Lebih Dari Pacar

Lebih Dari Pacar
14. He's stole my kiss.


__ADS_3

...🌿🌿🌻🌿🌿...



...🌿🌿🌻🌿🌿...


" Ah, aman... dia sudah pulang." Bella mendengus lega dan mengelus dadanya.


Bella tanpa memperhatikan dia begitu saja keluar dari kamar mandi masih berbalut handuk yang melilit munutupinya sebatas dada hingga ke paha.


"Kena kau!" Jimmy dengan serta merta memeluk Bella dari belakang.


Bella terkejut dan melonjak dengan tubuh yang menggeliat memberontak dari dekapan Jimmy.


"Lepas!!" Amuknya dengan sorot mata tajam tak suka.


Jimmy, bukankah dia terkesan tak tau malu? Masih berada di tempat dimana sang pemilik rumah sudah mengusirnya secara terang-terangan.


"Bell Maaf!" Jimmy berucap dengan penuh penekanan.


Kesal, marah, sedih, tak berdaya. Itulah segala rasa yang menyergap jiwa Bella saat ini. Dia ingin menolak, memberontak sekuat tenaga. Tapi apalah daya, raga dan jiwa enggan bekerja sama.


Bella, dia dengan segala rasa yang tertahan di dada membendung bulir bening yang siap membanjiri pipinya. Menumpuk membumbung hingga membuatnya terisak menahan tangis dengan suara yang tercekat dalam.


"Jim.... ku mohon, lepaskan aku. Hargai aku!" Bella berbicara dengan matanya yang basah menatap dalam kedua manik Jimmy seolah memohon.


"Bell, Maafkan aku. Aku berjanji akan memperbaiki sikapku padamu. Tapi aku mohon, jangan jauhi aku.." Ucapanya dengan mata sayu dan suara lembut menderu dengan nafas yang memburu menyapu lembut pipi Bella memberikan gelanyar aneh yang menyergap raga.


"………" Bella hanya diam tak menjawab. Reaksinya datar dan dingin dengan bahu yang turun naik menahan getar getir yang dirasanya.


"Maafkan aku, maafkan aku...!" Jimmy menangkup wajah sahabatnya yang sudah menangis terisak tanpa keluh yang meluncur.


Mata sembab itu kini beradu dengan mata teduh yang memohon pengampunan. "Aku bisa jauh bahkan putus dengan pacarku. Tapi tidak jika untuk jauh darimu. Jadi ku mohon, tetaplah menjadi sahabat terbaikku." Pintanya tulus dari dalam hati.


Entah sekedar merayu atau hanya sebatas menghibur hati yang tengah mendera luka. Mulut manis Jimmy seketika mampu membuat bibir Bella mengatup tanpa mampu membalasnya.


Apa maksudmu jim?


Kau berbicara seperti ini seolah-olah aku adalah satu-satunya. Tapi sebenarnya apa? Aku hanyalah salah satunya. Bella membatin sedih mencerna segala ucapan sahabatnya.


Mata Jimmy hanya tertuju pada benda kenyal nan merona milik sahabatnya. Ada rasa yang menggelitik mendebarkan hatinya membuatnya tanpa aba-aba melu**t benda kenyal nan manis.


Bella terbelalak tak mampu bergerak atau menolak dia hanya terdiam mematung dengan pelupuk yang basah menggenang menyisakan sembab di wajah cantiknya.


"Maaf." Hanya satu kata itu dan Jimmy menyudahinya tanpa permisi meninggalkan Bella yang masih tercenung sendirian di dalam kamarnya.


Berdiri terdiam mematung, tangannya terulur mengusap bibirnya. "Ciuman pertamaku!" Ucapnya menggumam kental dengan nada kekecewaan.


Menyesali tapi sudah tak mampu lagi untuk kembali.


Menangisi tapi tak begitu tersakiti.


"Sebenarnya, aku ini masih mencintainya kah?" Tanya Bella pada dirinya sendiri yang terkesan menjadi keledai bodoh.


Tubuhnya lemas dan kakinya seperti berubah menjadi jelly. Bella, dia merosot begitu saja dan terduduk berdiam diri seraya kembali mengingat apa yang baru saja Jimmy katakan.


"Aku bisa jauh bahkan putus dengan pacarku. Tapi tidak jika untuk jauh darimu. Jadi ku mohon, tetaplah menjadi sahabat terbaikku." Inilah yang masih terngiang di telinga Bella.


Hubungan yang lebih dari sekedar teman dan kurang dari pacar namun berbalut PERSAHABATAN. Ouh...! Ayolah bukankah memang seperti ini gaya anak muda jaman sekarang?

