Lebih Dari Pacar

Lebih Dari Pacar
~ Chagiya.


__ADS_3

...~~~...



...🌼🌼🌼...


Robbie melajukan perlahan mobilnya membelah jalanan kota yang mulai ramai pengendara. Ini merupakan jam pulang kerja, tapi tebalnya salju nampaknya membuat orang-orang lebih memilih untuk menggunakan angkutan umum. Terbukti jalanan tak seramai kota Jakarta.


Bella dia hanya menatap keluar jendela melihat kesekitar bangunan yang berjajar di pinggir jalan.


"Bie, ini bukan arah ke rumah sewaku. Kita mau kemana?" Bella mulai membuka suaranya setelah mengamati pemandangan yang berbeda dari tempatnya.


Robbie melihatnya sekilas lalu kembali fokus mengemudi. "Kita akan menemui Nenek dulu. Dia begitu ingin bertemu denganmu."


"Oh, tapi aku masih sangat berantakan. Aku malu menemuinya dalam keadaan begini. Kita pulang dulu ya, aku akan mengganti baju dulu setidaknya." Bella mengkhawatirkan penampilannya.


"Bell, tidak usah. Nenek tidak begitu jelas dalam melihat. Pandangannya sudah kabur, dia menderita diabetes melitus yang menyerang matanya. Pandangannya mulai berkurang. Kamu mandi atau tidak pun baginya kamu tetap cantik." Ucap Robbie yang kemudian terhenti dan menepikan mobilnya.


Robbie menatap lekat Bella. " Bella, terakhir kali Nenek bisa melihat gambar wajahmu dengan jelas adalah sewaktu kita SMA. Dan sekarang..." Gumamnya lalu terhenti. Robbie tak kuasa lagi menahan kesedihannya.


Itulah sebabnya dia selalu mendekatkan diri saat berbicara dengan sang nenek. Menyentuhnya ataupun memeluknya. Itu semata-mata agar Nenek Mirna mengetahui keberadaannya.


"Bie, maaf. Bukan maksudku untuk...." Ucapan Bella terhenti kala Robbie tiba-tiba menggenggam tangannya.


Tatapan mereka bertemu dalam satu lini yang sama. "Bella, dia hanya ingin melihatmu. Ingin mendengarkan suaramu. Kau tahu, saat kita melakukan video call dulu, aku selalu merekamnya. Itu atas permintaan Nenek. Saat dia merindukanmu, dia akan memutar rekaman kita. Bell, tak ada lagi yang di milikinya kecuali aku dan kamu. Kamu begitu mirip dengan Billa." Robbie berucap dengan nada kesedihan.


Pria yang biasanya terkenal dengan ketegasan dan galak itu, kini begitu dramatis menceritakan tentang keadaan sang Nenek. Apalagi yang di milikinya saat ini? satu-satunya harta miliknya yang paling berharga adalah Neneknya.


Bella larut dalam kesedihan Robbie. Dia ikut menangis mendengarnya. "Lalu, selama dua tahun terakhir kamu menghilang bagaimana dengan Nenek?"


"Saat aku menghilang, itu adalah saat tersulit bagi kami. Aku sendirian mengurus pengobatannya. Tubuhku begitu lelah harus setiap hari wara-wiri dari kantor ke rumah sakit. Tapi bagaimana, dari keduanya semuanya adalah tanggung jawabku. Aku lelah Bella .."


"Aku senang akhirnya dia bisa sembuh dari stroke, tapi nyatanya penyakit yang lain mulai muncul. Tak hanya satu penyakit, dia juga memiliki jantung dan darah tinggi. Penyakitnya saling memperparah satu sama lainnya. Dokter tidak lagi menganjurkan penanganan khusus. Dokter hanya menyarankan agar kami lebih santai dan merelakan."

__ADS_1


"Apa maksudnya santai dan merelakan? apa Nenek tidak mendapatkan penanganan medis lagi?"


"Tetap mendapatkan, tapi sebatas obat saja, tidak lagi dengan penanganan operasi bagi jantungnya. Keadaan fisiknya kian hari kian parah Bella. Untuk itu aku memintamu untuk berpura-pura menjadi pacarku, untuk sekedar membahagiakan dia."


"Bie, maaf... aku tidak tahu jika selama ini kamu kesulitan seperti ini." Bella merentangkan kedua tangannya.


Robbie tergugu lalu memeluknya dengan begitu eratnya. "Seandainya kamu sudah selesai dengan kuliahmu, maka aku akan mengajakmu untuk menikah sementara."


"Menikah sementara? tidak ada permainan dalam pernikahan Bie. Tidak ada kata sementara di dalamnya. Jika memang percaya pada komitmen, seharusnya juga percaya akan ada perubahan baik di dalamnya." Ucap Bella sambil menepuk-nepuk punggung Robbie.


