
...~~~...
Bella memilih untuk pulang dan mengakhiri semuanya. Baginya bukan pilihan baik jika dia terus saja berada diantara kakak beradik yang saling memperebutkannya. Tak akan nyaman dan tak akan bisa tenang. Begitulah isi pikirannya.
Berkutat dengan setumpuk pekerjaan membuatnya lupa akan urusannya dengan Jimmy dan juga Rama. Jangankan itu, dia juga sampai lupa makan. Alhasil, saat malam hari dia kembali lagi merasakan nyeri yang teramat sangat.
Magh, yang berkombinasi dengan tekanan darah rendah. Keduanya sukses membuat Bella tak berkutik. Bella terdampar di atas ranjangnya dengan menyantap makanan siap saji yang di belinya. Seharusnya di hangatkan terlebih dahulu, tapi ... kepalanya yang berdenyut membuatnya memilih menyantap makanan tersebut dalam kondisi dingin.
"Aku bukan anak kecil lagi, aku harus bisa menentukan pilihan dan jalan hidupku." Bella bermonolog sambil menangis menatap hamparan salju yang mulai menipis.
February hampir usai, dimana salju sudah mulai banyak berkurang untuk menyambut datangnya musim semi di Maret nanti. "Bie, cepatlah pulang, aku sendiri dan tak ada tempat untuk bercerita." Gumamnya sambil mengusap air matanya.
Entahlah ini air mata kerinduan atau air mata kesedihan karena telah menolak ajakan Rama untuk balikan tadi.
Di kamar rawat inap.
"Ayo cepat, kamu sudah bisa pulang. Kita harus segera pulang dan membereskannya. Kau harus bertanggungjawab atas perbuatanmu." Ucap Rama yang berdiri tegap di hadapan sang adik yang hanya tertunduk mendengarkan nasihat sang kakak untuknya.
Jimmy mendongak. "Apa, aku harus menikahinya?"
"Ini opsi terbaik untuk menyelesaikan persoalan yang kau buat. Menyelesaikan secara kekeluargaan dan membayar mahal dengan uang untuk menutup kasus ini dari media massa." Kata Rama.
Jimmy kembali menunduk. " Tapi Eva melakukannya bukan hanya dengan aku saja Kak."
"Sekarang kau baru berkata begitu. Kemana telingamu saat Mama menasehatimu waktu itu?" Rama yang geram menjewer telinga Jimmy.
Bunda suci mengatakan semuanya pada Rama perihal hubungannya dengan Eva. Tapi secuil pun, Jimmy tidak mau mendengarkan. Dia lebih memilih kenikmatan sesaat daripada jaminan masa depan.
"Auh, sakit kak." Jimmy mengusap telinganya. "Sebenarnya aku sangat takut bertemu dengan Ayah dan Bunda Lagi. Aku Sudah mengecewakan mereka."
"hhhhh....!" Rama menyurai rambutnya kebelakang dan mendengus membuang nafasnya perlahan. "Aku akan menamanimu, kalau ada apa-apa aku yang akan melindungi mu." Ucapnya sambil menepuk bahu sang adik.
Jimmy menatap kedua manik sang Kakak yang menyiratkan ketulusan dan kasih sayang. "Terimakasih.." Jimmy lalu memeluk Rama.
"Tapi bagaimana jika yang di kandung Eva bukanlah anakku?"
"Mudah, kita lakukan tes DNA diam diam agar tak mengundang keributan dari keluarga. Nanti setelah bayi itu lahir, segera ambil rambutnya dan berikan padaku. Kita akan membuktikannya bersama."
"Woah, aku tidak terpikirkan hal itu." Jimmy mendadak takjub akan kepintaran sang Kakak.
"Lalu, kalau sudah terbukti?" Tanya Jimmy dengan begitu polosnya.
"Bodoh! ya terserah, kamu mau bercerai atau siapa tau setelah bersama cukup lama, kamu jatuh cinta lagi dengan Eva?" Celetuk Rama memberikan sindiran yang tepat sasaran.
"Aih...,!" Jimmy mendesis.
"Ayo, kita langsung pulang. Dua jam lagi penerbangan kita." Kata Rama yang matanya sudah fokus melihat arloji.
Jimmy beranjak dengan sedikit sempoyongan dan di bantu oleh Rama. " Jangan manja, ku jorokin sekalian kapok kamu Jim."
"Hehehehe, iya iya udah bisa jalan sendiri." Tukasnya kemudian berjalan sendiri tanpa hambatan.
"Madam Yuki, Bagaimana keadaan Bella?" Tanya Robbie melalui sambungan telepon seluler.
