
...π¦πΌπΌπΌπΌπ¦ ...
...POV Bella. ...
Aku baru mulai memahami satu hal disini jika Robbie, lelaki yang telah melamarku hanya bisa bersikap baik hanya pada satu wanita yang disukainya dan kali ini wanita itu aku. Aku terdiam setelah kami bisa keluar dari tenda dan meninggalkan area pemancingan.
Dia sedari tadi hanya diam entah karena kesal karena tadi ada haruka, atau karena aku yang lupa membwa kunci gembok sehingga dia harus merusak tendanya agar kami bisa keluar tadi.
"Bie, maaf." Kataku padanya yang masih terdiam mengemudi dengan tatapan mata yang terfokus ke depan.
"Maaf untuk apasih?" tanya yang setelah beberapa saat terdiam dan itu cukup membuatku lega. Setidaknya Dia tidak sedang marah padaku.
Aku merasa ragu untuk mengatakan hal ini, tapi aku harus memberanikan diri untuk bertanya padanya. Siapa itu haruka dan mengapa dia begitu membenci sosok yang mempunyai paras cantik tersebut?
"ya, karena aku tadi kamu harus merobek tenda kan?" Ucapku lirih takut takut bila ia akan kembali marah.
"Tidak Chagiya, aku marah pada Haruka yang telah mengacaukan seluruh rencana kita. Kamu jangan salah paham." Jawabnya yang membuatku semakin lega.
"Bie, tapi mengapa kamu begitu membenci Haruka dan bersikap kasar padanya. Ada apa? apa kalian punya kenangan masa lalu?"
Salah satu sikap lembutnya yang selalu membuatku luluh adalah caranya untung meredakan amarahnya sendiri saat aku mungkin secara tidak sengaja menyinggungnya. Seperti saat ini, Dia seketika menepikan mobilnya dan menatapku secara lekat dengan berkedip perlahan.
Sumpah, caranya yang seperti ini membuatku kehabisan nafas. Aku merasa oksigen di sekitarku mulai menipis dan deru nafasnya semakin membuatku tak mampu untuk menatapnya.
"Ada apa bertanya seperti itu, kamu kan tahu satu satunya wanitaku itu cuma kamu."Ucapnya sambil mengusuk pucuk kepalaku.
Ah iya bagaimana aku bisa lupa, Dia sama sekali tak pernah berpacaran. Dahulu hampir semua gadis di buat lari ketakutan olehnya. hanya aku saja si gendut yang berani mendekatinya.
"Lalu kenapa?" Tanyaku yang sangat ingin tahu apa sebab dari semua ini.
"Kenapa? Ya... karena aku mencintaimu chagi dan bukan dia. jadi untuk apa bersikap baik dan lembut padanya?"
"Ya tapi kan bisa berbicara dengan baik baik tanpa harus bersikap kasar? Kamu terlalu kasar tadi." KAtaku yang memang saat melihat Dia tadi sangatlah kasar dalam berucap.
"Begitukah? lalu apa menurutmu akan menjadi baik jika aku bersikap baik dan lembut kepadanya sedangkan aku tahu jika dia menaruh rasa padaku? bukankah itu terkesan seperti aku yang suka memberikn harapan palsu kepada wanita?" katanya yang membuatku tercenung memikirkan jawabannya yang memberikanku sejuta alasan untuk kembali mengoreksi apa yang telah ku katakan.
CUP!! tak banyak bicara dia lalu meraih tengkukku dan mencium keningku. "sudah, jangan terlalu dipikirkan. aku begini semata mata hanya tak ingin memberikan celah pada orang lain untuk masuk dalam hubungan kita."
Jawabnya lagi yang kini membuatku menemukan satu titik besar perbedaan antara Dia dan Jimmy. Jika Dia ingi konsisten pada satu wanita, maka immy hanya ingin konsisten pada keuntungan yang di diperolehnya. Ngomong-ngomong apa kabar anak itu sekarang ya?
Dia kembali melajukan mobil hingga kami berhenti disebuah penginapan kecil. "Kenapa berhenti di sini?" tanyaku yang mengamati papan nama dari penginapan ini.
"Aku lelah, kalau pulang masih lumayan jauh. Lagian besok hari minggu kan? kmu belum ada kegiatan kan?" Dia bertanya tapi juga sekaligus memastikan jika aku tak akan melayangkan protes.
