Lebih Dari Pacar

Lebih Dari Pacar
7. It's not you.


__ADS_3


...πŸƒπŸŒΊπŸŒΊπŸƒ...


...🌹...


" SSSTTT.....!" Jimmy mendesis bak ular tepat di depan jendela kamar Bella.


Bella semenjak hari itu, dia sangat malas berurusan dengan Jimmy. Entahlah ini hanya kemarahan sementara atau menjadi selamanya dan berakhirnya persahabatan diantara mereka.


"Ada apa?" Ketus Bella setelah membuka jendela dan Jimmy masuk sembari membawa beberapa camilan.


Langit sudah sangat gelap, ini bukan sore hari lagi, tapi sudah pukul 21:28. Bella sudah bersiap untuk tidur.


"Biasa aja Bell, tidak usah marah-marah." Sahut Jimmy seolah tanpa dosa. Dia nyelonong masuk lalu duduk di ranjang Bella.


"Kamu ada apa, Hum? dari sebelum libur sampai sekarang selalu menghindari ku. Bicaralah aku ada salah apa?" Tanya Jimmy dengan lembut.


Bella muak, dengan ini. Apa bila dia mengatakan yang sesungguhnya Jimmy akan percaya?


Sebaiknya dicoba, sebab tiada keberhasilan tanpa percobaan.


"Banyak salahmu padaku." Ketus Bella tentu saja dengan suara yang tertahan. Dia tidak mau saja Ayah dan ibunya terbangun.


"Apa hum? katakan. Kemari dan duduklah, kita bicarakan hal ini. Kau tau, aku sudah hampir gila saat kau marah tak jelas padaku." Lembut Jimmy berbicara dengan tatapan matanya yang meluluhkan hati Bella.


"Apa kau sangat mencintai Sonia?" Tanya Bella tiba-tiba.


Jimmy terkikik geli. "Tentu saja aku mencintainya, tapi bila dikatakan sangat. Sepertinya belum sampai ketahap itu. Aku pun tak tau ini sayang, cinta atau sekedar suka."


Bella menunduk lesu, tatapannya sayu. Sedih hatinya kala mengingat bagaimana penyiksaan yang di dapatnya pada hari itu.


"Jim, jujur padaku katakan apa alasanmu yang sebenarnya. Mengapa kau selalu menolak pernyataan cinta dariku?"


Jimmy mengerutkan keningnya, dia menelisik jauh. Pertanyaan macam ini acap kali di lontarkan oleh Bella. Bella seperti sudah tak punya urat malu lagi mengenai hal ini.


"Sudah kukatakan berulang kali Bella. Aku lebih menyukai menjadi sahabatmu. Jika kita berpacaran, kita bisa putus kapan saja. Tapi bila kita bersahabat, kita bisa seperti ibumu dan ayahku yang tetap bersahabat sampai tua. Aku ingin hubungan kita seperti mereka."


Bella berdecih. " Benar jika berpacaran bisa putus kapan saja. Kau benar." Nada bicaranya terdengar seperti sedang berputus asa.


Bella menatap tajam Jimmy. " Lalu, kapan kau akan putus dengan wanita iblis itu? Kapan kau akan meninggalkannya?"


Jimmy sungguh terkejut, sahabatnya tak pernah berbicara kasar begini tentang orang lain. Satu-satunya mahluk di dunia ini yang sering mendapatkan caci dan maki hanyalah dirinya. Lalu sekarang? Bella mencaci Sonia? ada apa ini? " Bell, Kamu tidak pernah berbicara buruk begini. Ada apa? katakan, apa dia membuat masalah denganmu?"


"Sekarang pergilah dan tanya saja langsung dengan pacarmu itu. Aku lelah aku ingin istirahat!" Bella berjalan ke arah jendela lalu membukanya dan menunjuk ke arah luar meminta Jimmy agar segera pergi.


"Bell!" Jimmy menolak dan menarik Bella kedalam dekapannya.


"Apa semua ini karena anak baru itu? karena berandalan itu?" Jimmy mengguncang kedua bahu Bella.


Dan apa, yang di guncang justru tertawa remeh. " Apa kau mau menyalahkan Robbie?"