__ADS_1


Masih SD saja sudah banyak dari mereka yang memanggil ala-ala Ayah dan Bunda.


Berbagi momen mesra dalam sosial media. Bagi orang dewasa itu adalah hal yang tabu, tapi bagi mereka?


Ini sudah eranya bukan? Hal yang lumrah dimana mereka memamerkan apa yang mereka punya sekalipun hal itu terkadang melewati batas moralitas dan terbilang tidak berkelas.


"Jim, kapan semua ini akan berakhir? Aku sungguh lelah." Bella menggumam kemudian bangkit dari tempatnya. Dia berjalan lemas menuju ke lemari bajunya.


Beberapa hari setelahnya.


"Sayang, kau sekarang berbeda." Kata Eva yang tengah bermain ponsel dengan kakinya yang menumpang di atas paha kekasihnya.


Jimmy tatapannya tetap fokus menggarap tugas-tugas kuliahnya. Berbeda dengan Bella yang akan dengan entengnya membantu segala tugas Jimmy, alih-alih membantunya Eva malah terkesan cuek.


Maklumi sajalah Jim, bukanya kau memang hanya mencari wanita sebagai teman tidur? Bukankah Eva sudah pas? dia sama seperti guling. Sama-sama tidak berotak dan hanya berguna untuk teman tidur.


"Apanya yang berbeda? aku biasa saja." Jawab Jimmy membela dirinya yang baginya memang tak ada yang berubah.


Eva menatapnya serius dan mengikis jarak hingga kian rapat dan mendekat bahkan kedua gundukanya sudah menempel di lengan Jimmy. "Kau berbeda." Lirih Eva membuat bulu kuduk Jimmy meremang.


"Oh Ayolah...!" Jimmy memohon kali ini. Dia sudah jengah dengan sikap Eva yang selalu mengganggunya saat mengerjakan tugasnya. "Eva, bisakah kau sedikit lebih tenang. Aku butuh ketenangan dan konsentrasi." Jimmy berbicara dengan nada kesal dia terlihat letih dan marah dalam waktu yang bersamaan.


"Kenapa memangnya? bukankah kau bisa meminta bantuan sahabatmu itu? aku dengar dia menjadi asisten dosen sekarang." Celetuk Eva seringan kapas tidak tau bila Jimmy tengah merindukan si empunya nama yang baru saja disebutnya.


"Diamlah!! Aku sedang pusing. Walaupun dia asdos tapi kita beda jurusan. Lalu apa gunanya?" Tandas Jimmy yang kembali acuh dan meneruskan pekerjaannya.


"Hei, tapi aku dengar dia bisa membantu bila hanya sekedar membuat kerangka materi? itu akan lebih membantumu kan?"


"Kenapa tidak kau saja yang membantuku daripada hanya sekedar sibuk ber-selfie dan menghabiskan kuota yang aku belikan untukmu." Ketus Jimmy berbicara sengaja menyinggung soal apa yang dia berikan kepada pacarnya itu.


"Ah, Sayang...." Eva merayunya dan bergelayut manja dengan jemarinya yang mengusap rahang Jimmy. "Sayang, aku berselfi juga kan untuk membuatmu merasa bangga. Orang-orang akan memuji kecantikanku dan otomatis namamu juga akan terbawa. Siapa yang tak kenal Eva dan Jimmy? pasangan serasi tahun ini. Ya kan?"


Cih!


Oh Tuhan....! kenapa aku mencelanya? Ini aneh, untuk pertama kalinya dalam hubungan kami aku merasa muak berada di dekatnya. Bell, bisa kau bantu aku? Lirih hati Jimmy berbicara mengadu kepada sang wanita yang di aku sebagai sahabatnya.


Ponsel Eva berdering, raut wajahnya berubah kaku dan dengan segera dia menarik jarak antara dirinya dan Jimmy. Matanya bergulir kesana kemari seperti ragu untuk mengambil langkah.


"Siapa?" Tanya Jimmy ingin tahu.


"Oh tidak, hanya Wina si kutu buku." Jawabnya sambil menggidikan kedua bahunya.


Wina? si kutu buku? sejak kapan mereka dekat sampai bertukar nomor? Jimmy meraba pengetahuannya perihal ruang lingkup pertemanan kekasihnya.


Wina, mana mungkin si kutu buku akan berteman dengan Eva si ratu Glamour di kampus?


tidak, mereka bahkan tak saling kenal dan Eca hanya asal menyebut nama.


Justru Jimmy yang sedikit banyak tau tentang Wina si kutu buku yang merupakan anak tunggal dari rekan bisnis Ayahnya.


"Ada apa dia menelfonmu?"


"Tidak, dia hanya miss call." Jawab Eva sembari tersenyum kikuk.


