
Kota Ngawi, berasal dari kata Awi yang artinya bambu terletak di sebelah selatan gunung Mahendra. Sebagaimana namanya, Ngawi dipenuhi dengan rumpun bambu berbagai jenis hampir merata di kota yang membentang di bantaran Bengawan. Tanahnya yang subur merupakan salah satu tanah tertua di muka Bumi dengan ditandai berserakannya sisa-sisa peninggalan kehidupan Purba Sangiran yang dipenuhi makhluk-makhluk raksasa serta leluhur manusia awal jauh sebelum ada aksara. Sedikit menuju ke timur, membentang Alas Ketonggo yang sangat angker.
Tidak ada seorangpun yang berani masuk terlalu dalam ke alas Ketonggo bila tanpa bekal kesaktian yang mumpuni. Di samping banyaknya binatang buas berukuran besar, alas Ketonggo diyakini memiliki pintu gaib yang menghubungkan dimensi nyata dengan maya. Oleh karena itu hutan itu diberi nama Ketonggo dari kata Katon ( terlihat) dan Onggo ( bangsa Gaib). Jadi, di alas Ketonggo, segala yang gaib bisa terlihat nyata, bercampur, dan saling melintas dimensi sehingga bagi yang ketahanan batinnya belum kuat bisa tersesat di dunia lain yang tidak ia inginkan.
Ditambah lagi adanya sejarah kuno yang melekat dengan keberadaan alas Ketonggo. Di dalam hutan yang sangat luas dan liar itu, terdapat pepunden ( makam) Eyang Srigati, seorang Begawan besar yang menjadi leluhur kerajaan Pajajaran dan Majapahit. Konon karena kesaktiannya, makam Begawan Srigati yang merupakan ujud kunci gaib alas Ketonggo, menjadi tujuan utama bagi para pembesar berbagai kerajaan maupun pendekar untuk mendapatkan daya kewibawaan maupun ilmu dari berbagai aliran. Baik hitam maupun putih, baik untuk sarana kekayaan, kekuasaan, kejayaan, kekuatan, maupun daya pengasihan. Maka tidak mengherankan bila di kota Ngawi banyak berdatangan orang-orang dengan bermacam-macam karakter dan penampilan dari segala penjuru pulau Jawa Dwipa dan Bali. Kemasyhuran alas Ketonggo dan makam eyang Srigati membuat aktifitas di kota Ngawi senantiasa berdenyut.
Dua ekor kuda memasuki kota Ngawi pagi ini saat Pecad Sawed ( pecat artinya melepaskan, sedang sawed adalah kayu pengikat sapi. Pecat Sawed di sini berarti saat melepas ternak untuk mencari makan, kalau waktu sekarang sekitar pukul 9 sampai 10 pagi). Satu kuda berwarna coklat ditunggangi seorang laki-laki yang tinggi, seekor lagi berwarna hitam gelap dengan dua orang penunggangnya.
" Kita cari warung yang ada tempat istirahatnya di sini saja, Wingit, " ujar Kidang Panah yang sudah diberitahu Karna agar kalau di depan orang lain lebih baik memanggilnya Jaka Wingit saja sesuai perintah gurunya.
" Baik, Kang Kidang. Ini kuda-kuda juga sudah lapar perlu makan."
" Iya, dan sebaiknya kita beli satu kuda untuk Julig. Perjalanan masih panjang. Kasihan kuda Gelap kalau terus dinaiki dua orang. Bisa kelelahan di tengah jalan dan memperlambat kita sampai ke Kotaraja."
Karna mengangguk setuju.
" Julig, kau bisa mengendarai kuda kan?" tanya Karna pada Julig yang duduk di belakang punggungnya.
Julig tidak menjawab.
Karna menoleh ke belakang untuk melihat Julig. Ia tersenyum melihat Julig menempelkan dahinya ke punggungnya. Rupanya Julig sudah ketiduran dari tadi. Ketahanan tubuh Julig yang orang awam tentu tidak sekuat Karna dan Kidang Panah yang berlatarbelakang pendekar silat. Pantas saja sedari menuruni sungai terakhir Julig yang selalu berceloteh tiba-tiba diam saja.
