Lebih Dari Pacar

Lebih Dari Pacar
11. New game


__ADS_3

...🍁🍁🌼🍁🍁...



...🍁🍁🌼🍁🍁...


...POV Jimmy....


Sudah berapa lama aku tidak bertemu dengan tembem ya?


Aku menerka dan mengira sudah berapa lama tidak bertemu dengan sahabat kecilku. Lama menikmati indahnya masa pacaran dengan Eva membuatku lupa tentangmu mbem.


Tapi, tetap saja dikepalaku selalu mengingat namamu.


Arghh!! kepalaku pusing sekali. Kenapa juga harus kena typus sih?


Ahhh dingin... aku benci ini. Tubuhku mulai menggigil kedinginan saat malam tiba. Tapi keringat dinginku tak berhenti mengucur.


Terdiam aku menikmati sakit yang Tuhanku berikan. Mungkin ini sebagai peluruh dari dosaku.


Aku tau aku telah banyak melanggar aturan agama termasuk menikmati sesuatu sebelum menghalalkannya.


Entahlah biar dosa ini menjadi urusanku dengan Tuhanku.


"Ah, dingin.." Gumamku tepat sesaat sebelum seseorang mengetuk pintu. Seseorang pemilik suara yang lama tak mengudara menyebut namaku.


...POV Author....


Jimmy terbangun saat mendengar Bella menyebut namanya. " Jim, apa aku boleh masuk? ini aku Bella."


"Bella? Bella datang?" Gumamnya dan kemudian mendekat ke pintu menempelkan telinganya untuk memastikan apa yang di dengarnya.


"Jim?" Lama Bella menuggu sahutan akhirnya pintu terbuka.


Dengan gesitnya tangan Jimmy langsung menarik Bella dan membawa Bella kedalam dekapannya. Bella hanya pasrah saja lantaran tidak menduga bila Jimmy akan melakukan hal tersebut.


"Lepas Jim!!" Bella memberontak.


Jimmy mengalah lalu melepaskan pelukannya. "Ah, apa kau tidak merindukanku? sudah lama sekali kita tidak bertemu. Kemarilah!!" Dengan antusias Jimmy menarik Bella membawanya untuk duduk bersama di ranjang.


Bella meletakkan tasnya dan ikut duduk di samping Jimmy dengan suasana canggung yang melingkupi.


"Kamu sakit apa?" Tanya Bella berbasa-basi.


"Bisa tidak jangan tanya aku menggunakan pertanyaan klasik begitu?" Protesnya yang kemudian berbaring dan mencari posisi nyamannya dengan satu tangannya yang terulur mencubit gemas paha Bella.

__ADS_1


"Au! Jim!!" Bella mendengus kesal dan mengerucutkan bibirnya tanda tak suka.


Aih! Kalau bukan karena


permintaan ayah dan Bunda, Bella pun tak mau mengunjungi anak manja banyak mau ini. Ya... walaupun dalam hatinya juga merindu.


"Katakan padaku, lama berjauhan apa kau sudah punya pacar?" Tanya Jimmy penasaran.


Bella menggeleng. " Memangnya aku ini kamu yang isi kepalanya hanya pacar, pacar dan pacar." Bella memutar bola matanya malas.


"Aku tak ada waktu Jim, memikirkan setiap mapel saja kepalaku sudah hampir meledak!" Ucapnya penuh penekanan dan penjiwaan.


"Enak jadi aku dong, kuliah tapi juga ada yang mengurusi segala kebutuhan." Celetuk Jimmy membuka kebenaran akan dirinya sendiri.


Bella langsung mengalihkan atensinya saat Jimny mengatakan sesuatu yang mungkin bermakna tabu.


"Apa maksudmu?" Tanya Bella penasaran.


"Ini rahasia kita. Oke?" Jimmy memberikan jari kelingkingnya. Meminta ikatan janji. Macam anak TK saja Jim.


Sejatinya manusia akan selalu kehilangan apa yang keluar dari dirinya termasuk ucapan.


Ucapan yang keluar dari mulutmu tak akan pernah kembali padamu kecuali doa.


Hanya doa yang akan kembali kepada siapa yang memanjatkannya.


Hanya doa yang akan kembali pada sang pemilik meski dia lama tergantung di langit.


"Iya, ceritalah jangan buat aku penasaran." Sahut Bella malas.


Malas saja menanggapi bualan mahluk yang narsis ini, sudah pasti akan banyak karangan bebas dan narasi fiksi di dalamnya. Begitulah asumsi yang tertanam dikepala Bella.


"Aku dan Eva tinggal dalam satu apartemen." Ucap Jimmy dengan jujur.


