Lebih Dari Pacar

Lebih Dari Pacar
8. Annoying


__ADS_3


...🌼🌼🌼🌼🌼🌼...


Semburat jingga menerawang mewarnai indah langit senja.


Dua bola mata indah menatap luas hamparan rerumputan.


Berayun seolah menari, bergesekan seakan menciptakan satu symphony.


Gadis berambut coklat dengan kedua pipi yang merona itu sendirian menikmati kesunyian.


PLUK!!


Melayang di udara sebuah bungkusan makanan ringan. Dengan cekatan, Bella menangkapnya dan meletakkannya begitu saja.


"Kenapa kau kemari?" Tanyanya malas pada sosok laki-laki yang kini menempatkan bokongnya disampingnya.


Jimmy, dia meringis lalu memeluk Bella sesuka hatinya.


😳Tubuh Bella menegang dan bulunya meremang. Walau mereka sering bertengkar untuk hal kecil maupun besar, Tetapi.....Bella tetap saja mengistimewakan sosok Jimmy. Terbukti, dengan nama Jimmy yang selalu terukir di dasar hatinya.


"Aku kangen kamu sayang, embem...!" Jawabnya gemas dengan kedua tangannya yang sudah mencubit gemas pipi Bella.


"Jim! kumohon jangan seperti ini padaku."


"Kenapa?" Lelaki bernama Jimmy itu membulatkan matanya terheran-heran. "Bukanya kita sudah baikan? Apa salahnya aku merindukan sahabatku~~~?" Protesnya tak suka.


Tidak ada yang salah jika itu tak melibatkan perasaan. Tapi disini, lihatlah siapa yang tersiksa? Bella yang tersiksa, cinta sepihak yang selalu tumbuh meskipun mendapatkan penolakan berkali-kali.


"Jimmy, aku ini wanita normal. Tidakkah kau melihatku selayaknya wanita pada umumnya? Dan aku.... aku seolah tak memiliki harga diri lagi di hadapanmu. Berkali-kali kunyatakan cintaku padamu, tapi apa?" Tajam tatapannya membuat Jimmy terdiam menyimaknya.


"Kau selalu menolakku!" Bella berteriak meluapkan emosinya tangannya mengepal kuat di samping kanan dan kirinya.


Jimmy masih terdiam.


"Tolong aku, aku tidak bisa mengendalikan perasaanku. Tapi kau! kau setidaknya kau bisa menjaga prilakumu agar aku tak berharap banyak darimu! Berhenti berlaku manis padaku Jim!!"


Benar, sangat benar apa yang Bella katakan. Seharusnya, setelah penolakan ada sedikit perubahan agar Bella tak banyak berharap dan memupuk perasaannya lagi.


Menilik dari masalah Bella, yang keterlaluan memanglah Jimmy. Dia bersikap seenaknya. Bahkan, tidurnya pun sering di kamar Bella dan acap kali menunjukkan ketidak sukaannya pada laki-laki yang mendekati Bella. Jadi Jim, apa maksudnya semua ini?


"Tapi bell, Aku tidak bisa berjauhan dengan mu! Apapun itu aku merasa nyaman di dekatmu, merasa kita satu frekuensi dan tak ada yang lain yang bisa mengerti aku selain kamu!" Jimmy berbicara seolah-olah disini Bella membuatnya candu akan hubungan tidak jelas mereka. Lebih dari teman kurang dari pacar. Bukankah itu cara licik lelaki untuk menang sendiri?

__ADS_1


"Aku butuh kejelasan Jim! Disini kau punya pacar, kau bebas memilih wanita. Tapi aku?" Bella menepuk-nepuk kasar dadanya menggambarkan betapa sesak apa yang dirasakannya. "Setiap ada yang dekat denganku, kau selalu mengajaknya berkelahi, mengatakan bahwa aku adalah milikmu. Apa maksudmu?!"


"Aku muak denganmu Jim!!" Memuntahkan segala isi hati, akhirnya Bella memilih pergi. Dia mengayuh sepedanya melesat dan kembali pulang. Tinggallah Jimmy sendirian merenungi apa yang baru saja terjadi.


...POV Jimmy....


Tak pernah kulihat kemarahan sejelas itu dari matanya. Apa.... dia benar-benar membenciku?


Dia benar-benar merasa muak denganku?


Aku sendiri tak mengerti, apa yang membuatku begitu lengket dengannya.


Aku sebagai lelaki, terkadang merasa kalau aku begitu egois. Ingin punya pacar juga sahabat yang intens. Tamak? Rakus? atau tak tau diri?


Entahlah, aku pun tak tau.


Yang jelas tak rela saja jika Bella disentuh oleh lelaki lain.


Tapi.... aku pun tak bisa menyebut perasaan ini sebagai cinta bukan?


Ini hanyalah rasa sayang, iya kan?


Malam ini, harus berlatih lagi untuk jauh darinya. Berat rasanya jika harus tidur terpisah dengan anak chubby itu.


Apakah, ini karena aku kurang kasih sayang?


