KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad

KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad
57 MEMBAWA CUCAK


__ADS_3

Malam telah memasuki wayah sirep bocah ( sekitar jam 9 malam). Ni Smara duduk sendirian di pondhok pari, menunggu kedatangan Cucak sebagaimana waktu yang telah dijanjikan. Sementara Karna, Kidang Panah, dan Julig duduk bersembunyi di atas dahan pohon besar.


Mendung yang sedikit menggelayut membuat jalan setapak antar desa tidak terlihat permukaannya. Mereka berharap hujan tidak turun sebelum Cucak melewati jalanan itu untuk ditangkap, agar tidak terlalu merepotkan Ni Smara. Kasihan perempuan muda itu kalau kehujanan di tengah malam.


" Tuk ...tuk..tuk..." lirih terdengar ketukan menimpa tanah.


Mata Kidang Panah dan Karna yang mampu menembus kegelapan menoleh ke arah suara itu. Renang-remang terlihat bentuk seekor kuda membawa seseorang yang menenteng obor.


" Semoga itu Cucak!" gumam Karna.


Kuda itu makin mendekat. Setelah melewati gapura batas desa Cunggrang, larinya melambat. Berjalan perlahan-lahan seperti mencari sesuatu dengan menggerak-gerakkan obor.


" Ni Smara kekasihku, ini aku Cucak. Kau di mana?" teriak orang itu.


Ni Smara dari jarak sekitar 10 depha ( 20 meter) berjalan agak lambat untuk memberi kesempatan kepada Kidang Panah menyergap Cucak sebelum ia sampai, " Aku di sini. Kang Cucak tetap di sana saja biar aku yang menyusul."


Mendengar suara Ni Smara, Cucak tertawa lirih, " Ternyata kau benar-benar kekasihku, Nimas. Kau benar-benar memenuhi janji. Hehe..."


Sementara di atas dahan pohon besar, Kidang Panah berbisik," Aku akan meringkus dia sekarang, Wingit. Bantu aku kalau perlawanannya cukup merepotkan."


Karna mengangguk. Kidang Panah melompat turun langsung menerjang ke arah tubuh Cucak.


" Hyaaattt...!!!"


Cucak terkesiap merasakan ada angin tajam menyerang ke arahnya. Sebagai seorang prajurit, Cucak bukan orang yang bisa dipandang terlalu ringan. Meski kemampuan bela dirinya tiga tingkat di bawah Kidang Panah, namun untuk sekedar menghindari serangan yang datang, Cucak mampu melakukan. Dengan menggeser kaki dua tindak, sergapan Kidang Panah lolos dari sasaran.


Kidang Panah mendarat di tanah dengan satu kaki menekuk ke belakang.


" Siapa kau? Mengapa kau menyerang aku?" tanya Cucak dengan nada menghardik. " Apa kau tidak tahu aku ini prajurit Baswara?"


Kidang Panah mendengus, " Justru karena aku tahu kau prajurit Baswara aku menghadangmu. Kau melakukan pelanggaran telah berbuat tidak senonoh dengan seorang Jalir tanpa memberitahu Juru Jalir."


" Apa urusanmu? Kalau kau Juru Jalir, biar aku bayar dendanya. Selesai urusan! Kenapa harus menyerang?"


Kidang Panah berjalan mendekat agar dapat melihat raut wajah Cucak secara lebih jelas. " Aku tidak punya urusan dengan Juru Jalir. Aku prajurit Bhayangkara! Urusanku ingin menangkapmu atas pelanggaran pada aturan keprajuritan Majapahi."


Cucak sedikit tercekat mendengar yang dihadapinya adalah seorang prajurit dari kesatuan paling tersohor di Majapahit. Namun mengingat ia sedang menjalankan tugas rahasia yang tidak boleh ditunda, ia tidak mau membuang waktu untuk mengurusi hal itu.


