
...🍒🍒🍒...
...🍒🍒🍒...
...POV Bella....
Hanya karena demi aku dan karena aku. Dia sampai seperti itu. Ini tak masuk akal bukan? Bukankah sebaiknya dia mengutamakan kesehatannya?
Dan ini, dia malah mengabaikan semuanya dan kemari menghampiriku demi secuil janji yang tak berarti. Hanya sekedar menemaniku menonton film horor?
Oh Ayolah, seharusnya ini membuatku senang karena ada lelaki yang menjadikanku sebagai prioritasnya. Tapi.... aku justru menyesal karena tak peka dan sempat mengancam akan marah bila dia tak datang.
Hei, tunggu!
Apakah Dia, dia tadi yang mengirimkan pesan sebenarnya ingin mengatakan jika sedang ada masalah di jalan?
Aku begitu egois. Harusnya aku mendengarkan alasannya tadi. Karena aku yang sedang pms dan suka marah-marah dia menuruti semua keinginanku tanpa memperdulikan dirinya sendiri.
Dan sekarang melihatnya kesakitan seperti itu, ingin rasanya aku menjadi dokter yang bisa menyembuhkannya. Tapi apalah aku? Aku hanya mahasiswi jurusan sastra bahasa Jepang.
"Maaf ya Kak, seharusnya kau bilang kalau kau terkena halangan tadi. Jadi kau tak perlu kemari hanya untuk menonton film mengerikan ini." Ucapku penuh sesal padanya yang tengah menenggak minuman bersoda setelah makan kami selesai.
Dia tersenyum melihatku dan aku tau itu hanyalah sebuah alat untuk menutupi rasa sungkannya. " Tidak apa-apa. Begini juga kan aku sedang beristirahat. Malah ditemani olehmu. Begini saja aku sudah senang." Ucapnya yang malah terdengar miris di telingaku.
Begini saja sudah senang? Apa maksudnya?
Apa baginya aku sangat berharga begitu? sehingga kehadiranku mampu menggeser semua yang penting baginya termasuk obat dan peralatan medis?
Oh aku tak paham.
"Kesenanganmu sungguh sangat sederhana Pak Rama." Sahutku penuh penekanan pada kata Sederhana.
__ADS_1
Sederhana, sesuatu kata yang simple dan berarti tak banyak tingkah. Iya, kesenangannya sangat sederhana. Hanya bersamaku dan bahagia.
Eits ..., bersamaku dan bahagia. Apa itu mengindikasikan bahwa dia....
" Bantu pijat saja kakiku sebagai penebus rasa bersalahmu. Aku tau kau merasa bersalah karena memintaku untuk tetap datang malam ini."
benar sekali pernyataannya dan aku hanya bisa mengangguk tanpa mampu memungkirinya.
"Pijat saja sebelahnya." Ujarnya memerintahku dengan suara yang terbilang lembut.
"Apa Paman tau kau terluka begini?" Tanyaku padanya berharap jawabannya akan sedikit berbeda dari yang sebelumnya.
Dia menggeleng. "Apa faedahnya aku memberitahukan sakitku? Ayah pasti akan mengacuhkanku dan tak menggubris keadaanku. Dia membenci profesiku. Mau aku tertembak sekalipun dia tak akan perduli." Ucapnya terdengar putus asa dengan permasalahan internal di dalam keluarganya.
Memang, sedari kecil paman bersikap pilih kasih pada kak Rama. Bila dengan Kak Rama paman akan mudah marah dan terbawa emosi. Tapi bila dengan Jimmy paman terkesan lembut dan menuruti segala kemauan Jimmy.
"Ah, jangan begitu. Nanti juga akan berbaikan dengan sendirinya." Kataku tanpa tau sebab apa yang melatarbelakangi kebencian paman terhadap anak sulungnya. "Apa Kakak pernah tertembak?" Entah mengapa aku malah bertanya tentang hal yang menyakitkan untuk di kenang itu.
Dia mengangguk dan tertunduk. " Iya, pernah dan... Tak ada satupun anggota keluarga yang ku beri tahu. Aku melarang komandan untuk memberitahukannya."
"Benarkah? Maaf, aku malah menyinggungmu dan membahas tentang hal yang menyakitkan itu. Boleh aku lihat bekasnya?" Tanyaku yang penasaran. Siapa tau dia hanya berbohong untuk menarik perhatianku?
Dia membuka resleting hoodienya dan juga membuka kancing kemeja bajunya. Aku sempat tersipu pada awalnya. Jangan sampai begitu pemandangan indah tersaji di depan mata aku meneteskan air liurku di hadapannya. Itu sungguh tindakan yang memalukan.
