Lebih Dari Pacar

Lebih Dari Pacar
23. Agak pedih.


__ADS_3

...🌼🌼🌼...


Rama yang selesai bertugas, tak langsung pulang menuju ke rumahnya. Dia begitu mengkhawatirkan keadaan Jimmy adiknya. Sedari tadi menunggu kabar dari pacarnya tapi tetap saja tak ada pesan yang masuk. Hingga Rama memutuskan untuk kembali ke rumah sakit.


Rama berjalan terburu-buru dan akhirnya dia sampai di kamar dimana Jimny di rawat. Rupanya Bella sudah tak ada disana dan di gantikan oleh Ayah dan Bundanya. Miris memang, jika Rama yang sakit sang Ayah tak pernah sekhawatir ini. Itulah sebabnya sampai ia mendapatkan luka tembak pun dia enggan memberitahu kedua orang tuanya.


"Untunglah sudah ada yang menjagamu." Rama menggumam dan kemudian berbalik badan dengan menahan kesedihannya.


Terasa agak pedih memang jika orang tua kita membedakan kasih sayang kepada anak-anaknya. Hal seperti ini selalu saja ada entah dimana tempatnya. Dan sialnya, hal ini juga yang menimpa Rama dan di perparah dengan sikapnya yang cenderung lebih suka menjauh dari keluarga.


Saat dia berbalik, rupanya sudah ada Bella di belakangnya dengan membawakan dua buah cup kopi. Bella mampu melihat kesedihan yang mendalam di wajah kekasihnya.


Bella mendekat dan memeluk Rama sambil tersenyum. Dia tak bicara dan hanya bertanya melalui tatapan matanya. Seolah sedang bertanya. Kenapa sudah disini?


"Darimana?" Tanya Rama sambil mengusap pucuk kepala Bella dan menatap lekat kedua manik gadisnya.


"Beli kopi, Mau?" Bella menunjukkan kopi yang di belinya.


Rama menggeleng dan tersenyum pias. dia lalu kembali mengusap pucuk kepala Bella. " Tidak, aku tadi hanya ijin saja. Aku menunggu pesanmu tapi tak ada. Apa Jimmy sudah baikan?"


Ah, rupanya dia datang karena mencemaskan keadaan sang adik. Lantas bagaimana dengan sikap adik ke Kakaknya? Jimmy, dia sangat menuruni sifat sang Ayah sedangkan rama? cendrung menurun karakter dari sang Bunda yang banyak mengalah.


Bella menepuk perlahan keningnya. Mengapa bisa dia begitu mudah lupa? Dia lupa mengabari Rama akan keadaan Jimmy. " Aku... maaf aku lupa sayang." Desis Rama.


" Sayang?" Rama mengulang dengan wajah senang.


Ini pertama kalinya Bella memanggilnya dengan sebutan Sayang, tidak lagi dengan Panggilan Kak.


Bella terdiam dan matanya membulat, dia masih belum sadar akan apa yang baru saja Dia katakan.


"Ada apa?" Tanyanya dengan penasaran.


"Tidak, aku sangat suka dengan panggilan itu. Ayo kuantarkan pulang. Ini sudah malam nanti Ayahmu akan marah jika kau pulang terlambat." Rama bersiap untuk menggandeng tangan Bella.


"Nanti dulu, Kakak duluan dan tunggu aku di mobil ya. Aku akan berpamitan dengan Om dan Tante."


Rama mengangguk dan menunggu sampai Bella masuk kedalam kamar Jimmy. Dan dia pun pergi setelahnya menuju ke parkiran.


"Barusan panggil Sayang dan sekarang panggil Kakak lagi." Protes Rama dengan bibir yang mengerucut dan suara imut.


Bella terkikik kecil. " Sebentar, sebentar ya Sayang... aku akan pamitan dulu." Ulangnya lagi dengan imbuhan berupa sentuhan lembut di punggung sang pacar.


Terbitlah senyum merekah di bibir Rama. Betapa senangnya dia rungunya menangkap pendengaran yang begitu manisnya.


Di dalam kamar Rawat.


"Om, Tante." Bella masuk dan berbicara dengan perlahan.


"Iya Bella?" Sahut Ayah Dandi yang seketika terduduk saat Bella datang.


Bella meletakkan dua cup kopi di atas nakas, dia mulai berbicara untuk meminta ijin. " Om, Bella pamit pulang ya? besok ada kelas pagi."


