Seketika Kidang Panah menjatuhkan dirinya, mencium ujung kaki Mpu Kuricak sebagai tanda takluk.
Mpu Kuricak yang biasanya tidak membutuhkan sikap hormat membiarkan hal itu terjadi karena memang mencium ujung kaki adalah simbol tunduknya seseorang secara jiwa raga, hidup dan mati diserahkan kepada seorang guru yang akan membimbingnya dengan segala taruhan pengetahuan sejati.
Jika seseorang sudah menempati posisinya sebagai Guru, maka segala kebenaran maupun kesesatan ilmu yang akan diajarkan menjadi tanggung jawab guru sepenuhnya. Murid yang menerima ajaran yang salah tidak boleh disalahkan, semua konsekuensi kesalahan atas ajarannya ditanggung guru sampai ke alam kematian tanpa batas.
" Guru, hamba berserah jiwa raga, mati hidup kepada paduka," gumam Kidang Panah.
Mpu Kuricak menganggukkan kepalanya, mengusap-usap ubun-ubun Kidang Panah memberi restu.
***
Jalan hidup manusia tak tertebak. Kidang Panah yang berawal dari seorang berandalan desa yang membunuh seorang lurah prajurit sehingga diburu oleh tentara Majapahit dan hidup dalam pelarian sebagai begal kejam, terlembutkan hatinya setelah terpanah asmara Padma Dewi, putri kraton yang tidak mungkin dimilikinya, dalam upayanya menyelamatkan nyawa warga desa harus menghadapi tantangan menemui Mpu Kuricak yang menyamar sebagai pengemis, justru akhirnya mendapat anugerah untuk menjadi pewaris ilmu kesaktian yang sangat tinggi. Meski orang menilai ilmu yang dimiliki oleh Mpu Kuricak bersifat hitam dan ganas, namun orang tidak menyadari bahwa Mpu Kuricak adalah pribadi yang sudah melampaui sebutan warna. Baik hitam, putih, merah, biru, kuning, dan lain-lain hanyalah warna-warni yang akan selalu ada di dunia ini. Bukan warnanya yang salah atau benar, tetapi cara menggunakan warna itu sendirilah yang akan menentukan seseorang akan mengotori suasana atau memperindah kehidupan alam raya.
Sementara di dukuh Padma Dewi, sebagaimana yang diduga oleh Kidang Panah, wabah penyakit serta kematian yang melanda warga desa ternyata memang hanya ilusi sihir tingkat tinggi sehingga ketika diterapkan tak bisa dibedakan dengan perasaan dan penglihatan nyata. Tepat ketika Kidang Panah bersujud sebagai murid di hadapan Mpu Kuricak, bersamaan dengan hari ketiga, yang terjadi selanjutnya di dukuh Padma Dewi sungguh mencengangkan.
Bukannya warga desa tertumpas habis seluruhnya, justru orang-orang yang menderita sakit seketika sembuh dari sakitnya dan bangkit dari pembaringan dalam keadaan segar bugar. Bisul-bisul yang semula merusak seluruh wajah lenyap tak berbekas. Yang lebih menggemparkan, seluruh mayat yang memang tidak tidak dikuburkan sesuai perintah Kidang Panah bangkit dengan keadaan sehat seperti baru bangun dari tidur.
Warga Padma Dewi sangat gembira karena mengira Kidang Panah telah memenangkan pertarungan melawan pengemis sakti. Sesuatu yang sebenarnya tidak mereka duga sebelumnya mengingat kesaktian pengemis yang tidak masuk akal itu. Dua hari warga menunggu kedatangan Kidang Panah dari puncak gunung Kampud, namun tak terjadi juga. Akhirnya pada hari ketiga, sepuluh warga dukuh Padma Dewi dipimpin langsung oleh Sena memutuskan untuk mendaki gunung Kampud mencari keberadaan Kidang Panah secara menyebar.