"Lihat juga ini, bhan bakar mulai menipis. malam malam begini pasti tidak ada yang menjual bahan bakar eceran di sekitar sini." Ucapnya sambil menunjuk penanda isi tangki.
__ADS_1
"Ahahaha... kamu benar..!" Kataku sambil meringis kikuk.
Menginap? dalam satu kamar begitu? wah... ini kai pertamanya..., Aih, tunggu ada pa dengan otakku? kenapa tiba tiba jadi tercemar begini? jujur saja, aku bukan tipe wanita yang kuat iman dalam menghadapi pria tampan dengan seribu rayuan.
"Mikirin apa? Ayo cepat masuk, nanti keburu hujan!" Serunya yang memanggilku dari depan teras penginapan tersebut.
Ouh...! jangan bilang selama aku melamunkan hal kotor tadi dia melihat ekspresi mukaku. Astaga Bella, hancur sudah reputasimu...!
Aku berjalan menyusulnya sambil memukuli kepalaku sendiri dengan perlahan. "Bodoh...! bodoh...! bodoh!" Gumamku merutuki kebodohanku sambil berjalan dan dia hanya tersenyum kemudian menggeleng melihatku.
"Pak, kami pesan kamar ada?" Tanyanya pada bapak penjaga yang sudah berusia kukira hampir 50 tahunan.
"Untuk pasangan ya?" Tanyanya.
"Ah, bukan, kami..." Kalimat Robbie terputus mana kala si bapak kembali menyambarnya.
"Kalian kakak beradik iya kan? Wajah kalian sangat mirip.. pasti dulunya kesundulan nih. jaraknya juga tidak jauh." Katanya lagi seenak jidatnya.
"Ah, iya." Jawab Robbie sambil tersenyum canggung di hadapanku.
Adik? apa maksudnya adik? lalu apa artinya cincin yang melingkar di tangan kami ini? Aku menunduk melihat cincin yang tersemat di jariku.
'Ini kuncinya, kebetulan hanya tersisa satu kamar malam ini. Dan kalian kakak beradik pasti tidak apa apa jika tidur dalam satu ruangan." Ucapnya sambi memberikan kunci kamar pada kami.
"kamarnya di tengah ya, nomor 2!" Serunya mengingatkan kami.
"Pst...! jangan marah, aku sengaja mengatakan bahwa kita kakak beradik agar kita mendapatkan kamar. Soalnya disini tidak membebaskan pasangan untuk berkencan." Katanya sambil berbisik di telingaku.
"Tau darimana?" Desisku yang masih kesal krena dibilang adiknya.
"Apa tadi tidak membaca? ini penginapan keluarga, yang artinya hanya penyewa yang memiliki ikatan keluarga yang boleh menginap."
"Kamu membodohiku ya? Disini mana ada aturan seperti itu? ini bukan di Indonesia yang sering ada grebekan di kamar hotel murah atau penginapan semacam ini."
"Kamu tidak percaya? buktikan saja. Cepat sana bilang kalau kamu adalah tunangan ku, maka ia akan mengusirmu."
Ah, aku hanya bisa mengiyakan saja segala ucapanya. siapa juga yang mau diusir malam malam dan kebingungan mencari penginapan? Sudahlah cari aman saja, lagian juga tidak ada ruginya kan dia mengakuiku sebagai adik?
Berada dalam satu kamar begini membuatku merasa canggung dalam melakukan segalanya termasuk ritual kamar mandi. Aku sempat kebingungan saat melihatnya yang keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang setengah basah.
"Kenapa harus keramas sih, malam malam? Nanti kalau kamu flu bagaimana?" Tanyaku yang sebelumya aku mau keramas pun tidak jadi sebab tidak ada alat pengering rambut disini.
"Memang tidak ada alat pengering rambut ya?" tanyanya dengan wajah polosnya.
Aku menggeleng. "Kemarilah, ku bantu keringkan." Kataku yang kemudian melebarkan handuk yang tadinya hinggap di kepalaku.
__ADS_1
Dia duduk bersila tepat di bawahku yang duduk bersila di sofa. Terlihat tidak sopan sih memang, lalu aku yang sadar akan hal itu mulai menurunkan kakiku dengan perlahan lahan.