"Oh, iya Bella. Terimakasih sudah membantu menjaga Jimmy saat om dan Tante sedang kerja tadi." Ucapnya begitu lembut. Sangat berbeda nada bicaranya ketika berbicara dengan Rama tadi pagi.


Bella mengangguk " Iya Om, sama-sama. Salam buat Tante dan Jimmy ya?" ucap bell: sebab Bunda suci tengah tertidur dan Jimmy pun sama.


"Baik, nanti akan om sampaikan." Sahutnya lembut.


Bella meninggalkan ruang rawat Jimmy.


Mengapa sangat berbeda sekali. Aku saja masih takut melihat perubahan sikapnya. Tadi saat dengan Rama dia begitu kasar. Tapi saat berhadapan dengan Jimmy dia begitu lembut. Padahal mereka berdua sama-sama anak kandung. Ah, untunglah aku ini anak tunggal.


Bella berjalan dengan santainya dan menghampiri Rama. Dia kemudian masuk setelah Rama membukakan pintu mobil untuknya. Tak lupa juga senyuman hangat mewarnai lembutnya suasana.


CEKLEK!


Rama memasangkan sabuk pengaman untuk Bella. Pandangannya kemudian saling bertaut sebab Rama menempatkan wajahnya tepat di hadapan wajah Bella hingga nafas mereka saling menerpa satu sama lain.

__ADS_1


" Kau belum menjawabku manis." Tanya Rama.


"Apa?" Bella masih tak mengerti.


" Jimmy bagaimana?" Ulangnya Setelah tadi pertanyaannya tertunda.


"Sudah baik, tadi sudah siuman." Jawab Bella sekedarnya.


Dia sangat baik, bahkan dengan tubuhnya yang terluka saja dia masih bisa mencuri ciumanku. Haruskah aku membuat laporan ini ke kantor polisi? Ah, aku lupa. Pacar ku pun polisi. Tapi, jika aku buka suara soal ini, bukan saja satu hubungan yang rusak. Tapi semuanya akan rusak. Hubungan Antara Orang tuaku dan Om juga Tante. Hubungan Kakak beradik, hubunganku juga terancam kandas. Ah, aku harus bagaimana? Bella membatin sambil menatap Rama.


Posisi Wajah Rama yang kian mendekat, membuat Bella berpikiran mungkin Rama akan menciumnya. Bella memejamkan matanya dan bersiap menunggu sesuatu yang hangat dan kenyal mendarat.


Tapi, tiba-tiba....


ZRENK....!


Suara mobil menyala yang identik dengan pedal gas yang menambah kecepatan hingga membuat dorongan maju ke depan. Bella membuka matanya dia sangat malu sekali.


" Kenapa tadi bibirmu maju begitu?" Rama mentoel bibir Bella dengan telunjuknya dan terkekeh-kekeh lucu.


Aih, malunya aku...!


Bukankah tadi dia mendekat begitu minta cium? Biasanya dia sangat suka berciuman. Tapi, tadi kenapa? apa mulutku bau ya? Ah iya sore saja aku belum sempat mandi. Bella menepuk-nepuk keningnya.


Bodoh, bodoh, bodoh! bodohnya aku...! Mengharapkan apa aku ini? Dasar otak mesum! Bella merutuki kebodohannya dan menggigit bibir bawahnya. Dia sangat malu hingga Pipinya memerah.


Untuk mengurangi rasa malunya, dia memutuskan untuk memandang keluar jendela. Rama hanya tersenyum melihat tingkah laku pacarnya yang aneh.


Setelah lumayan jauh dari rumah sakit, Rama kemudian menepi di bahu jalan. Dia tersenyum manis menatap wajah sang gadis.


" Jawab dong, kenapa tadi mulutnya maju begitu? minta dicium?" Rama bertanya dengan menaikkan kedua alisnya dan mencibirkan mulutnya seolah menggoda Bella.


"Ih, apasih? enggak ah. Enak aja!" Bella tergugup dan menyelipkan anak rambut kebelakang telinganya mencoba mengurai rasa gugupnya.


"Sini, coba maju." Rama menarik perlahan pergelangan tangan Bella.


" Kalau makan yang bener sayang, ini gulanya belepotan." Lembut Rama berbicara dengan tenang dan kemudian mulai menarik tengkuk Bella dan menyapu hangat bibir ranum nan mungil milik sang kekasih.