Namun hingga sepekan pencarian dilakukan, jejak Kidang Panah tak diketemukan juga. Tidak ada seorangpun yang menduga, bahwa di balik air terjun terdapat goa besar tempat Kidang Panah dididik oleh Mpu Kuricak. Pada hari ke tujuh, mereka memutuskan untuk kembali turun ke desa karena kehabisan bekal makanan juga merasa putus asa sebab merasa telah menjelajahi sekujur tubuh gunung tanpa hasil. Yang membuat mereka sedikit terhibur adalah tidak diketemukannya mayat atau tanda-tanda perkelahian yang dahsyat, yang sehingga mereka berharap Kidang Panah telah mampu menyelesaikan urusannya dengan pengemis itu dengan cara damai, dan keduanya pergi entah ke mana dalam keadaan baik-baik saja. Sama seperti saat Kidang Panah dibawa prajurit Bhayangkara dan berakhir bahagia, demikian juga mereka berharap ada keajaiban yang akan membawa Kidang Panah kembali pada suatu saat.
__ADS_1
Sedang yang terjadi di goa di balik air terjun, Kidang Panah tangah digembleng habis-habisan oleh Mpu Kuricak, baik dalam segi pengetahuan gaib, kerohanian, filsafat, serta kesaktian. Karena Kidang Panah sudah memiliki dasar ilmu silat yang cukup mumpuni dan bakat alami dalam kecepatan dan meringankan tubuh, dalam memberi pelajaran tentang kesaktian, Mpu Kuricak memfokuskan diri pada keahlian memanfaatkan kekuatan gaib, menguasai dan mengendalikan pikiran lawan, menciptakan ilusi sihir, dan berkomunikasi dengan makhluk di luar dimensi manusia. Sedang tentang ilmu silat, Mpu Kuricak tinggal mempertajam dan memperbaiki tehnik pernapasan Kidang Panah yang sedikit salah seperti yang pernah disampaikan oleh Mahapatih Gajahmada.
Untuk urusan makanan, Kidang Panah diberi tugas mencari bahan makanan dengan aturan tidak boleh keluar dari goa. Sebenarnya aturan yang diberikan oleh Mpu Kuricak memang melarang Kidang Panah keluar dari goa dengan alasan apapun selama menjalani pendidikan. Mpu Kuricak menyuruh Kidang Panah menangkap ikan, binatang, sayur, buah, atau daun apapun yang jatuh terbawa air terjun.
Karena air terjun itu terbentuk dari sungai dari puncak yang patah di atas goa, maka kadang membawa binatang yang hanyut, daun, sayuran, juga tentu saja ikan-ikan. Kecepatan terjun air yang sangat cepat dijadikan sarana oleh Mpu Kuricak untuk mempertajam penglihatan sekaligus meningkatkan kecepatan gerak Kidang Panah.
Kadang Kidang Panah diberi tugas menangkap ikan dengan warna tertentu saja untuk dimakan. Diluar warna itu tidak boleh ditangkap. Kadang Mpu Kuricak ingin makan daun tertentu saja, selain daun yang dimaksud tidak boleh ditangkap. Kalau sampai Kidang Panah salah menangkap jenis daun yang dimaksud, maka ia dianggap gagal. Sebagai hukumannya, daun-daun yang sudah benar dan terkumpul harus dibuang dan memulai dari awal lagi. Maka, beberapa kali terjadi, 3 hari 3 malam mereka tidak makan apapun gara-gara Kidang Panah salah menangkap sasaran ikan atau daun yang dimaksud Mpu Kuricak atau tidak ada makanan yang jatuh melewati air terjun.
Bukan hanya itu saja cara Mpu Kuricak melatih ketajaman pengelihatan dan kecepatan gerakan Kidang Panah. Pernah suatu saat Mpu Kuricak memerintahkan Kidang Panah untuk menangkap jenis ikan yang berwarna hitam legam untuk dimakan. Tetapi, waktu menangkapnya harus dimulai saat tengah malam gelap gulita sampai sebelum matahari terbit. Dan jumlah tangkapan tidak boleh kurang dari jumlah yang ditentukan. Kalau sampai kurang seekorpun, Kidang Panah dianggap gagal dan ikan hasil tangkapan harus dibuang. Demikian juga kalau salah tangkap jenis ikannya, semua ikan yang sudah terkumpul harus dibuang dan memulai dari awal lagi. Ditambah lagi, kadang Mpu Kuricak memerintahkan cara menangkapnya harus dengan dua jari saja, jempol dan telunjuk. Di lain hari ia menyuruh menangkap ikan bukan dengan tangan, tapi dengan kaki yang menyepak secara melingkar. Lain hari Kidang Panah disuruh menangkap ikan dengan cara menggigit ikan yang jatuh.
