Lebih Dari Pacar

Lebih Dari Pacar
21. Jealous.


__ADS_3


Maaf yorobun, karena satu dan lain hal, disini ada perubahan judul dan cover ya. Tapi isi dan alur tetap kok, tidak ada yang berubah.


Bintang utama tetaplah Bella yang diperebutkan oleh adik dan Kakak.


Oh iya, semakin kesini kok semakin sepi ya? Pembacaku mana suaranya....?


Eh, ga bisa deh. Mana dukungannya....?


Yok di hobah💃💃💃💃.


check this out!


Bella terlelap dalam perjalanan pulang. Dia menghabiskan tenaganya untuk bersenang-senang. Rama selalu saja memberikan kejutan-kejutan kecil yang membuat Bella merasa sangat diistimewakan. Beruntungnya Bella mempunyai pacar yang perhatian. Di sela-sela mengemudi kembali pulang, Rama masih menyempatkan untuk melirik Bella sekilas.


Entah apa itu, tapi Bella seperti memiliki magnet khusus yang dapat menarik Rama. Tak terasa Rama telah mengemudi selama beberapa jam dan akhirnya mereka sampai di rumah Bella.


" Manis, bangun." Rama mengusap pipi Bella dengan sayangnya.


"Eungh!" Bella menggeliat dan perlahan membuka matanya. Yang pertama dirasakannya berbeda adalah ketika membuka mata sudah ada makhluk tampan menyambutnya. Dan yang kedua, ada sesuatu yang memanjakan hidung Bella. Sesuatu yang harum dan menenangkan. Bella suka wangi ini.


Bagaimana tidak wangi? Pacarmu bella, dia menyelimutimu dengan jaketnya yang beraroma maskulin. Aroma berbeda yang menjadi kesukaan Bella. Mungkin.


"Kak sudah sampai?" Tanya Bella yang masih setengah dongok.


"Iya manis, kita sudah sampai. Ayo bangun." Rama menggenggam tangan Bella lalu menciumnya. Eungh, so sweet🤗. Kan Mimi juga mau Ram,, boleh ya dikit aja.😆😆.


" Kak tunggu, bisa tidak jangan panggil aku dengan sebutan manis?" Pinta Bella yang menghentikan pergerakan tangan Rama untuk membukakan sabuk pengamannya.


" Kenapa?" Tanya Rama dengan polosnya dan mulutnya sedikit mencibir maju beberapa mili.


" Kesannya aku seperti kucing. Apalagi kalau kau memanggilku berulang ulang. Seperti begini, Nis... nis... Nis.... " Bella menirukan gaya orang-orang saat memanggil kucing.


"Hahahaha!" Rama terbahak. " Ya tentu tidak Sayang, bukan seperti itu. Aku memanggilmu manis karena memang kamu manis kan?" Lagi dan lagi, pujian dari Rama membuat Bella melayang. Membumbung tinggi menembus awan meninggalkan bumi dan menuju khayangan. Ah tidak, khayalan tepatnya.


Rama kembali menggenggam tangan Bella dan membubuhkan kecupan lembut di atasnya. " Lalu kau mau ku panggil apa?" Rama kembali bertanya kali ini dia merangkul pinggang Bella. Membawa Bella lebih condong ke arahnya.


Bella yang tersipu tak bisa menjawab pertanyaan sederhana Rama. Dia tertunduk malu dan tak tau ingin berkata apa. " Kenapa begitu? Malu?" Tanya Rama lagi. yang kemudian menghadiahkan kecupan di kening Bella.


" Kak, sedari tadi kau sudah puluhan kali menciumku." Protes Bella yang kemudian berani mengangkat wajahnya menatap Rama yang tersenyum jahil kepadanya.


" Kenapa? apa salahnya mencium pacar sendiri? Apa kau tahu? aku mulai kecanduan dengan semua yang melekat padamu." Kata Rama merayu.


Aghhh...! Jleb....! Bunuh aku saja bang dan buang kerawa-rawa. Bisa bisanya sepulang dari tugas di pedalaman malah jadi perayu handal. Hemh! ini patut di curigai. Mau curiga bagaimana? Bella sudah mabuk kepayang dibuatnya.


" Semoga aku yang pertama." Celetuk Rama sambil merapikan rambutnya dan bersiap turun.