Keluargaku kaya, ayahku terlalu sibuk sampai tak ada waktu untuk sekedar bercengkrama dengan anak-anaknya.


Bundaku? dia terlihat menganggur, tapi sebenarnya dia tak kalah sibuk mengurus bisnis marketingnya secara online. Aku sampai kasihan pada bunda yang selalu kurang tidur, dia banyak menghabiskan waktu di malam hari untuk mengurus laba rugi penjualannya.


Itulah mengapa, kedua orang tuaku tak pernah memeriksa kamarku di malam hari.


Sedari kecil, aku yang paling penurut. Sementara Kakakku Rama, dia pembangkang, kupikir dia itu adalah reinkarnasi dari pemberontak negara.


Aku berjalan pulang sendirian. Segera kumasuki rumahku yang sunyi senyap. Hambar tanpa rasa yang meletup-letup seperti sambutan misalnya.


"Hai Bun!" Sapaku padanya yang masih sibuk menatap layar ponselnya.


"Iya, kamu sudah makan sayang?" Tanyanya padaku dengan tatapan matanya yang tetap fokus ke layar ponsel.


Aku tau itu hanya basa-basi semata. Yah, itung-itung sebagai memenuhi syarat sebagai orang tua yang baik. Lalu, apalagi yang bisa kulakukan selain kabur ke kamar Bella?


Tapi... tidak mulai saat ini. Benar yang dikatakan olehnya tadi. Aku harus lebih pintar dalam bersikap.

__ADS_1


Banyak pesan masuk dari Sonia, dia mengajakku bertemu. Sebenarnya aku mulai membencinya setelah menerima kiriman video dari seseorang yang tak kukenal memperlihatkan kejadian dimana Sonia dan kawan-kawannya tengah merundung Bella.


Kini aku tau mengapa Bella begitu membenci Sonia.


"Bell, asal kamu tau aku akan membalaskan sakit hatimu pada Sonia dengan caraku tanpa melibatkan mu." Janjiku dalam hati sebelum akhirnya aku memejamkan mataku dalam lelap tidurku di kamarku. Meringkuk sendirian menatap ke jendela yang tertutup rapat dengan lampu yang padam, tanda si pemilik kamar tak lagi terjaga.


...POV Author....


Setelah penolakan itu. Bella sangat menjaga jarak dengan Jimmy. Dan Jimmy pun enggan untuk mendekati Bella. Keduanya saling sengit.


"Bell, tumben kita jalan-jalan begini Jimmy tidak ngintil?" Tanya mimi.


"Dia? dia kan sudah ada pacar, sibuklah sama pacarnya. Mana ada waktu untuk aku lagi." Jawab Bella yang tak mau ambil pusing.


"Sanita mana?" Tanya Bella yang mencari keberadaan temannya yang sedari tadi tak terlihat batang hidungnya.


Mereka berencana akan pergi piknik ke sebuah taman bunga. Dari kejadian kemarin, Bella berniat untuk lebih dekat kepada teman wanitanya daripada dengan Jimmy. Mungkin itu lebih baik, semoga.


"Oh, sanita? dia pergi kerumah saudaranya dengan keluarganya." Jawab Mini memberikan penjelasan.


Bella mengangguk-angguk paham. Mereka berdua kemudian berboncengan dengan menggunakan sepeda motor.


Menghirup aroma tanah basah yang lama gersang adalah kepuasan tersendiri bagi Bella. Entahlah, tapi sia suka sekali dengan bau khas itu.


Sejenak, pikirannya teralihkan dan tak lagi terfokus pada rasa sakit hatinya setelah mendapatkan penolakan kemarin. Tapi... siapa yang sangka bila hatinya akan kembali tergores lagi hari ini?


Di depan matanya, Jimmy sengaja menyalipnya berboncengan dengan seorang gadis.


Tapi, hei.... tunggu! gadis itu bukan Sonia.


Bella sampai mengucek matanya berkali-kali. Memastikan jika yang dilihatnya itu adalah Jimmy.


"Kamu Kenapa? kita minggir dulu saja ya, kalau kamu sakit?" Kata Mini yang khawatir terjadi sesuatu pada Bella. Pasalnya, Bella yang tengah mengemudi. Takut saja dia bila terjatuh dari sepeda motor. Kan tidak lucu, sudah dandan cantik tapi nyungsep di got.


Bella menoleh sebentar pada Mini dan tersenyum. " Ah tidak hanya ada hewan kecil tadi kena mata." Bohongnya.


Selama ini, ketiga temannya tidak ada yang tau mengenai hubungannya dengan Jimmy sejauh mana. Yang mereka tau, Jimmy dan Bella bertetangga dan akrab sedari kecil. Mengenai Bella yang ditolak hampir puluhan kali, tak ada yang tau.


Argh....!


Sial! menyesal aku keluar dari rumah tadi. Kenapa dimana-mana melihat kamu Jim?


Dan, siapa gadis itu?

__ADS_1


Dasar Playboy!! You are so annoying Jim!! F*ck you!!


Mengumpat dan mencaci dalam hati hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini.


__ADS_2