
...🌺🌺🌺....
Apa yang lebih menyakitkan daripada sebuah penghianatan?
Apa yang lebih menyakitkan daripada penghinaan?
Ada, yang lebih menyakitkan daripada itu semua adalah kesendirian.
Semua akan lebih mudah kita lalui jika ada tangan-tangan malaikat dan peri baik hati yang menangani.
Tapi kini, Bella benar-benar sendirian di negri orang dengan bekal minim tentang lingkungan dan kenalan. Disana, dia hanya mengenal Dion dan juga dosen pembimbing yang mengantarkan.
Itupun tak akan lama, setelah selesai mengurus semuanya dosen akan kembali ke Indonesia dan Dion rupanya dia masuk di universitas yang berbeda karena Dion mencari letak universitas yang dekat dengan tempat tinggal ayahnya yang buruh pabrik.
"Kamu kenapa pingsan?" Tanya Dion yang duduk dan menggigil kedinginan walaupun sudah berjaket tebal.
"Semalaman aku tidak bisa tidur Yon. Pacarku tak jelas kabarnya." Jawab Bella yang beringsut lalu duduk sambil memijit keningnya.
Dion terkejut, bisa-bisanya Bella mempunyai pacar ditengah tuntutan sebagai penerima beasiswa? Wah, itu pasti menguras kerja otaknya untuk membagi waktu dan juga perhatian.
"Kamu punya pacar? kok bisa? aku saja sampai tidak bisa main karena harus selalu mengutamakan materi dan tugas." Cicit Dion yang tak habis pikir akan kemampuan Bella.
Bella mengeratkan jaketnya dan melipat tangannya ke dada. "Aku harus apa ya? merasa beruntung atau malah buntung?" Celetuknya.
"Kenapa?" Dion masih tak mengerti.
"Dulu aku menyukai adiknya, aku mencintai adiknya. Tapi yang jadi pacarku malah kakaknya."
"Lalu apa kaitannya? masalahnya dimana?" Dion sangat tak mengerti dia sampai mendekat pada Bella.
"Masalahnya, pacarku itu polisi. Sebenarnya saat dia jauh aku jadi memiliki waktu untuk belajar, tapi saat itu juga aku selalu was-was karena resiko pekerjaannya. Dia abdi negara, dia bukan polisi yang hanya duduk berleha-leha di dalam ruangan yang dingin ber AC."
"Memang dimana dia?"
"Dia bertugas di perbatasan desa yang mayoritas penduduknya masih sangat primitif. Disana sering terjadi bentrok antar suku dan kebanyakan masih menggunakan hukum adat. Aku sungguh-sungguh takut Yon."
"Ah, itulah buat apa pacaran kalau hanya untuk menambah kecemasan? putus saja sudah, mumpung jauh kan? jadi bisa cepat move on." Ucap Dion yang terdengar rasional.
Bella terdiam.
Putus ya? Apa aku tega memutuskannya? dia begitu baik. Tapi apa yang diucapkan Dion ada benarnya. Ini waktunya bagiku untuk fokus mengejar cita-cita bukan cinta. Juga mentalku tak begitu kuat untuk menyanding seorang abdi negara. Baru berita simpang siur saja sudah membuatku pingsan. Bagaimana kalau ada hal-hal buruk yang....
Ah, sudahlah.... biarkan semuanya mengalir seperti air saja.
Batin Bella menerawang, memupus sendiri bisikan negatif dalam dirinya.
"Oh, sudah bangun?" Tanya salah satu pengurus pertukaran Mahasiswa (dalam bahasa Jepang).
"Iya, maaf saya tadi merepotkan Anda. Em..., maaf juga karena saya jadwal kita jadi tertunda." (Jawab Bella dalam bahasa Jepang juga).
"O, kamu Dion. mobil pesanan kamu sudah sampai dan saya juga baru saja menghubungi ayah kamu. Untuk semua berkas sudah saya lengkapi dan kamu tetap diwajibkan mengisi daftar hadir dengan saya nantinya. Karena saya ditugaskan sebagai pengawas kalian dari Indonesia. Jadi kalian harus mengirimkan kabar atau absensi kehadiran pada saya." Ucap si pengurus (dalam bahasa Jepang).
