Lebih Dari Pacar

Lebih Dari Pacar
10. What about this?


__ADS_3

...🌿🌿🌻🌿🌿...



...🌿🌿🌻🌿🌿...


"Hhhhh!" Bella melemparkan tasnya asal dan kemudian berbaring sesuka hatinya di ranjang empuk kesayangannya.


Dia menerawang, merenung, terdiam memikirkan sesuatu. Diraihnya ponselnya lalu membuka galeri lama foto-fotonya bersama dengan Jimmy.


"Hem!" Bella tersenyum pias lalu mengusap air matanya yang menggenang.


"Ah, sejujurnya aku merindukanmu Jim. Kamu apa kabar? Terakhir kali kau membuatku sakit yang teramat sakit." Bella menyedot ingusnya yang turun.


Di ambilnya tisu lalu menyeka air mata dan juga ingusnya. " Humh!" Bunyi yang akrab dengan kelegaan di hidung. " Apa aku begitu jelek huh? sampai kau selalu menolakku?"


Bella ingat, bagaimana dulu di saat kecil mereka bersama, bagaimana Jimmy yang selalu melindunginya, menjaganya dari anak-anak lain yang mengejeknya, mengatakan bahwa Bella jelek dan gendut.


"Coba saja kalau kau dulu tak sebaik itu. Aku tak akan jatuh cinta padamu bodoh!!" Bella memaki gambar Jimmy yang tengah tersenyum.


"Jangan sok manis!!" Teriaknya memaki gambar yang tak berdosa.


"Bell!! Bella!!"Seru bunda Ria yang berlari tergopoh-gopoh menuju ke kamarnya masih dengan membawa spatula dan juga celemek yang menempel di tubuhnya.


"Ada apa?" Sambungnya lagi mengiringi kekhawatirannya.


"Tidak apa-apa Bun!! hanya sedang menonton drama!!" Sahutnya berkilah, malu saja jika ketahuan sedang menangisi sosok yang menyebalkan berwajah tampan.


"Ah, Bunda kira apa?" Gumam Bunda Winda yang kemudian pergi dan melanjutkan aktivitasnya memasak makan malam.


...🌿🌿🌻🌿🌿...


Di meja makan.


"Bagaimana kuliahmu?" Tanya Ayah Fauzi dengan memperhatikan wajah putrinya yang terlihat murung.


"Baik Ayah, semuanya baik-baik saja." Jawab Bella yang memberikan kelegaan tersendiri bagi sang Ayah.


"Oh iya Bell, Nanti selesai makan. Kamu hantarkan kue ini ke Bunda Suci ya? Dia ingin kue lapis buatan Bunda, dan kebetulan baru saja matang." Ucap bunda Ria memerintah.


Bella hanya mengangguk perlahan dan kemudian melanjutkan makannya. Tak ada percakapan sesaat kemudian, hanya suara sendok dan garpu yang menari menciptakan suara denting lirih di meja makan.


"Bell, Nanti kalau kamu berkunjung ke rumah Bunda Suci, jangan lupa jenguk Jimmy ya." Pesan Ayah Fauzi.


Bella menghentikan makannya dan menatap Ayahnya sekilas, "Iya Yah." Jawabnya lirih Solah terbentur keadaan.

__ADS_1


Dia memang mendengar sudah tiga hari Jimmy kembali kerumah orang tuanya. Jimmy yang semenjak kuliah di luar kota menetap dalam sebuah apartemen, terpaksa harus kembali kerumah besar sampai dirinya sembuh.


Sebenarnya, Bella Sudah sangat ingin menyapa dan bersua dengan sahabatnya itu. Tapi, ada rasa yang mengganjal. Rasa sakit yang terakhir kali Jimmy torehkan sebelum pergi.


Hari dimana Jimmy bermesraan dengan pacar barunya, tepat setelah Bella mengatakan perasaannya.


Dalam hal ini, Bella lebih condong pada rasa egois.


Dia tak rela jika Jimmy bersama wanita lain dan tak ada kelonggaran meskipun sebenarnya dia tau, dia tak berhak melarang seorang Jimmy untuk berpacaran.


"Ini, berikan nanti ya." Kata bunda suci yang juga sudah siap." Bella mengernyit heran. Kalau Bundanya juga sudah siap, lalu mengapa harus dia yang memberikan?


"Bunda ikut?" Tanyanya.


"Iya dong harus Bunda sama Ayah ikut sekalian main dan jenguk Jimmy. Ayah kangen sama anak Ayah itu." Ucap Ayah Fauzi melebih-lebihkan posisi Jimmy di hatinya. Yaitu, lebih dari sekedar anak tetangga.


"Ayah kangen sama anak ayah itu.." Bella mencibikkan mulutnya dan menirukan ayah bicara dengan menye-menye menunjukkan bahwa dia tak setuju akan opini Ayahnya itu.


"Anak Ayah itu aku, bukan Jimmy!!" Ketus Bella berbicara yang kemudian memutar bola matanya malas.


