
...ππΌπΌπ...
...POV Bella....
Yang kupahami dari sebuah cinta adalah, sakit, kecewa, merana dan menderita. Hanya itu. Hhhh..... aku sangat pusing memikirkan hal ini. Benar kata Dion tidak seharusnya aku memikirkan cinta di tengah kesibukanku mengejar beasiswa.
"Ah, pusing kepalaku.....!" Keluhku yang kemudian meremas rambutku. Sungguh aku begitu frustasi di buatnya.
Semua tugas menumpuk dan juga aku harus sering terganggu waktu istirahat hanya untuk sekedar berbalas pesan atau menghubungi keluarga via VC. Tapi, mau bagaimana? aku juga sangat merindukan mereka semua.
Hari ini ada si kuda poni yang memintaku untuk standby di rumahnya dan memasak untuknya. Aku sungguh takjub di buatnya, Rumahnya yang terlihat sederhana dari luarnya, tapi di dalamnya? Oh wow...., mini market pindah di dalamnya.
Kebutuhan memasak menu Indonesian food sudah tersedia lengkap di dalam showcase dan juga dua kulkas yang berdiri berjajar. Tapi.... dia hanya meminta aku untuk membuatkan sambal kecap dan bakwan udang.
Kenapa hanya menu itu? ada apakah gerangan?
"Entahlah." Aku menggidikan kedua bahuku dan kembali memasak.
Pagi ini aku masih di kampus seperti biasa, dan Si kuda poni tiba-tiba menghubungiku untuk aku agar segera kerumahnya saat pulang kelas nanti. Sebenarnya aku sedang lelah, sangat lelah, tapi...
Dia kan sudah membelikan ku Ponsel, Jadi anggap saja tenaga ku sudah di bayar di muka. So, aku harus tau diri kan? Memenuhi tanggung jawabku dalam bekerja dan bersikap sebaik mungkin.
Tugasku hanya benar-benar membuat makanan dan tidak di ijinkan membantu atau pun menyentuh pekerjaan lainnya.
Dan akhirnya, mission complete. Aku menyelesaikannya tepat pada saat 15 menit sebelum dia datang. Semalaman aku belum tidur sama sekali, aku sungguh pusing sekarang. Tugas yang menumpuk membuatku tak bisa memejamkan mata barang sekejap.
"Hoamz....!" Aku menguap. Sungguh sangat mengantuk. Ku lihat jam di dinding, seharusnya sebentar lagi dia sampai.
Aku sedikit memantaskan diri di depan cermin besar yang berada di ruang tamu rumahnya. Jujur aku sangat mengagumi bentuk rumah ini. Terlihat sederhana tapi sangat mewah.
"Kenapa jadi deg degan begini ya? seharusnya kan tidak. Aku sangat tidak percaya diri dan takut dia tidak menyukai masakanku." Aku berbicara pada cermin dan menatap gambar ku. Aih, sudah seperti ibu tiri dari snow white saja aku ini.
__ADS_1
Deru suara mobil terdengar memasuki garasi. Tidak seperti di Indonesia dimana semua orang dari kalangan menengah ke atas bisa memiliki kendaraan roda 4. Di Jepang, pajak dan perijinannya begitu sulit dann mahal. Jadi, hanya mereka yang benar benar kaya yang bisa memiliki mobil.
Dan Dia, sudah tidak di ragukan lagi kemarin saja Dia pulang menggunakan Jet pribadi. Kekayaannya jauh berada di atas keluarga Jimmy.
Terlihat beberapa pelayan dengan segera menyambutnya dengan rasa hormat. terlihat juga bagaimana mereka memberikan hormat sampai membungkukkan badan. Ah iya itu sudah budaya di sini.
"Selamat datang kembali Tuan!" Sambut mereka bersamaan.
Dia terlihat begitu berkharisma meski dengan wajah kusutnya. Teman baikku ini agaknya sangat berwibawa.
"Ya. Terimakasih. Kalian turunkan barang barang dari mobil. Calon ibu mertuaku menitipkan banyak barang untuk calon menantu kesayangannya ini." Ucapnya yang kemudian menatapku yang masih berdiri kaku dan tersenyum simpul kepadanya.
Eh, tunggu apa katanya tadi? calon mertua? menantu kesayangan? Apa aku tidak salah dengar?
