KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad

KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad
13 KEKUATAN CINTA


__ADS_3

Mahapatih Gajahmada meninggalkan tempat tahanan Kidang Panah terlebih dulu karena urusan mendesak yang harus diselesaikan hari itu. Sementara Padma Dewi mencari alasan agar bisa berbicara sejenak dengan Kidang Panah, ia berdalih membawa tugas Negara untuk menyampaikan secara langsung sebuah pesan kerajaan sehubungan dengan syarat pembebasan Kidang Panah. Ia perintahkan para pengawalnya tidak ikut masuk ke ruang tempat Kidang Panah berada, tetapi berjaga-jaga di depan pintu yang terbuka.


Langkah anggun Paldma Dewi saat menghampiri Kidang Panah diikuti wewangian kembang dan harum rerempahan. Ia memasuki ruangan, sementara para pengawal pilihan bersiaga di pintu masuk dengan senjata lengkap.


Begitu Padma Dewi masuk, ruangan itu dipenuhi semerbak mewangi yang melambungkan angan Kidang Panah akan kedatangan pujaan hati. Dadanya berdegup tak karuan antara bahagia sebagai laki-laki, berterimakasih sebagai tahanan yang dibebaskan, serta segan dan jerih sebagai kawula pada kekuasaan Kerajaan yang terbawa lengkap dalam pribadi Padma Dewi. Seketika daya kakinya luruh, tatapan matanya menunduk, ia berlutut menghaturkan sembah.


" Sembah bhakti hamba mohon diterima, Gusti Putri Padma Dewi, " ucap Kidang Panah.


" Iya, aku terima, Kidang Panah, " jawab Padma Dewi. " Kau sekarang orang merdeka. Kau tahu siapa yang membebaskanmu?"


" Ampun hamba, Gusti. Hamba belum tahu. "


" Paman Mahapatih Gajahmada sudah mengabulkan permohonanku untuk membersihkan namamu dari daftar buronan. Beliau yang baru saja kau temui di ruang ini."


" Beribu terimakasih hamba haturkan untuk Tuan Putri, Yang Mulia Mahapatih, serta Yang Mulia Ratu Majapahit. Hamba bersedia membalas budhi kebaikan Paduka bertiga dengan nyawa hamba sendiri, ' ujar Kidang Panah dalam nada haru.


" Aku, paman Mahapatih, dan Yang Mulia Ratu Tribuana Tunggadewi tidak minta apapun darimu. Hanya berhentilah menjadi orang merugikan sesama manusia dan jangan lagi merongrong kehidupan bermasyarakat yang tentram dan damai. Sanggupkah kau?'


" Dengan taruhan nyawa, hamba siap berbhakti pada Bhumi Majapahit dalam keadaan apapun."


" Baiklah. Apa rencanamu setelah keluar dari sini?"


" Hamba menyerahkan diri kepada Gusti Putri dan Gusti Mahapatih. Apapun perintahnya, hamba siap."


Padma Dewi tersenyum tipis, " Baik Gusti Ratu maupun Paman Gajahmada tidak memberikan tugas apapun kepadamu, setidaknya sampai hari ini. Kau bebas kalau ingin pulang ke rumahmu. Ini aku bawakan surat pembebasanmu, bisa kau gunakan agar tidak ada kesalahpahaman dengan prajurit di lapangan."


Kidang Panah menerima gulungan surat pembebasan yang disodorkan Padma Dewi. Namun, ternyata bukan hanya surat itu saja yang diberikan oleh Padma Dewi. Ada bungkusan kain sebesar dua genggaman tangan di atasnya. Penasaran dengan isi bungkusan kain itu, Kidang Panah lupa adab untuk mengucapkan terimakasih terlebih dulu. Ia buka tali bungkusan kain itu untuk melihat isinya. Seketika hatinya seolah berhenti berdetak. Ada belasan keping uang Ma emas dan sebuah gelang emas bertatah berlian yang berkilau. Tangan Kidang Panah gemetar, nilai uang dan perhiasan itu sangat besar. Dan yang lebih mencengangkan hati, mengapa ada sebuah gelang wanita di sana. Apa itu gelang pribadi Padma Dewi sendiri?


