Lebih Dari Pacar

Lebih Dari Pacar
c~> Usaha batas berlebih


__ADS_3

...🍒🍒...


Suara kicau burung menyambut indahnya mentari Pagi. Embun yang turun membumi perlahan hilang diterpa semilir angin segar yang menggerakkan perlahan daun-daun dan ranting pepohonan.


Segar udara pagi tak lantas membuat sepasang sejoli terbangun dan menyadari akan indahnya hari. keduanya terbangun tepat saat jendela kaca mobil Rama diketuk dari luar.


Seseorang paruhbaya bertubuh gempal dengan perutnya yang agak buncit dan kumisnya yang tipis menatap intens ke dalam mobil Rama.


Seseorang itu merupakan ayah dari si gadis yang berada di dalam mobil, ya siapa lagi kalau bukan Bella?


"Ayah?" Bella terlonjak kaget dan dengan cepat serta terburu-buru Dia merapikan lagi penampilannya rambutnya kusut karena terlalu lama bersandar di dada bidang pacarnya.


sementara Rama dia masih belum sepenuhnya mengumpulkan kesadarannya lehernya masih terasa kaku dan sulit digerakkan karena terlalu lama bersandar pada jok mobil.


"Ada apa sayang?" tanya Rama pernikahan yang tidak sadar jika sudah ada seseorang yang mengamati kegiatannya dari balik kaca jendela.


Tangan Rama terulur dan hendak mengusap rambut Bella. Tapi secepat kilat Bella menepisnya menampik tangan Rama dengan tangannya hingga Rama mengaduh kesakitan.


"sakit sayang!" keluh Rama pada Bella yang kesal karena Bella menampik tangannya. jangan lupakan penekanan pada kata sayangnya. Dia sama sekali tidak menyadari keberadaan Ayah Fauzi yang sudah berdiri seperti seorang satpol PP.


TOK!


TOK!


TOK!


Lagi, Ayah Fauzi mengetuk kaca mobil Ramadan kali ini terdengar begitu tergesa-gesa.


"Wuih...!" Rama terlonjak kaget saat melihat sosok Ayah kok dia sampai berjingkat dan memegangi dadanya dia begitu terkejut mengapa Bella sedari tadi hanya diam saja?


"A... ayah?" Rama cengengesan menyapa ayah dari kekasihnya dia terlihat sangat gugup. Dia seolah sedang tertangkap tangan melakukan suatu tindakan kriminal.


Ayah Fauzi meminta putrinya untuk segera turun dari mobil Rama. Bella segera turun, dia takut kalau Ayahnya mengamuk. Tapi, ayah Fauzi bukanlah orang seperti itu. Dia masih berpikir 1000 kali untuk mengamuk Rama yang notabene adalah anak dari orang yang banyak membantunya.


"Ayah, eh Om apa kabar?" Rama sungguhlah sangat malu wajahnya menjadi kemerahan.


sementara Bella dia hanya tergugup dan menggigit-gigit bibirnya. Dia terlihat cemas jika saja ayahnya akan banyak mengajukan pertanyaan.


"Kenapa kalian ada di dalam mobil?" Tanya Ayah Fauzi dengan bahasa yang lugas dan jelas tidak ada nada bercanda dalam ucapannya.


Bila bingung, gugup, dan juga takut. Dia tidak tahu harus memberikan alasan apa.


"Om semalam Bella tidak berani tidur di rumah sendirian, dia ketakutan karena menonton film horor jadi aku menemaninya. tapi aku tidak mau menemaninya di rumah, Aku takut akan ada berita miring. Jadi aku menemaninya di dalam mobil saja karena dia menolak untuk menginap di rumahku." kata Rama memberikan alasan yang sesungguhnya.


Bella sama sekali tidak menduga jika Rama akan memberikan alasan yang begitu jujur. tidak ada kebohongan di sana alasan yang diberikan Rama begitu sesuai dengan apa yang diungkapkan Bella semalam menyebutkan bahwa dirinya ketakutan setelah menonton film horor lah yang Rama katakan.


