
...~•~...
Dalam gelap malam, Robbie berlarian mencari Bella yang sedari sore tetap tidak mau mengangkat panggilan. Entah kemana Dia, yang jelas saat ini sang suami tengah kelabakan.
...Flash back on. ...
Sore hari sebelum jam kerja usai. Pak GM datang ke ruangan Robbie untuk memberikan pesanan sang istri berupa file yang tertinggal. Pak GM Juga menceritakan bagaimana tadi Dia dan istri si CEO muda itu mendengar suara-suara yang tak seharusnya.
...Flash back off....
"Dia pasti sedang marah sekarang dan salah paham." Gumam Robbie yang ternyata di dengar oleh Pak Sasuke yang masih mengekor di belakangnya.
Pak Sasuke hanya diam dan terus saja memindai segala penjuru ruangan. "Sama sekali belum terlihat Tuan. Apa kita pulang saja ya? siapa tau Nyonya sudah ada di rumah." Kata Pak Sasuke memberikan usulan.
"Coba Bapak hubungi asisten di rumah. Apa mereka sudah melihat kepulangan Nyonya?"
Pak Sasuke segera menjalankan perintah tanpa banyak bertanya ini dan itu. Iyalah banyak tanya bisa di pecat. Kan Oby modelnya tegas bukan main.
Setelah menghubungi Pak Sasuke kembali melaporkan yang dengan diikuti gelengan kepala. Itu menandakan bahwa tidak ada kabar baik juga di Rumah mereka.
" Kemana Dia?" Robbie mengepal dan melonggarkan dasinya.
Setau Dia, Bella disini tidak punya teman sama sekali. Main atupun pergi juga belum pernah sebab terhalang kondisi dan situasi.
Ya sudah kita pulang saja dulu, siapa tau dia sedang berada di jalan arah pulang. Benar saja firasatnya, Di lain tempat, Bella tengah berjalan dan berhenti di taman. Dia bermain dengan kucing kucing kecil yang mengerumuninya yang membagikan sosis sisanya.
"Apa kalian suka? Kemana ibu kalian?" Tanyanya pada kitten tersebut sambil mengelusnya.
"Ibunya ngambek, di telpon ga mau ngangkat!" Ketus Robbie yang tiba-tiba berbicara tepat di belakang Bella.
"Oh..., kamu?" Cetus Bella yang wajahnya kembali lesu saat melihat Robbie.
Telinganya tiba-tiba saja kembali mendengar suara ******* Haruka tadi saat berada di ruangan suaminya. "Sudah selesai bekerjanya? Asik ya, bekerja sambil olah vokal di kantor?" Sindir Bella.
Robbie mengulum senyumnya. Dia menyembunyikan rasa senangnya karena ternyata Bella mencemburui dirinya.
"Olah vokal? kok kamu tahu?" Selorohnya yang sengaja ingin menggoda Bella.
__ADS_1
"Cih!" Bella berdecih lalu menatap kesal Robbie. "Asal kalian tahu, suara kalian itu sangat jelek! telingaku sampai hampir pecah mendengarkannya."
"Dari kantor sampai terdengar ke sini? atau ke kampus? woah.... sungguh tak ku sangka." Cicitnya.
Bella menjadi semakin kesal akan perkataan Robbie. Jika dia bisa bicara seperti itu, otomatis dia juga tau apa yang Bella maksud.
"Pilih aku atau Dia?" Tanya Bella yang kesal sambil meremas botol minum yang airnya telah habis di tenggaknya saat Robbie menyambung pembicaraan dengan cara yang membaut telinga Bella panas.
"Ya jelas yang baru lah. Dimana mana juga enak pakai yang baru kan?" Celetuknya tanpa ekspresi wajah yang bisa di artikan secara jelas.
Bella meremas lagi lalu menginjak-injak botol air mineral tadi hingga penyet. "Rasakan! rasakan! woah...., ternyata begini sikap aslimu ya? Menyesal aku kenapa baru tahu setelah menikah denganmu." Ucapnya bersungut-sungut sambil menunjuk hidung mancung sang suami.
BOOM!!
Meledaklah bom atom Hiroshima untuk yang kedua kalinya. Bella yang kesal lalu mencengkeram kerah baju sang suami seolah dia ini ahli berkelahi.
"Tentukan pilihanmu sekarang!! aku tidak mau berbagi atau memakai bekas orang lain!!" Bella memecahkan amarahnya Dia benar-benar marah sekarang. Tapi yang di sasar malah tertawa sambil menutupi mulutnya.
"Oh, kamu menganggap remeh aku kan? iya! Robbie...! aku tidak sangka kamu adalah lelaki brengsek!!" Bella tanpa aba-aba segera menjambak rambut suaminya dan Robbie hanya bisa tertawa sambil meringis menahan nyeri dan sensasi panas dari tindakan istrinya.
