Lebih Dari Pacar

Lebih Dari Pacar
~ Kalian tega.


__ADS_3

...💙💙💙💙💙💙💙...


"Apa dia tidak ada rasa sedikitpun padaku, sampai pesanku semuanya di abaikan?" Gumamnya.


Robbie mulai berselancar ria menggunakan benda pipih ajaibnya. Menghubungi Madam Yuki tak membuahkan hasil, si orang yang di percaya tengah mengunjungi orang tuanya di desa.


Tinggallah sopir pribadinya yang masih berada di rumah besar miliknya. Opsi terakhir dan Robbie menggunakannya daripada Dia seharian tak dapat terpejam lantaran terkatung perasaan.


Tidak membutuhkan waktu lama Robbie segera menghubungi sopirnya untuk menuju ke rumah sewa milik Bella. Melesat cepat menuju tempat, si sopir masih harus menunggu selama berjam jam untuk berupaya memanggil Bella yang tengah berada di kediaman.


Dan selama itu pula Robbie selalu terhubung dengan ponselnya untuk memantau pekerjaan si sopir.


Horang kaya, apa itu yang namanya pulsa? Robbie tak mempermasalahkannya selagi dia bisa dengan mudah memantau si pujaan hati dan memastikan keadaanya.


"Pak, saya rasa Nona sudah tertidur." Kat si sopir.


"Hustt.....!" Robbie menginterupsi agar si sopir menutup mulutnya. "Diam, kamu tahunya aku gaji." Ucap Robbie dalam bahasa jepang.


Iya di gaji, tapi kaau begini bisa meledak Ponselku Pak. Batin si sopir menggerutu.


Sayangnya melakukan panggilan video call yang begitu lama, sejujurnya membuat si sopir tegang bukan main. Dia merasa sedang terancam sekarang, dimana si Bos yang terkenal tegas dan galak sedang memantaunya untuk memanggil sang dambaan hati keluar.


Dua jam, terhubung dan matanya tak lengah sedikit pun. Kasihan si sopir yang menahan dingin da terus berdiri di depan gerbang. Dan setelah semua drama itu, Bella datang entah dari mana.


"Pak, maaf ...." Bella menegur si sopir yang sampai terkantuk kantuk tapi tetap berdiri di depan gerbang. "Sepertinya saya mengenal anda?" Bella mencoba kembali menggali ingatannya.


Dan si sopir segera berlari untuk mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas kap mobil sengaja atas permintaan Robbie.


"Maaf jika sudah mengganggu kenyamanan anda, tapi saya melakukan ini atas perintah Tuan Robbie Noona." Ujar si sopir layaknya sedang melaporkan sesuatu dengan komandan perang.


Ia lalu menyerahkan ponselnya yang masih terhubung dengan Robbie. Tak lagi konsisten dengan kata katanya yang ingin memberikan ruang, Robbie malah terkesan begitu perhatian dan tak mampu kehilangan.


Bella yang menerim panggilan itu pun seketika bingung kala menatap wajah robbie yang memasang cengiran khas al dirinya (Cengiran kuda).


"Apa kau marah padaku Eoh?" Tanya Robbie tanpa basa basi dan segera menuju pada inti. Sedangkan yang di cecar segera mengangkat tangannya meminta Robbie untuk berhenti bicara.


"Stop!" Kata Bella. "Kau pasti akan bertanya mengapa aku tak membalas pesanmu atau mengapa ponselku tidak bisa di hubungi kan?" Tanya Bella dan Robbie mengangguk setelahnya.


"Ponselku berenang!" Kata Bella sedikit terbawa emosi kala mengingat bagaimana perjuangannya yang sia sia untuk mengambil ponsel di saluran pengairan tanpa ada siapapun yang membantu.


"Maksudmu?" Robbie menuntut penjelasan lebih.


Bella menceritakan semuanya pada Robbie, sementara kembali masuk kedalam mobilnya dan menunggu sampai tuannya menyelesaikan urusan dengan ponselnya.