" Gusti Putri, untuk siapa ini?" bibirnya bergetar saat bertanya.


Padma Dewi tersenyum. Senyum yang teramat indah bagi Kidang Panah. Ia memberi isyarat dengan menempelkan jari ke bibir manisnya yang merah muda, menyuruh Kidang Panah diam tidak membahas hal itu agar tidak didengar para pengawal. " Untuk siapa lagi kalau bukan untukmu? Kau perlu itu sebagai bekal hidup. "


Kidang Panah segera menghatur sembah sembari mencium gulungan surat dan bingkisan hadiah pribadi dari Padma Dewi, lalu menempelkan ke ubun-ubun sebagai tanda terima kasih tak terhingga.


" Sudah selesai. Aku harus kembali ke keputrian sekarang. Kau jangan sampai bertemu denganku lagi sebagai begal, karena tidak ada lagi kesempatan kedua. Sekali kau kembali melakukan kejahatan, niscaya aku sendiri yang akan minta pada prajurit untuk membunuhmu. Namun jika nanti sang Hyang Widhi membuat kita bertemu, ku harap kau sudah menjadi pribadi Kidang Panah yang berbakti kepada Bhumi Majapahit dan kebaikan sesama hidup. Semoga selamat sejahtera hidupmu ke depan. "


Belum sempat Kidang Panah menjawab, Padma Dewi sudah membalikkan badannya dan melangkah pergi.


Kidang Panah termangu-mangu menatap punggung Padma Dewi yang kian menjauh didampingi para pengawalnya yang memayunginya.


" Perempuan sempurna...," desah Kidang Panah dalam hatinya.


Selepas itu, Kidang Panah berjanji meninggalkan dunia kejahatan dan ingin membaktikan seluruh jiwa raganya kepada sesama hidup, sebagai persembahan diam-diamnya kepada yang tercinta Putri Padma Dewi. Seluruh tujuan hidupnya hanya ingin membuat Padma Dewi bangga, meski ia tidak berani membayangkan untuk bertemu, apalagi memilikinya.


Biarlah ini menjadi persembahan cinta sejati tanpa harus memiliki.


***


Kidang Panah selanjutnya menuju ke wilayah Lodhaya di kaki gunung Kampud ( Kelud) untuk mencari bekas anak buahnya. Setelah bertemu, ia secara resmi membubarkan gerombolan begalnya dan membagi-bagikan uang hasil jarahan dan hadiah dari Padma Dewi secara merata sebagai modal hidup bertani, beternak atau berdagang sesuai pilihan masing-masing. Hanya gelang emas Padma Dewi yang disimpan secara pribadi oleh Kidang Panah, sebagai teman hatinya bila dilanda rindu pada sosok wanita pujaannya.


Kepada bekas anak buahnya ia mewanti-wanti jangan melakukan kejahatan lagi. Apabila didapat ada yang masih melakukan kegiatan jahat, maka ia sendiri yang akan memburu dan membunuhnya. Seluruh bekas anak buahnya menyanggupi permintaan Kidang Panah. Namun mereka memutuskan untuk tetap tinggal di Lhodaya sambil mencoba membangun rumah tangga yang mapan. Mereka sepakat membangun dukuh yang diberi nama dukuh Padma Dewi dan mengangkat Kidang Panah sebagai Buyutnya. Namun Kidang Panah menolak dan menyerahkan urusan dukuh itu kepada Sena. Ia tetap menjalani kehidupan bebasnya, hanya bila dimintai saran dan ada keadaan luar biasa ia sanggup turun tangan.


Setelah dukuh itu terbentuk, Kidang Panah berpamitan selama 3 purnama untuk menengok keluarga yang telah 10 tahun ditinggalkannya. Pada waktu Kidang Panah kembali dari menengok keluarganya itulah ia menemui kejadian para warga desa sedang menyeret mayat seorang pengemis tua.


" Apa yang kau lakukan, Darmo?" Kidang Panah mengulang pertanyaannya.


" Eeee...anu...anu, ini tiba-tiba di jalan ada pengemis tua entah darimana asalnya tergeletak mati di jalan. Dia sudah mati, Kang Kidang, " Darmo menjawab gugup takut dimarahi Kidang Panah.


" Mati? " Kidang Panah turun dari kudanya.