" Mana lencana Bhayangkaramu?" tanya Cucak


Kidang Panah yang hanya mengaku-ngaku tentu saja tidak mempunyai lencana Bhayangkara. Sebagai gantinya, ia menghardik keras, " Tidak usah banyak omong. Kau mau menyerah dan kutangkap baik-baik atau kuseret paksa?"


Cucak mendengus dingin, " Kau hanya membual! Tidak ada prajurit Bhayangkara yang malu menunjukkan lencananya. Semua prajurit Bhayangkara bangga dengan lencananya. Kalau kau tidak mau menunjukkan, berarti kau bukan prajurit Bhayangkara! Keparat kau berani berurusan dengan prajurit Baswara! Pergi dari sini dan kuanggao kau hanya orang gila atau kalau berkeras mengganggu urusanku, akan kuhabisi nyawamu!"

__ADS_1


Kidang Panah tidak menjawab. Secepat kilat ia mendahului serangan ke arah kepala Cucak.


Cucak yang sudah bersiap, menangkis pukulan Kidang Panah.


" Bluugg.. !!!" Terjadi benturan dua kepalan tangan.


Cucak meringis merasakan kerasnya kepalan tangan Kidang Panah. Ia segera tahu bahwa lawan yang dihadapinya cukup tangguh.


Cucak balas menyerang dengan mengubah arah pertempuran atas ke bawah. Ia sapukan kaki untuk menjatuhkan kuda-kuda Kidang Panah yang berdiri wajar. Namun Cucak belum tahu kemampuan Kidang Panah yang sesungguhnya. Hanya dengan lompatan pendek sapuan Cucak tak menemui sasaran. Justru posisi tubuhnya yang rendah dimanfaatkan oleh Kidang Panah untuk melakukan tendangan beruntun ke kepala Cucak.


Kecepatan tendangan Kidang Panah yang menyambar-nyambar tanpa jeda membuat Cucak kewalahan menangkis.


Akhirnya..." Plaaakkkk....!!!" Satu tendangan menyilang Kidang Panah menghajar dagu Cucak secara telak.


Cucak terhuyung-huyung kehilangan keseimbangan. Kidang Panah menyusulkan satu serangan lurus menghantam dada Cucak hingga terlempar jatuh menghempas permukaan tanah.


Belum sempat Cucak mendongakkan badan, kaki Kidang Panah sudah menginjak lehernya.


" Kau mau menyerah atau mati?" dengus Kidang Panah.


Cucak meringis menahan sesak di dada akibat tendangan lurus Kidang Panah.." Siapapun Ki Sanak, tolong biarkan aku melanjutkan perjalanan. Kalau ada urusan, kita selesaikan lain hari. Aku sedang ada urusan sangat penting.'


" Urusan penting apa?"


" Tugas dari Demang Suranggana maksudmu?" desak Kidang Panah.


" Bukan. Bukan. Aku tidak bisa mengatakannya!"


" Wingit, turun sini. Geledah orang ini!" seru Kidang Panah pada Karna yang masih duduk di atas pohon.


Karna melompat turun. Berjongkok di samping tubuh Cucak yang masih diinjak Kidang Panah agar tidak bisa meronta.


" Ambil itu gulungang kain yang terselip di lipatan bajunya!" seru Kidang Panah.


" Jangan! Jangan ambil itu, Ki Sanak. Ambil saja semua uangku, tapi jangan gulungan kain itu, " seru Cucak ketakutan saat Karna memegang surat dari Demang Suranggana. Dengan sekuat tenaga Cucak berusaha meronta, namun sisa kekuatannya tidak berhasil melawan tenaga Kidang Panah. " Itu seperti nyawaku, jangan ambil!"


" Wingit, buat orang ini diam! " seru Kidang Panah.


" Tak...tak...!!!" Karna menotok saraf pergerakan Cucak sehingga tubuhnya kaku tak bisa meronta lagi.


Setelah Cucak lemas tanpa daya karena ditotok Karna, Kidang Panah memondong tubuhnya dan menaikkannya ke punggung kuda. " Keterangan Cucak masih kita butuhkan. Kita bawa dia ke kedai."