"Sudah, puas? Tidak ada pertanyaan lagi kuda poni?" Ucap Bella yang menyindir rambut Robbie yang mulai panjang dan menutupi jidatnya.


"Ah, begitu rupanya? Tapi benarkah aku mirip dengan kuda poni? Bukankah seharusnya aku ini adalah pangerannya?"

__ADS_1


Bella menggeleng. "Tidak, Kau adlah kuda poni yang menggemaskan bagiku."


"Baik, karena kau sudah bilang aku ini menggemaskan, aku akan memberikanmu hadiah karena telah membuatku merasa senang." Niat hatinya Robbie ingi segera membelikan ponsel untuk Bella.


Tapi sayang, Bella bukan gadis yang mendasari sesuatunya dengan materi. Itu prinsipnya.


"Jik kau ingin memberiku ponsel secaa cuma cum, mak aku menolaknya. Aku sudah banyak berhutang budi padamu, dan aku tak mau menjadi ketergantungan dengan segala kebaikanmu."


Ini yang Robbie sukai. Sisi dirinya yang keras kepala dan berpendirian teguh seperti inilah yang membuat Robbie semakin jatuh hati.


"Ah, kau benar." Robbie terlihat sesekali mengangguk lalu mengusap dagunya seolah sedang berfikir. "Kalau begitu kau bisa bekerja di rumahku?"


Sungguh tidak di sangka bukan? Penolakan tersebut malah menghasilkan ide brilian di kepala Robbie.


"Kau jelas sangat membutuhkan ponsel dengan cepat saat ini kan?" Ucap Robbie dan disinilah kemampuan olah katanya akan di mulai.


"Ehem...!" Bella mengangguk membenarkan Bagaimanapun juga ponsel saat ini sudah menjadi kebutuhan primer bagi manusia, tanpa ponsel seolah manusia tak bernyawa.


Bella membutuhkan ponsel untuk menjaga komunikasi dengan para dosen dan terutama kedua orang tuanya.


"Bisa masak makanan Indonesia kan?" Tanya Robbie yang kini hatinya sudah sangat yakin akan tingkat keberhasilan yang akan di raihnya.


"Iya, lalu"


"Jadilah juru masak di rumahku. Selama ini, nenek yang memegang kendali akan setiap masakan yang ada di rumah." Robbie sempat menghentikan perktaanya saat sekelebat kebersamaanya dengan sang nenek kembali teringat.


Ehem...! Robbie pinter bener olah katanya, Tinggal bilang aja *Yuk! kita tinggal satu atap dan kmu berlatih jadi istriku.*


"Berarti aku harus bolak balik dari rumah sewaku ini ke rumahmu? itu memakan waktu 2 jam" Bella masih menghitung berapa banyak waktu yang akan di habiskannya untuk sekedar memasak.


"Tidak. Menetaplah di rumah bersamaku. Beberapa bula ini aku memiliki jadwal padat jadi kemungkinan aku tidak akan memiliki waktu lama untuk berada di rumah." Robbie tersenyum pias.


"Kau bisa menganggap rumah itu sebagai rumahmu sendiri, temani aku. Aku masih begitu sulit menerima kenyataan bahwa Nenek sudah pergi untuk selamanya." Ujarnya terdengar sendu dengan air matanya yang merembes begitu saja. Tentunya hal ini menambah nilai tersendiri dan membuat Bella tak sanggup untuk menolaknya.


Diseberang sana Bella bergelut dengan nuraninya. Mungkin ini waktuku untuk membalas budi padanya.


"Baiklah!" Jawab Bella begitu yakin dan mantab.


Setelah mencapai kesepakatan, Bella mengembalikan ponsel pada si sopir yang tertidur di dalam mobil.


"Sudah Nona?" Tanya si sopir dengan sopannya.


"Ia, terimaksih pak." Ucap Bella.


