
...🪴🪴🪴...
"Ya ngapain pagi-pagi udah kesini? ada perlu apa?" Tanya Bella yang terlihat lesu seperti orang yang tak suka.
Kenapa tiba-tiba menjadi tak suka? padahal semalam dia begitu antusias?
"Tidak ada perlu apa-apa, maaf jika sudah mengganggumu..Aku permisi." Ucap Robbie yang kini suasana hatinya menjadi campur aduk tak karuan karena respon dari Bella yang begitu manipulatif.
"Tunggu!" Bella berseru menghentikan langkah kaki Robbie.
Robbie berbalik, " Masuklah By, aku hanya sedang tidak enak badan saja makanya wajahku terlihat jutek. Kau pasti mengira aku marah atau tak suka kau datang ya?"
Robbie mendengus lega menghela nafasnya. Terkaanya meleset jauh dan tak seperti yang di sangkakan.
"Tidak enak badan? apa kau sakit?" Robbie memeriksa suhu tubuh Bella dengan punggung tangannya.
Dan ya, gadis manisnya panas. " Kau panas, kau sakit?"
" Entahlah, tapi.... Hachu! hachu....!" Bella bersin bersin. " Oh, Maaf...!" Dia lalu memakai masker.
"Aku rasa karena perubahan suhu yang terlalu cepat, tubuhku masih berusaha untuk menyesuaikannya. Ada apa kemari?" Bella mempersilahkan Robbie masuk kedalam dengan pergerakan tangannya.
Robbie ikut masuk dan mengekor di belakangnya. " Tidak, aku hanya membawa ini. Ku pikir kau akan kesepian jika makan sendirian. Juga kemarin kulihat kau hanya membeli mi instan. Apa kau sakit karena itu?"
" Entahlah, aku juga ga tau pasti tapi yang jelas aku flu sekarang. Udara disini sangat dingin. Aku sudah memakai baju rangkap tiga dan masih saja dingin." Keluhnya.
"Kau hanya belum terbiasa. Nah ini makanlah dulu, aku akan keluar sebentar untuk membeli sesuatu." Ucap Robbie yang kemudian keluar tanpa menunggu persetujuan dari Bella.
Bella menata dan membuka satu persatu makanan yang di bawa Robbie. Beruntunglah dia berada di dalam rumah tersebut, bahkan semua peralatannya lengkap dan juga sudah di lengkapi dengan pemanas ruangan. Tapi tetap saja, Bella yang belum terbiasa jika keluar sebentar dan tersapu hawa dingin maka akan langsung bersin-bersin.
Tak lama berselang, Robbie kembali membawakan sebuah bungkusan. " Ini, minumlah. Ini agar tubuhmu lebih kuat di musim dingin ini." Robbie memberikan vitamin dan obat flu.
Perhatian Robbie begitu mendalam. Dia bahkan membelikan vitamin dan juga obat-obatan. Bella tentunya merasa tak enak hati. Setiap dia bertemu dengan pria satu ini, setiap kali itu juga dia selalu merepotkan dan Robbie yang berperan menjadi pahlawan.
"Ruangan ini sudah hangat bell, tapi kau masih kedinginan?"
"Iya, setiap kali harus keluar atau terkena angin dari luar ku rasakan tubuhku menolaknya. Aku lalu bersin dan hidungku terasa mampet seketika."
"Apa kau punya alergi?" Tanya Robbie.
" Tidak tau, tapi selama di Indonesia aku belum pernah seperti ini." Jawabnya dengan tangan yang tak berhenti mengusuk hidungnya yang mampet.
Sepertinya benar dia memiliki alergi terhadap hawa dingin. Bagaimana, ini masih satu bulan lagi baru datang musim semi. Apa dia akan seperti ini selama satu bulan?
Robbie menatap iba Bella yang terlihat begitu tak nyaman dan terus saja mengusuk hidungnya.
"Kita ke dokter. Ah, tapi hari ini ada kuliah." Tolak Bella.
"Jam berapa selesai?"
"Sekitar pukul 2."
"Ayo sekarang makanlah, dan minum obat dan vitamin ini. Nanti jam 2 aku akan menjemputmu dan kita kerumah sakit."
Mereka makan bersama, sedangkan Bella tak lagi sanggup melayangkan protesnya sebab yang di rasakanya kini sudah campur aduk tak karuan sekujur badan.
"Mau tetap berangkat kuliah?" Tanya Robbie ketika mereka selesai membereskan sisa makan.
Bella mengangguk. "Aku menerima beasiswa By, aku tidak bisa main-main dengan ini. Aku juga baru sampai tidak bisa langsung ijin begitu saja. Aku harus bertanggungjawab atas kewajibanku."