Sementara Julig sudah turun dari pohon dan Ni Smara juga ikut bergabung bersama 3 Ksatria. Ni Smara salah tingkah tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Tanpa sadar ia terus mengikuti ke manapun Kidang Panah melangkah.

__ADS_1


Menyadari sikap Ni Smara yang aneh, Kidang Panah mengira Ni Smara ingin menagih tambahan upah yang ia janjikan.


" Tugasmu sudah selesai, Ni Smara, " ujar Kidang Panah. " Terima kasih telah membantu kami menangkap prajurit yang melanggar aturan."


Ni Smara menangkupkan tangan hormat dan berkata, " Kawula bahagia bisa ikut meringankan beban tugas Raden. Setidaknya meski sekali seumur hidup, kawula pernah menjadi orang yang berguna untuk Negara."


Kidang Panah merogoh kantong uangnya, tanpa menghitung jumlahnya ia serahkan ke genggaman tangan Ni Smara, " Ini untukmu, semoga cukup untuk membangun hidup yang lebih baik untukmu."


Namun, bukannya terpancar raut wajah gembira seperti saat ia menerima uang Ma emas pertama kali, justru mata Ni Smara terlihat sayu tanpa semangat saat menggenggam uang yang bernilai sangat besar itu.


" Apa yang harus kawula lakukan dengan uang sebanyak ini, Raden?"


" Terserah kau, Ni. Uang itu sudah jadi milikmu sekarang."


" Bukan itu, Raden. Apa yang bisa kawula lakukan sekarang?" Ni Smara terlihat bingung.


Kidang Panah mengira Ni Smara bingung ingin pulang, " Oh iya aku lupa. Ni Smara harus pulang ke rumah sekarang. Dia harus diantar. Begini saja, aku dan Karna akan menggendong Cucak ke kedai. Julig, kau antar Ni Smara pulang ke rumahnya naik kudanya Cucak!"


" Baik, Kang, " sahut Julig.


Namun, Ni Smara tiba-tiba berkata lirih, " Kawula tidak berani naik kuda. Kawula pulang sendiri saja daripada merepotkan Raden."


Kidang Panah mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia mulai mampu menduga apa yang sedang terjadi dalam perasaan Ni Smara. Kidang Panah menarik napas lembut, " Perempuan tidak boleh jalan sendiri di malam hari. Biar aku antar kau pulang ke rumahmu."


Ada sekilat cerah bersinar lembut di mata Ni Smara mendengar ucapan Kidang Panah. Julig pun menangkap itu dan segera tahu urusan hati yang sedang melanda.


Dengan memberi isyarat kepada Karna, Julig mengajak mendahului pergi meninggalkan Kidang Panah dan Ni Smara. Julig tidak ingin perasaan wanita Ni Smara menjadi serba salah kalau ada orang ketiga.


Dengan cerdik Julig mengalihkan suasana dengan menantang Karna.


" Jadi begini aturannya, Kang Wingit. Saya naik kuda menjaga biar tubuh Cucak tidak jatuh dari kuda, sedang kang Wingit lari. Kita balapan. Nanti kalau saya yang menang, Kang Wingit pijitin saya."


" Kalau aku yang menang?" tanya Karna.


" Ya Kang Wingit minta pijit sama kuda dong!"


" Hahaha...." Karna tidak bisa menahan tawanya.


Kidang Panah ikut gemas mendengar kejahilan Julig. Ia ambil ranting kering dan dilemparkan ke kepala Julig dengan gemas.


Namun bukan Julig kalau tidak bisa membalas. Dengan nada sengit ia berseru, " Eh, kang Kidang kalau mau pacaran ya pacaran aja. Ndak usah ngusir orang pakai lempar-lemparan gitu. Hahaha..."


Julig sudah mencongklang kuda saat Kidang Panah ingin melempar lagi. Sementara Karna mengikuti dengan lari menyejajari kuda menuju kedai tuak Kusa

__ADS_1


***


__ADS_2