" Iya, mati. Sudah saya periksa nadi dan urat lehernya tidak berdenyut. Diguyur air pun diam saja. "


" Lalu mengapa kau seret dengan tali seperti bangkai binatang?" hardik Kidang Panah, " Apa begitu caranya memperlakukan jasad manusia? Kau mau kelak mayatmu diseret seperti itu kalau mati?"


Darmo menunduk, tidak berani menjawab.


Sebelum Kidang Panah mendesak lebih lanjut, dari arah bawah melaju seekor kuda. Penunggang kuda itu segera turun dari kudanya setelah melihat Kidang Panah.


" Rahayu, Kang Kidang."


Kidang Panah tidak menjawab salam penunggang kuda itu, malah bertanya dengan nada menegur, " Dari mana saja kau, Sena? Kupasrahi membimbing Dukuh tapi malah ini wargamu menyeret mayat manusia seperti membawa bangkai celeng. Apa kerjamu sebagai Buyut?"

__ADS_1


Sena yang ditegur oleh Kidang Panah mengernyitkan dahi tidak paham, " Saya baru saja memeriksa pengairan sawah di bawah, katanya ada yang mampet. Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi di sini, Kang."


" Kalau tidak tahu, tanya itu wargamu mengapa berbuat yang tidak pantas, " sahut Kidang Panah, " Tanya wargamu sekarang. Tunjukkan peranmu sebagai Buyut dan bukan begal!"


Sena menatap wajah Darmo yang masih menunduk. Hatinya kesal, tidak tahu menahu kejadiannya, tapi pagi-pagi sudah jadi sasaran damprat Kidang Panah.


" Heh Darmo ! Kenapa kalian menyeret mayat orang tua dan bukan mengangkatnya?"


Darmo mengangkat wajahnya. Meski kini Sena menjadi Buyut dan ia warga desa biasa, tapi kebiasaan mereka sebagai gerombolan begal belum sepenuhnya hilang. Yang ia takuti hanya Kidang Panah. Baginya, Sena masih seperti kemarin-kemarin, rekan sesama begal yang setara kedudukannya.


" Coba kau sendiri yang mengangkat, Sena!" Darmo balik mendamprat.


" Heh Dharmo, jaga ucapanmu! " Bukan Sena yang membalas ucapan Darmo, tapi Kidang Panah yang turun tangan, " Sena itu Buyutmu sekarang, bukan teman mabuk dan main perempuan lagi. Warga dukuh ini bukan hanya kalian bekas gerombolanku. Ada banyak orang luar yang bergabung. Kalau kalian tidak bisa menjaga kewibawaan Buyutmu, orang luar akan menghina dukuh kita. Paham kau?"


Darmo menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal," Iya kang Kidang, saya paham. Maafkan saya ya Buyuuuutttt Senaaaa...!"


Mendengar jawaban Darmo yang nadanya mengejek saat menyebut nama Buyut Sena, Kidang Panah diam-diam tersenyum geli melihat tingkah anak buahnya yang seolah masih belajar dari awal cara menjadi warga 'baik-baik'.


" Lalu alasanmu apa mengapa menyeret mayat itu?" Kidang Panah mengambil alih pertanyaan.


" Mayatnya penuh kotoran dan bau banget melebihi bangkai celeng yang sudah tiga hari mati, Kang. Lihat saja, itu lalat-lalat yang berkerumun ada ribuan!"


" Lalat?' Kidang Panah menatap mayat pengemis itu. " Lalat apa?' Katanya seraya mendekat.


Darmo dan teman-temannya ikut menatap kondisi mayat yang dikerumuni ribuan lalat. Heran, tidak terlihat seekorpun lalat di sana.


Kidang Panah berjongkok di sisi mayat itu.


" Kau bilang bau busuk, Darmo? Sini kalian mendekat! Apa ini yang kau bilang bau busuk?"


Darmo dan teman-temannya mendekat.


" Jagad Dewa Bathara!" Mereka serentak memekik.


Dari arah mayat pengemis yang tadi berbau sangat busuk, memancar wewangian melati yang sangat harum. Dan tubuh yang tadinya penuh kotoran, kini terlihat sangat bersih seperti habis mandi.


