
...🌺🌺🌺...
RETROUVAILLES.
istilah untuk menyebut perasaan bahagia seseorang ketika akhirnya bertemu kembali dengan seseorang setelah sekian lama..
Hal itulah yang nampaknya tengah Robbie rasakan kini, Dia bahkan teramat senang saat Bella mau mencoba menjalin hubungan dengannya.
Tapi sayangnya, semua itu tidak berjalan mulus sesuai jadwal yang ada. Dia juga harus menyesuaikan jadwalnya yang teramat padat dengan jadwal sang pacar yang juga sangat padat.
Jika Bella jadwalnya padat seharian, maka Robbie jadwalnya padat dari mulai pagi hingga malam. Dan disini, ada gadis yang duduk termenung di dalam kamarnya seorang diri dan menunggu layar ponselnya untuk berkedip.
Sudah satu Minggu setelah pernyataan itu. Nyatanya keduanya malah dibuat semakin sulit bertemu lantaran padatnya kesibukan masing-masing.
"Sudah satu Minggu, tapi kita malah hanya bisa bertemu lewat video call. Saat pagi aku sibuk dia belum bangun. Saat malam aku tertidur, dia baru menghubungiku. Apa ini yang namanya punya tunangan dengan masa depan yang cerah? Terus kalau begini terus, nanti, kalau kita menikah. Kapan buat dedek bayi? ketemu aja susah!" Bella mengomeli layar ponselnya yang mati.
"Siang tadi juga tidak menghubungiku. Saat Dia menghubungiku, aku tidak mengangkatnya karena masih di dalam kelas. Tapi... saat ku telfon balik, gantian tidak di angkat." Bella mengerucutkan bibirnya.
Bulan ini merupakan awal musim semi, banyak tunas pepohonan yang mulai bermunculan dan juga hijau dedaunan yang lamat-lamat mulai terlihat. Robbie mengendarai mobilnya sambil bersiul dia melepaskan jasnya dan juga dasinya entah sudah di buangnya kemana. Dia melonggarkan segalanya yang terasa sesak.
"Dari tadi ku hubungi kenapa tidak di angkat?" Dia menggumam sembari membelah jalanan kota.
Di lihatnya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Ah, sudah pukul 10 malam. Apa dia sudah tidur ya?" Gumamnya lirih yang sudah berhenti dan melongok ke jendela kamar Bella yang lampunya masih menyala.
"Masih hidup sih, seharusnya belum tidur kan?" Gumamnya lagi.
Dia turun dari mobilnya dan sesekali mencoba untuk menghubungi Bella. Bukan untuk menginap atau apa, tapi hanya untuk sekedar melepaskan kerinduannya setelah sekian hari, jam, menit dan detik tidak bersua secara langsung.
"Iya, Hallo!" Sahut Bella setelah sambungan teleponnya terhubung. "Ada apa telfon?" Tanyanya ketus.
"Ih, kok gitu? kan aku kangen Chagiya. Masa iya ga boleh telfon." Sahut Robbie.
__ADS_1
"Apa apaan, katanya kangen. Mana satu Minggu ini kamu ada usaha buat ketemu? ga ada kan? Udah super sibuk, lupa sama aku. Di telfon juga ga di angkat." Cicitnya marah.
"Kamu juga sama kan? sibuk. Di telfon juga belum pasti diangkat. Kita sama-sama sibuk Chagi, jadi jangan bertengkar lagi. Sekarang bisa bukakan gerbangnya? Aku sudah hampir 20 menit di luar sini." Ucapnya menyatakan sesuatu yang berlebihan. Padahal baru 5 menit saja dia berdiri.
"Iya, ok. Bawa apa tapi?"
"Bawa, ada deh spesial pokoknya." Jawab Robbie yang asal.
Jangankan membawa makanan atau apalah, Dia saja sudah terlalu sibuk menata suasana hatinya yang meletup-letup karena hendak menemui sang tunangan.
CEKLEK!
Terdengar suara pintu terbuka. Tapi tak juga muncul batang hidung si pembuka gerbang. Rupanya setelah membuka kuncinya Bella segera kembali masuk kedalam rumah.
"Lah, mana yang buka?" Robbie yang sudah siap untuk memeluk sang target harus di buatnya kecewa.
"Chagi..., aku bawakan sesuatu untukmu." Ucapnya yang tersenyum manis memamerkan jajaran giginya yang putih.
Bella tak menggubrisnya dan hanya kembali berbaring di sofa. Tatapannya datar dan dingin seolah tak ada yang sedang terjadi. Robbie menatapnya bingung.
