Lebih Dari Pacar

Lebih Dari Pacar
~ Let's beginning


__ADS_3


...🌺🌺🌺...


Hembusan angin ditambah salju yang juga turun membumi membuat kaki Bella terasa lemas dan menggigil. Dia kini sedang duduk di ruang tamu, berbicara dengan serius menatap tajam lawan bicaranya.


"Kamu marah? karena aku menyusulmu?" Tanya Jimmy yang seolah tanpa dosa pada lawan bicara yang sudah ingin menerkamnya.


Madam Yuki, dia membiarkan kedua sahabat ini saling berbicara merembuk sesuatu yang dia sendiri masih tak paham apa yang menjadi titik permasalahannya.


Di susul sahabat sampai ke negri sakura, bukankah seharusnya Bella merasa bahagia dan teristimewa? Tapi Bella langsung marah dan menyalang bagai anjing kelaparan.


"Jim, katakan padaku kenapa kau bisa sampai di sini!" Cecar Bella.


"Naik pesawat." Jawab Jimmy dengan singkat seolah tak merasa bersalah akan apa yang dilakukannya.


Memang tak ada yang salah sih, terserah dia juga mau sekolah dimana juga. Duit juga duit keluarganya πŸ˜†. Dan benar jawabannya kalau dia sampai dengan selamat dengan menumpang di pesawat. Tidak mungkin juga dia akan menyelami samudra Hindia 🀣.


"Serius Jim!" Bella membentak Jimmy.


"Ya aku serius, aku naik pesawat, lalu taksi dan sampai kemari." Jawabnya terdengar begitu meremehkan Bella dan lebih pada menggoda Bella dan mengajaknya bercanda.


"Maksudku, kau kan tidak ikut program beasiswa?"


"Tidak memang, tapi kan semuanya bisa diselesaikan dengan hubungan baik dan uang. Keduanya saling bersinergi dan memberikanku banyak keuntungan."


"Ah, pasti paman kan? Kau merengek lagi padanya?" Tebak Bella yang memicingkan matanya menatap penuh selidik.


"Ha-ha-ha! kau cerdas sekali Bell?" Kata Jimmy.


...Flashback On....


Sesaat setelah Jimmy menemui Bella.


"Kamu darimana? ayo makan." Ayah Dandi mengajaknya makan malam.


Jimmy dengan wajah cemberutnya langsung terduduk di lantai dan memeluk kaki Ayahnya. Sungguh dia adalah anak balita yang terperangkap dalam seonggok daging orang dewasa.


"Sayang, kenapa duduk di lantai? itu jorok." Ujar Bunda Suci melarang putranya duduk tanpa alas di lantai marmer.


"Bunda, boleh ya Jimmy ikut Bella?" Rengek nya sama sekali tanpa ada rasa malu. Dia merengek untuk sesuatu yang rumit di lakukan.


Ayah Dandi memijit pelipisnya, dia mulai merasakan bagian belakang kepalanya berdenyut hebat sekarang. Dia begitu marah dengan sikap Jimmy yang berakting seperti anak SD.

__ADS_1


"Jim!! kamu ini bukan anak kecil lagi. Kamu tau kan, mengurus kepindahan universitas itu sangatlah rumit."


"Tapi Ayah, Jimmy tidak bisa jauh dari Bella."


"Tapi jauh dari Ayah dan Bunda kamu bisa?" Tandas Ayah Dandi menatap tajam putra kesayangannya.


Jimmy mengangguk. " Bisa, aku sudah terbiasa dengan itu. jika kalian pergi satu-satunya yang kumiliki ya hanya Bella. Dia yang menemaniku setiap waktu, seperti Ayah yang selalu membawa Bunda pergi kemana-mana."


"Itu beda Jim, Ayah dan Bunda sudah menikah. Sementara kalian hanya berteman." Ayah Dandi menekankan kata teman.


"A....ayah~~!" Rengek Jimmy mengguncang lengan sang Ayah. " Ya sudah nikahkan saja kami." Ujarnya dengan senyum yang merekah.


PLETAK!!


Satu jitakan mendarat di kepala Jimmy. "Nikah! Nikah! Ndasmu!!" Keluarlah kata-kata umpatan dari mulut sang Ayah yang begitu langka bagi telinga Bunda dan Jimmy. Bunda suci sampai melotot tak percaya.


Tak biasanya suaminya ini sampai berkata kasar, memaki atau mengumpat di hadapan Jimmy. Apalagi kata-kata itu tertuju pada putra kesayangannya.


"Bun, urus anakmu ini. Kepalaku pusing." Keluhnya dengan kedua siku yang sudah membentuk sudut saat berkacak pinggang dan menatap jengah sang anak.


"Jim, kenapa lagi sih? kenapa minta pindah? Kamu pindah kuliah juga baru berapa bulan kan? Masa iya mau pindah lagi?" Bunda masih bersikap lembut dan sabar.


"Bun, aku mencintai Bella!! bagaimana bisa aku berjauhan dengan cintaku? Dia memiliki separuh hatiku, dan juga nafasku Bun. Kalau kami berjauhan maka aku akan kritis dan lemah tak berdaya." Jimmy masih berusaha untuk merayu kedua orang tuanya.