Maaf, tapi sayangnya bukan. Kau bukan yang pertama. Adikmu telah mencurinya dariku. Hei! dia kan polisi, apa boleh aku mengadukan kasus pencurian ciuman pertama ini padanya. Ah, tapi tidak ada saksi dan bukti visum. Nanti mereka bilangnya aku gila. Hanya sekedar membatin dalam angan.

__ADS_1


"Hei!" Rama mengusap pucuk kepala Bella. Rupanya tanpa Bella sadari, Rama sudah berdiri dan membukakan pintu untuknya. Menunggu sang kekasih yang malah asik melamun.


" Melamun lagi aku cium ya." Kata Rama menggoda Bella.


"Ah, tidak...., tidak!" Bella menjawab cepat dan segera turun.


Rama masih mengantarkan Bella sampai kedepan pintu rumahnya sambil bergandengan tangan seolah enggan untuk melepaskan.


" Kak, bisa lepaskan tanganku?" Bella melirik tangannya yang masih melekat erat dengan tangan Rama.


Rama kikuk karena tertangkap basah sedang melamun menatap wajah ayu Bella. " Em... ayah bunda sudah pulang?" Tanyanya kemudian.


" Belum, masih besok pagi." Jawab Bella.


"Apa gula dan kopimu ada?" Tanya Rama dengan makna terselubung. Sebenarnya Rama masih ingin berlama-lama bersama Bella. Tapi tak enak saja membawa anak gadis orang pergi menginap.


Bella tertawa kecil. " Iya Ada. Pacarku mau ngopi?" Celetuk Bella memanggil Rama dengan sebutan Pacarku.


Ah, kini agaknya mereka saling beradu rayuan gombal dan modus. Ehem...., bang Rama lagi mode Errrr.... itulah pokoknya.


BLUSH...!!


Mleyot gak tuh Bang? Gantian kan Bella menggombali dirimu. Gimana rasanya? udah Jedag jedug kayak anak tiktik bunyi hujan dibatas genting ga?


Bella mengajak Rama masuk dan membuatkan kopi. Keduanya duduk di depan TV saling berbincang. Rama banyak bercerita tentang pengalamannya saat bertugas di perbatasan desa yang sedang bentrok. Bella menyimak dengan antusias.


Ruapanya kopi hanyalah menjadi sebuah alasan. Pada akhirnya ada anak bujang yang berubah manja pada kekasihnya.


" Apa Kak?" Bella yang sedang acuh membaca pesan masuk dari teman-temannya.


" Ayo kita menikah." Ucap Rama tak jelas arah.


Bella seketika menaruh ponselnya dan memusatkan fokusnya pada Rama yang sedang dalam mode manja. " Menikah? Aku ini sedang kuliah, mana bisa mahasiswi di universitas negeri menikah?"


" Ya, siri aja dulu. Yang penting halal." Kata Rama.


" Idih...." Bella bergidik sendiri lalu tangannya menepuk kening Rama. " Aku tau kemana arah pikiranmu ini Kak. Sudahlah nikmati saja masa berpacaran kita ini. Baru juga pacaran satu hari, sudah mengajak nikah." Desis Bella yang kemudian menggelengkan kepalanya.


Rama memutar kepalannya dan kini menghadap ke perut Bella menghirup aroma khas dari parfum sang pacar. " Hemh...! wangi." Kata Rama. " Bella, aku serius. Kita menikah siri, kita saja yang tahu."


" No! pernikahan bukan mainan Kak. Pernikahan itu sakral dan hanya di lakukan sekali seumur hidup jika mampu."


ponsel Rama tiba-tiba berdering.


" Siapa?" Tanya Bella..


" Komandan Sayang. Oh, aku melupakan sesuatu. Komandan tadi titip untuk membelikan sesuatu dan aku lupa." Rama seketika bangkit dan meraih kunci mobilnya.


" Aku pergi!" Rama berpamitan sambil mencium pipi Bella. Yang di cium diam mematung.

__ADS_1


" I love you! hati-hati! jangan mengebut!!" Bella balas mengecup pipi Rama.


Bella melambai di pintu menghantarkan kepergian Rama.