"Ah~~~ begini ya rasanya ada yang mengurus kita? Ada yang memperhatikan, ada yang menasehati," Ujarnya yang membuatku terdiam beberapa sat dan mencerna segala ucapannya
"Bukannya dari dulu juga kamu ada? kan ada Nenek dulu?" Kataku.
"Chagi, aku tidak pernah bisa mengeluh atau mengatakan lelahku padanya. Aku selalu tidak tega setiap kali menatap matanya yang terlihat sayu menahan beban dari sakit yang di deritanya. Aku tidak pernah bisa.." Ujarnya yang terdengar melankolis.
"Chagi, apa kamu bersedia menikah denganku?" Tanyanya tiba tiba. Aku sama sekali tidak tau ada hal mendasar apa yang membuatnya mengatakan permintaan ini.
"Menikah? Bukankah kita sudah membicarakannya? kamu tentu tahu bagaimana sistim dari beasiswa itu?" Dia terdiam saat menggunakan alibi tentang beasiswa.
"Aku rasa ini bukan tentang beasiswa, tapi ini tentang hatimu yang belum terbuka untukku."
Mendengarnya berkata seperti itu membuatku menelan ludahku dengan getir. bagaimana dia bisa tepat sasaran dalam mengatakannya?
"Bie, bukan seperti itu. Tapi tolong mengerti aku, Aku ada disini karena Beasiswa itu."
"Chagi, aku seperti ini juga demi menjagamu! sampai kapan aku kuat menahan semuanya? aku juga pria normal." Ucapnya.
Okey.., jujur saja perkataanya tadi membuatku ngeri dan harus mawas diri.
"Maksudku kita bisa menikah siri dulu kan? aku berjanji tidak akan membuatmu hamil sebelum kuliahmu selesai!"
"Bie, tidak ada permainan dalam pernikahan dan kurasa kita sudah pernah membicarakan hal ini secara gamblang. aku belum mempercayai komitmen!"
"Bukankah lebih baik ada komitmen? setidaknya kan jelas kemana arah selanjutnya. Jika tidak ada komitmen bukankah hanya pihak wanita saja yang dirugikan? Percayalah Chagiya~~ aku bukan seperti kedua kakak beradik itu." Ucapnya yang kudengarkan ada nada memohon yang teramat dalam di akhir kalimatnya.
Aku duduk di lantai dan mensejajarkan pundakku dengannya. perlahan kugapai lengannya dan ku tautkan jemari kami. "Bie, apa kau begitu mencintaiku?"
Tanyaku setelah aku lelah menarik urat leher kami.
"Apa belum jelas bagimu semua ini?" Dia balik bertanya padaku.
"Aku tidak bisa memastikan semuanya. Tapi ku juga tidak ingin kehilanganmu. Apakah aku egois?"
Dia menggeleng. "Lalu jia begitu, kita selau berada pada sisi yang berbeda seperti ini, sebaiknya kita memiliki sedikit waktu untuk saling berfikir." Kataku yang sebenarnya hany ingin da ebih mengerti aku dan bisa menjalani semuanya dengan santai.
"Jangan, jangan katakan apapun lagi." Ujarnya yang kemudian membawamu kedalam dekapannya. Dekapan yang mengisyaratkan dia begitu rapuh dan takut kehilangan.
"Tapi..." Aku masih ingin menyambung kataku. Tapi Dia dengan segera menyumpal mulutku dengan bibir manisnya. Tak dapat kupungkiri, aku selalu menyukai ini.
Terengah setelah kami beberapa saat saling bertukar saliva. "Jangan pernah mengatakan apapun jik pada ujungnya yang kau maksud hanyalah ingin jauh dariku." Ucapnya dengan nafas yang memburu menerpa pipi ku yang merona di buatnya. Dan, kali ini hanya anggukan yang bisa ku berikan padanya.
"Maaf." Hanya itu kataku yang tak mampu lagi membantahnya.
__ADS_1
Entah kapan malam ini berakhir, yang aku tahu semalaman aku tertidur begitu nayaman dengan Dia yang membawaku kedalam hangat dekapan.
"Apa kau mimpi indah semalam?" Tanyanya sambil tersenyum kepadaku.