
...💙💙💙...
Menguar aroma khas yang selalu ada di sebuah gedung pengobatan yang sering kita sebut sebagai rumah sakit. Bella, dia masih setia di sana menunggui sahabatnya yang terbaring lemah tak berdaya. Jimmy masih bernafas menggunakan bantuan oksigen dan juga di tangannya masih menancap jarum dari selang infus.
Bella menunggunya dengan sabar, meskipun dia tak selalu fokus pada Jimmy dan lebih fokus pada layar laptopnya. Masih menunggu keluarga yang akan datang. Ayah Dhani dan Bunda sudah tentu masih marah dan tidak akan mau menjemput Jimmy. Hanya Rama yang Sudi mengurusnya.
...POV Bella....
Ah, kepalaku sudah hampir pecah rasanya. Tugasku menumpuk, belum lagi harus mengurus Jimmy disini tak pernah terpikirkan jika aku akan bertemu dengan kejadian yang begitu rumit begini.
Aku tidak tau jika Eva dan Jimmy sampai.... Ah, sudahlah itu masalah mereka. Tugasku disini hanyalah sebagai sahabat yang baik yang memberikan dukungan moril saja. Tidak lebih.
Ayolah Jim, bangun... Kau sudah terlalu lama tertidur. Apa tidak lelah tidur terus? Ah, kurasa aku sudah gila karena mengajak bicara dari hati ke hati orang yang tengah tertidur ini.
Sudah dua hari, dan setiap meminum obatnya dia akan tertidur begini. Dan aku? aku hanya bisa mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh dosen.
Sebenarnya, aku membutuhkan sebuah modul baru. Tapi... jika aku pergi, bagaimana dengan Jimmy? siapa yang akan menjaganya?
Oh, mengapa aku melupakan Seseorang, sepertinya sopir Robbie bisa membantuku untuk menjaga Jimmy sebentar. Tapi jika begitu maka aku harus berkata jujur pada Robbie kan?
Sedangkan dari nada bicaranya kemarin, dia terdengar tak suka dan terkesan marah padaku. Hhhhh, sumpah aku sangat bingung sekarang, satu sisi ada tanggung jawab kuliahku, di sisi lain aku juga harus bertanggung jawab dengan hatiku sendiri.
Aku sadar, mungkin sebagian orang aku ini adalah wanita yang berjiwa lemah. Tapi sebenarnya lemah atau tidaknya, kuat atau rapuhnya, semua itu bukan perkara air mata. Melainkan mengenai hati yang begitu hangat hingga tak bisa lagi merasakan dinginnya kesendirian.
Aku adalah aku.
Aku terlahir untuk nyata, bukan untuk sempurna.
Aku adalah aku.
Aku ada bukan untuk membuatmu selalu bahagia.
Aku adalah Aku
__ADS_1
Aku yang tak melulu memberikan senyuman dalam keadaan sedihku.
Kulihat, Jimmy masih terlelap dengan damainya. Entah mengapa Aku sama sekali tak merasakan getaran lagi saat kemarin Dia memelukku. Tapi mengapa isi kepalaku kini melulu memikirkan Robbie?
Dari sorot matanya aku dengan jelas bisa melihat ketakutan yang begitu nyata. Untuk pertama kali si tengil ini ketakutan sampai sebegitunya. Dan untuk pertma kalinya juga aku melihat bukti nyata akan keganasan Ayah Dhani saat marah.
Suara lengkuhan terdengar, Kulihat dia menggeliat dan mengerjapkan matanya beberapa kali mencoba untuk menyesuaikan sinar lampu yang masuk dan menyilaukan matanya. "Chaby" Lirihnya memanggilku. Tapi lagi lagi anehnya, telingaku malah mendengarkan panggilan Robbie saat ini seperti CHAGI yang aku tahu itu adalah panggilan sayang pura pura kami.
Sepertinya aku memang akan segera gila dengan banyaknya tugas dan juga taggungjawabku dalam menjaga si tengil ini.
'Ya, apa Jim. Apa kamu butuh sesuatu?" Tanyaku berharap dia tak meminta sesuatu yang aneh.
"Kemarilah!" Tangannya bergerak melambai padaku.