Bella menghela nafasnya lega setelah mendengarkan jawaban dari Rama.

__ADS_1


"Ya sudah bila kamu segera masuk ke rumah Apa kamu tidak berangkat kuliah hari ini?"


"Dan kamu Rama Apa kamu tidak bekerja hari ini?" Tanya ayah Fauzi tapi itu terkesan bukan sekedar pertanyaan, melainkan sebuah usiran halus.


Rama sungguh canggung malu dan kikuk dibuatnya Dia kemudian tersenyum dan berpamitan kembali pulang.


...Siang hari di kampus Bella....


Bella masih membaca beberapa buku sebagai referensi di perpustakaan kampus. Dia bersama Mimi dan juga Ayu teman baiknya.


"Bel Apa kau tidak mendengar suatu kabar tentang Jimmy?" tanya Ayu sambil terus membaca bukunya.


Jimmy Ada apa dengan dia? Kenapa memangnya? pertanyaan seperti itulah yang terbersit dalam pikiran Bella ketika nama itu disebut. Membuat masalah apalagi anak itu?


"Apakah tidak melihat berita pagi ini?" tanya Mimi pada Bella seolah dia mendesak meminta penjelasan lebih.


Bella hanya diam dan menggeleng dia benar-benar tidak tahu apa yang menimpa sahabat masa kecilnya itu.


"Jimmy terlibat kecelakaan Bella, dia mengendarai mobilnya sambil mabuk dia mengalami kecelakaan tunggal. Apakah Kau sama sekali tidak tahu kau tidak ingin membesuknya?" tanya Ayu.


Sepersekian detik Bella terdiam, sekilas bayangan akan kebersamaan mereka melintas begitu saja mengingatkan kembali akan memori di mana mereka tertawa, bercanda dan bermain bersama.


" Ma... mana? mana beritanya? beri tau aku!!" Bella memekik meminta penjelasan lebih rinci dari Ayu. Bella sampai mengguncangkan tubuh Ayu dan lupa dimana dia berada saat ini.


Banyak mata yang memandangnya dan menyorot tidak suka. Pengusiran secara halus pun terjadi. Mereka meminta Bella pergi.


Bella sudah berlarian mengamati setiap ruangan. Terakhir matanya memindai, dia menemukan satu ruangan yang terdapat beberapa orang yang familiar baginya.


"Om, Tante.." Lirih Bella memanggil kedua paruh baya yang tengah menangisi musibah yang menimpa bungsunya.


Tatapan mata Bella seketika berkaca kaca dan menatap lekat pada Jimmy yang tergolek lemah tanpa membuka matanya. Di lehernya terpasang cervical collar yaitu sebuah alat penyangga leher atau tulang cervical.


" Bella, Kamu tahu darimana kami ada disini?" Bunda suci membelai rambut Bella yang sudah menangis melihat keadaan Jimmy.


"Tante, tadi teman-teman yang memberi tahu Bella. Maaf Tante Bella datang terlambat dan belum sempat memberitahu Ayah dan Bunda."


"Tidak apa-apa Bell, Jimmy Sudah baik-baik saja." Ayah Dandi menimpali.


" Kapan terjadinya Tante?"


" Entahlah, pihak kepolisian menjelaskan rangkaian peristiwa bahwa ini murni kecelakaan tunggal dan kesalahan si pengemudi. Tante tidak tau apa yang menyebabkan Jimmy sampai mabuk-mabukan seperti ini."


"Tante, sudah jangan menangis lagi." Bella memeluk Bunda suci lalu mengusap-usap punggungnya dia mencoba menenangkan dan memberikan kenyamanan.


Derap langkah kaki datang kian mendekat dan terburu-buru. Rama berlarian menuju ke kamar rawat sang adik. Dia juga baru tahu siang ini saat memenuhi jadwal kontrol lukanya.


" Jim." Rama memanggil nama Jimmy.