"Iya, kalian anak ayah semuanya." Kata Ayah Fauzi yang kemudian mengusap pucuk kepala Bella.


Bunda suci terkekeh kecil. " Kalian ini, sudah ayo cepat! nanti keburu malam." Ujarnya sembari tertawa.


"Jimmy anak Ayah, kak Rama anak Ayah. Aku anak gembel!!" Bella berdecak kesal lalu menghentakkan kakinya dan berjalan mendahului kedua orang tuanya.


Bella menyiapkan keberaniannya. Dia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Ada rasa yang aneh ketika ini merupakan pertama kalinya setelah 6 bulan mereka sama sekali tidak pernah bertemu ya itu adalah rasa canggung bukan rasa yang lain.


Setelah mengetuk pintu kemudian mereka dipersilahkan masuk dan mendapat sambutan yang hangat dari Bunda suci.


"Oh anak bunda sudah datang!!" sambut Bunda Suci penuh antusias disertai dengan senyum manis dan jangan lupakan dia selalu memeluk Bella dan mencium gemas kedua pipi Bella.


"Bagaimana kamu senang kan? sekarang kamu punya orang tua di sini." Celetuk Ayah Fauzi yang membuat Bella seketika memicingkan matanya tidak suka.


"Em... Si, bagaimana kalau kita barter. Bella biar disini dan Rama biar ikut kalian." Kata Bunda Winda seenak hatinya.


Main barter saja, memangnya anaknya itu barang?


Bella kesal hanya bisa diam dan mengerucutkan bibirnya. Manyun.


"Daripada barter, enak kita jodohkan saja." Celetuk Ayah Dandi yang baru saja dayang dan bergabung di ruang tamu.


Mereka semua sontak terdiam dan memfokuskan perhatian pada ayah Dandi. "Hahahah! Kau pandai bercanda! Kita sudah pernah membicarakan hal ini kan?" Ucap Ayah Fauzi menyahuti.


"Tidak ada jodoh menjodohkan. Biarkan anak-anak kita menemui jodohnya masing-masing, terkecuali jika memang anak kita berjodoh dengan sendirinya. Imbuhnya lagi dan kemudian tertawa kecil dan menepuk dua kali bahu Ayah Dandi sebagai penekanan agar semuanya tetap berjalan baik.

__ADS_1


"Iya aku cuma bercanda." Sahutnya kemudian sembari mengangguk paham.


Kini Bella mengerti mengapa Jimmy selalu menolaknya. Memang dia tidak berbohong, persahabatan yang terjalin secara baik lebih panting dari hubungan asmara.


"Eh, kamu tidak kangen sama Jimmy?" Celetuk Bunda suci dengan tangannya yang menunjuk kamar Jimmy.


Bella tersipu dan tersenyum malu-malu. "Ah, Bunda, Jimmy sedang sakit jadi biarkan dia beristirahat." Elaknya tak kuat hati bila harus bertemu secara langsung dengan sahabat yang dicintainya itu.


"Sana, temui dia Nak! Dia selalu menanyakanmu semenjak kedatangannya tempo hari." Kata Ayah Dandi.


"Iya, siapa tau dia sakit karena terlalu lama jauh dari kamu." Cetus Bunda suci yang membuat Bella menatapnya tak percaya jika Bundanya begitu blak-blakkan begini.


Oh astaga!! Bella sangat malu untuk mengakui ini. Orang tuanya terkesan blak-blakan dan tak tau malu. Sedangkan orang tua Jimmy tetap menjaga keanggunannya meski dalam mode bersenda gurau. Bella menunduk malu lalu tersenyum simpul menatap Ayah dan Bunda Jimmy.


"Bun, aku ke atas dulu ya?" Pamitnya dengan sopan.


"Oh iya, silahkan!" Mereka mempersilahkan dengan senang hati.


Bella mulai menapaki tangga menuju ke kamar Jimmy. Untuk sesaat dia ragu, menghirup nafas dalam-dalam lalu mengehmbuskanya perlahan mencoba untuk mengusir segala kecanggungan.


Sepi, senyap tak ada suara kecuali langkah kakinya dan dia mengulurkan tangannya untuk mengetuk pintu kamar Jimmy.


TOK!


TOK!


TOK!


"Jim, ini aku Bella. Apa boleh masuk?"


Tak ada jawaban namun pintu terbuka dengan lebarnya menampilkan sosok yang telah lama Bella tak jumpa.


"Aku kangen!!" Ucapnya manja. Dan....


...πŸŒ¬οΈπŸƒπŸƒπŸƒπŸ¦‹...


Ada pertanyaan nih dari Othor-nim. ini kuis yang unfaedah.


Kira-kira apa yang akan di lakukan Jimmy?


a. Memeluk Bella dengan erat.


b. menariknya dan mendudukkannya di ranjang.


c. Langsung mencium Bella tanpa banyak bicara.

__ADS_1


Tulis jawaban kalian di kolom komentar ya...


__ADS_2