__ADS_1
^^^"Baik Pak, dan kedua orang itu telah kembali ke negaranya 10 menit yang lalu." Ucap Madam Yuki melaporkan.^^^
"Bagus, perhatikan Bella, kalau bisa minta dia untuk tinggal di rumahku saja."
"Tapi apa dia mau? dengan alasan apa aku membujuknya?"
"Terserah dengan apa, tapi aku ingin dia berada di rumahku saat aku pulang nanti."Kata Robbie yang begitu berhasr\*t untuk tinggal satu atap dengan Bella.
"Em... tidak sebaiknya Bapak bicarakan langsung hal ini denganya? Aku tidak bisa mengganggu privasi seseorang." Jawab Madam Yuki.
"Iya ya, kalau kamu yang meminta pasti akan ketahuan kalau kita ini sudah akrab. Huft...! hampir saja." Robbie mengusap-usap dadanya. Hampir saja peranannya terbongkar oleh Bella.
"Ya sudah, biar akau sendiri saja." Ucap Robbie yang kemudian mengakhiri panggilan suara.
Dia terdiam lalu mengetuk-ngetuk mejanya menggunakan ujung pena. Matanya lurus menatap sambil mengernyit melihat hamparan awan cerah yang menggantung.
"Boss, ada baiknya Anda menarik jarak dari Nona Bella. Hal ini saya amati dari keterangan yang saya dapat." Ujar Genta.
"Apa itu?" Robbie mulai penasaran. Dia mengalihkan atensinya dan kini tertuju pada Genta.
Genta kemudian duduk di sofa yang ada di hadapan Robbie. "Nona Bella lebih suka mengejar, daripada di kejar."
"Yakin kamu?" Tanya Robbie tak yakin.
Genta mengangguk. "Iya Bos, itu saya teliti dari bagaimana dia mengejar Jimmy."
Robbie tertawa. Suaranya menggema mengisi seluruh sudut ruangan. "Itu Jimmy, dia mengejarnya karena menyukainya. Lalu aku? dia masih belum ada rasa. Bukannya di kejar, malah aku nanti di lepas liar. Kamu ini..." Robbie menggeleng.
"Di coba dulu Bos. Sekarang bos hubungi dia, lalu dua hari kedepan jangan hubungi sama sekali. Kita lihat seberapa banyak dia menghubungimu, sebesar itulah perasaannya.
__ADS_1
Robbie mengangguk mencerna nasihat Genta. Dia lalu tersenyum sembari memutar-mutar benda pipih di tangannya dan mulai mengetikkan sesuatu.
1 pesan di kirim.
2 pesan di kirim.
3 pesan di kirim.
Satu jam berlalu dan masih belum ada balasan.
"Dia tidak membalasnya." Gumamnya lagi. "Argh... aku bisa gila kalau begini, Dia sama sekali tidak ada respon." Ucapnya meremas rambutnya.
"Nenek, kau tahu bagaimana sulitnya aku menaklukkan calon cucu menantumu? sangat sulit Nek, bertahun-tahun menunggu dan sampai saat ini masih saja tak ada perkembangan." Ucapnya seorang diri menatap langit-langit.
Di kediaman Bella.
Setelah malam yang panjang, dimana dia menahan nyeri yang teramat sangat di perutnya. Pagi harinya dia tak ingin lagi bersikap ceroboh dan mengabaikan makannya. Bella memutuskan untuk berbelanja untuk kebutuhan satu Minggu kedepannya.
Tapi tetap saja dia ceroboh akan satu hal. Saat dia pergi membeli makanan, dia tak sengaja menjatuhkan ponselnya dan masuk di jalur pengairan bawah tanah. Dia kembali ke rumahnya dengan tatapan hampa dan sesekali menendang salju sebagai pelampiasan kekesalannya.
"Beg\* banget sih! mana ponsel mahal. Kalau uang disini kupakai untuk membeli ponsel, bisa satu bulan kelaparan aku..." Bella mengeluh atas kebodohannya sendiri.
"Madam Yuki!" Satu nama itu yang kemudian muncul di kepalanya.
Bella seketika menuju ke rumah Madam Yuki. Tapi sayangnya Madam Yuki baru saja mengunjungi orang tuanya di desa. Jadilah Bella yang malang dan sendirian mengisi akhir pekan tanpa menonton film percintaan.
Sementara itu di kediaman Robbie di Indonesia.
"Apa dia tidak ada rasa sedikitpun padaku, sampai pesanku semuanya di abaikan?" Gumamnya.
__ADS_1