Lebih Dari Pacar

Lebih Dari Pacar
~ Malangnya aku.


__ADS_3

...~•~...



...~•~...


...Satu Minggu setelah pernikahan....


"Pak, maaf ada Nona Haruka datang dan memaksa ingin bertemu dengan anda." Kata seorang resepsionis ketika Robbie baru menginjakkan kakinya.


Seketika Robbie berhenti melangkah dan berbalik. "Apa tadi?"


"Nona Haruka datang mencari anda dan memaksa ingin bertemu dengan anda dan saya tidak bisa lagi menghadangnya sebab sekarang dia juga memiliki saham 15% di perusahaan Bapak." Kata si resepsionist.


Robbie mengusuk wajahnya gusar. "Baiklah, sebelum dia keluar dari ruangan saya. Jangan ijinkan siapapun untuk masuk. Mengerti?"


"Mengerti Pak." Jawab si resepsionist mengangguk paham.


"Ada apalagi sekarang, aku sampai kehabisan akal untuk mengusirnya." Robbie berjalan dengan tergesa-gesa memasuki ruangannya.


"Genta! ikut saya masuk sekarang juga." Titah Robbie tak terbantahkan.


Genta yang tengah menikmati teh hangatnya pun seketika tersedak lantaran terkejut.


"Baik Pak, segera!" Sahutnya yang segera berlari dengan membawa tablet.


Haruka, wanita yang tak tahu malu itu datang dengan penampilan yang lebih pas bila digunakan untuk berjemur di pantai. Dia mengenakan pakaian serba minim dan sengaja membuka jasnya.


"Woah... Oby! Apa kabar kamu sayang?" Ucapnya yang bertanya tapi juga dengan gerak tubuh yang semakin mendekat hingga menempel dan membelai rahang Robbie hingga Robbie menepisnya dengan kasar.


"Jaga sikapmu! ini di kantor dan aku juga sudah beristri!" Ketus Robbie yang kemudian duduk di kursi kebesarannya dan mulai menyibukkan diri dengan berusaha mengabaikan keberadaan Haruka.


"Ada apa kemari? jadwal rapat kita masih lusa." Robbie berbicara dengan nada tegas dan tak tergoda sama sekali.


"Memangnya harus ada sangkut pautnya dengan pekerjaan, baru aku boleh kemari? Aku kemari karena kangen sama kamu Bie." Kata Haruka dengan duduk dan menyilangkan kakinya hingga roknya semakin naik.


Oh, Waoow...! I like it. Batin Genta yang memperhatikan gerak-gerik Haruka.


Robbie menatapnya dengan serius. "Silahkan pergi jika tidak ada urusan dengan pekerjaan." Ucapnya yang berbicara dengan tangan yang saling bertaut dan tatapan tajam yang mematikan.


"Errrr.... gaharnya. Aku suka, semakin menantang.. Jadi..." Haruka mencondongkan tubuhnya hingga buah dadanya semakin terlihat menonjol dan berada di atas meja kerja Robbie.


"Genta, seret dia keluar!" Ucap Robbie tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Siap Pak!" Jawab Genta dengan cepatnya.


"Oby! berani kamu mengusirku, aku akan mencabut semua sahamku!"


"Silahkan! silahkan!" Kata Robbie yang sudah mengambil keputusan bulat.


"Oby!" Haruka berteriak-teriak meronta memanggil nama Robbie.


Sementara itu di luar.


"Maaf Kak, ingin bertemu dengan siapa?" Tanya si resepsionist kepada Bella yang berhenti di depan meja resepsionis.


"Em... itu, anu ..." Bella merasa ragu untuk mengucapkan nama suaminya sendiri. Pasalnya tidak semua bawahan mengetahui perihal pernikahannya. Bella memainkan bibirnya dan merasa ragu hingga seseorang paruh baya yang baru datang berperut buncit menghampiri Bella.


"Loh, Nyonya Robbie. Apa kabar?" Pria paruh baya itu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


"Ba... baik Pak." Jawab Bella dengan ramah meskipun sebenarnya dia tidak mengingat si lawan bicaranya.


"Ada apa kemari? Apa sudah rindu sama suami? Duh pengantin baru, ya .. wajar saja sih. Ayo sekalian bareng sama saya. Kebetulan kami di lantai yang sama." Kata Si lelaki paruh baya yang merupakan GM di perusahaan tersebut.


"Ta... tapi pak." Si resepsionist menyela.


"Ah, sudah. Biar sekalian bareng sama saya." Si GM itu segera menunjukkan jalannya dengan begitu ramahnya hingga Bella tak berkesempatan untuk menolaknya.