__ADS_1
"Iya Bu, saya usahakan rajin mengisi daftar hadir." Jawab Dion.
"Jangan di usahakan, tapi wajib Ya. Ingat kita bukan sedang berada di Indonesia, negara tersantai yang saya tahu. Kita harus disiplin dan gesit disini." Ujar si pengurus menimpali.
"Yah, baru juga kenal Yon. Sudah harus pisah." Bella mengutarakan kekecewaannya. Baru saja dia berpikir akan mendapatkan teman baru yang sealiran, yang sama-sama doyan baca buku. Tapi nyatanya sudah harus berpisah jarak lagi.
Dion tersenyum. " Tenang, aku akan menghubungimu nanti. Aku sudah meminta nomormu dari Madam Yuki."
"Oh, Benarkah Madam?" Bella tak yakin.
" Hem, benar. aku juga sudah membuat grup untuk kita agar kalian tidak kesepian."
"Grup? berapa orang?"
" Ada 5 orang. lumayan kan untuk teman kalian mengobrol. 3 mahasiswa dan satu pengurus yaitu aku dan satunya lagi dosen pembimbing kalian disini." Jawab Madam Yuki.
"Oh, lalu satu mahasiswa lagi siapa, kenapa dari kemarin kita tidak melihatnya?" Tanya Dion.
"Dia agak terlambat karena suatu urusan. Nanti akan saling berkenalan di grup saja. Bella, dia satu kampus denganmu." Ujar Madam Yuki.
Bella terperangah. Satu kampus? mana ada? yang Bella tau hanya dia satu-satunya yang lolos tapi apa ada penambahan lagi? Entahlah Bella malah bersyukur jika itu merupakan satu kampus denganya, maka kemungkinannya untuk saling mengenal dan dekat akan lebih mudah.
Dion pergi dan hanya Madam Yuki yang menemaninya. Bella sudah mulai lebih segar sekarang setelah meminum obat dan juga memakan makanan yang di bawakan Madam Yuki.
" Aku sudah menemukan tempat untukmu. Sebuah rumah sewa yang berada tak jauh dari universitas. Rumahnya kecil dan murah. Sebenarnya itu adalah rumah kakakku yang lama kosong. Daripada menganggur lebih baik aku menyewakannya padamu kan?" Ucap Madam Yuki yang ternyata adalah sosok yang banyak bicara.
"Terimakasih Madam, sudah mengatur semuanya untukku." Jawab Bella sambil berjalan meninggalkan hotel setelah mengambil barang-barangnya.
"Tidak apa-apa, ini tahun pertamaku menjadi pengurus pertukaran mahasiswa, dan aku memilih Indonesia. Anak-anak dari Indonesia lebih mudah di bimbing kata para seniorku. Kalau dari yang lain, mereka semua mengeluh." Celotehnya lagi.
" Bella, kau tidak keberatan kan kalau tinggal satu atap bersama satu mahasiswa lagi?" Tanya Madam Yuki yang sudah selesai menata barang di bagasi taksi.
"Madam, kau membantuku sejauh ini. Mana berani aku menolaknya? tapi anak itu lelaki atau perempuan?"
"Dia laki-laki, Ah tunggu dia sudah mengirimkan pesan di grup. Bacalah, mungkin kau mengenalnya." Kata Madam Yuki yang kemudian duduk terlebih dahulu.
Bella ikut masuk kedalam mobil taksi dan membaca ruang obrolan mereka di grup. Terdapat sebuah pesan yang mengatakan.
Madam, aku sudah menunggumu di gerbang rumah yang anda maksud.
"Aku tidak mengenalnya Madam, nomor dan profilnyq juga tidak ku kenal."
"Oh, ya sudah nanti juga bertemu." Ucap Madam Yuki yang mulai sibuk memeriksa ponselnya.
Sampai di alamat yang di tuju disambut dengan tumpukan salju dan juga pagar kayu. Tempat baru dan juga lingkungan baru sungguh merupakan pemandangan yang menawan dimata Bella. Bella sungguh terkagum dengan desain rumah yang tradisional.