Kidang Panah yang biasanya keras kepada anak buahnya saat memimpin gerombolan begalnya dalam semalam menyukai pribadi Julig yang kocak namun cerdik. Kehadiran Julig bagi Kidang Panah seperti menggantikan sosok adik tunggalnya di rumah yang sangat ia sayangi. Ia menyejajarkan jalan kudanya hingga dapat mendekatkan diri ke kepala Julig.
Dengan lirih Kidang Panah berbisik di telinga Julig, " Wingit, ini ayam goreng tinggal sepotong. Sayang kalau tidak dimakan. Enak dan gurih banget. Sayangnya Julig masih tidur. Aku makan saja ya ayam gorengnya?"
Mendengar kata ayam goreng, tiba-tiba Julig yang tertidur pulas seketika terhenyak dan berteriak, " Jangan, Kang Kidang! Aku juga lapar!"
Karna tertawa kecil sementara Kidang Panah terbahak-bahak, " Hahaha...telat, sudah habiiiiss...!"
" Ndak boleh gitu dong, Kang! Terus aku makan apa?" sergah Julig protes karena masih belum sadar sepenuhnya antara ngantuk dan sadar.
" Ya terserahlah, " ujar Kidang Panah. " Kalau kau mau makan ya sana cari warung sendiri!"
" Ya sudah, aku ke warung sendiri. Mana warungnya?"
Kidang Panah tersenyum, " Aku bilang sana cari warung. Siapa yang bilang nyuruh kau pergi ke warung?"
" Lha tadi Kakang berdua makan di warung mana?"
"'Lho siapa yang bilang warung? Aku kan bilang ayam goreng."
__ADS_1
" Iya, Kang Kidang. Makan ayam gorengnya di warung mana?"
" Lho memangnya ayam goreng adanya cuma di warung. Wong aku bawa bekal ayam goreng sendiri kok, " tukas Kidang Panah.
Julig menghembuskan napas kesal, " Jadi ayam gorengnya sudah habis?"
" Iya. Ya maaf saja ya, Julig."
Julig yang mengira Kidang Panah serius dengan muka masam menjawab, " Ya sudah kalau begitu. Terserah kakang berdua kalau tega ndak ngasih saya makan. Nanti saja kalau misal di jalan ada warung, kalau boleh saya berhenti sebentar buat makan. Tapi ini kalau boleh yaaaa.... kalau boleh. Kalau ndak boleh dan Kakang berdua tega ya ndak usah berhenti. Biar saya mati di jalan, mayat saya dibawa di sepanjang jalan."
Kidang Panah tak kuat lagi menahan tawa mendengar sungut-sungut Julig.
" Hahaha...sudah, kau tenang saja. Ini kita juga lagi cari warung makan sama penginapan."
" Lha ayam goreng yang tadi?" sergah Julig.
" Lha kau mau makan ayam goreng yang tadi apa mau makan di warung nanti?"
Julig baru sadar kalau cuma digoda setelah rasa kantuknya benar-benar hilang, " Kakang berdua ini ternyata tega banget ya sama saya. Sudah tahu orang lapar malah digoda cerita ayam goreng. "
" Kau ini bukan lapar. Kau ini tidur. Kalau tidak aku ceritakan ayam goreng, mana mau kau bangun."
" Ya sudah, saya yang salah karena ketiduran. Kakang berdua kuat, saya lemaaahh..." ujar Julig.
Julig nyengir. Ia merasa Kidang Panah sebenarnya orang baik, hanya pembawaan dan wajahnya saja yang terlihat keras, " Menunggang kuda? Halah! Kecil itu! Jangankan menunggang kuda, menunggangi janda saja saya bisa!"
Kidang Panah terbahak mendengar celometan Julig, " Masak sih kau pernah menunggangi janda? Wong tubuhmu bogel seperti itu. Memang ada janda sekecil kamu?"
Julig yang sudah sepenuhnya sadar sedang digoda membalas dengan tertawa juga, " Hihihi...ada dong. Tapi nanti jadi kan beli kuda buat saya? Jangan mentang-mentang saya kecil terus disuruh naik Belo ( anakan kuda)."
" Ya tidak mungkin aku nyuruh kau naik Belo, paling nanti aku belikan kau Cempe ( anakan kambing). Itu yang paling pas buat ukuranmu!"
" Kalau kang Kidang menyuruh saya naik cempe, nanti saya belikan kang Kidang kuda tumpuk yang lagi kawin, biar pas dengan ukuran panjangnya kaki Kakang, " balas Julig tidak mau kalah.