" Ayolah Bun, aku bisa bertahan karena ada Bella disini. Eva tak sebanding dengan Bella."


"Omong kosong! kalian itu hanya saling menyayangi karena terlalu lama bersama. Tapi bukan berarti itu Cinta!" Ayah Dandi menjadi geram dia berbicara penuh penekanan.


"Ayolah Ayah....!" Jimmy tak putus asa. Dia terus memohon sambil memeluk kaki sang Ayah.


Ayah Dandi tak bergeming dan kemudian mulai berusaha untuk menjauhkan Jimmy dari kakinya.


"Lepas kata Ayah...!" Seru sang Ayah, tapi tak berpengaruh terhadap sang putra.


Jimmy mulai mengeluarkan jurusnya. Sebuah gertakan agaknya akan membuat pendirian Ayahnya goyah.


"Baiklah kalau kalian tak mau memindahkan aku di universitas yang sama tempat Bella kuliah, maka aku akan mogok!" Jimmy menggertak kedua paruh baya yang saling pandang tak percaya.


" Mogok apa? mogok mandi? Biar lumutan juga Bunda tidak perduli." Sarkas sang Bunda dan kemudian berlalu pergi menuju ke kamarnya.


" Bun! tolongin Ayah!! lepaskan si monyet ini!!" Pintanya yang benar-benar terlihat menyedihkan dengan Jimmy yang menempel bak bayi monyet.


"Yah, ini begitu sakit. Aku mencintainya sama seperti ayah yang mencintai Bunda. Apa ayah bisa berjauhan dengan Bunda lebih dari dua hari?"

__ADS_1


Ayah Dandi menggeleng. Memang Ayah Dandi adalah tipe suami bucin setengah mati. Dia akan membawa istrinya kemanapun pergi. Jarak paling lama mereka berpisah hanyalah dua hari, selebihnya maka anak dan istrinya akan di usung.


"Aku pun sama Ayah. " Ucapnya yang menangis tiba-tiba.


"Eh, kamu ini laki-laki! Jangan cengeng begitu!" Protes Ayah Dandi memegang kedua bahu Jimmy.


"Ayah, aku dan kak Rama sudah sepakat akan bersaing dengan sehat untuk mendapatkan hati Bella. Tapi jika aku berjauhan, maka darimana aku bisa mencuri start?"


"Apa maksudmu tadi? Kamu dan Kakakmu?"


"Ayah, Kak Rama dan Bella berpacaran."


Ayah Dandi terdiam, ada sesuatu yang muncul di kepalanya. Dia memikirkan sesuatu yang mungkin akan merubah segalanya.


"Baik! akan Ayah usahakan, dan pastikan kamu bersaing secara sportif." Kata Ayah Dandi menatap yakin Jimmy.


"Benarkah? Ayah mau membantuku?" Cetus Jimmy sambil melonjak kegirangan dan memeluk sang Ayah.


Dan Euforia itu terhenti saat Ayah Dhani mengajukan satu syarat.


"Tapi ada syaratnya." Ucap Ayah Dandi.


" Apa?" Jimmy mendongak penasaran.


"Hubungi komandan kakakmu dan ajak kakakmu bicara. Layangkan surat perang sekarang bahwa persaingan akan segera di mulai. Katakan padanya, semua yang berkata good evening akan kalah bersaing dengan yang disanding." Ucap Ayah Dandi final.


"Jadi Ayah memanfaatkan ini agar Kakak kembali pada kita dan merelakan profesinya?"


Ayah Dandi mengangguk. " Kamu memang cerdas, Ayah tidak ingin anak Ayah pulang tinggal nama. Sebenarnya ayah sangat menyayanginya, Ayah tidak mau terjadi hal-hal buruk pada kalian."


"Tapi yah, umur itu rahasia Tuhan. Profesi apapun tak menentukan panjang pendeknya suatu usia."


"Benar, tapi semua itu memiliki faktor internal dan eksternal. Resiko pekerjaannya terlalu tinggi, Ayah tidak sanggup jika harus melihat anak Ayah tertembak atau cacat."


Jimny sekarang mengerti mengapa sang Ayah bersikap dingin kepada sang Kakak. Bukan karena benci, tapi karena rasa cinta yang tinggi. Memang cara setiap manusia mengapresiasikan rasa cintanya itu berbeda-beda.


" Baik kalau begitu. Mana ponsel Ayah?" Jimmy meminta ponsel Ayah Dandi dan segera menghubungi komandan.


Satu hal yang tak disangkanya, ternyata Ayah Dandi memasang foto anak dan istrinya sebagai wallpaper dan juga kontak nama komandan yang di simpannya dengan nama, Komandan putraku.


Disinilah persamaan karakter Ayah Dandi dan Jimmy. Lain di mulut lain di hati. Sikap keduanya mirip saat menghadapi orang tersayangnya. Dan akan benar-benar tunduk ketika berhadapan dengan si pemiliknya. Dalam hal ini pemilik Ayah Dandi sudah jelas adalah Bunda suci.


Lalu, siapakah pemilik dari Jimmy dan Rama?

__ADS_1


Siapakah yang Bella pilih?


__ADS_2