Lebih Dari Pacar

Lebih Dari Pacar
~ sun


__ADS_3

...πŸ€πŸŒΊπŸ€...


Melayang jauh, terbang tinggi, bersama mimpi. Terbalut angan, titian emosi dua hati dalam dua jiwa yang saling berempati.


Dalam balutan kasih, keduanya saling berad dalam hangat dekapan.


Ting! Terdengar bunyi pengingat dari microwave yang telah selesai menjalankan tugasnya.


"Bie, apa mau begini terus? bakwan udangmu sudah siap." Kata Bella dengan malu malu mengingatkan seorang pria yang terang terangan sudah melamarnya pada Ayah dan Bundanya.


"Oh, iya." Sambung Robbie yang kemudian melepaskan pelukannya dan menjadi salah tingkah. Dia berjalan di depan dan mendahului Bella.


Bella hanya tersenyum sambil menggeleng perlahan setelah melihat Robbie yang salah tingkah.


"Em.... apa enak?" Tanya Bella dengan harap harap cemas. Dia takut masakannya tak cocok di lidah Robbie.


Robbie menunjukkan raut wajah aneh yang lebih condong kepada ketidak sukaan. Dahinya mengkerut, dan mulutnya seakan sedang menahan suatu rasa yang memberontak di dalam jaringan mukosanya.


"Kenapa begitu mukanya? apa tidak enak?"


Bella berfikiran, mungkin saja rasanya tidak enak dan Robbie tak mau menyinggung perasaannya oleh sebab itu Dia hanya menahannya.


Apa iya tidak enak? padahal tadi sewaktu aku cicipi rasanya lumayan dan kata para asisten yang lainnya ini enak. Ada apa? apa salah teknik saat memanaskan tadi? Bella membatin dan kemudian Dia mengambil bakwan dari tangan Robbie karena rasa penasarannya.


"Loh, enak kok Bie, apanya yang salah?" Tanya Bella bersungguh sungguh.


Robbie mengulum senyumnya dan kemudian membuka mulutnya tanda minta di suapi. "Aaaa....!!" Ujarnya dengan mulut terbuka dan Bella menyuapinya tanpa sadar dan masih dengan wajahnya yang polos.


"Gimana enak kan?" Ulang Bella dengan pertanyaan yang sama.


Robbie mengangguk agnggukan kepalanya dan terus mengunyah si bakwan sampai akhirnya dia menelan habis bakwan udang tersebut. "Kalau di suapi sama kamu enak Chagi.." Ujarnya yang sengaja menggoda Bella.


Memang, dunia kan terasa begtu indah dan sempurna bila apa yang kita dambakan berhasil kita gapai. Sama halnya dengan Robbie saat ini yang begitu bahagia.


kepergian sang Nenek tentunya menorehkan luka tersendiri baginya tapi, jauh di dalam hatinya Dia baru menyadari sesuatu.


Selesai degan menghabiskan bakwan satu piring lengkap dengan sambel cocol yang di bawakan oleh calon mertuanya, Robbie lalu berbaring pada sofa dengan tangannya yang mengendalikan remote control.

__ADS_1


"Capek banget ya?" Tanya Bella yang juga duduk di depan TV sambil mengerjakan tugasnya.


"Hem, Banyak urusan disana. Belum lagi berurusan dengan para pamanku yang gila harta. Mereka masih ingin meminta bagian harta Nenek, padahal dulu Nenek sudah memberikan semuanya. Dan saat Nenek jatuh sakit dan membutuhkan banyak biaya, mereka mengusirnya. Hanya Ayahku yang mau mengurus Nenek dalam susah." Robbie menghela nafasnya sebelum kembali bercerita.


"Tapi sekarang begitu mereka mendengar kabar kematian Nenek, bukan kesedihan yang kulihat dimata mereka, melainkan kebahagiaan. Aku sangat membenci manusia yang tamak seperti itu."


Bella menghentikan pergerakan tangannya yang sedang mengetik dan kemudian mendongakkan kepalanya. Posisi mereka adalah robbie yang tengah berbaring, dan Bella yang tengah mengetik sedang duduk di karpet dengan laptop yang berada di atas meja. Kepala mereka berada lurus sejajar hanya saja beda arah.


Dan saat Bella mendongak, otomatis wajah mereka saling bertatap tatapan.


"Jangan marah, nanti cepat tua loh." Ucap Bella menegurnya. "Apa ini pengaruh makan bakwan udang abis banyak ya, jadi marah marah begini, kolesterol mu naik Bie?" Tanya Bella yang sengaja ingin meredam amarah Robbie.