" Ah, kopinya tidak di minum sama sekali. Hanya modus saja ternyata." Bella menggeleng kembali membawa kopi ke dapur lalu memasukkannya kedalam kulkas.


" Ah, aku ingin mandi. tubuhku lengket." Bella bermonolog dan mereggangkan otot-otot tubuhnya lalu bergegas ke kamar.


Tak ada yang aneh di kamar dan semuanya terlihat normal. Sampai.....


Bella yang sudah menggunakan bathrobe langsung di tarik begitu saja saat memasuki kamar mandi. Seseorang menariknya lalu membekapnya. Bella meronta tapi kalah pada tenaga.


" Lepaskan!!" Bella berteriak meronta-ronta tapi tiba-tiba mulutnya tersumpal oleh sesuatu yang kenyal dan hangat. " Hemph...!" Nafas Bella tertahan karena ciuman yang brutal.


...Bella yang mengetahui siapa yang menciumnya kemudian menggigit lidah Jimmy hingga berdarah. Tapi Jimmy tidak menyerah, dia justru semakin menikmati aksi sadis Bella. Lidah sudah tergigit tapi tak ada hasil, dan kini Bella menggigit bibir Jimmy. ...


Bibirnya berdarah tapi Jimmy malah tersenyum sambil mengusapnya seolah puas akan apa yang telah dilakukannya.


" Kau gila Jim!!" Bella berteriak memaki Jimmy.


" Aku gila? Kau yang gila!!" Jimmy balik memaki Bella dan menunjuknya tepat di depan wajahnya. Karena pertengkaran itu Bella sampai lupa jika sudah tidak mengenakan pakaian dalam.


"Kau yang gila Bella! bisa-bisanya kau setelah mengatakan cinta padaku lalu kau berpacaran dengan kakakku? Cih, aku tak habis pikir ternyata kau binal juga." Jimmy berdecih merendahkan Bella.


" Kau yang gila Jim! jaga mulutmu! Kau kenapa menyelinap ke kamarku, huh? Kau mau apa dariku? Berkali-kali aku menyatakan perasaanku padamu Jim, berkali-kali aku mencintaimu sendiri tapi kau menolakku. Lalu sekarang apa? setelah ada yang mencintaiku kau tak rela?" Bella menatap remeh Jimmy.


"Berhentilah menjadi serakah Jimmy, dan segeralah kau keluar dari kamarku!!" Bella membentak keras Jimmy.


Jimmy menggeleng. " Tidak sebelum kuhapus bekas dimana tadi dia menyentuhmu." Kata Jimmy yang terdengar sangat bang**t.


PLAK!! Satu tamparan keras mendarat di pipi kanan Jimmy menambah darah yang menetes dari sudut bibirnya.


" Jauhkan pikiran itu dari otakmu!! Aku bukan Eva!! aku tak seperti dia!!" Bella benar-benar mengamuk.


Jimmy terkekeh lalu mendekat. " Really?" Jimmy mengangkat kedua alisnya. "show me then!" Kata Jimmy.


Oh, ****!! setan dari mana yang hinggap di tubuh Jimmy? mengapa dia sampai keterlaluan begini? Bella bukan barang Jim!!


" Go out!! Go away from me!!" Teriak Bella yang menjerit kemudian menangis histeris dan bersimpuh di lantai.


Melihat reaksi Bella yang begitu sedih, Jimmy kemudian terdiam seolah setan yang merasukinya pergi meninggalkannya.


" Bell? Bella... Maafkan aku..." Jimmy memeluk Bella.


" Kau selalu menyakitiku Jimmy!!" Bella memukul-mukul punggung Jimmy. Dia meluapkan segala emosinya. Bella begitu marah sekarang.


" I'm sorry bi, I'm sorry. Aku tak rela kau ada yang memiliki terlebih itu adalah kakaku sendiri. Sekarang aku sadar, betapa aku mencintaimu." Kata Jimmy masih dengan memeluk Bella.


Bella tak menggubrisnya, telinganya seakan tuli dan dia hanya perduli dengan rasa sakit di hatinya setelah menerima pelecehan.

__ADS_1


" Don't cry baby. Ok I wanna go now. I love you." Kata Jimmy yang kemudian mengecup sekilas bibir Bella yang basah dan mungkin juga asin karena air mata kesedihannya.


__ADS_2