" Kak?" Bella melongo di buatnya. Dia yang tadi mengira Rama tak mau menciumnya nyatanya sudah mempunyai modus baru untuk melancarkan aksinya.


" Gula apa?" Tanya Bella dengan polosnya. Sebab seingatnya dia tak memakan kue yang bertabur gula. Bella juga tak mau kan, jika nantinya dia sudah percaya diri dan tak taunya malah ada cabe menyelip di gigi.


"Ini," Lagi Rama mencium Bella dan ********** dengan lembut sambil memejamkan matanya.


Ah, Bella paham sekarang. Mungkin yang di maksud Rama adalah bibir Bella yang manis. bukan gulanya.


Bella pun menikmatinya, baru saja berapa jam tidak bertemu dan Bella sudah merasakan rindu yang menggebu-gebu. Dia menikmati setiap jamahan basah Saliva yang Rama berikan. Hingga keduanya terengah dan menghentikannya.


"Ku pikir tadi tidak mau." Cicit Bella setelah Rama kembali mengemudikan mobilnya.


" Oh, tadi? waktu di parkiran?" Rama tertawa senang.


"Rupanya kau juga menginginkannya? Tadi itu ada CCTV sayang ku. Dan lihat aku, aku masih berseragam. Nanti kalau aku ceroboh, akan viral, lalu turun pangkat dan kau akan di coret dari beasiswa dan kita akan di tendang dari keluarga. Lalu lah kita berdua menjadi gembel. Kau mau?" Tandasnya.


Iya, benar juga yang Rama bicarakan di jaman seperti sekarang tidak menutup kemungkinan banyak oknum-oknum yang mencari keuntungan dari yang orang lain lakukan. Tidak peduli hal itu menguntungkan atau merugikan orang tersebut, asalkan si oknum mendapatkan cuan, semuanya akan menjadi halal untuk dikonsumsi semua kalangan.


Bella menjadi semakin malu setelah tertangkap basah memikirkan hal yang dia inginkan tapi malu untuk dikatakan.


"Em... aku hanya menebak saja bukan berarti aku mau ya. ingat sewaktu kita pergi piknik kemarin berapa kali kau menciumku? semua bedak dan lipstik ku habis di mulutmu. kalau aku boleh tahu apa rasanya?" Ucap Bella berseloroh dan menepiskan rasa malunya.


"Rasanya? bibirmu yang berwarna pink agak agak orange itu manis dan pipimu, kening, dagu, dan hidung sepertinya mendekati rasa Umami." Rama berbicara sambil terkikik geli pacarnya ini masih begitu polos dan lugu.


Entah ini merupakan hobi baru Rahma pun tidak tahu yang jelas dia senang saja melihat ekspresi wajah Bella yang tersipu malu.


Rama mengantarkan Bella sampai di depan pintu rumahnya setelah berpamitan dan akhirnya dia tutup dengan sebuah kecupan hangat di kening. Sungguh Rama merupakan sosok lelaki hangat yang menyukai skinship sebagai ekspresi dari kasih sayangnya.


Di dalam kamar Bella.

__ADS_1


Bella yang telah selesai dengan ritualnya dengan dia yang membersihkan diri dan sudah berganti baju kini berbaring dia terdiam menatap langit-langit kamarnya.


Bella kembali memikirkan kejadian yang terjadi tadi di kamar rawat Jimmy tepat setelah Jimmy terbangun dari tidurnya.


"Ah rasanya seperti aku telah melakukan dosa besar dan sebuah kriminalitas yang tidak bisa dimaafkan." Bella menggerutu dengan sendirinya Bahkan dia sampai meremas rambutnya karena frustasi.


...Flashback on....


Di kamar ruang rawat Jimmy tepat setelah Jimmy bangun. Saat itu merupakan jam makan dan minum obat orang tua Jimmy belum datang sehingga yang mengurus segala sesuatunya adalah Bella.


" Minum obatnya." Bella mengupas obat Jimmy dan memberikannya.


Tangannya masih menengadah dan terulur didepan Jimmy. Bukanya obat yang Jimmy ambil, tapi Jimmy malah dengan sengaja menarik tangan Bella dan membuatnya jatuh terbaring di atas brangkar.


"Jimmy, apa-apaan ini? Bukankah kita sudah bicarakan hal ini. Tolong jangan seperti ini. Aku ini pacar Kakakmu!!" Bella berseru dan memberontak. Dia sampai memukul dada Jimmy tapi tak di hiraukan.