__ADS_1
Robbie melirik Bella. Ah iya, dia benar. Dia harus disiplin walaupun sebenarnya dia sudah mendapatkan keistimewaan dariku. Andaikan dia tau dia bahkan bisa mengambil cuti satu bulan penuh karena kuasaku, apa dia akan suka atau justru akan marah?
"Ya sudah ayo, sekalian aku berangkat ke kantor. Ku antarkan kau pergi ke kampus." Ucap Robbie.
Menolak? tentu tidak. Bella sungguh sangat pusing sekarang, kepalanya berdenyut hebat dan dia tak mau mengeluhkan sakitnya. Dia tak enak hati jika setiap kali bertemu dengan Robbie yang ada selalu merepotkan saja.
"Makasih ya By, maaf aku selalu merepotkanmu. Setiap kita bertemu, selalu saja seperti ini. Selalu aku yang dalam keadaan sulit." Bella sungguh tak enak hati, begitulah memang kenyataannya. Dia yang terpuruk dan Robbie datang sebagai penolongnya.
Robbie mengulum senyumnya. "Aku tidak keberatan, Aku senang bisa membantumu." Robbie tetap fokus dengan jalanan sedangkan Bella hanya bisa bersandar dan sesekali menatapnya. Ada ungkapan terimakasih yang mendalam yang terpancar dari sorot matanya.
"Kau benar kuat?" Robbie memastikan keadaan Bella.
Bella mengangguk, "sudah lebih kuat daripada tadi. Lumayan membaik. Terimakasih untuk obatnya."
Robbie mengangguk dengan senyumnya.
Diantarkannya Bella sampai di depan tempat parkir universitas.
"Jangan menatapku begitu, aku bisa By, aku kuat.. ini hanya proses penyesuaian dengan lingkungan baru dan suhu saja."
"Yakin?" Robbie memastikan lagi.
Bella mengangguk lalu turun.
Robbie tetap terdiam mengamati wanitanya yang kian menjauh lalu hilang setelah memasuki gedung universitas.
"Ahh, bodohnya aku.... Seharusnya aku tidak terburu-buru membawanya kemari dalam musim dingin." Robbie menepuk keningnya.
Dia kemudian merogoh saku celananya dan mengambil sebuah cincin lalu memakainya.
"Hemmh, aman!" Dia mendengus lega lalu tersenyum dan melajukan mobilnya.
Apa yang menjadikannya aman?
Di dalam ruang kelas.
"Bella, kau bernama Bella kan?" Tanya seorang siswi cantik asal Korea bernama Sara. Kim sara.
"Ya, aku Bella. Senang berkenalan denganmu. Siapa namamu?" Tanya Bella pada Sara.
"Aku Sara. Namaku Sara, aku dari Korea Selatan. Tak menyangka kau wanita Indonesia yang cantik ya, lihat matamu itu cantik sekali. Apa kau operasi?" Tanya Sara.
"Ah, tidak. Sejak lahir aku sudah memiliki semua ini. Memang mayoritas penduduk negara kami berwajah campuran. Sebab dahulunya negara kami berada di tengah-tengah jalur perdagangan laut. Jadi banyak yang menyandar dan berdagang lalu kami juga di jajah cukup lama oleh Belanda, Jepang, Portugis. Jadilah darah kami banyak yang bercampur." Jawab Bella.
" Ah~~, begitu ya? pantas saja setiap aku bertemu dengan orang Indonesia, selalu saja berbeda garis wajahnya. Tidak seperti kami yang Korea, kami semua sama rata dari bentuk mata dan kulit. Tapi kalian beragam dan itu cantik." Ujar Sara mengutarakan pendapatnya.
Mereka berdua berbicara dalam bahasa Inggris.
"Lalu, nama kalian apa tidak bermarga seperti kami?" Tanya Sara lagi yang agaknya tertarik akan budaya Indonesia.
Bella tersenyum. "Total keseluruhan, termasuk yang berada di pelosok daerah ada 1.430 suku itu data tahun 2010. Tidak tahu juga akan berkurang atau semakin bertambah. Karena Indonesia itu sangat luas dan memiliki ribuan pulau. Setiap masing-masing sukunya memiliki bahasa daerahnya masing-masing. Jadi, ada atau tidaknya marga biasanya akan mudah terlihat dari suku mereka. Suku yang memiliki marga yang paling terkenal dan juga yang aku ingat adalah Batak dan Bali." Bella menarik nafasnya dalam-dalam untuk menjelaskannya lagi.
"Baca saja lah bukunya aku capek jika harus menjelaskan semuanya." Ucap Bella malas.
Sara memandang takjub lawan bicaranya. "Woah! kau begitu ahli dalam mengingat sejarah dan budaya. Kalau ada tugas, boleh ya aku meminta bantuanmu?"
"Dengan senang hati Sara." Bella tersenyum dan mengangguk perlahan.
"Oh...Yippo!" Sara memuji kecantikan Bella.