"Oh, jadi namanya Robbie? Sudah sedekat apa kau dengannya sampai dia mempengaruhimu sejauh ini?" Jimmy menyudutkan seseorang yang kala itu menjadi pahlawan bagi Bella tentu saja Bella tak terima. Dimatanya, Robbie adalah sosok yang baik. Sosok yang ceria yang selalu mendukungnya dan mengajarinya untuk bisa bersikap dalam membela diri.

__ADS_1


"Apa isi kepalamu sudah tercemar setelah tadi dia memelukmu di atap sekolah?"


"Ka... kau melihatnya?" Bella terperangah dan mundur beberapa langkah.


Jimmy memutar badannya. " Ya aku melihatnya. Aku rasa kita perlu sedikit jarak dan saling berpikir. Selamat malam!" Kata Jimmy yang lalu menghilang pergi melompat dan kembali ke kamarnya.


...🍁🍁🍁...


Hari berganti semakin mengurangi usia setiap insan di bumi. Bella yang tetap konsisten dan terus menjalin hubungan baik dengan Robbie semakin menjadi akrab.


Pria yang berbakti kepada sang nenek itu acap menghubungi Bella untuk sekedar menyapa dan berbasa-basi ria.


"Siapa gadis itu?" Tanya Nenek Robbie setelah Panggilan video call terhenti.


"Oh, Nenek?" Robbie Tersipu lalu dengan gugup tersenyum kepada sang Nenek. "Dia... dia gadis yang ku ceritakan waktu itu."


"Ini fotonya. Dia begitu mirip dengan Billa kan?" Robbie menunjukkan foto Bella.


Terkejut Nenek dibuatnya. Nenek seketika berlinang air mata dia menangis tergugu dalam dekapan sang cucu. "Bie, dia cantik sekali. Sama persis dengan Billa."


Tatapan wanita tua itu menggambarkan banyak kenangan indah yang dahulu di laluinya bersama sang cucu tercinta.


Billa Putrantiwi adalah adik kandung dari Robbie. Billa bernasib malang dan meninggal di usianya yang masih menginjak 13th. Bills meninggal tergulung ombak dan terbawa arus lautan saat berwisata bersama dengan teman-temannya.


"Billa dan Bella. Nama mereka pun mirip. Ini takdir Robbie. Dan Nenek yakin kau pun akan memiliki sesuatu dengan Bella ini." Mata sang Nenek sudah basah dengan air mata.


"Iya Nek. Makanya, Nenek yang semangat ya. Ikuti semua aturan Dokter. Nanti kalau Nenek sudah lebih baik, aku akan membawa Bella untuk bertemu dengan Nenek." Bukan berbohong, tapi ada keyakinan buang tumbuh di hati Robbie untuk mewujudkan apa yang dikatakannya.


"Terimakasih, kau benar-benar harta berharga Nenek satu-satunya." Wanita tua renta berambut putih itu memeluk cucu kesayangannya. Satu-satunya keturunan dari anak yang dulu begitu dicintainya.


Ayah Robbie lah yang memutuskan meninggalkan apa yang mereka punya setelah kematian sang Ayah dan membawa ibunya untuk merintis segalanya dari nol.


Usaha terbayarkan, membuahkan hasil baik dan Ayah Robbie kembali bisa bangkit.


Tapi.... saudaranya kembali mengganggunya dan meminta sebagian harta Robbie. Yah, tak pernah ada harta warisan yang bersifat dingin. Warisan selalu panas dan membawa perpecahan, rasa iri dengki dan satu rasa yang selalu kurang meskipun sudah di bagi secara adil.


Harta membuat manusia buta.


Uang yang banyak membuat manusia menjadi tamak.


Dan disinilah Robbie sekarang, merawat sang Nenek, satu-satunya anggota keluarganya setelah kematian kedua orang tuanya dan tak lama di susul dengan kematian adiknya Billa.


...🌺🌺🌹...


Bella termenung sendirian menatap luas rerumputan yang membentang. Dia duduk diatas sepeda motornya dan menunggu balasan pesan dari seseorang.


"Hai Bella!" Seru seorang siswa yang melambai memanggilnya.


"Hai!" Canggung Bella menyahut dengan malasnya.


"Sendirian?"


"Iya, ada apa? apa ada tugas lagi?" Bella bertanya-tanya.

