Lebih Dari Pacar

Lebih Dari Pacar
~ memancing.


__ADS_3

...🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼...


"Oby!!"Seru seorang wanita yang memanggil robbie dengan suara melengking yang menggema di antara bebatuan.


"bie, siapa dia?" Tanya Bela penasaran.


Robbie menyipitkan matanya untuk menajamkan penglihatan. terlihat Lamat lamat sosok wanita itu ialah sosok wanita yang akhir akhir ini sering mengganggunya dan memberikan rasa tak nyaman karena sikapnya yang lebih condong pada tak tahu malu. Bagaimana tidak, pasalnya Robbie sudah menolaknya puluhan kali, tapi tetap saja dai ingin mendekati Robbie.


"Abaikan saja! Dia tidak penting." Kata Robbie yang terkesan acuh dan kemudian kembali melanjutkan kegiatannya memasang tenda.


Bella mengkerutkan keningnya indah, dalam hatinya dia terus saja bertanya tanya siapa wanita yang ian mendekat itu.


"hai Bie!" sapanya saat langkanya terhenti tepat di hadapan Robbie.


"Hum!" Sahut Robbie malas.


"Ih, kok gitu sih jawabnya kan aku kangen tau!" Ujarnya yang tanpa rasa malu langsung menempel pada lengan Robbie.


Robbie segera menepis lilitan si ulat bulu dengan mencari perlindungan baru. "Tolong jaga jarak dan hargai tunangan ku. Lihat, kami sudah bertunangan." Bukannya percaya, haruka malah tertawa meremehkan.


"Menurutmu aku akan percaya? Bukannya kamu memang sudah memakai cincin itu bertahun tahun lamanya hanya untuk menjauhi kami yang mengejar mu?" Kata Haruka yang membuat Bella seketika menatap Robbie seolah menuntut penjelasan lebih.


"Maf, tapi memang kami sudah bertunangan cukup lama."Ujar Bella yang membuat keduanya cukup tercengang. Robbie pun tak kala terkejutnya dengan perkataan Bella.


"See! aku memakainya sedari lama itu karena memang sudah lama bertunangan dengannya yang masih berada di luar negri. Jadi tolong hargai hubungan kami dan segera pergi." Kata Robbie yang secara halus juga terbuka mengusir Haruka.


Well, kita lihat sejauh mana hubungan kalian. Aku tidak yakin. aku tahu kamu hanya membodohiku untuk menjauh darimu.Barin Haruka yang bersmirik meremehkan keduanya.


Rumi datang dengan tergopoh gopoh membawa beberapa perlengkapan tenda dan dengan nafasnya yang ngos ngosan dia langsung terduduk lemas di samping Haruka. "Aku capek banget, kamuh.. ga mau bantuin.." Protes Rumi yang baru sampai.


"Ah, bawel! cepat berdirikan tendanya sebelum gelap!" Kata Haruka yang mengabaikan keadaan temannya yang sedang lelah.


"sepertinya kita harusnya pergi saja." Kata Robbie saat Bela membantunya mengikat tiang pada tenda.


"Bie, tidak usah. Buat apa pergi, bukannya kamu mau memancing kan? ya sudah mancing saja." Bella dan Robbie berbicara dalam mode berbisik karena tak ingin Haruka mendengarnya.


"Tapi Bell, kamu tidak tahu siapa yang kita hadapi saat ini. Dia itu wanita yang tak punya malu, bisa bisa nanti malam dia menyusup dan tidur di tendaku."


"Wah benarkah? apa dia sudah tidak waras? bagaimana kalau kamu khilaf lalu...." Bella menggumam di akhir ucapanya dan hayalannya terputus mana kala Robbie segera mengusuk pucuk kepalanya.


"Enak saja, ngawur kamu. aku hanya akan melakukannya dengan istriku!" Sahut Robbie yang tak terima dengan tuduhan tak beralasan Bella.


"Ya, siapa tau kan, khilaf?"


"Ah, tidak. kita pergi saja sekarang." Kata Robbie yang sudah merasa tak nyaman dengan kehadiran Haruka.


"Biar dia tidak menyusup ya? bagaimana kalau kita satu tenda? dan, pakai ini.." Bella menunjukkan sebuah gembok kecil yang di bawanya untuk berjaga jaga siapa tahu saat dia berkemah bersama Robbie, Robbie khilaf dan....