Karna yang jarang tertawa keras tiba-tiba tertawa lebar membayangkan Kidang Panah menaiki punggung kuda yang sedang kawin.
" Hahaha... ada-ada saja kau, Julig. Itu di depan sepertinya ada warung, Kang Kidang," ujar Karna.
Kidang Panah menatap warung yang ditunjuk oleh Karna. Warung yang bagus dan besar dilengkapi dengan tempat tambatan kuda dengan kotak berisi jerami untuk makanan kuda. Kidang Panah tampak mengamati warung itu dengan seksama.
" Sepertinya bukan itu warung yang harus kita singgahi, Wingit."
__ADS_1
Karna mengerutkan alis tidak paham, " Maksudnya kita sudah ditentukan harus menginap di warung tertentu?"
" Iya. Bapa Mpu Kuricak menyuruh aku menginap di warung yang ada phanji Gula Klapa ( Merah Putih) di depannya. Nanti akan ada urusan datang sebagai penghubung tugas kita."
" Oh...mengapa Kang Kidang tidak tidak menceritakan sejak awal?" tanya Karna.
Kidang Panah mendengus pendek," Sudah aku bilang, nanti sampai di peristirahatan baru kuceritakan secara lengkap tugas kita. Sabarlah!"
" Heah ! " kaki Kidang Panah menepuk perut kuda agar berlari agak kencang karena menduga warung yang harus dituju masih lumayan jauh.
" Heah !" Karna pun memacu lari si Gelap untuk mengejar Kidang Panah. Tetapi karena kualitas kuda Gelap memang jagoan jauh di atas rata-rata kuda, meskipun terbebani dua orang, dengan gampang ia mampu menyusul bahkan mendahului laju kuda coklat Kidang Panah.
Yang kegirangan Julig. Dengan tawa tengil dia berkata mengejek, " Kudamu kok lamban banget ya, kang Kidang?'
Kidang Panah tersenyum kecut.
***
Separuh sepenjerang air mendidih kemudian, mereka bertiga melewati sebuah warung yang dituju.
" Berhenti! Ini pasti warung yang dimaksud Bapa Mpu," ujar Kidang Panah setelah melihat ada phanji Gula Klapa di depannya.
" Sampurasun. Aku bawa keselamatan dari Wilwatikta!" kata Kidang Panah setelah menambatkan kudanya dan si Gelap untuk makan jerami yang disediakan di depan warung.
Pemilik warung yang tampaknya sudah diberitahu tamu yang sedang berkunjung dengan membawa salam rahasia, tergopoh-gopoh menyambut kedatangan Kidang Panah, " Saya hamba Wilwatikta menerima keselamatan dari Tuan."
Kidang Panah tersenyum lega mendengar jawaban itu. Berarti tidak salah lagi, ini memang warung yang ditunjukkan oleh Mpu Kuricak.
" Silahkan masuk, silahkan masuk Tuan semua," ujar pemilik warung dengan sangat hormat sambil menghaturkan sembah kepada rombongan tamu agungnya.
Dengan langkah tegap berwibawa Kidang Panah memasuki warung itu diikuti Karna. Sementara pemilik warung mengisyaratkan kepada para pembantunya untuk mempersiapkan satu ruang kosong untuk rombongan 3 pendekar yang sudah dikabarkan akan datang oleh seorang perwira tinggi prajurit setempat.
Julig yang datang belakangan karena sibuk mengikat kuda Gelap berlari-lari menyusul Kidang Panah.
" Siapkan ruang makan terbaik untuk para Raden bertiga ini!" teriak pemilik warung kepada para pembantunya.
Julig yang sudah tidak sabar pun memberi penegasan, " Jangan lupa siapkan Ayam Goreng dengan lalapan kubis, timun, kemangi dan harus ada sambal tomat juga sambal trasi!"
" Jagad Dewa Bathara!" Kidang Panah memelototi Julig.
Julig yang segara paham sedang ditegur Kidang Panah, dengan senyum polos berkata, " Daripada mereka lupa, Kang. Apa saya salah mengingatkan?"
__ADS_1
Kidang Panah menggeleng-gelengkan kepalanya. Entah kenapa, ia ketularan Karna, apapun yang dilakukan Julig ia tidak bisa marah.
***