" Sumpah ! Sumpah, Kang Kidang. Mayat ini tadi sangat kotor dan bau busuk! " Darmo berkata lantang. " Iya kan? Kalian semua lihat sendiri kan?"


Kidang Panah mengernyitkan dahi, " Hmmm...ada yang aneh. ".


Belum ssmpat Kidang Panah memutuskan apa yang harus dilakukan selanjutnya, tiba-tiba kerbau yang sedianya dipakai untuk menarik mayat terlihat gelisah, mengeluarkan suara panik, menggeleng-gelengkan kepala dan mendepak-depakkan kaki seperti ingin melarikan diri namun tak mampu.


Tali kekang menjadi sangat tegang. Kerbau itu berusaha menarik mayat namun tidak berhasil menggeser sejengkal pun. Seperti menarik beban yang luar biasa beratnya. Bahkan ia mulai menaikkan kaki depannya ingin kabur.


" Heh, dia bergerak!" Darmo berteriak sambil menuding ke arah mayat.


Benar. Mayat pengemis itu menggeliat. Mula-mula mereka mengira kalau mayat itu bergerak karena badannya tertarik oleh kerbau. Tapi tidak. Malah kebalikannya, justru kerbau itu tiba-tiba bergerak mundur seperti tertarik oleh tenaga mayat yang bergerak.


" Apa ini? Apa yang terjadi?" Puluhan pasang mata warga dusun yang telah berkumpul karena penasaran adanya keramaian dengan was-was menatap kejadian aneh itu.


Belum usai keheranan mereka, tiba-tiba mayat itu perlahan-lahan berubah posisinya dan duduk.


" Hah? Dia hidup lagi !"


Pengemis yang disangka telah mati itu mengucek-ucek matanya selayaknya orang yang baru bangun tidur. Dengan gaya malas-malasan meregangkan tubuhnya dan menguap panjang.


" Hooooaaammm...."


Seluruh orang yang menatap tak berani mengedipkan mata takut kehilangan momen ajaib selanjutnya. Namun, pengemis tua itu malah duduk santai seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Matanya menerawang jauh seperti orang melamun. Tarikan-tarikan kerbau yang tertali di lehernya seperti tidak dirasakan. Tubuhnya tidak bergeming sedikitpun, napasnya tidak tersengal, padahal lehernya tertarik-tarik tali.


Kidang Panah meski masih dilanda keheranan mencoba berbicara dengannya.


" Rahayu, Bapa tua. Siapa Anda?"


Pengemis itu tidak menjawab pertanyaan Kidang Panah. Malah menatap Kidang Panah dengan kornea mata berputar-putar seperti orang gila.


Kidang Panah mengambil inisiatif untuk memberikan minuman padanya, " Sena, ambil air minum untuk Bapa ini !"


Sena tergopoh-gopoh mengangsurkan secawan air.


" Ini, Bapa. Minumlah!

__ADS_1


Pengemis itu menerima cawan dan meneguk habis minumannya.


" Lagi !" Katanya.


Sena menuang air lagi. Orang tua itu meminumnya lagi.


" Lagi!"


Kembali Sana memberikan air. Pengemis itu meneguknya dan merasa puas.


Ia meraba-raba lehernya seperti risih pada tali yang mengalunginya. Tiba-tiba ia menoleh ke arah kerbau yang panik ingin berlari.


Pengemis tua itu berdiri. Wajahnya merah padam penuh kemarahan.


" Heh, siapa yang mengikat leherku? Kalian kira aku anjing?" Teriaknya murka.


" Tidak begitu, Bapa. Ini tadi..." Sena berusaha menjelaskan, namun pengemis itu terlihat tidak peduli. Ia meloloskan kalung tali dengan mudahnya kemudian memegang ujung simpulnya. Satu tangannya membetot tali itu lalu memutar-mutarnya.


Akibatnya, kerbau yang cukup gemuk dan bertenaga besar itu berputar-putar di udara seperti mainan anak-anak.


Semua orang yang melihatnya berteriak ketakutan. Kejadian itu sudah tidak bisa dicerna akal.


Kidang Panah yang pernah mendengar beberapa jenis ilmu kesaktian segera paham yang sedang dihadapinya adalah ahli ilmu gaib yang memiliki kemampuan sihir.