__ADS_1
" Dangsineun dohan areumdaseumnida." Ucap Bella dengan tersipu malu.
"Woah, Kau bisa bahasaku?" Sara takjub akan kemampuan bicara Bella.
"Sedikit." Ucap Bella malu-malu.
"Em ... kiyowo!" Pujinya lagi.
Kini tak lagi dia kesepian setelah menemukan satu teman baru yang begitu ceria sama seperti dirinya.
"Bella, kenapa kau pindah di pertengahan semester? bukankah itu agak sulit ya?" Tanya Sara.
"Aku hanya mengikuti program kampusku dulu." Jawab Bella dengan polosnya.
"Oh .." Sara mengangguk saja. Dia agak curiga tapi tak mau banyak bicara atau terlihat sok pintar di hadapan teman barunya. Sara hanya ingin punya teman yang sama-sama berasal dari daratan Asia.
Sebenarnya banyak yang lainnya juga, tapi Sara tak cocok dengan mereka yang niat dan tujuannya hanya untuk menginjakkan kaki di tempat baru, bukan untuk bersungguh-sungguh menimba ilmu.
"Alamatmu dimana?" Tanya Sara sambil berjalan mengimbangi Bella yang berjalan lamban.
Bella memijit keningnya, pusing di kepalanya kembali lagi. Mungkin karena reaksi obat yang diminumnya sudah mulai habis.
"Sekitar tig blok dari sini. Lumayan jika berjalan kaki kamu bisa ngos-ngosan."
"Oh, tapi aku pulang naik sepeda dan kita berbeda arah Bella. Sayang sekali kita harus berpisah disini. Aku duluan ya.." Ucap Sara yang melambaikan tangannya.
"Iya duluanlah." Jawab Bella yang bersandar pada dinding pos penjagaan.
"Nona apakah kau sakit?" Tanya si penjaga gerbang universitas.
"Ah, tidak pak. Hanya sedikit lelah." Ucap Bella dengan tersenyum ramah.
Pria paruh baya yang merupakan penjaga gerbang tersebut lalu memberikannya bangku plastik. " Ini duduklah, kau terlihat lemas. Di luar dingin sekali kau sedang menunggu siapa? pacarmu?" Tebaknya.
"Ah, tidak. Aku menunggu temanku." Jawab Bella.
30 menit terlewati tapi Robbie belum juga muncul. Kulit pipi dan juga telinga Bella sampai memerah kedinginan.
"Nona! pulanglah saja, temanmu itu sepertinya tidak akan datang." Ucap si pak penjaga yang iba melihat Bella yang setia menunggu meski berkali-kali dia bersin.
"Benar juga kata bapak ini. Mungkin Robbie tengah sibuk."
"Terimakasih bangkunya Pak." Bella menunduk sopan dan mengembalikan bangku pinjaman tadi.
" Iya." Sahut si penjaga. " Kasihan sekali gadis itu menunggu sampai 30 menit lamanya. Kalau aku jadi dia, datang temanku yang mengajak bertemu itu, langsung ku tendang bokongnya sampai terjungkal, terjelungup, terpelanting, pokoknya Ter semuanya!" Cicitnya kesal.
Bagi orang Jepang, ketepatan waktu dan disiplin adalah segalanya. Mereka mempunyai kebiasaan menepati janji dengan baik. Jika berjanji pada pukul 3 maka pukul 2.45 mereka sudah berada di tempat pertemuan. Hal itu menunjukkan kedisiplinan mereka yang tinggi. Telat satu menit bisa gagal semuanya. Waktu menentukan penilaian terhadap personaliti masing-masing manusia.
Beberapa sat kemudian, Robbie mengentikan mobilnya dan menemui si penjaga gerbang. " Pak, apa tadi ada gadis disini? berambut sebahu?" Robbie menyebutkan ciri-ciri Bella.
"Oh Tuan? Gadis ya? gadis asing? berwajah cantik?"
Robbie mengangguk.
"Tuan Oby, tadi ada gadis disini menunggu tuan sampai 30 menit lalu aku menyuruhnya pulang karena kasihan temannya mengingkari janji." Jawab si penjaga.
"Ah, si*l!" Robbie mengerang kesal lalu kembali menuju ke mobilnya.
"Ternyata pacarnya Tuan Oby? cantik dan penyabar. Em .. agaknya aku membatalkan untuk menendangnya jika itu Tuan Oby." Gumam si penjaga yang kemudian menutup gerbang.
__ADS_1
Robbie menelusuri sepanjang jalan dengan perlahan dia begitu mengamati sekelilingnya dia takut jika melewatkan sosok Bella. Tapi nihil, Bella tak ada di sepanjang jalan tersebut.
Hayoh loh kemana? Ini antara Bella yang pingsan, atau udah sampe rumah nih. Takut kan lu By? makanya on time!