"Ini." Dia menunjukkan lengannya yang masih terpasang perban.
Masih berbalut perban? itu tandanya belum lama bukan?
"I... ini? masih sakit?" Tanyaku padanya dengan mataku yang terfokus pada luka yang berbalut benda putih itu.
Dia mengangguk. Dia benar-benar lelaki yang pendiam dan dingin namun penuh perhatian dan kasih sayang pada sekelilingnya. Tapi mengapa justru tak ada yang sadar akan hal itu terutama paman? jujur aku tak mengerti.
"Iya. Ini belum lama. Tepatnya luka ini kudapatkan 4 hari sebelum aku pulang. Karena kecerobohan ku, bukanya sembuh dan mengering tapi malah terkena infeksi karena sering terkena air saat aku mandi."
__ADS_1
"Kenapa tak minta bantuanku?" Ucapku melupakan gender dan hubungan kami yang bukan sedarah membuatnya mengulum senyumnya.
lagi dia mengusap perlahan pucuk kepalaku, Memperlakukan aku dengan lembut dan penuh kasih. Seolah aku ini bayi yang butuh limpahan kasih sayang. Tapi aku suka, juga nyaman menerima setiap usapan dan perlakuan lembutnya.
" Kau itu perempuan dan aku lelaki. Tidak boleh seperti itu..." Dia mencubit gemas hidungku sambil tersenyum senang.
Dia sangat berbeda dengan Jimmy. Dia memperlakukanku layaknya wanita yang sesungguhnya. Tapi Jimmy? Ah entahlah untuk sesaat aku ingin menikmati rasa nyaman ini.
"Pijat!" Celetuknya sembari mengancingkan bajunya kembali.
"Oh iya." Aku kembali memijat kakinya. " Kenapa bisa tertembak?" Tanyaku.
Dia menunduk seolah mengingat sesuatu. " Saat itu terjadi kericuhan di perbatasan desa. Suasana begitu kisruh banyak korban berjatuhan. Aku kehilangan satu atasan dan teman baikku. Kami di kirim kembali pulang karena keadaan semakin tidak kondusif untuk kami yang terluka." Dia menghela nafasnya dalam-dalam.
" Maaf aku terlalu banyak bertanya. Aku turut prihatin." Ucapku yang kemudian memeluknya dengan hati-hati. Jujur, aku takut akan mengenai lukanya.
" Apa kau tau berapa luka tembak di lenganku?" Tanyanya dengan suara yang bergetar menahan kesedihannya.
Aku menggeleng masih memeluknya.
" Dua luka tembak dalam satu lengan dengan jarak yang hanya beberapa centi. Aku kesakitan Bell, Tapi aku tak punya tempat berbagi. Ayahku dia.... " Ucapnya terisak tertahan.
"Sudah Kak, jangan diteruskan. Bagi bersmaku saja. Aku akan menjadi pendengar terbaikmu." Ucapku menenagkan Dia lelaki bertubuh kekar yang ternyata memeiliki sisi rapuh di dalamnya.
Dia mengangguk menggerakkan kepalanya yang tepat berada di samping wajahku. Aku larut dalam kesedihannya. Aku tertular hawa sendu yang menyelimutinya. Tapi.... aku hanya ingin berbagi kenyamanan denganya. Jika dia selalu baik padaku, tidakkah aku bisa bersikap baik juga padanya dengan menjadi sandarannya di saat dia rapuh seperti ini?
Aku memeluknya erat dan hangat. Tanganku tak berhenti mengusap perlahan tengkuknya dan juga punggungnya. " Menangis lah jika ingin menangis. Kosongkan segala bebanmu." Kataku dengan lembut.
Lagi dan lagi dia hanya mengangguk membalas ku. Ku kira dia begitu tegar. Nyatanya? setiap manusia setegar apapun dia, pasti memiliki sisi ringkih di dalamnya.
"Tapi hati-hati nanti ingusmu mengenai bajuku." Kataku dan dia tertawa sambil menangis sekarang.
"Sudah kena." Katanya dengan jujur.
__ADS_1
Dan aku melirik pundakku yang basah akan air matanya. Tidak, tidak ada noda ingus disana. Dia hanya menyebar jenaka untuk merubah suasana dan kami tertawa bersama dengan air mata di masing-masing pipi kami. Tidak mau atau apapun itu, kami hanya berbagi kenyamanan saat ini.