Lebih Dari Pacar

Lebih Dari Pacar
~ pelet apa


__ADS_3


...~~~...


Baru saja Robbie hendak mencium bibir Bella, ponselnya sudah berdering dan itu dari sang Nenek. Tak ada alasan baginya untuk tidak menjawab panggilan tersebut.


"A…… angkat saja dulu. Itu pasti penting." Ucap Bella dengan terbata-bata hawa panas mulai melingkupinya. Dia sampai menelan ludahnya perlahan dengan susah payah sewaktu Robbie mulai mendekatinya.


Robbie tersenyum begitu manis lalu tangannya mulai merengkuh pinggang Bella. Bukanya menolak, Bella malah diam saja mengikuti permainan Robbie yang memeluknya dari belakang dan dia asik bercengkrama dengan sang nenek.


Bella...! sungguh kemana hilangnya akal sehatmu? Dahulu kamu dengan Jimmy, mengejarnya berkali-kali sampai kehilangan harga diri, tapi kau tak pernah sepasrah ini! Dana sekarang? lihatlah, kau seperti tak punya harga diri. Kemana keangkuhan mu? Batin Bella yang saling berperang.


Bella, nikmati saja. Apa salahnya melakukan sesuatu yang hangat di saat yang dingin seperti ini? Dan lihat dia, dia penolongmu. Berkali-kali dia menolongmu mungkin dia adalah jodoh terbaik untukmu. Dengarkan Bella, kamu bukan gadis SMA lagi. Melakukan hal seperti itu bukanlah sesuatu yang tabu. ini sudah jamannya. Ini sudah masanya.


Sungguh dia keinginan hati yang saling bertolak belakang. Satu memerintahkan dan yang satu menjauhkan. Lalu manakah yang akan Bella pilih?


"Bie, lepas." Bella menggerakkan bibirnya tanpa suara meminta Robbie untuk melonggarkan pelukannya.


Alih-alih menjawabnya ataupun menuruti permintaan Bella, Robbie malah memberikan kecupan di bibir Bella dengan secepat kilat dan pergi menjauh setelahnya.


DEGH!!


Ah, luluh semua hatinya. Batu es itu mencair dan menenggelamkannya. Bella terombang-ambing ditengah deru euforia yang menggebu menguasainya.


Satu kecupannya saja sudah membuatku begitu mabuk kepayang. Apa ini? Hatiku mau tapi mulutku malu ..


Robbie masih berbincang dengan snag Nenek dan Bella lebih memilih untuk mengusir rasa gugupnya dengan mengerjakan tugas-tugas kampus secara online.


Selesai dengan panggilannya Robbie kemudian mendekat ke arah Bella. Dia lalu mengecup bagian wajah Bella sekenanya. Dan saat itu tepat mengenai pelipisnya.


CUP!!


Bella menoleh heran. Dia lalu mencoba untuk memberanikan diri untuk bertanya sesuatu.


"Apa menciumku merupakan sebuah hobi baru bagimu?" Tanya Bella yang mendapatkan gelak tawa dari Robbie.


"Wae? kenapa?" Tanyanya dengan wajah yang begitu ceria.


"Aku mencium wanita yang kusukai yang menginginkan hubungan santai. Lalu dimana salahnya? kau juga menyukainya kan?" Cetus Robbie yang kemudian duduk di sebelah Bella hingga lengan keduanya saling menempel.


"Tapi kita bukan kekasih atau suami istri. Kita hanya teman." Ujar Bella.

__ADS_1


"Hanya teman itu bagimu. Tapi lihat ini, bagiku kamu adalah calon istriku." Jawab Robbie dengan tegas sambil menggenggam tangan Bella dimana disalah satu jarinya tersemat cincin yang begitu cantik.


"Inikan hanya untuk dihadapan Nenek saja." Sanggah Bella yang kemudian menarik tangannya. Dia sedikit merasa tidak nyaman dengan posisi mereka yang begitu dekat. Bahkan teramat sangat dekat hingga nafas Robbie berhembus perlahan dan menerpa kulitnya hingga pipinya kian merona.


Robbie tangannya mulai bergerilya, meraba lengan dan leher wanitanya. "Aku tahu kamu menyukainya." Bisiknya yang membuat Bella terdiam dan mati kutu.


Mamp*s mulutnya menolak tapi tubuhnya mengatakan selamat datang sentuhan hangat.


"A... ah..." Mulut Bella justru mendes*h kala jemari lentik nan lembut Robbie memeluk perutnya yang rata dan sedikit turun ke sesuatu yang merespon geli.


Tidak banyak bicara lagi, Robbie segera memulai aksinya. Dia segera memberikan pelayanan terbaik dan terhangat yang dia miliki. Pokoknya semuanya yang Ter akan dia berikan semaksimal mungkin.