Cara latihan yang memanfaatkan kondisi alam itu sempat membuat Kidang Panah sangat lelah, frustasi, sekaligus kelaparan. Di saat perut sedang lapar-laparnya, ia harus tetap fokus tanpa kesalahan sedikitpun agar diperbolehkan makan. Anehnya, meski Mpu Kuricak tidak pernah ikut menyaksikan saat Kidang Panah menangkap bahan makanan, bahkan sering Mpu Kuricak tidur mendengkur saat Kidang Panah sibuk 'mencari' makan, tetapi ia tahu jika Kidang Panah melakukan kesalahan sedikitpun.
Suatu ketika Mpu Kuricak menyuruh Kidang Panah menangkap jenis ikan tertentu yang berwarna hitam di tengah malam dengan cara tangkap yang diluar kewajaran. Mpu Kuricak menginginkan ikan itu dalam jumlah 77 ekor yang ditangkap dengan cara menusukkan satu jari sampai tembus.
Meski keanehan terjadi setelah Mpu Kuricak menginginkan hal itu, jenis ikan yang dimaksud jatuh ke air terjun dengan jumlah yang jauh lebih banyak daripada biasanya. Namun, 77 ekor adalah jumlah yang cukup besar, apalagi dilakukan di tengah malam tanpa cahaya, dan tidak boleh salah sedikitpun. Untuk mencucukkan jari telunjuk agar mampu menembus tubuh ikan yang sedang jatuh saja bukan pekerjaan sederhana. Kidang Panah harus merasakan gagal berkali-kali saat ikan yang ia tusuk dengan jari terpental karena tubuhnya kenyal dan licin. Setiap tusukan harus dilambari tenaga yang mengubah jarinya sekeras logam, juga harus sangat cepat sehingga tajam dampaknya.
Hingga menjelang matahari terbit, jumlah ikan yang berhasil Kidang Panah tusuk sebanyak 76 ekor. Tinggal 1 ekor lagi. Tapi mendapatkan 1 ekor pun bukan pekerjaan yang mudah, apalagi sesaat lagi batas waktunya habis.
Tepat sebelum fajar menyingsing, seekor ikan yang dimaksud jatuh tepat melayang tepat di depan mata Kidang Panah. Dengan gerakan yang sangat cepat hingga nyaris tak dapat diikuti pandangan mata biasa, jari tangan Kidang Panah menusuk badan ikan itu.
" Tap! " ikan itu tertusuk badannya hingga menempel di jari Kidang Panah. Tetapi tusukannya kurang sempurna, tidak menembus sampai ke sisi luar. Ikan itu menggeliat, dan lepas.
Kidang Panah yang terdesak waktu menangkap ikan yang lepas dengan menggenggamnya. Ada sedikit perasaan ragu karena ikan terakhir tertangkap setelah digenggam, bukan karena tusukan, tapi di sisi lain, Kidang Panah juga merasa telah berhasil menusuk ikan itu meski tusukannya kurang sempurna. Namun apa boleh buat, waktu sudah habis.
Setelah mencuci bersih 77 ikan tangkapannya, Kidang Panah membakar ikan-ikan itu hingga matang lalu menyajikan ke hadapan Mpu Kuricak yang masih tertidur pulas.
Kidang Panah tersenyum senang. Seperti biasanya, ia pun mengimbangi kata-kata Mpu dengan gurauan, " Iya, Bapa Guru. Karena terdorong rasa lapar sudah 3 hari tidak makan sebab tidak berhasil menangkap daun beruas 7 yang Guru maksudkan. Hehehe .."
" Hehehe...iya. Baru ingat aku kau tidak makan 3 hari ini ya? " sahut Mpu Kuricak. " Ya sudah, lanjutkan tidak makan 3 hari lagi ke depan, Bocah."
Senyun Kidang Panah yang sempat mengembang seketika layu mendengar. kalimat terakhir gurunya. Sementara, cacing di perutnya sudah terlanjur meronta-ronta, " Maksud Bapa saya disuruh puasa 3 hari tiga malam untuk lelaku apa?"