__ADS_1


"Tidak, hanya ingin menemanimu saja. Kulihat akhir-akhir ini kau tak bersama Jimmy. Apa fungsi dan kegunanaanmu sudah tidak efisien lagi?"


"Kamu pikir aku barang?" Ketus Bella.


"Tidak kami baik-baik saja, hanya saja dia sedang banyak urusan. Aku juga tengah menyiapkan untuk mendaftar di salah satu universitas."


"Oh, begitu. Emm...." Si pria yang merupakan siswa yang aktif dalam kegiatan pecinta alam itu mulai tergugup.


"Ada apa Bisma?" Tanya Bella jengah. Malas saja dia waktunya untuk menyendiri harus terganggu.


"Aku suka padamu!!" Teriak Bisma dengan wajah yang kaku dan jantung yang berdebar-debar.


Bella sampai terkejut lantaran Bisma mengutarakan isi hati seperti orang yang tengah memberi arahan ditengah hutan saja.


"Kak! bisa minggir? Kak Bella ini tidak boleh berpacaran. Dan saya yang di utus sebagai mata-mata dari kedua orang tuanya akan mengadukan hal ini. Apa Kakak mau wanita yang Kakak sukai tertimpa masalah?" Kata siswa kelas dua yang menjabat sebagai wakil ketua OSIS. Siapa lagi kalau bukan urusan Robbie?


Bisma tertunduk lesu bak prajurit buang kalah berperang. "Apa itu benar Bella?"


"Iya, itu sebabnya aku tidak pernah memiliki pacar. Mata-mata ibuku banyak sekali. Aku tidak mau kena hukuman. Jadi, kalau kau menyukaiku sebaiknya kau simpan dulu sampai kita lulus."


Bisma kembali ceria." Sebentar lagi kita lulus." Katanya antusias.


"Lulus kuliah Kak!" Si wakil ketua OSIS menyambarnya.


Bisma melongo tak percaya. " Bell, Ini jaman apa?"Bisma menanyakan tetapi sebenarnya dia menekankan akan sikap kolot kedua orang tua Bella yang ketinggalan jaman.


"Maaf, tapi itu prinsip keluarga kami. Lagian, tidak berpacaran itu bukan aib kan?" Timpal Bella yang kemudian pergi meninggalkan Bisma dan di ikuti vello, si wakil ketua OSIS di belakangnya.


"Maaf kak, aku tadi harus berbohong. Kak Robbie meminta kami menjagamu selama dia pergi." Kata vello.


"Ya, aku tau." Jawab Bella malas. "Dia, dia, dia, dan dia juga kan?" Bella menunjuk keberadaan beberapa manusia yang menatapnya intens.


Astaga sudah seperti pacar mafia saja dijaga dan di kawal ketat oleh banyak orang.


"Oh iya Kakak mau kuliah dimana?" Vello kembali bertanya.


"Kalau ku beri tau, kalian pasti akan mengikutiku?" Bella memutar bola matanya malas. Dia jengah akan sikap Robbie yang berlebihan baginya.


Vello terbahak-bahak. "Tidak Kakak beri tahu pun, kami akan tetap tau dan mengikutimu. Kakak tau kan kami ini mahluk yang setia dan pecinta uang? Dan Kak Robbie, dialah LORD yang paling royal dalam hal ini."


"Bye...! ingat jangan pacaran." Pesan vello sebelum pergi sambil melambai dan berlari kecil meninggalkan Bella.


Apakah Bella akan Protes?


Gila saja jika dia protes. Perlindungan yang Robbie berikan bukan main-main. Terbukti, tidak ada lagi yang menganggu Bella sampai saat ini. Lalat pun malas berurusan dengannya.


"Bella!" Jimmy menarik tangan Bella kasar.


"Ada apa?" Bella menghempaskan tangan Jimmy kuat-kuat.


Tanpa banyak bicara Jimmy langsung memeluk Bella. Bella kebingungan bukan main.


Kenapa dengan Jimmy? beberapa bulan berlalu dan baru sekarang mencari sahabatnya. Paling...., dia sedang ada masalah saja dengan Sonia. Kalau tidak...., mana mungkin akan ingat Bella?

__ADS_1


"Jim, lepaskan! It's not you!!" Bella memandang aneh Jimmy yang meneteskan air mata.


__ADS_2