Sapuan hangat dan sentuhan benda kenyal saling menyapa satu sama lain. Tak ada penolakan, dan justru keduanya kompak membangun kehangatan. Adapun penolakan tadi hanya Robbie anggap sebagai intro dalam pelaksanaan inti.


Jemari Bella yang senang meremas perlahan rambut coklat milik Robbie memberikan kepuasan tersendiri bagi sang empunya. Robbie menandai titik mana yang Bella suka, sentuhan seperti apa, dan ritme yang bagaimana.


Semakin panas dan kian lihai, kedua mulai melucuti pakaiannya masing-masing.


Persetan dengan semua yang baru saja mereka bahas.


Persetan dengan komitmen.


Persetan dengan kenyataan yang baru saja putus.


"Ah~~~." Bella mendes*h perlahan.


"Apa boleh?" Tanya Robbie yang sudah mengungkung tubuh Bella di bawahnya.


Bella sudah memasang wajah pasrah. Ibaratnya dia sudah memberikan persetujuan dan mempersilahkan. Namun... Robbie kemudian kembali duduk dan mengancingkan kemejanya dan di susul dengan merapikan baju Bella.


" Kenapa?" Celetuk Bella yang tanpa malu, dan seolah kecewa karena adegan seru itu berhenti begitu saja.


Robbie mengulum senyumnya, disini dia seolah tengah mempermainkan lawan mainnya. " Kenapa Bie? kamu marah atau apa? atau aku ada salah?" Bella memberondong Robbie yang sudah berdiri dengan sejumlah pertanyaan.


Robbie mengacuhkannya lalu mendekat ke sebuah botol minuman. " Aku haus." Ucapnya tiba-tiba.


Oh, astaga! Robbie!!


Pergerakanmu yang tiba-tiba itu membuat Bella semakin merasa direndahkan. Bahkan gadis itu sudah berpikiran apakah semuanya terhenti karena ada bagian tubuhnya yang bermasalah?


Robbie mengulum air minumnya lalu kembali menerjang Bella dan memberikan minum dari mulutnya. Yak, elah di kira anak burung kali ah! Kesel gue.

__ADS_1


Bella tertegun tapi tetap menerimanya dengan senang hati. " Biarkan mengalir?" Tanya Robbie menjeda kegiatannya.


Dia menatap teduh wajah Bella yang berada teramat dekat dengannya dan sampai-sampai nafas mereka saling beradu di udara.


"Biarkan mengalir." Jawab Bella yang kemudian melanjutkan sesuatu yang tertunda.


Yah, kalian tau lah ngapain. Pokoknya iya... iya....🌚.


Di lain tempat.


"Ayah, kita telfon Bella yuk! Bunda kangen." Ucap Bunda Ria.


"Ayok! Ayah juga kangen." Kata Ayah uji.


Mulailah sepasang suami istri itu menghubungi anaknya yang sedang bermain jungkat-jungkit. Di dalam kamar yang begitu redup.


Di kamar Bella.


"Chagi, ponselmu berbunyi." Kata Robbie yang memberikannya pada Bella.


"What? Ayah menelfon." Bella menjadi panik seketika. Dia lalu mengenakan kaus Robbie dengan asal asalan lalu menutupi Robbie yang berada di atasnya dengan selimut.


Si panik yang di padukan dengan si keras kepala. Si panik yang langsung heboh dan si keras kepala yang begitu santai bahkan sampai tidak rela mencabut miliknya yang terjerembab dalam liang hangat milik lawannya.


"Lepas dulu." Ucap Bella memerintahkan.


" No! santai aja. Kamu ngobrol aja. Biarkan dia bersarang." Ucapnya santai dan mendapatkan jitakan di kening.


"Dasar psyco!" Umpat Bella kesal.


Robbie memeluknya erat dan membiarkan sesuatu menancap, sedangkan Bella menerima panggilan dan berlagak seolah-olah baru saja bangun dari tidurnya.


" Nak, kamu baik-baik saja kan?" Tanya Bunda.


"Iya Bun, baik." Jawabnya singkat.


" Bagaimana hari ini?" Tanyanya lagi yang ingin tahu tentang kehidupan snag putri yang keberadaannya sungguh jauh dari jangkauan mata dan tangan.


Sungguh iklan yang teramat panjang jika panggilan itu di kategorikan sebagai iklan. Mereka berbincang layaknya sedang kopdar. satu jam berbincang membuat keduanya kehabisan bahan obrolan dan akhirnya mematikan sambungan.


Robbie sampai tertidur dengan pulasnya di atas tubuh Bella. Terlihat wajah damai Robbie yang begitu mempesona bagi Bella.

__ADS_1


Sejak kapan kamu punya karisma ini? Kamu pakai pelet apa? sampai-sampai aku mau melakukan ini sama kamu?


__ADS_2