" Lelaku? Ritual apa? Dasar begal! Menipu saja pekerjaanmu! " Mpu Kuricak tiba-tiba mengubah nada suaranya dengan kemarahan. " Berapa jumlah ikan yang kusuruh kau tangkap dengan menusuk?"
" Tujuh puluh tujuh ekor, Bapa." jawab Kidang Panah dengan nada takut-takut.
" Berapa yang kau tangkap?"
" Tujuh puluh tujuh, Bapa. "
" Pembohong! Pendusta! Kau pikir aku buta? Ikan terakhir kau tangkap dengan menggenggam. Bukan menusuk!"
Kidang Panah tak berani menjawab. Ia menubruk kaki gurunya untuk memadamkan kemarahannya.
__ADS_1
" Ampuni hamba, Bapa. Hamba bersedia menerima hukumannya." ujar Kidang Panah terbata.
Mpu Kuricak menggeram. Ia tendang 77 ekor ikan bakar hingga berhamburan. Tubuh Kidang Panah ikut terpental keras membentur dinding gua karena terdorong oleh tendangan Mpu Kuricak yang dilakukan dengan penuh kemarahan.
" Makan itu kalau kau lapar! Makan lalu pergi dari sini selamanya! Selamanya! Aku tidak butuh murid yang menganggap gurunya buta!"
Setelah berkata demikian, Mpu Kuricak duduk bersila dalam sikap semadhi. Kidang Panah berlutut menyembah menunggu kemarahan gurunya reda. Tepat 3 hari 3 malam kemudian, Mpu Kuricak mengakhiri meditasinya. Saat ia mendapati Kidang Panah masih berlutut di hadapannya salam sikap sembah, ia ulurkan tangannya mengusap ubun-ubun Kidang Panah.
"Bangunlah, Muridku bocah bagus. Kau lapar. Makanlah, aku memaafkanmu."
Kidang Panah mengucapkan terima kasih. Entah darimana ia tidak tahu asalnya, di antara tempat ia bersila dan Mpu Kuricak telah tersaji sebakul nasi yang masih mengepul asap lengkap dengan lauk pauk lengkap. Kidang Panah tidak tahu itu makanan nyata atau hasil sihir, yang jelas Mpu Kuricak sudah terlebih dulu menggerogoti paha ayam goreng dengan nikmat hingga bibirnya mengeluarkan suara kecap keras. Air liur Mpu Kuricak menetes-netes deras menjijikkan seperti orang tidak waras. Kidang Panah pun mulai menyuapkan makannya ke mulut. Rasanya lezat sekali. Meski kepekaan rasa Kidang Panah belum setinggi Mpu Kuricak, secara dasar ia bisa merasakan bahwa makanan ini bukan sihir, melainkan makanan nyata. Ia tidak tahu bagaimana cara Mpu Kuricak memperoleh makanan yang masih hangat itu. Tiga hari tiga malam ia tidak tidur sediktpun, ia berani bersumpah bahwa Mpu Kuricak tidak beranjak dari meditasinya. Bagaimana cara dan darimana asal makanan nyata itu ia tidak mau tahu. Yang ia tahu, masih terlalu banyak kesaktian gurunya yang belum ia pahami.
Sejak kejadian itu, Kidang Panah tidak berani sedikitpun bermain trik saat memperoleh perintah gurunya. Ia menjalankan setiap perintah gurunya dengan sebaik-baiknya, tanpa memikirkan target waktu atau jumlah. Toh akhirnya ketahuan juga. Namun yang jelas, melalui cara pelatihan yang di luar kewajaran itu, ketajaman penglihatan Kidang Panah meningkat hingga ratusan kali lipat. Kegelapan pekat tidak menjadi halangan matanya lagi. Entah bagaimana asalnya, ketajaman mata Elang ia miliki tanpa disadari, bahkan lebih dari itu. Dalam gulita total ia bukan hanya mampu membedakan warna, bahkan ia dapat membedakan bentuk dan sampai detilnya. Dalam sekilas, Kidang Panah mampu menghitung jumlah ruas daun atau pola sisik ikan yang jatuh di air terjun. Dalam kecepatan gerak pun demikian. Apalagi ditambah tehnik napas yang sudah diperbaiki oleh Mpu Kuricak, semakin sempurna kecepatan gerak Kidang Panah hingga melampaui angin.