Rumah bergaya masa lalu yang mencitrakan pedesaan yang asri ditengah padatnya penduduk dan juga himpitan bangunan desain futuristik.
"Ini seperti yang ada di filmnya Doraemon. Apa ini rumahnya Nobita?" Tanya Bella dengan polosnya.
"Hahahah! baling baling bambu!!" Madam Yuki menirukan dengan suara yang dimirip-miripkan dengan Doraemon.
🌼🌼🌼
__ADS_1
Hawa tegang memancar saat Robbie membaca sebuah file yang di pegangnya. Dia mengerang kesal dan melemparkan file ke meja.
"Genta! Kenapa kau baru memberitahuku?" Afeksi Robbie memancar membuat Genta menjadi Tremor. Dia tahu kalau bosnya sedang marah, maka semuanya bisa kacau.
"Maaf Pak, tapi Jimmy em maksudku Ayahnya juga berpengaruh di kampus tempat Bella mengenyam pendidikan. Dan dia juga berperan besar dalam kerjasama pertukaran Mahasiswa ini. Jadi, dengan mudah dia bisa menyelipkan anaknya untuk lolos dan menjadi salah satu peserta didik kita." Jawab Genta ketakutan.
BRAK... !
Robbie menggebrak meja. " Ah, ambilkan aku air...!" Dia melonggarkan dasinya dan bertumpu pada kedua tangannya di tepi meja.
"Kenapa juga Jimmy, selalu Jimmy! Argh....! Uang memang bisa mengubah segalanya termasuk hal rumit seperti ini." Robbie menenggak air minum yang di berikan Genta sampai tandas.
Susah payah Robbie mencari cara agar bisa dekat dengan Bella, termasuk mengatur segala perekrutan dan juga penempatan, tapi pada akhirnya ada Jimmy yang turut serta menjadi pengganggu.
Semuanya yang dikira akan berjalan dengan mulus, malah menjadi sesuatu yang tak terduga begini.
" Lalu dimana dia akan menetap?"
" Siapa Pak?" Tanya Genta bingung.
Robbie menatap nyalang. "Jimmy itu!!"
Genta tergagap. " Karena madam Yuki belum tau latar belakang keduanya, dan juga untuk menghemat dana tunjangan dari pihak universitas, maka Madam Yuki menempatkan keduanya dalam satu atap."
"Apa?" Robbie memekik.
"Sekarang juga pindahkan tempat tinggal Bella. Pindahkan ke satu tempat sewa yang dekat denganku! juga, soal dana kita bayar 70% tarif sewanya dan biarkan Bella membayar 30%nya. agar dia tak curiga."
"Tetap akan curiga Pak, tempat tinggal bapak adalah lingkungan elit yang banyak di huni kaum keturunan kerajaan. Lalu Bella orang asing yang menyewa disana? sudah jelas tarifnya jika di rupiahkan bisa milyaran."
"Ah, kali ini kau benar." Robbie kehabisan akal.
"Oh!" tiba-tiba dia memekik lagi membuat Genta terlonjak.
" Hallo! Madam Yuki." Sapa Robbie Setelah panggilannya tersambung.
"………………"
"Saya minta, Bella tinggal dengan anda. Ini perintah! jangan sampai dia berdekatan dengan Jimmy itu!"
"………………………"
"Oh, syukurlah! baik saya percayakan misi ini kepada anda. Jaga Dia! dia teramat berarti bagi kami." Ucap Robbie yang kemudian duduk di kursi kebesarannya dan melonggarkan dasinya lalu tersenyum lega.
"Ada apa Pak?" Tanya Genta penasaran.
Robbie tak menjawab dan hanya tersenyum senang.
Hayo loh, kira-kira ada apa?
Ada yang bisa menebak?
a. Bella dan Jimmy sedang cakar-cakaran.
__ADS_1
b. Bella menolak untuk tinggal satu atap bersama Jimmy.
c. Ada dewa penolong yang hadir hingga membuat Bella tinggal dengan Madam Yuki.