
...~~~...
...POV Robbie....
Apa yang sebenarnya dia lakukan saat ini? aku begitu tak tenang memikirkannya. Ragaku ada disini tapi tidak dengan hatiku. Oh....! begini ternyata rasanya jatuh cinta?
Tapi disini Aku merasa hanya Aku saja yang sedang jatuh cinta. Dan dia?
Entahlah, aku sudah ingin sekali menyusulnya kesana. Tapi.... urusanku masih menumpuk disni. Ku harap, saudara saudara Ayah tak ada yang tau akan hal ini. Juga soal Bella, ku harap mereka tak akan salah mengira.
Hhhh....~~~ begitu lelah dan kesepian. Bahkan Dia sama sekali belum menghubungiku seharian ini. Apa Dia teramat sibuk bersama dua Kakak beradik itu?
Bagaimana, bagaimana jika mereka berdua baikan? Haruskah aku hanya menjadi seonggok daging berotot yang tersisihkan?
Aku disini merasa jika aku yang terlalu memaksakan. Apa aku harus sedikit memberikannya kelonggaran? Tapi, jika aku begitu, tidakkah Dia akan lari dariku?
...POV Author....
Robbie yang berada di Indonesia Dia sama sekali tak tenang apalagi setelah mendapatkan laporan dari Madam Yuki tetang bagaimana kondisi terkini Jepang.
Lama Robbie menunggu panggilan masuk atau bahkan sekedar pesan basa basi dari Bella. Namun itu semu sama sekali belum di dapatkannya. Hatinya tergantung dang mengambang tanpa kepastian. Sedangkan dia begitu mendambakan sosok wanita yang sekarang tak memberinya pesan.
Sementara itu di suatu ruangan rumah sakit, Bella menyuapi Jimmy yang terkesan manja dan memanfaatkan keadaan. Rama dia tengah duduk dan menghubungi saah satu teman baiknya untuk mengusut kasus yang sedang menimpa adiknya ini.
"Kak, makan lah dulu." Ujar Bella yang menawarinya makan.
Rama hanya mengangguk dan membalas dengan seulas senyuman. Dia masih ta begitu memperhatikan Bella yang sedari tadi mencuri pandang terhadapnya.
"A...." Jimmy menganga untuk minta di suapi.
Untuk saat ini, fokus Bella memang hanya sedang tertuju pada Rama saja. Keberadaan Jimmy justru terasa menganggu baginya. Pasalnya semenjak kedatangan Rama tadi, Rama hanya menyapanya sebatas Hi.
__ADS_1
Bella merasa begitu mengganjal di hatinya. Dia ingin sekali segera pergi dari ruangan tersebut. bahkan adanya dia seolah sama sekali tak di inginkan bagi Rama.
Bella kemudian menyuapi Jimmy dengan teliti. Tak di ijinkan sebutir nasi pun jatuh demi segeranya dia pergi dari ruangan tersebut. Jika saja ada satu butir nasi yang jatuh, sudah barang tentu hal itu akan menjadi alasan bagi Jimmy untuk membuat Bella tertahan disana lebih lama.
Selesai dengan menyuapi Jimmy, Bella segera memutuskan untuk pulang. Sungguh menyesakkan dada baginya harus berada satu ruangan dengan mantan pacarnya.
"Jim, Aku permisi pulang dulu ya? Banyak tugas." Ucapnya beralasan.
"Yah, padahal aku masih ingin bersamamu." Ucap Jimmy yang merajuk manja pada Bella.
Bella memberikan senyum simpulnya dan hanya berlalu pergi tanpa banyak bicara. Saat dia berpamitan memang Rama tidak ada di ruangan. Rama sedang mengurus segala kebutuhan administrasi dan pelunasan tagihan rumah sakit.
Dan, kebetulan pun terjadi. Layaknya sihir, keduanya justru bertemu di lobby dan keduanya hanya saling menyapa dengan anggukan dan senyuman tipis. Tapi, Bella begitu terlihat sangat buru buru.
Siapa sangka jika Rama kemudian mengejarnya hingga ke pelataran depan rumah sakit. Rama mencekal pergelangan tangan Bella lalu membuat Bella terjerembab kedalam dekapannya.
"Aku merindukanmu." Ujar Rama yang memeluk erat Bella. Dia menghirup dalam dalam aroma tubuh sang mantan kekasih. Parfum murahan yang begitu membuatnya merasakan ketenangan.