Tapi ternyata gembok mungil itu kini memiliki fungsi lain.


"Kita, satu tenda?" Tanya Robbie memastikan.

__ADS_1


"Ah, apa memang sebaiknya kita pulang saja?" Ralat Bella yang kemudian tak mau ambil resiko karena berada satu tenda dengan Robbie.


"Bie, kapan kita mulai memancing?" Tanya Haruka yang sudah siap dengan membawa alat pancingnya.


"Apa! kau mau memancing? mancing sana sendiri!" Sarkas Robbie berbicara dengan nada kesalnya.


"Bie, kenapa kasar begitu sih?" Tanya Bella yang baru kali ini rungunya menangkap Robbie berbicara dengan kasarnya.


"Biarkan saja, Kamu itu tidak tahu Chagi, sekali saja aku berbicara lembut padanya Dia akan bertingkah seolah aku ini adalah suaminya. Kau tidak percaya? Mau mencobanya?" Tanya Robbie yang sudah sangat kesal semenjak kedatangan Haruka.


Bella memutar bola matanya jengah. "Ya bukan begitu maksudku. hanya saja kamu tidak biasanya bersikap begini kepada wanita."


"Ayo kita mancing!" Ajak Haruka yang sudah berada di dekat tenda Robbie dan Bella yang masih mengurung diri di dalam tenda.


"Jangan Dibuka!" Robbie mencegah tangan Bella yang hendak membuka resleting tenda.


"Jangan kataku, dia itu hanya suka memancing keributan saja. jangan dibuka!"


"Lalu kita akan di dalam begini terus sampai besok?" Tanya Bella mendengus kesal.


"Sampai tahun depan bila perlu! pokoknya aku malas bertemu dengan Dia."


bella yang merasa jika semuanya taka kan seburuk yang Robbie katakan kemudian membuka resleting tenda. dan benar saja Haruka sudah berdiri i depannya sambil tersenyum lebar.


"Oby.. ayo kita memancing!" Ucap Haruka dengan nada manjanya.


"Aish! lihat kan chagi bagaimana sikapnya?" Robbie berbicara dengan nada kesalnya dan meminta Bella untuk mempercayainya.


"Ish..! lepaskan! jalan sendiri bisa kan?" Ujar Robbie yang mulai terbakar emosi.


Robbie berjalan dan keluar dari tenda dengan bersungut sungut menahan amarahnya. Kemanapun dia pergi Haruka selalu membuntutinya dan hal itu memberikan efek risih yang membuatnya tak nyaman.


Hingga hari menjadi gelap dan malam pun tiba. Robbie bahkan tak mau makan bersama di luar tenda. Dia meminta bella untuk makan di dalam tenda dan mengabaikan ikan ikan yang diperolehnya dari memancing.


"Ikan mu mau diapakan?" Taya Bella saat mereka berdua menikmati bekal yang dibawanya dari rumah hanya berupa makanan ringan dan camilan pengganjal perut.


"Terserah lah mau di apakan olehnya. kamu juga sih kenapa tad paki acara membuka tenda segala. Kan jadi masuk itu si hantu tak tahu diri." Kata Robbie yang masih bersungut sungut mengingat kejadian tadi.


"Ya,maaf aku hanya memastikan apakah kamu bohong atau tidak." Jawab Bella.


"Chagi, apa aku ini tidak berharga bagimu? tadi kulihat kamu sama sekali tk ada rasa cemburu saat dia bertingkah manja padaku." Celetuk Robbie yang bercicit menyuarakan isi hatinya.


Sebegitu terlihatnya ya? Bie, tapi aku sendiri masih berusaha untuk menyelami perasaanku padamu. Apakah ini semua rasa yang benar benar dari dalam hati, ataukah hanya sekedar rasa yang muncul krena kita sering menghabiskan waktu bersama. Tapi harus kui akui, terkadang aku suka dengan dirimu yang begitu manis dan baik padaku.


"Cemburu, tentu saja cemburu, siapa bilang tidak? nyatanya sekarang aku menguncimu didalam sini." Bella berbicara dengan mulut yang terus mengunyah makanan.


Robbie mencibikkan mulutnya dan tak mudah percaya begitu saja. "Ah, benarkah? tapi aku merasa jika yang kau ucapkan tadi hanyalah pura pura dan untuk menghiburku saja."