__ADS_1


Bukanya mendapatkan respon baik akan bentuk kepeduliannya, tapi malah sebuah tamparan mendarat di wajah Rama dari sang Ayah.


" Dasar kamu! jadi kakak tidak becus!! lihat adikmu!" Rama terdiam menerima tamparan dan dia menundukkan kepalanya. Dia malu, sangat malu bahkan tak berani menatap sang kekasih yang juga ada disana.


" Ayah, sudah! ini bukan salah Rama!" Bunda suci membela Rama.


Dari dulu, entah apapun itu Rama yang selalu menjadi kambing hitam. Rama selalu menjadi tertuduh atas sesuatu yang bahkan dia sama sekali tak tahu.


"Bun, Jimmy kenapa? apa parah?" Rama baru tahu setelah tadi dia bertemu dengan teman satu angkatanya yang menangani kasus kecelakaan yang menimpa Jimmy.


Rama terkesan tak merasakan dan menggubris sang Ayah yang siap untuk melakukan serangan dua kali. Bella dan juga Bunda suci yang melihat itu seketika bergerak menjadi penghalang.


Bunda suci memeluk suaminya dan Bella seketika membawa Rama untuk keluar.


"Kak, kita keluar dulu ya. Nanti lagi kita jenguk Jimmy."


Bella mengajak Rama untuk masuk kedalam mobil Rama.


" Kak.." Perlahan Bella memanggil sang kekasih. Dia tau Rama sedang terluka dan bukan sekedar luka biasa.


...Sejatinya, luka yang paling sakit adalah luka yang tak kasat mata....


...Mimi lita....


Rama masih tertunduk. Dia seolah menjadi tuli karena kejadian tadi.


" Sudah...." Tak banyak bicara Bella lalu memeluknya erat dan mengusap punggung si lelaki kekar itu dengan hati-hati. Bagaimanapun dia ingat lelakinya sedang terluka fisik dan psikisnya.


" Aku malu padamu Bell. Dihadapanmu, aku di tampar untuk sebuah kesalahan yang aku sendiri tak tahu."


Bella paham bagaimana Rama sangat malu sekarang. " Sudah... aku tak masalah. itu masalah internal dalam keluarga kalian. Aku tidak menganggapmu lemah hanya karena hal itu. Justru aku bangga padamu yang bisa menahan emosi padahal aku tahu kau sangat mudah untuk membalasnya." Bella menangkup wajah Rama.


Dia menghela nafas sebelum kembali berbicara. " Kau mengutamakan ketunduk dan patuhanmu sebagai anak. itu tandanya kau lelaki yang baik. Aku bangga padamu. Tidak semua anak bisa bersikap sepertimu." Bella berbicara sambil merapikan rambut sang pacar yang sedikit berantakan karena efek tamparan keras tadi.


Rama tersenyum kecut laku mencium tangan Bella yang di genggamnya.


Oh, sungguh sesuatu yang di luar dugaan. Ini merupakan suatu usaha batas berlebih dimana sang anak yang harus tunduk dan patuh terhadap orang tua yang membencinya hanya karena memilih profesi yang tak di setujui.


di dalam kamar rawat Jimmy.


" Papa! cukup ya Papa selalu menyalahkan Rama. Rama itu anakku juga pa!! dia anakku!!"


" Tapi Ma, sebagai Kakak dia tak becus menasehati dan menjaga adiknya. Lihatlah apa fungsinya dia menjadi polisi? Adiknya saja malah terlibat tindak pidana dengan mabuk sambil mengemudi. Apa fungsinya dia di keluarga kita? tidak ada!!"


Hancurlah hati seorang ibu manakala anaknya di perlakukan tidak baik meskipun itu oleh suaminya sendiri.


" Baik, kalau itu menurut Papa. Mulai sekarang aku minta cerai!! Ceraikan aku sekarang!! aku tidak tahan dengan sikapmu yang selalu membenci anakku!!"

__ADS_1


__ADS_2