Dia kalau marah ternayata bar bar begini. Batin Robbie.
Melihat istrinya yang semakin menggila, Robbie segera mengangkat tubuhnya dan memanggulnya layaknya karung beras. "Diam! diam atau ku jatuhkan?"
"Turunkan aku! pulangkan aku kerumah Ayah dan Bundaku!!" Seru Bella yang mengamuk dalam gendongan Robbie.
Tangan Robbie menepuk nepuk pantat Bella. "Kejauhan! dan aku juga malas membelikan tiket."
"Dasar lelaki brengsek, pelit, kikir, perhitungan!!" Umpatnya tanpa filter.
Sampai di mobil Robbie lalu memasukkan Bella di bangku belakang dan segera mengunci pergerakannya yang hendak kabur. "Hua...! Hua.... malangnya aku, yang bodoh ini. Mau maunya menikah sama buaya seperti kamu. Harusnya aku tidak masuk kedalam perangkapmu." Bella meracau dalam tangisnya.
"Siapa tadi yang kamu bilang buaya? Aku?" Robbie menunjuk batang hidungnya.
"Iya, siapa lagi?"
"Kenapa menyesal menikah denganku? Hahahaha!" Robbie malah semakin menambah bumbu kekesalan istrinya. senang saja dia menggoda habis habisan Bella yang sedang salah paham ini.
"Seharusnya aku tidak percaya dengan berandal seperti kamu ini. Brengsek....!" Lagi Bella mengamuk dan kali ini memukuli Robbie dengan tangannya yang mengepal dan tak sengaja mengenai hidung sang suami.
__ADS_1
TES!
"Chagi!" Seru Robbie yang kali ini menatap nanar Bella. seketika Bella terdiam dan mematung dengan wajah yang berantakan, rambut yang acak-acakan, dan juga makeup yang. Ah... udahlah pokoknya dua duanya udah ga jelas bentukannya.
"Bie, hidungmu berdarah." Bella melongo sesaat dan sesaat setelahnya dia panik dan mulai kembali memberikan perhatian. Dia melupakan amarahnya untuk sesaat.
"Gara gara kamu ini ya." Keluh Robbie yang memegangi hidungnya.
"tisu, tisu .." Bella membersihkan darah dari hidung suaminya dengan tisunya.
"Kalau hidungku bengkok gimana?" Ketus Robbie geram. Bagaimanapun niat awalnya hanya ingin menggoda, kini dia dapat tulahnya.
"Biarin! biar kapok kamu biar jelek sekalian biar ga bisa main perempuan. Biar ga laku kamu!" Omel Bella.
"Siapa yang main perempuan sih Chagi?" Robbie meninggikan suaranya sambil merebut tisu dari tangan istrinya.
"Halah kamu kan, tadi pagi aku ke kantor untuk mengantar file yang tertinggal. Tapi apa? di kantor kamu malah ada suara desah4n. Apa namanya kalau bukan main perempuan?" Bella bersendekap dan memalingkan wajahnya kesal.
"Pak, kita ke kantor saya sekarang." Kata Robbie memerintahkan pak Sasuke.
"Sekarang Pak?" Pak Sasuke melihat jam tangannya. "Sudah jam 9 malam."
"Sekarang pokoknya. Saya mau menjelaskan sesuatu sama Mak lampir yang bawel ini." Sarkas Robbie sambil melirik istrinya.
Awal menikah bilangnya aku ini cantik. Baru satu Minggu sudah luntur di bilang Mak lampir. Dasar BRENGSEK!! Batin Bella bergemuruh.
Mobil kembali memutar arah dan dalam 20 menit telah sampai di perusahaan Robbie. Robbie meminta satpam untuk mengantarnya keruang monitoring, dimana ruang pengawas CCTV berada.
"Pak, putar di kejadian heboh tadi pagi." Titahnya degan tisu yang tersumpal di hidungnya.
"Siap pak!" Jawab si satpam.
Bella mengamati dengan seksama rupanya suara desah4n yang saling beradu itu tadi adalah desah4n Haruka dan erangan Genta yang berusaha untuk membawanya keluar.
Bella menjadi salah tingkah sekarang, Dia sangat malu akibat ulahnya sendiri. Dia begitu terbawa perasaan dan mudah mengasumsikan secara pribadi.
"Hehehe..., hidung suamiku yang tampan ini tidak apa-apa kan? hanya mimisan kan?" Tanya Bella dengan wajah sok imutnya.
Robbie menanggapi dengan dingin, dia melengos dan segera kembali ke mobilnya.
__ADS_1
Lihat saja kamu harus membayarnya karena membuatku mimisan dan menjadikanku samsak begini. Malu kan sekarang kalau salah sasaran?