Bodohnya aku yang lupa jika dia ini juga manusia yang pandai merasa. Apalah aku ini yang tak mau mengikat tapi juga tak mau melepaskan?


Bella merangkul lengan Robbie dan bersandar pada bahu kokoh tersebut. "Aku cemburu, tapi aku juga sudah tahu jika kau akan tetap memilihku. jadi apa yang harus aku cemaskan jika lelakiku saja sudah sangat setia seperti ini?"

__ADS_1


MELAYANG!


Itulah yang Robbie tengah rasakan kini dimana wanitanya menyematkan secuil pujian di antara panjangnya kalimat yang tersusun secara rapi. "Masih mau marah?" Tanya Bella yang seolah tau jika Robbie sedang merajuk.


Robbie menggeleng."tapi bisakah kau memberikanku vitamin?"


Bella tersenyum sebelum dia pada akhirnya memberikn kecupan di bibir Robbie dengan lembut dan perlahan.


"Sudah, suka?" Tanya BElla yang di angguki oleh robbie dengan wajah berseri sebagai lambang hati yang juga tengah berbahagia.


Mereka lupa jika saat ini keduanya sedang berada di dalam tenda dengan lampu penerangan yang membiaskan bayangan pada sisi setiap tenda berupa siluet hitam.


"Astaga! mereka berciuman! ouh... so sweet" Rumi berucap lirih dengan wajah yang begitu mendamba.


Sedangkan Haruka spontan membanting nampan berisi ikan bakar yang baru saja matang dimasaknya bersama Rumi dengan harapan Robie akan memuji masakannya.


PRANK...!


Terdengar suara benda yang dibanting dengan kerasnya menghempas bebatuan dan membuat pagutan itu terlepas. Haruka berjalan dengan sangat kesalnya hingga menghentakkan kakinya beberapa kali ke bumi. Dia sangat marah sekarang.


"Haruka tunggu!" Rumi berlari mengejar haruka yang marah dan tak bisa mengendalikan emosinya.


Haruka dan Rumi pergi begitu saja tanpa membereskan tenda mereka.


"Apa dia pergi?" tanya Robbie pada Bella yang masih terdiam mematung setelah terkejut mendengar suara benda yang terlempar tadi.


"Entahlah!" Bella menggidikkan bahunya.


"Coba buka gemboknya, aku ingin melihatnya kenapa di luar sangat sepi?" Ucap Robbie.


"Bie, kok kuncinya tidak ada?" Kata Bella dengan wajah paniknya.


"Serius kamu chagi?"


Robbie ikut menggeledah tas Bella dan nihil. Tak ada kunci di dalamnya. Mata mereka saling beradu pandang sebelum akhirnya mereka sama sama mendengus pasrah.


"Ah~~~~ kita akan terkunci disini semalaman? Aku curiga ini adalah faktor kesengajaan." Ucap Robbie yang berceloteh sambil terkikik melihat wajah Bella yang menhan kesal.


"Tidak ada ya.. sengaja sengaja! dasar aku ini ceroboh...!" Bell memukuli kepalanya yang seringkali melupakan sesuatu.


"Jangan pukuli kepalamu sendiri. Apa kamu tidak tau jika kecerdasan ibu itu menurun pada anak anaknya? Aki tidak mau istriku menjadi bodoh dan menurunkan kebodohannya pada anakku nantinya." Kata Robbie yang kemudian mengusuk kepala BEll dengan sayangnya.


"Terus kita harus bagaimana?" Tanya Bella.


Robbie memberikan seulas senyumnya dan kemudian berbaring dengan santainya. "Mungkin ini memang Quality time untuk kitt, setelah seminggu lamanya kita tidak pernah bertemu." Ucapnya dengan santainya.


"Bie, bangun ayo bukakan. Aku kebelet!!" Rengek BElla yang sudah meringis menhan hasrat buang air.


"Apa? sekarang? Tidak bisa di tahan lagi dua jam begitu?"


"Enak saja! kalau jadi kencing batu bagaimana coba? Cepat bukakan!" BElla merengek seperti anak kecil yang meminta mainan terus dan terus hingga akhirnya Robbie tak ada pilihan.

__ADS_1


__ADS_2