Tapi Bella sekuat mungkin mencoba untuk tetap tegar. Dia sama sekali tak membalas peukan Rama dan justru memperlihatkan sisi kuatnya.
"Aku tidak! kita sudah putus kan? tidak ada hubungan lai. Dan sesuai keinginanmu, kita akan menjadi biasa saja seperti tak pernah memiliki apa apa. Begitu kan maumu?"
Bella mengungkapkan suatu kebenaran yang begitu menohok bagi Rama. Rama terhenyak dan melepaskan pelukannya. Di menatap lekat Bella yang pernah menjadi kekasihnya itu. Rasa tak percaya, tapi itu nyata menyapa rungunya. membuatnya seketika melepaskan pelukannya.
Itulah, Sekarang ini kalian sudah sama sama bisa di katakan dewasa, seharusnya berfikir sebelum bertidak adalah suatu hal yang utama dimana konklusi dan konsekuensi selalu beriringan tanpa penghalang.
Bela tersenyum getir dan menatap tenang Rama. Tatapan yang sulit diartikan dan dijelaskan dalam satu makna. "Kita tidak ada apa apa lagi." Bella melepaskan cengkraman Rama pada lengan bajunya.
"Aku sungguh menyesal Bella, seharusnya kita bertahan."
Bella menggeleng. "Tidak! Tidak ada yang perlu disesali disini. semuanya sudah terjadi dan kau telah mengambil keputusan yang benar. Memang seharusnya aku tidak ada di antara kalian."
"Jalani hidup kita masing masing. Jangan tengok kebelakang lagi. terlebih itu adalah saat bersamaku." Ujar Bella yang terdengar pesimis.
__ADS_1
Rama tetap pada pendiriannya. Dia bersikukuh ingin kembali menjalin hubungan dengan Bella. Keputusannya untuk putus adalah sesuatu yang disesalinya.
"Beri aku kesempatan Bell, aku akan memperjuangkan hubungan kita."
"Benarkah? aku sangat terharu. Tapi itu bukan karena janji Ayahmu saja pada bundaku untuk menjodohkan salah satu anak nya denganku?"
BINGGO!!!
Rama tertegun terdiam. Memang benar Ayahnya meminta hal itu. Tapi yang paling mendasar adalah perasaanya sendiri. Rama masih sagat menyayangi Bella, seberapapun dia mencoba menempatkan bella pada posisi adik adikan, Dia tak akan pernah bisa. Sebab Bella memiliki ruang istimewa dalan hati Rama.
Rama ingin berbicara lagi. Dia tak perduli jika perbuatannya saat ini mengundang banyak perhatian dari orang orang sekitar. "Tapi aku masih mencintaimu, sungguh!!" Rama berbicara dengan setengah berteriak di hadapan Bella.
Dan di saat itu jugalah, Robbie yang gemas karena lama tak di hubungi mulai melakukan panggilan video call.
Bella mengangkat tangannya tanda meminta Rama untuk diam dan menjeda perdebatan mereka. Tak ada pilihan, Rama memilih untuk diam.
Sayup sayup terdengar suara pria dari sambungan video cal,
Hai!! Kenapa tidak menghubungiku? apa sudah ada yang lain? Ujar Robbie yang di selingi gelak tawa.
"Tidak, mana berani aku mecari yang lain? Kamu saja sudah lebih dari cukup." Jawab Bella yang melirik sekilas Rama dan terlihat raut waja rama menjadi berkabut dan lesu. Hingga akhirnya Dia memilih untuk pergi setelah sebelumnya Bella begitu acuh padanya.
"OOH~~, Syukurlah. Kau tau?"
"Tidak!" Jawab Bella padahal Robbie belum menyelesaikan bicaranya.
"Aku sangat tak tenang disini. memikirkanmu yang di sana seorang diri. Aku sangat ingin segera pulang. Tapi sepertinya seminggu lagi."
Satu Minggu? apa Bella tak salah dengar? bukannya baru kemarin Robbie bilaang akan di Indonesia untuk beberapa bulang? Mengapa tiba tiba berubah, ada apa?
"Satu minggu? wah, lama sekali... padahal aku sudah sangat kesepian selama kau pergi." Celetuk Bella asal yang niatnya hanya bercanda.
Tapi tahukah kalian, Robbie sudah tersipu sipu di buatya.
__ADS_1