Para pelayan mengangguk serempak dan segera mengerjakan tugasnya.
"Hai Bie!" Sapaku yang kemudian di angguki olehnya.
"Chagi, kamu disini saja, buatkan aku teh hangat." Pintanya dengan wjah yang terlihat letih.
Ok, ini pekerjaanku sekarang sebagai sambilan kuliah, Tak apa kan? asalkan halal?
"Ya," Sahutku mengangguk sopan dan kemudian mulai pergi ke dapur untuk membuatkan teh hangat untuknya.
Begitu banyak barang yang di bawanya, sampai sampai pelayan kulu kilir keluar masuk untuk mengusungnya. "Memangnya apa yang di berikan oleh calon mertuanya?" Gumamku berbicara pada sendok untuk mengaduk gula batu yang masih menggumpal.
Teh sudah jadi, tapi dia begitu lama untuk kembali muncul. Dan entah dimana perginya Dia kini. MUngkin sedang mandi?
Aku masih belum tau pasti tentang apa maksud ucapannya tadi yang menyinggung calon Mertua.
Dia keluar, kini tampak lebih segar meski dengan rambutnya yang basah dan membawa hairdryer di tangan kirinya.
__ADS_1
"Ahhhh.....!" Dia mendes*h seolah sedang melepaskan rasa penatnya. "Chagi, bantu aku mengeringkan rambut?"
"Ya, Oby, kita tidak sedang berpura pura untuk menjadi sepasang kekasih lagi, Jadi.... jangan panggil aku dengan sebutan itu. Nanti ada yang akan salah paham." Kataku yang merasa keberatan akan panggilan sayangnya.
Dia mengulum senyumnya lalu berbalik menatapku seolah aku ini adalah mainan yang lucu. Aku masih saja membantunya mengeringkan rambutnya dan sesekali menyisirnya menggunakan jariku.
"Siapa yang salah paham Chagi? kau ini resmi menjadi calon istriku. Setelah kuliahmu selesai, kita akan menikah." Ucapnya dengan begitu mudah, enteng dan seringan kapas.
"Heh, mana bisa? Aku kan tidak menyatakan mau?" Tolakku yang memang merasa bahwa aku dan dia tidak pernah terlibat tentang pembicaraan serius yang menjurus ke pelestarian anak cucu adam ini.
"Hahahaha.....!" Dia malah tertawa sambil mentoel daguku. Ish, sudah seperti om om genit saja Dia.
Aku memutar bola mataku malas dan kemudian duduk di sampingnya yang masih tertawa bahkan sampai memegangi perutnya. Membuatku menjadi semakin gemas dan penasaran akan apa yang sudah terjadi sesungguhnya.
"Ayolah bilang, ada apa? kenapa malah tertawa begini?" Rengekku menuntut penjelasan darinya.
Dia kemudian terdiam dan memberikanku ponselnya yang sudah memutar sebuah video.
"Apa?" Au memekik dan berkacak pinggang di hadapannya. Aku yang terkejut sontak saja berdiri dan menatapnya tajam. "Jadi begini permainanmu di belakangku?" Tandasku yang teramat kesal dengan apa yang di lakukannya.
"Pak sasuke!" Serunya memanggil sopir pribadi.
"Kemari, kemari bantu aku membuka barang barang dari ibu mertuaku." Ujarnya sambil melirik ke arahku dan tersenyum lebar.
"Woah..., amal bik apa yang sudah kulakukan ya? sehingga aku mendapatkan Ayah dan Ibu mertua yang sangat baik dan menyayangiku?" Ucapnya yang sengaja menyindirku.
Aku masih berdiri dan menatapnya kesal dengan memanyunkan bibirku. Tapi dia sama sekali tak terpengaruh dan terus mengembangkan senyumnya.
Bie asal kau tahu, aku juga ikut senang meskipun aku belum memiliki kesiapan. Setidaknya berguguran sudah kesedihanmu yang lalu. Aku harap kau akan tetap tersenyum secerah mentari seperti ini.
"Ayo kesini, dan temani aku membukanya. Ini untuk kita kata Bunda." Ucapnya dengan begitu riang.
__ADS_1
Ah....., hatiku menghangat mendengarnya. Entah mengapa hal ini seperti angin segar bagiku. Apakah aku mulai membuka hati?