Tangan Robbie bergerak lalu merogogoh saku celananya. "Ini, pakailah. Nanti Nenek pasti akan meraba tanganmu. Bilang padanya bahwa kamu sangat mencintaiku. Agar dia senang."


Entah setan apa yang merasuki tubuh Bella, saat Robbie memeluknya untuk mendapatkan ketenangan, di saat itu juga Bella memiliki gelanyar aneh yang menjalari seluruh pikirannya. Dia merasa begitu tertantang saat pria tegas itu memainkan bibirnya tanpa tau jika Bella memperhatikannya.


"Jangan menangis Bie." Ucapnya lembut di susul dengan lum*tan di bibir tipis Robbie.


Hah, dia menciumku? Benarkah ini? apa itu tandanya dia mulai melupakan Rama secara perlahan?


"Aku akan mengatakan padanya bahwa aku sangat mencintaimu." Ucap Bella memandang netra yang basah dengan air mata. "Dia pasti memiliki ketakutan tersendiri dengan keadaannya. Dia takut akan meninggalkanmu di tangan yang tidak tepat." Ucap Bella yang memahami kondisi Nenek dan juga Robbie.


Lagi, Robbie balas ******* bibir Bella dengan perlahan dan begitu lembut. Dia menunggu reaksi dari Bella, apakah akan marah? menamparnya? atau mendorongnya sampai terpental?


Ternyata tidak semuanya. Bella malah semakin menikmati apa yang Robbie lakukan. Jari jemari lentiknya justru membuat gerakan yang memicu gai*ah Robbie kian memuncak.


"I Love you." Ucap Robbie setelah keduanya terengah dan kehabisan oksigen.


Bella bergeming dan menunduk terpaku, dia malu juga bingung dalam satu waktu. Bisa-bisanya dia seperti tadi? Seperti wanita tanpa harga diri. Baru beberapa hari dia Putus dengan Rama dan kini sudah menjalin kehangatan dengan Robbie?


" I love you." Lagi bisik Robbie yang kemudian merapikan rambut Bella yang berantakan karena ulahnya.


Bella masih diam menunduk. " Kenapa, kamu malu?"


"Tak perlu malu padaku. Ini sudah ketiga kalinya kita berciuman kan?" Robbie kembali melajukan mobilnya dengan satu tangan. Sementara satu tangannya lagi masih mengusap lembut tangan Bella yang di genggamnya.

__ADS_1


"Yang dua tidak masuk itungan ya. Itu tidak sengaja, hanya menempel saja." Cicit Bella yang membuat Robbie gemas lalu mengusuk pucuk kepalanya.


"Apa ini artinya kita punya hubungan yang lebih dari teman?" Tanya Robbie sambil tersenyum. Hatinya berbunga-bunga sekarang. Ribuan kupu-kupu hinggap dan menggelitiknya.


"Teman mana yang berciuman seperti kita tadi?" Ucap Bella frontal.


Robbie terbahak-bahak, dia begitu senang sekarang. "Lalu apa?"


"Apa? biarkan saja seperti air yang mengalir. Lebih dari teman, kurang dari pacar." Jawab Bella tanpa melihat wajah Robbie yang bersinar begitu ceria.


Baik, apa salahnya menjalani hubungan seperti yang dia maksudkan? Lebih dari teman, kurang dari pacar. Tapi tak menuntut kemungkinan akan berubah menjadi LEBIH DARI PACAR, kurang dari suami. Batin Robbie bergemuruh senang.


Robbie memutar balik arah mobilnya. Dan Bella terkesiap di buatnya. " Kenapa putar arah?"


"Katanya kamu mau mandi? dan bersiap dulu. Ya udah aku turuti." Kata Robbie tanpa beban.


Padahal bukan itu maunya, dia sengaja memutar arah kembali agar semakin lama rute yang di tempuh, maka semakin lama juga dia mengemudi sambil menggenggam tangan Bella.


Biarkan seperti ini lebih lama lagi. Aku suka. Batin Robbie.


Apa wajahku sekarang seperti lobster rebus? Wajahku terasa panas sekarang. Batin Bella yang super malu.


"Bell, boleh aku memberimu panggilan sayang?" Tanya Robbie penuh pengharapan.


"Mau panggil apa memangnya? biar kita terkesan natural ya?"


"Iya." Robbie mengangguk.


"Apalah terserahmu." Ucap Bella yang semakin merasakan hawa panas dan dia mulai menenggak air minum yang sedari tadi tersimpan rapi di pintu mobil.


"Chagiya...!" Seru Robbie.


"Uhuk ...! Uhuk....! Uhuk...!" Bella tersedak minumannya. Dia menatap Robbie penuh tanya.

__ADS_1


Ternyata dia lumayan norak bab panggilan sayang. Batin Bella mencemooh.


__ADS_2