"Ada apa?" Ulang Bella dengan nada bicaranya yang menye-menye dan bibirnya mengerucut beberapa centi.
Robbie mengulum senyumnya kala melihat tingkah Bella. Awalnya dia memang tidak berniat untuk masuk dan hanya ingin berbicara di luar saja. Namun, Bella malah justru bersikap seperti ini dan mengharuskannya untuk mengejar dan membujuknya.
"Ih kok gitu? Marah?" Tanya Robbie yang menepuk gemas betis Bella yang berada pada pangkuannya.
"Iyalah marah, sepertinya aku bukan prioritas kamu lagi ya? Sampai menghubungiku saja susah sekali. Kesini mengambil makanan juga hanya menyuruh Genta. Aku ini tunanganmu atau selingkuhanmu sih? susah sekali mau bertemu juga." Bella berdecak kesal dengan mulutnya yang manyun.
Robbie justru merasa senang, dengan sikap Bella yang seperti ini, itu berarti dia mulai membuka hati. Dia mulai menantikan kabar darinya.
"Chagiya...., maaf ya. Aku sangat sibuk. Kau tidak lihat lingkaran hitam di mataku? Aku sangat mengantuk. Beberapa malam harus lembur dan kembali ke kantor. Persaingan bisnis sangat berat, aku tidak bisa duduk bersantai saja di rumah jika ingin anakku nanti punya jaminan masa depan." Kata Robbie tanpa nada tinggi ataupun penekanan. Dia berbicara dengan tenang dan tangannya yang terus memijit kaki Bella.
__ADS_1
"Jadi kamu tidur di kantor?" Tanya Bella yang mulai mendudukkan tubuhnya. Agaknya emosinya sudah mereda.
Bella memperhatikan wajah Robbie dari dekat, dan benar saja. Lelakinya terlihat sangat lelah. Tiba-tiba hatinya tergetar untuk menawarkan sesuatu.
"Sudah makan?" Tanyanya.
"Sudah, tubuhku hanya sangat letih. Tapi aku kangen sama kamu." Ucap Robbie dengan wajah menunduk dan tangan yang terus memijat kaki Bella. "Kamu pasti lelah ya, berjalan dari sini sampai ke halte bus setiap hari?"
Bella mengangguk sambil tersenyum, nyatanya mereka berdua sedang sama-sama lelah.
"Mau hot chocolate?" Tanya Bella yang kemudian mengusap pundak Robbie.
Robbie menatap sesaat jemari gendut yang hinggap di pundaknya itu dan tersenyum setelahnya. "Iya boleh." Ucapnya.
Bella berdiri dan membuatkan coklat panas untuk mereka. Coklat memang sangat efektif dalam mempengaruhi suasana hati seseorang. Dia bisa memberikan efek tenang dan santai.
Robbie menengguk coklat panasnya perlahan. Hatinya sangat senang sekali dengan situasi sekarang ini. Otaknya memberikan stimulus bagaimana simulasi rumah tangga harmonis sedang terjadi.
"Lelah kan?" Tanya Bella yang kemudian memijit pundak dan tengkuk Robbie.
"Aku tidak salah memilih calon istri. Tanganmu sungguh berbakat Chagi. Terimakasih!" Ucap Robbie.
Dia tidak marah seperti ini saja aku sudah sangat senang. Ini layaknya RETROUVAILLES, Aku merasa seolah sangat lama berpisah dan kini bertemu lagi, hingga luapan kasih sayangku begitu membeludak.
Satu tindakan kecil yang selalu membuat Bella tersenyum senang. Setiap apapun itu yang dia lakukan untuk Robbie, lelaki itu selalu ingat untuk ber Terimakasih, dan berkata MAAF.
Setelah menghabiskan coklat panasnya, Tanpa Bella sadari, Robbie tertidur dengan lelapnya menyandarkan kepalanya di sofa. Bella perlahan-lahan membaringkan lalu memakaikan selimut pada Robbie dan di akhiri dengan dia yang bermonolog.
"Aku menyukai sikap tanggung jawabmu. Aku suka dengan kelembutanmu. Kasihannya, kamu pasti lelah, sampai tertidur seperti ini." Kata Bella menatap teduh wajah Robbie.
"Selamat malam, calon imam. Istirahat ya."" Ucapnya yang di akhiri dengan kecupan di kening dan usapan lembutnya.
__ADS_1
Tapi siapa sangka, jika Robbie masih tersadar dan mendengarkan semua yang Bella katakan..
Baiklah sudah terlihat celah dan aku akan masuk ke dalamnya.