
...πππΌππ...
...πππΌππ...
Lelaki berbadan tegap, dan memamerkan senyumnya telah berdiri di hadapan Bella. Bella dengan riangnya langsung menghambur dan memeluknya erat.
Terlihat jelas jika keduanya saling merindu lantaran lama tak bertemu.
"Kak...." Seru Bella Setelah sebelumnya memeluk Rama tanpa malu di hadapan banyak orang temasuk Ayah dan bundanya.
"Bell..." Lembut sahutan dari Rama dengan senyum manis yang mengiringi.
Jimmy dia seolah tak suka melihat kedekatan yang terjalin. " Sudah, baru juga berpisah beberapa tahun." Cibirnya dengan nada bicara yang dingin.
"Om, Tante." Dengan sopan, Rama menyapa Ayah dan Bunda ria. Mereka saling bercengkrama hangat. Jangan lupakan tangannya yang masih setia berpegangan dan saling menggenggam erat dengan Bella yang masih tersenyum senang.
Bagaimana dia tidak senang? Rama adalah sosok lelaki sejati baginya lelaki yang tegas dan anti bermain wanita. Sikap keduanya saling membelakangi. Jika Jimmy kini menjadi lelaki yang suka tebar pesona maka tidak dengan Rama.
Rama, dia hanya memprioritaskan apa yang menjadi visi dan misinya di masa depan. Jika dulu selama Diklat misinya adalah lulus dengan nilai terbaik dan itu sudah terwujud, maka sekarang misinya adalah mencari pendamping hidup.
"Biasa saja wajahmu, jangan berlebihan seperti itu." Jimny menegur Bella yang terlihat begitu berapi-api dengan semangat membara menyambut kedatangan Rama bahkan dia masih saling berkait tangan seperti truck gandeng.
" Apasih?" Bella tak menghiraukan teguran Jimmy yang berada tepat di sampingnya.
"Kak, makan yuk. Lihat tadi aku yang bantu bunda masak." Ucapnya begitu bersemangat memamerkan hasil jerih payahnya memasak berbagai menu dengan Bunda Suci.
Rama memberikan perhatian lebih. Nampaknya bukan hanya sepihak, kerinduan itu tak terjalin sebelah tangan. " Iyakah? Woah...., pasti enak kalau kamu yang masak Bell." Manis sekali lidah Rama berbicara memuji Bella hingga yang di puji menjadi tersipu malu.
"Cih!" Jimmy berdecih. " Jaga sikapmu, lihat pipimu sudah seperti tomat busuk." Celanya mengejek.
"Benarkah? apa begitu kentara?" Bella memegang kedua pipinya yang bersemu kemerahan.
__ADS_1
"Iya, tapi kau semakin cantik." Bisik Rama di telinga Bella. Rupanya sedari tadi Rama mendengarkan segala obrolan lirih mereka.
Bella semakin tersipu, dia menunduk dan menyembunyikan wajahnya yang merona. Jimmy dia yang kesal menusuk daging yang ada di piringnya dengan kasar. Terlihat sekali ketidak sukaannya pada kehadiran Rama.
Apa hebatnya dia? Batin Jimmy kesal bukan main.
Semuanya senang dan menanggapi dengan hangat kehadiran Rama kecuali Jimmy dan Ayah Dandi. Ayah Dandi yang sedari awal memang tak setuju dengan pilihan Rama untuk menjadi abdi negara membuatnya begitu membenci pekerjaan anak sulungnya itu.
Makan malam selesai dan kini waktunya berbagi obrolan.
Rama dan Bella mereka berjalan-jalan bersama bergandengan tangan. Bella berjalan dengan riangnya sambil mengayun-ayunkan tangan Rama yang di genggamnya.
"Senang sekali?" Tanya Rama.
"Tentu, aku sudah menunggumu selama dua tahun kak. Selama itu selain pendidikan militer kau kemana saja?" Tanya Bella begitu penasaran.
Rama menghentikan langkahnya dan duduk di sebuah bangku. Dia lalu menarik tangan Bella untuk ikut duduk bersamanya. " Aku..." Terpotong kata saat Rama ingin berbicara seperti begitu banyak beban dalam penyampaiannya.
" Apa?" Bella meneleng penasaran.
" Kemana saja?" Tanya Bella.
" Jauh, sudahlah jangan di bahas. Aku sudah disini, seharusnya kita membahas sesuatu yang menyenangkan saja." Pungkas Rama menyudahi topik pembicaraan.