Bella melotot tak percaya. " Jim! kau sudah gila?" Bela berdiri dengan seketika menunjukkan ekspresi yang tak bisa dimengerti oleh Jimmy.


" Gila? tidak. Aku tidak gila! Karena jauh darimu, aku terpaksa harus mencari teman tidur. Kamu kan tau aku tak bisa tidur sendirian. Daripada aku kena insomnia dan kekurangan tidur dan akhirnya meninggal dunia dalam usia muda, ya lebih baik aku cari teman tidur kan?" Jimmy membela dirinya walaupun itu salah sangat salah.


" Eh, apapun alasannya ya. Tidak bisa dibenarkan kalian tinggal satu atap tanpa pernikahan. Jelas-jelas di dalam hubungan itu hanya kau yang di untungkan!!" Bella berbicara sarat akan kemarahan dengan suara yang tertahan karena masih menjaga suasana.


Tak mau saja bila keributan ini terdengar oleh para orang tua dan membuat runyam suasana.


"Bell, Tak perlu semarah itu. Lagian juga kami sama sama mau!"


"Jim!! jujur padaku apa yang sudah pernah kau lakukan dengan Eva?"

__ADS_1


"Bell, please!! Jangan berpikiran kolot begitu, ini sudah jaman maju. Jaman yang berkembang, jaman canggih. Lagian kami selalu bermain aman. Tenang saja lah, aku juga tidak sebodoh yang kamu pikir."


"Oh astaga Jimmy!! jika aku kakak atau saudara kandungmu, sudah ku cincang kamu Jim!!"


"Ayolah, kau bersikap begini seolah olah kau ini pacarku yang sedang cemburu. Santai, take it easy girls!!" Jimny tertawa remeh. "Lagian juga kami selalu memakai pengaman." Imbuhnya lagi tanpa ada beban dan dosa yang menyekat pembicaraannya.


Bella tertegun sampai-sampai mebekap mulutnya sendiri. Dia menggeleng beberapa kali.


Bella terdiam memandang lekat wajah Jimmy. Terasa sia-sia dia beradu argumentasi, sia-sia dia menggunakan tenaga ekstra demi menekan emosinya.


Bella merapikan penampilannya dan memakai tasnya kembali. " Terserahmu, kau benar aku ini bukan pacar atau apapun bagimu. Terserah apa yang akan kau lakukan, aku tidak akan peduli." Bella membelakangi Jimmy.


"Terimakasih untuk kejutan ini." Ucapnya sebelum pergi.


Bella" melangkah mendekati pintu dan bersamaan dengan itu Jimmy seketika menghalanginya dan menahan pintu lalu menguncinya membuat Bella berdiri mematung dengan sejumlah pertanyaan yang bercampur aduk di kepalanya.


"Apa lagi?" Ketus Bella tak suka jalannya terhalangi.


" Aku masih kangen!!" Kata Jimny yang lagi-lagi memeluk Bella sesuka hatinya.


PLAK!!


Satu tamparan keras mendarat di pipi Jimmy meninggalkan bekas kemerahan. " Hentikan kebiasaan tololmu ini Jim!! Hargai aku, aku juga wanita yang punya perasaan. Setelah menolakku dan bersikap baik padaku membuangku, lalu kini kau memelukku seperti ini? " Bella menggertakkan giginya penuh afeksi.


"Hargai aku Jim!! aku bukan objek yang bisa kau gunakan semaumu!!" Bella berbicara dengan penuh penekanan matanya sudah merah berair menahan ledakkan dalam hatinya.


Jim,


pertama kalinya dalam hidupku aku menyesal pernah mengenalmu.


Bagaimana bisa kau dengan mudahnya bercerita kepadaku tentang hubungan bebas kalian. lalu saat bersamaku kau memelukku dan ...


Jim, aku harap kau tak lebih buruk dari ini.


Gumam Bella yang kemudian mengepalkan tangannya sampai buku-buku tangannya memutih dan pergi meninggalkan Jimmy dengan sejuta rasa mengganjal di hatinya.


Lama tidak bersua nyatanya bertengkar juga. Bella pergi meninggalkan kamar Jimmy membawa rasa sesal dan kecewa.


Sesal karena bersikap kasar sampai menampar Jimmy, dan kecewa dengan sikap Jimmy yang telah banyak berubah.


Jimmy sekarang bukan Jimmy yang dulu yang anti wanita.


Jimmy sekarang adalah Jimmy yang menceritakan sendiri tentang pergaulan bebasnya.


ini seperti babak baru dalam permainan baru. Membuat hati Bella bertambah koyak, remuk dan nyaris *****.

__ADS_1


__ADS_2