"Aku tidak akan berhenti sampai kau menjadi milikku Bell. Aku mencintaimu!!" Ungkap Jimmy mengabaikan segala rasa sakitnya.


Tangan Jimmy terulur dan merengkuh Bella membawanya kedalam dekapannya lalu mencium Bella dengan paksa tak menghiraukan rasa sakit dari setiap lukanya.


"eungh...." Bella hendak menjawabnya tapi sudah tersumpal dengan bibir Jimmy.


Bella tak pernah menyangka bahwa Jimmy akan menjadi semakin brengsek. Dia yang khawatir dengan keadaan Jimmy nyatanya harus dikecewakan dengan kelakuan Jimmy. Bella memukul-mukul dada Jimmy. Dia memberontak. Dan akhirnya bisa terlepas dengan darah di mulutnya.


Ya, lagi-lagi Bella menggigit bibir bawah Jimmy. Bersamaan dengan Bella yang terus memberontak, terdengar suara gebrakan di pintu kamar Jimmy yang membuat Jimmy terlonjak kaget dan melepaskan ciumannya.


Selepas kejadian itu, Bella kemudian berlari keluar sambil menangis. Dia keluar dan menuju ke toilet yang berada di lantai bawah.


...Flashback off. ...


Di lain tempat, di sebuah kamar yang gelap.


" Argh....!" Rama mengerang keras di dalam kamar mandinya di bawah guyuran shower.


Dia begitu marah dan tak bisa melupakan kejadian di sore hari tadi saat menyempatkan diri untuk menengok keadaan adiknya dan malah pemandangan menyakitkan yang menggores luka di hatinya.


Rama, dia menyaksikan bagaimana Jimmy mencium paksa Bella. Pedih hatinya saat melihat kejadian tersebut. Itulah mengapa saat mengantar Bella pulang, dia sengaja mencium Bella secara lembut, perlahan dan dalam. Dia sengaja ingin menghapus bekas Jimmy yang masih menempel di bibir Bella dan membuatnya mendidih.


"Jim, kau selalu merebut apa yang kumiliki. Sejak kau ada di Dunia ini, Ayah dan Bunda tak lagi memperdulikan ku. Mereka selalu membedakan kasih sayangnya. Dan sekarang, aku mencintai Bella, kau juga menginginkannya?" Rama bermonolog seorang diri.


"Tidak, aku akan berjuang untuk cintaku, untuk wanitaku. Tidak akan kubagi denganmu." Geramnya yang berbicara dengan rahang yang mengeras menahan amarahnya.


Saat Bella mencoba untuk memejamkan matanya, dia mendengar suara dari balkonnya. Dia mendengar suara ketukan dari jendela kamarnya.


Dengan takut-takut Bella mendekat, mengintip sosok bayangan yang berdiri di sana. Bella menelan ludahnya dengan perlahan dia begitu ketakutan.


Bella sudah bersiap dengan membawa sebuah tongsis sebagai alat perlindungan diri. Dia bersiaga, membuka tapi juga berniat untuk memukul.


Jendela di buka dan tirai pun disibakan. Dalam suasana remang, tak jelas siapa si pemilik bayangan hitam.


PLETAK!!


Pukulan keras dia sasarkan tepat di kepala si pemilik bayangan hitam.


" Aduh!" Keluh Rama mengaduh kesakitan lalu berjongkok menahan lara.


Bella yang mengenali suara tersebut kemudian ikut berjongkok di depan Rama dan memastikan wajah dari orang yang baru saja di hantamnya. Dengan bantuan remang cahaya rembulan, Bella yang menyipitkan matanya mengenali Sosok yang ada di hadapannya.


" Aish...., Kak? kenapa tak panggil saja namaku. Kenapa harus mengendap-endap?" Bella berbicara dengan Lirihnya.


"Ah, sakit Sayang. sepertinya benjol." Kata Rama sambil meraba bekas pukulan keramat Bella.


Bella malah tertawa-tawa sambil memegangi perutnya. Lucu saja baginya, dia memukul pacar sendiri tanpa sengaja.


" Malah tertawa." Rama mendengus kesal dan kemudian berjalan melewati Bella dan berbaring di ranjang seolah itu adalah kamarnya sendiri.


Bella mengusap air akta dari sudut matanya dan mendekati Rama.." Ada apa kemari?"

__ADS_1


Ada apa hayo? Ada yang bisa tebak?


__ADS_2