Maaf aku tak bisa membahasnya.
Berat bagiku kembali membahasnya sedang dalam kericuhan itu aku kehilangan atasan dan juga temanku. Rama terdiam mengulas kembali perihnya rasa saat kehilangan atasan dan temannya saat mereka bertugas mengatasi perang suku.
" Kak, boleh aku peluk? Aku sangat merindukanmu." Kata Bella.
Jimny yang dari kejauhan mengintai.
" ****...!" Dia memaki kesal. " Apa-apaan dia? kalau aku yang peluk dia marah-marah kalau si Rama? lihat dia menyerahkan dirinya begitu saja. Dan lihat wajah mesum Rama." Jimmy menggerutu dari balik semak belukar.
"Sini." Rama merentangkan tangannya lagi. Ini kedua kalinya semenjak mereka bertemu. Saling berpelukan dan berbagai kehangatan.
__ADS_1
"Katakan padaku selama aku pergi apa Jimmy mengusikmu?" Rama memeluk dengan sayang dan menatap luasnya taman bertabur bintang malam.
Seharusnya Bella menyimpannya dalam-dalam. Mengubur semuanya agar kakak beradik itu tak bertengkar. "Tidak tapi dia menolakku." Ucapnya dengan mimik sedih.
Rama terbahak-bahak." Hahahaha!"
"Kau...., kau lagi-lagi mengungkapkan perasaanmu padanya?" Tanyanya dan di angguki oleh Bella.
"Kasihan adikku yang cantik ini di tolak. Jika dia menolakmu bagaimana kalau denganku saja." Celetuk Rama sekedar bercanda.
" Apa? Dengan Kakak? Tapi kan aku tak cinta." Cicit Bella dengan segala kepolosannya.
Rama semakin tergelitik geli dan semakin berniat untuk mengusili Bella adik kecilnya. " Memangnya kau paham apa itu cinta?" Tanya Rama yang seketika membuat Bella bungkam dan terdiam.
Jawabannya adalah tidak. Bella, gadis remaja seperti dia mana tau soal arti cinta yang sesungguhnya. Jika ditanya lebih dalam maka akan terlihat kalau cinta dan sayang baginya sama saja. Bella bahkan tak bisa membedakan apa yang dirasakannya dengan Jimmy itu cinta atau sekedar rasa sayang karena terbiasa bersama.
"Tidak." Jawab Bella dengan polosnya membuat Rama mengulum senyumnya.
"Cinta itu hanya ada di dalam hati mereka yang sudah menikah. Seperti Ayah dan Bunda. Kalau belum menikah kau tak akan pernah tau yang kau rasakan itu apa. Ada juga cinta yang hanya bersifat sementara yang akan memudar seiring waktu." Kata rama.
" Cinta sementara? apa itu?" Bella kini seolah tengah mengais banyak-banyak informasi dari sang ahli.
" Ya perasaan yang menggebu-gebu menyukai lawan jenis lebih dari sekedar sayang dan memiliki keinginan untuk memilikinya. Tapi..., itu tidak berlangsung lama. Jika yang kau sukai melakukan kesalahan sedikit saja, maka perasaanmu padanya akan memudar. Yang seperti itu yang di namakan cinta sementara." Jawab Rama memberikan penjelasan.
"Lalu jika cinta sejati? Aku sering mendengar kata itu. Apa hal seperti itu memang ada?" Tanya bella sangat penasaran.
"Ada. Tentu ada. Tapi rasio perbandingannya satu banding seribu. Tidak semua yang hidup bersama sampai tua itu memiliki rasa cinta apalagi cinta sejati. Ada diantara mereka yang terpaksa bertahan dan menerima segala keburukan pasangan demi kelangsungan hidup mereka di masa depan. Demi anak, demi orang tua, dan ada juga yang semata-mata demi harta." Kata Rama.
"Ah, aku jadi semakin tak mengerti apa arti cinta yang sesungguhnya." Bella menggaruk-garuk kepalanya.
Jangankan kau. Akupun tidak mengerti mengapa mereka menyebut itu dengan cinta padahal didalamnya mereka saling membohongi, saling melukai dan saling membenci.
Pikir Rama.
Kak, bertemu denganmu memberikanku kenyamanan dan ketenangan. Kau jangan pergi lama-lama ya? jangan pergi lagi. Bella menatap Rama penuh harap.
__ADS_1