" Jangan takut!" Kidang Panah berteriak untuk menenangkan orang-orang, " Itu hanya sihir. Permainan pikiran !"


Pengemis tua itu tertawa terbahak-bahak, " Sihir? Kau bilang ini hanya sihir? Nih sihir !"


" GUBRAAAKKK...!" Kerbau yang diputar-putar itu dijatuhkan tepat di depan kaki Kidang Panah.


Kerbau itu menggeliat sekarat, berguling-guling lalu mati.


" Siapa yang tadi mengikat leherku?" Pengemis itu berteriak lantang.


Karena tidak ada yang berani menjawab, akhirnya Kidang Panah mengambil tanggung jawab, " Aku yang mengikat lehermu !"


Pengemis itu menatap mata Kidang Panah dengan sangat tajam. Kemudian berkata, " Heh heh heh...bukan kau pelakunya. Jangan coba-coba menipu aku untuk menyelamatkan nyawa begundal-begundal pengecut itu. Yang salah tetap salah, yang benar jangan ikut-ikutan salah hanya karena ingin menolong yang salah. "


Kidang Panah terhenyak dengan kalimat terakhir pengemis itu. Meski diucapkan dengan nada seperti orang tak waras, namun pengertiannya benar. Ia segera paham, bahwa orang yang dihadapinya bukan seorang ahli ilmu gaib sembarangan.


Kidang Panah secara pribadi sebenarnya tidak takut menghadapi ilmu sihir karena ia yakin itu hanya permainan pikiran, namun karena ia tahu seluruh warga desa ketakutan oleh amukan pengemis sakti itu, akhirnya ia menawarkan penyelesaian, " Begini saja, Bapa. Saya sebagai pemimpin mereka mengaku salah atas perbuatan ini. Sekarang apa yang harus kami lakukan agar Anda tidak murka atas kesalahan kami?"


Mendengar kata-kata Kidang Panah, pengemis itu kembali terbahak-bahak, " Ha ha ha ha...ada bocah kemarin sore pamer tanggung jawabnya sebagai pemimpin. Pemimpin apa? Pemimpin begal? Jadi pemimpin begal kok bangga? Hua ha ha ha ha..."


Kidang Panah terkesiap. Bagaimana mungkin pengemis tua itu bisa tahu latar belakangnya sebagai begal? Tapi ia memutuskan untuk tidak membahas hal itu.


" Saya bukan begal lagi..."


" Hua...ha...ha...ha...kekuatan cinta. Padma Dewi...Padma Dewi...."


Kidang Panah seketika terpaku. Pengemis itu mampu menerobos pikirannya. Ia ingin mengucapkan sesuatu, namun pengemis itu tiba-tiba membuka mulutnya dan berkata-kata, " Sudah, sudah. Tidak perlu bicara banyak. Aku ini pengemis, tidak perlu ditawari ini itu. Aku yang harus minta. Sekarang aku minta pada kalian. Kalau kalian beri, aku lupakan kesalahan kalian. Tapi kalau tidak, aku tak akan memaafkan kalian. Sanggup?"


" Baik, Bapa. Apa yang kau minta?"


" Sanggup tidak?"


" Katakan dulu apa yang Bapa minta. Kalau kami bisa, pasti kami berikan."


" Dasar manusia! Ditanya sanggup atau tidak saja jawabannya ke sana ke mari. Cuma mau untung saja. Kalau ada untung disanggupi, kalau merugikan dilingkari. Padahal apa-apa dalam hidup ini diberikan secara cuma-cuma tanpa diminta. Ya napas, ya kata-kata, ya nikmat senggama. "


Semakin banyak Kidang Panah menyimak kata-kata pengemis itu, makin terasa banyak pelajaran tersembunyi yang diberikan. Maka, dengan nada halus ia berkata, " Katakan saja apa yang Bapa minta."


Pengemis itu tersenyum mengejek, " Apa yang aku minta ada pada kalian semua. Kalian semua punya. Jadi ini hanya masalah mau atau tidak mau...heh heh heh..."


" Apa yang Bapa minta? "


Tiba-tiba pengemis itu mendengus.


" Nyawa kalian. Aku minta nyawa kalian semua !!!"


***

__ADS_1


__ADS_2