Baru saja tangan Bella hendak menyentuh handle gerbang, si sop kembali mengejarnya dengan tergopoh-gopoh. "Nona, bisa tunggu selama 20 menit lagi?"


"Untuk apa?" Bella sama sekali tak mengerti.

__ADS_1


"20 menit untuk menunggu pesanan ponsel anda datang kemari. ini perintah Tuan." Ujar si sopir.


"Hah? secepat ini? bahkan aku belum mulai bekerja?" Cicit Bella.


Si sopir hanya mengangguk dan memasang wajah datarnya.


"20 menit itu lama. Ayo pak kita masuk dulu, aku punya sedikit camilan khas indonesia dan juga teh hangat." Kata Bella.


Tak ada pilihan selain mengangguk. Sebab tadi Robbie berpesan, Apapun yang Nona minta dan perintahkan kamu wajib menaati.


Begitu pesan Robbie.


20 menit itu di gunakan Bella untuk menggali


informasi tentang Robbie dari i sopir. Hanya sebatas obrolan ringan dan itu membuat mereka semakin dekat.


Banyak yang Bella dapatkan dari si sopir mengenai sang Tuan yang tidak suka keterlambatan, Sang Tuan yang mengalami kesulitan tidur karena menumpuknya pekerjaan dan juga tentang sang tuan yang bertahun tahu menanti cintanya.


"Benarkah tuanmu itu setia?" Tanya Bella sembari memakan bakwan udang buatannya.


Si sopir terlihat begitu ingi menyantap bakwan udang tetapi dia sangat malu dan dari tadi hanya menelan ludahnya saja.


"Jangan malu Pak, makan saja. ini makanan merakyat di negara kami."


"Benarkah? woah... aku selalu penasaran dengan rasanya. Tuan pernah di buatkan makanan seperti ini oleh Nyonya besar, dan aku hanya bisa menghirup baunya saja." Ujar si sopir yang mulai berani mengambil satu buah bakwan.


Satu gigitan pertama masuk. "Enak sekali...!" ujarnya mengomentari dengan matanya yang melebar takjub dengan makanan sederhana.


Merek asik berbincang dan ponsel yng di pesan sudah datang. Si sopir yang mengurus semua pembayaran dan juga pendaftaran nomor. Juga mengisi seluruh data lengkap dan juga membuat laporan kehilangan untuk nomornya yang lama.


Memang sangat rumit untuk mengurus itu semua, mereka membutuhkan bantuan dari pihal seller ponsel dan juga harus mendatangi kantor administrasi kewarganegaraan untuk membuat laporan.


Sebab di Jepang, segala akses mulai terhubung dengan satu nomor yang berisikan seluruh data si pemegang. oleh karena itu tak bisa asal asalan mengganti nomor ponsel.


Beruntunglah kita yang ada di Indonesia, bisa sesuka hati mengganti nomor. ghosting anak orang dengan sering mengganti nomor. Hayoh loh, siapa yang suka di ghosting?


Dalam hitungan jam, ponsel dan nomor sudah bisa kembali berfungsi, hal pertma yang Bella lakukan adalah mengirimkan gambar pada Robbie dimana bella dan ketiga pria sedang saling tersenyum menghadap ke kamera.


Sebagai ucapan terimakasihnya Bella hanya ingin mengabarkan jika semuanya sudah bisa terhubung dengan bik. Tapi, robbie menjadi frustasi setelah memperbesar gambar yang Bella kirimkan.


Robbie memperbesar gambar dan mengamati sesuatu dalam gambar tersebut. "Kenapa kalian begitu jahat?"


"Kenapa kalian tega padaku?" Robbie mengerang frustasi dan menjambak rambutnya sendiri.


Mohon dukungannya Gaish...!


Cerita ini sedang mengikuti lomba Harap tinggalkan ika dan juga Vote ya..😊.

__ADS_1


__ADS_2