Entahlah, tapi firasatku tak baik akan hal ini. Tak ada pilihan aku hanya bisa menurut dan duduk di tepi ranjangnya. "Ada apa?" Tanyaku padanya yang masih menatapku nanar.
"Apa yang sebenarnya terjadi kemarin?"
"Kamu pingsan Jim, tubuhmu demam, dan aku membawamu kemari." Jawabku menjelaskan keadaanya kemarin bagaimana dia begitu tidak berdaya.
"Ya, mungkin. Jika itu merupakan jalan keluarnya. Bukan aku tak mempercayaimu Jim. Tapi itu semua sudah konsekuensi dari apa yang kamu lakukan dengannya. Bersikaplah dewasa dan pertanggung jawabkan apa yang sudah kamu lakukan." Ucapku memberikan sudut pandangku padanya agar dia bisa mengolah pikirannya daan mengambil keputusan untuk masalahnya.
"Boleh Aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya sebelum Aku menjadi suami orang?" Ucapnya dengan nada kesedihan.
Bergetar hatiku saat dia berucap seperti itu. Sebenarnya andaikan dia menikah dengan orang yang tepat, tentu aku akan ikut bahagia, Tapi.... Ini wanitanya adalah eva. Siapa yang tidak mengenal Eva? Dan aku rasa Jimmy telah di jebak olehnya.
"Ya, boleh. Hanya 3 menit."
"5!" Pintanya.
Aku tak kuasa menolaknya sedang dia masih dalam kondisi lemah begini.
Saat kami tengah berpelukan, seseorang datang mengetuk pintu. Aku begitu terperanjat saat ternyata orang tersebut adalah Mantan pacarku. Aku begitu gugup sampai-sampai tanganku mulai berkeringat dingin.
Ini kali pertamanya kita bertemu setelah kami putus. Aku hanya bisa menatapnya nanar. Namun, mengapa yang kurasakan adalah hambar?
__ADS_1
Aku merasakan semuanya kembali pada saat kami tidak memiliki hubungan dulu.
"Hai!" Dia menyapaku seperti biasa seolah tak ada yang pernah terjadi di antara kami.
Mungkin dari hal ini aku memahami bahwa Darah lebih kental daripada air. Dalam hubungan ini memang semestinya aku yang disingkirkan jika keberadaanku adalah sebagai pemutus saja. Harusnya aku menyadari ini dari lama dan bukan malah berleha leha mempermainkan keduanya.
...~~~...
"Hai KAK!" Ucapku yang balas menyapanya walau tergagu.
"Jim, Kau sudah baikan?" Terlihat Kak Rama sedang mencemaskan adiknya ini.
"Aku sudah lebih baik Kak." Jawab Jimmy dengan suara lemah.
"Apa Ayah masih marah?"
"Tentu saja, apa kepalamu terbentur sampai kau menjadi sebodoh ini? Aku memintamu untuk mengamankan diri dari amukan Ayah, tapi bukan berarti kau lari sejauh ini belum menggunakan kartu kreditku?" Rama mengusuk tengkuknya.
Aku binging, dia ini sebenarnya sayang uang atau adiknya?
"Maaf, aku takut jika terus di sana maka para wartawan akan mengejarku."
"Ah, akhirnya kau pakai juga otakmu itu Jim. Lalu kenapa kau ada disini?"
"Aku?" Jimmy menunjuk hidungnya da tertawa kecut. "Aku sedang menginap di hotel mewah, dan ditemani wanita cantik." Jawab Jimmy yang begitu kesal. Sudah tahu sakit, masih saja ditanya. Apa Dia tidak biasa melihat selang infus ini?
"Ya tahu, maksudku kau sakit apa?"
"Kata dokter karena kelelahan dan juga ada infeksi di punggungya." Aku ikut bicara setelah beberapa saat menjadi penonton diantara keduanya.
"Rasakan!" Ucap Kak Rama menyumpahi.
...POV Author....
Di sisi belahan Bumi yang lain, Seseorang tengah meremas ponselnya saat mendengarkan laporan akan kedekatan Bela dengan dua lelaki sekaligus dalam satu ruangan.
__ADS_1
"Dia bilang sudah putus dan enggan untuk berkomitmen. Tapi sekarang Rama juga sampai menyusul kesana. Apa mereka akan kembali bersama?" Robbie menerka daam diamnya.