***
Kita tinggalkan sejenak kisah Kidang Panah yang sedang menimba ilmu. Melompat waktu dan tempat ke arah timur. Tiga tahun kemudian sejak Kidang Panah mulai berguru kepada Mpu Kuricak, di tanah perdikan Gagak Nagara terjadi peristiwa yang luar biasa. Gagak Bayan sedang bersiap-siap melangsungkan pesta besar-besaran untuk menyambut anggota keluarga baru, yaitu Jaka Wingit.
Berbagai umbul-umbul pesta yang terbuat dari rangkaian janur dan bendera Majapahit Gula Klapa melambai-lambai indah dan anggun dengan tatanan rangkai tangan-tangan terampil berjiwa seni tinggi. Gegendingan yang bernada irama syahdu hingga meriah berkelenting menyemarakkan pendengaran. Para penari klasik yang jelita halus hingga penari hiburan yang cantik montok menggairahkan menyalakan tarian asmara pengundang hasrat laki-laki.
Gagak Bayan sebagai penyelenggara hajat besar sudah duduk gelisah di kursi kebesarannya. Berkali-kali ia menanyakan kepada pembantunya apakah rombongan Jaka Wingit sudah sampai di wisma Gagak Nagara. Berkali-kali ia harus kecewa menerima laporan bahwa Jaka Wingit belum sampai juga.
Hati Gagak Bayan membara. Tidak ada gunanya ia menyelenggarakan pesta sebesar ini dengan biaya sangat nahal bila Jaka Wingit tidak datang. Senyumnya meredup tiap kali mendapati jawaban Jaka Wingit belum datang. Sempat terbersit pikiran untuk menjemput Jaka Wingit secara pribadi, tapi ia khawatir itu akan membuat Jaka Wingit tersinggung. dan membuat rencananya berantakan. Ia hanya bisa memaki-maki perempuan penari yang menggeliatkan tubuh untuk menarik kelaki-lakiannya. Rasanya tubuh perempuan tidak menarik lagi baginya. Satu-satunya yang ada di pikiran Gagak Bayan saat itu hanya ajian Bayu Bajra. Bagaimana cara menguasai Bayu Bajra melalui Jaka Wingit. Sekali ia menguasai ajian Bayu Bajra, seluruh dunia persilatan akan bertekuk-lutut padanya.
" Gusti.... Gusti! " seorang prajurit yang kini sudah menyamar dengan pakaian biasa tergopoh-gopoh memberi laporan.
" Apa? Apa? Katakan laporanmu! Kalau laporanmu tidak berguna, kupenggal kepalamu!" Gagak Bayan tak sabar mendengarkan laporan prajuritnya.
" Rombongan Jaka Wingit sudah datang, Gusti! Didampingi Suta dan Ki Bayan Kebo Ireng!"
" Sampai di mana mereka?"
" Di tugu perbatasan, Gusti!
Gagak Bayan terkekeh senang, " Hahaha... segera tabuh gamelan semeriah mungkin! Aku mau menjemput adiku tercinta di depan pendapa!"
Gagak Bayan yang bahagia melempar sekantong uang pada pelapornya yang sigap menangkap dengan senyum menyeringai licik, persis senyum Gagak Bayan .
Laporan itu memang benar adanya. Karna dengan menunggqng kuda Gelap yang gagah telah melewati tugu masuk Wisma Gagak Nagara berboncengan dengan Julig yang cengengesan menikmati haturan sembah hormat para punggawa Gagak Nagara yang biasanya sangat arogan. Dengan sok jagoan, Julig berkali-kali menyedorkan ujung kakinya ke kening para penyembah Karna. Namun karena ia bersama Karna, tak ada seorangpun yang berani menegurnya.
Sementara Karna dengan sikap rendah hati dan anggun terus membalas tiap salam yang disampaikan oleh bekas prajurit Gagak Bayan.
" Hidup Jaka Wingit! Hidup Jaka Wingit pengayoman Gagak Nagara! " demikian sorak sorai bekas prajurit Gagak Bayan menyambut Karna.
__ADS_1
Karna mengangkat tangannya dalam sikap salam dan berkata, " Sampurasun! Sampurasun! Rahayu untuk segenap yang ada.'
***