"Enak aja, enggak lah. Masih sehat aku ini Chagi. Masih ingin hidup lama sama anak cucu kita."


"Masih lama banget itu Bie, aku aja masih 2 tahun lebih, Eh, kamu ga kuliah?"


"Masih ambil cuti sayangku. Lumayan kan sisa setengah bulan lagi bisa nemenin terus kamu gini."


"Ga lumayan sih, soalnya pekerjaanku jadi melambat gara gara kamu Bie, Em, Bie... bisa tunjukan bakat mengetikmu? aku mau lihat."


"Sini, lihat. Aku bahkan bisa mengetik tanpa melihat papan clip board." UJarnya penuh kesombongan.


Masuklah ikan kedalam jebakan, Bella tak semahir itu dalam menggerakkan jarinya, sementara Robbie, dia begitu ahli dan lihai dalam memainkan jari lentiknya.


"Sayang, kalau begini terus, sepertinya aku bisa lulus lebih cepat." Ucapnya penuh makna tersirat.


Robbie hanya tersenyum lalu tertawa. "Ah sudahlah lanjutkan saja sendiri! aku tidak mau punya istri yang cepat lulus tapi sebenarnya nol."


"Tapi, jika kamu bisa mengulang sekali lagi kaa kata anis tadi sih, aku bisa mempertimbangkannya."


"Yang mana?" Tanya Bella yang berlagak tidak tau akan sepenggal kata SAYANG yang tadi ia ucapkan.


"Ah, pasti mau pura pura beg*. Ya sudahlah kalau tidak mau. aku mau tidur dulu. Nanti jangan lupa matikan lampu dan TV!" Ucap Robbie yang kemudian melesat menuju ke kamarnya dengan wajah masam.


Halah baru beberapa jam jadian udah main ngambek aja nih anak berdua. Heran deh!


...~~~~...

__ADS_1


"Apa, dia marah?" Bella menggumam melihat Robbie yang terus saja berjalan meninggalkannya.


Sementara itu di dalam kamarnya,


"Kenapa jadi kesel beneran sih? padahal kan tadi aku hanya mau bercanda dan berharap dia akan menghentikan ku, tapi, malah diam saja. Argh....!!! kezel pol....!!" Robbie meraung kesal di dalam kamarnya dan menghajar bantal yang tak berdosa.


"Tunggu sepuluh menit, pasti dia akan nyamperin." Ucap Robbie dengan matanya yang fokus menatap layar ponselnya.


Sepuluh menit berlalu, tak ada pergerakan sama sekali.


"Ah, tambahan waktu. Pasti Di masih mau menyelesaikan tugasnya sekalian. biar ga nanggung. Iya, pasti gitu kan? optimis!" Ujarnya menyemangati dirinya sendiri.


Lama menanti akhirnya Robbie yang tak sabaran turun juga untuk menyampaikan protesnya. Langkahnya terhenti kala melihat Bella sudah terlelap dengan kepalnya yang tersampir dia tas meja.


"Pantas sedari tadi ku tunggu tak ada reaksi, rupanya sudah tidur dia."


Robbie hendak membopong Bella yang tertidur di ruang tamu, tapi dia seolah ragu dan memilih membangunkan tunangannya itu.


"Bell, bangun chagi, pindah di kamar." Ucapnya lembut sambil membereskan buku dan juga laptop Bella yang bertebaran tak jelas.


Bella yang merasa terusik kemudian terbangun dan tersenyum melihat Robbie. "Kamu tidak marah kan, soal tadi? aku sungguh lupa, maaf ya?" Kata Bella dengan mata yang sudah memerah menahan kantuk.


"Tidak, buat apa marah sama kamu chagiya? sudah sana pindah, disini dingin." Jawabnya yang tanpa melihat Bella sama sekali.


"Aku tahu kamu masih marah kan? buktinya kamu ga mau melihatku."


"Tidak, chagi..., tidak." Kini Robbie berbicra sembari melihat Bella yang sudah tersenyum kepadanya.


CUP1


Satu kecupan mendarat di pipi Robbie "Good nite Bie..!"


Robbie mematung sampai Bella menghilang dan menutup pintu kamar yang di tempatinya.


"Di... dia menciumku.... Good nite katanya." Robbie kembali ke kamarnya seperti orang linglung. Dia berjalan sambil terus tersenyum senyum dengan tangannya yang mengusuk pipinya.


Ehem.... senengnya yang di sun🌚.

__ADS_1


__ADS_2