Bella dan si GM berjalan bersama sambil berbincang ringan. Si GM yang memiliki rentang usia yang lumayan jauh dengannya nyatanya adalah sosok yang humble dan hangat.


Hingga mereka sampai di depan pintu ruangan Robbie dan mendengar suara Haruka meronta dengan des*han yang mendominasi.


Kening Bella berkerut indah saat rungunya menangkap suara-suara yang saling bersahutan.


"Ah~~~, Bie... jangan gini." Ucap Haruka mengiba.


"Huh..., Ah~~~!" Genta yang masih beradu tenaga dan cara untuk menyeret Haruka keluar tanpa menyentuh aset aset berharga yang terbengkalai.


Bella dan Pak GM berdiri bersama di depan pintu dan melebarkan mulutnya bersamaan. Bella menatapnya sesaat seolah menodong dengan tatapan mata dan Pak GM hanya bisa menggidikan kedua bahunya.


"Pak, saya titip ini saja. Tolong nanti jika urusan suami saya sudah selesai, anda berikan ini padanya ya. Terimakasih banyak sebelumnya." Kata Bella dengan sedikit membungkukkan badannya dan pergi tanpa menunggu jawaban.


Bella menuju kampus dengan segala pikirannya yang berkecamuk. Dia menangkap suara-suara yang begitu tabu dan tak sepantasnya terdengar dari dalam ruang kerja suaminya.


Tanpa terasa air matanya menetes begitu saja. Dia meraba kembali dan mengaitkan semuanya dengan kejadian seminggu yang lalu dimana mereka baru saja menikah dan Dia tak bisa melayani sebagai istri.


"Wajar jika Dia mencari yang lain, tapi... aku tidak menyangka jika dia memiliki kepribadian yang buruk seperti ini." Gumamnya yang berjalan sambil menangis.

__ADS_1


"Jika sudah begini, siapa yang harus ku salahkan?" Bella mengusap kasar air matanya.


Hingga siang harinya.


"Madam Yuki, apa hari ini tidak ada materi tambahan lagi?" Tanya Bella pada Madam Yuki yang sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya.


"Tidak ada, kenapa?"


"Tidak, hanya saja sedang semangat belajar." Jawab Bella berbohong padahal itu semua semata-mata hanya untuk mengalihkan pikirannya dari kejadian tadi pagi.


"Em... kamu bisa temui profesor kalau mau dia sedang ada ruang diskusi sebentar lagi. Ya... hanya untuk menambah wawasan dan materi kan maksud kamu?" Tanya Madam Yuki.


"Hehehehe! iya madam. Sedang butuh narasumber. Beneran hari ini dia bisa?"


"Iya, 15 menit lagi di mulai. Cuma dia profesor yang paling rah dan mudah di ajak ngobrol." Kata Madam Yuki.


"Makasih Madam, saya akan segera mengejarnya." Kata Bella yang dengan bersemangat segera mengambil langkah untuk menemui Sang profesor.


Sore harinya.


"Chagiya!" Seru Robbie yang baru datang dan melepaskan sepatunya.


Robbie berjalan memasuki rumah, dan menelusurinya. Sama sekali tak di temukannya keberadaan Bella.


"Angkat Dong...!" Gumamnya cemas saat menghubungi berkali-kali tapi tak mendapatkan jawaban.


Robbie bertanya pada asisten rumah tangga dan semuanya kompak mengatakan sang Nyonya belum pulang dari pagi. Hal itu semakin membuat Robbie khawatir.


"Pak Sasuke, antarkan saya mencari keberadaan istri saya." Ucap Robbie. " Tadi terakhir kamu antar dia kemana?" Tanyanya yang sudah duduk di bangku depan dengan tatapan mata terus saja memindai keluar jendela, mengamati setiap sudut untuk mencari kemungkinan istrinya berada.


"Tadi ya hanya kekampus saja Tuan." Jawab Pak Sasuke dengan sopan.


"Kita ke kampus sekarang." Ujarnya dengan tangannya yang sudah sibuk mengetikkan sesuatu di ponselnya.


Chagi, kamu dimana?


Chagi, balas pesanku.


Chagi, kenapa tidak mengangkat panggilanku?


Sementara itu disisi lain,


Bella hanya melongok ponselnya lalu membalikkannya dengan putus asa dan wajahnya yang sudah bengkak dan sembab setelah menangis Berjam jam.

__ADS_1


"Malangnya aku, baru menikah satu Minggu sudah di selingkuhi! Hua....! Hua.....!" Bella menangis di ruang baca kampus. Dia meracau dan membekap mulutnya dengan tasnya hingga suaranya hanya tertahan..


__ADS_2