Lagi ponsel Eva berdering dari pemanggil yang sama, tapi Eva terlihat takut untuk sekedar mengangkatnya.


Dengan cepat Jimmy merebutnya dan seketika membanting ponsel Eva. Jimmy sangat marah setelah membaca pesan di jendela mengapung atas pesan yang baru saja masuk.


Dosen pembimbing.

__ADS_1


πŸ“© : Sayang jangan lupa sore ini hotel xxxx . Love you.


"Jim!" Eva berteriak saat Jimmy membanting ponsel miliknya.


"Dosen pembimbing?" Jimmy mencengkeram kuat rahang Eva. "Eva... sekarang juga hubungan kita berakhir!! pergi dari apartemenku!!" Jimmy berbicara syarat dengan afeksi yang tertanam. Matanya menyorot tajam membuat Eva hilang keberanian.


"Tapi Jim! kumohon dengarkan aku..." Eva memeluk kaki Jimmy memohon pengampunan.


"Kami hanya akan membicarakan tentang materi." Ucap Eva berdalih.


Jimmy melepas cengkramannya dan beralih masuk ke kamar mereka menata baju secara abstrak tak terkondisi. Telinganya seakan tuli meskipun Eva sudah panjang lebar berusaha menutupi setiap kebohongannya. "Sayang dengarkan aku!" Pintanya sambil menangis memelas.


"Shut up!! Cukup!! Don't talk with me again. Go out!!" Jimmy menarik paksa Eva beserta kopernya dan melemparnya keluar secara kasar.


"Jim! kumohon!" Eva menggedor pintu flat Jimmy.


Agak berselang lama dan Eva masih menangis bersandar di pintu menyesali segala kebodohannya. Harusnya aku lebih berhati-hati. Gumamnya dalam hati.


Pintu kembali terbuka dan Eva menyunggingkan senyumnya dia berpikir Jimmy tak akan tega mengusirnya dan memintanya untuk kembali.


Tapi.....


"Ini!" Jimmy membuka pintu kembali dan melemparkan barang-barang Eva yang masih tertinggal.


"Kita sudah tidak ada urusan dan hubungan apapun. Barang-barangmu sudah tak ada lagi disini." Tandasnya tanpa rasa iba.


Eva kembali memulai aksinya, merintih menangis dengan wajah memelasnya. " Jim, ini semua salah paham." Belum selesai dan Jimmy sudah kembali meledak hebat.


" Salah paham?" Jimmy tersenyum mengejek. " Kau pikir aku dungu? Mana ada dosen pembimbing yang mengajak siswinya membicarakan materi di dalam kamar hotel? Sudahlah Eva, hentikan rengekanmu itu. Setidaknya belajarlah untuk sedikit bermartabat." Ketus Jimmy yang di susul dengan suara pintu yang tertutup keras.


BLAM!!


Suara pintu yang di banting.


" Woy!! Kalian ini berisik!! bisa diam tidak? anakku terganggu!!" Tegur tetangga dari flat sebelah kanan Jimmy yang terusik dengan kebisingan yang mereka ciptakan.


Eva tak menjawab bahkan dia berjalan dengan angkuhnya membawa barang-barangnya melewati si tetangga yang menegurnya barusan.


Eva... kau sungguh bermuka tembok cor-coran 🀭.


...POV Jimmy....


"Argh....! Damn!!" aku sungguh geram bagaimana bisa aku ditipu selama ini oleh Eva.


Wanita itu..


Ku akui dia begitu cantik dan menggoda. Tapi... ternyata bukan aku saja selama ini channel-nya. Aku begitu frustrasi setelah membaca pesan dari si dosen pembimbing.


Tak penting lagi bagiku siapa sebenarnya si dosen pembimbing itu. Yang terpenting adalah sia sudah banyak mengambil keuntungan dariku dan apa?


Selama ini aku bermain di bekas lubang beberapa orang?


"****!" Mengingatnya membuatku gila juga merasa jijik.


Entah mengapa di saat seperti ini justru kepalaku di penuhi dengan Bella. Bella, Bella dan Bella. Dia jauh lebih baik dan berkelas daripada si bodoh Eva.


Tapi ada yang lebih bodoh dari Eva, yaitu aku lelaki yang di butakan ************.


"Hahahaha..………!" Aku tertawa lantang seorang diri menertawai kebodohanku yang agaknya menempati juara provinsi.

__ADS_1


"Bella I miss you!" Aku berteriak meluapkan segala ganjalan di hatiku berharap nama yang kusebut tadi dapat mendengar seruanku.


"Sekarang aku tau apa artimu bagiku...." Jimmy terisak meringkuk di ubin yang dingin sendirian melupakan segalanya.


__ADS_2