Lebih Dari Pacar

Lebih Dari Pacar
~ in my dream Mas.


__ADS_3


"Bell, bell! Bangun. Kita sudah sampai.." Robbie membangunkan Bella dengan mengguncang lengannya perlahan.


Oh, aku dimana? A... aku...? Bukanya tadi di kamar ya? Tap.. tapi bajuku?


Bella menunduk mengamati penampilannya. Matanya kemudian tertuju mengamati Robbie, lalu jalanan dan juga jam yang menyala di mobil.


Ah, aku bermimpi...! Oh Astaga! bagaimana otakku bisa menjadi mesum begitu?? Aih.... malu sekali...


Bella menelan ludahnya perlahan. Dia telah terjatuh dalam lubang mimpi yang membuatnya terjerumus dalam adegan liar dengan seseorang yang nyatanya masih duduk anteng di belakang kemudi.


"Kamu mimpi apa tadi? sepertinya sangat seru." Ucap Robbie dengan mimik muka menggoda Bella.


Oh, Astaga Bella Amelia...! Jangan bilang kalau tadi kau mengigau... Ah.... sumpah.. malunya aku. Batu bertangkup telanlah aku...!


Bella hanya meringis menanggapi sindiran halus Robbie dengan pipinya yang sudah memerah seperti kepiting rebus. Hal yang paling dia takutkan adalah bila mulutnya tak sengaja mendes*h atau menyebutkan nama Robbie di dalam mimpinya. Ouh ..! bisa tamat riwayatnya jika hal ini benar terjadi.


"E... apa?" Dia berpura-pura tidak mendengarnya dan malah bertanya balik.


Robbie tertawa terbahak-bahak. "Kau juga tadi menyebut namaku. Katakan apa tadi yang kau mimpikan... wajahmu sampai merona seperti itu? Apakah itu sebuah mimpi yang membuatmu bahagia?"


Bella menunduk malu dan menyembunyikan wajahnya dalam scraft yang melingkar di lehernya. Mamp*s Jangan bilang kalau dia mendengarkan aku meracau tadi. Apa ini karena pengaruh obat ya, kepalaku jadi mengimajinasikan sesuatu yang tidak-tidak?


"Aku memimpikan kita bersama..." Jawabnya mencoba untuk membuat kebohongan baru.


"Kita bersama? Ngapain?" Tanya Robbie.


Ah.... sudahlah.... Tamatlah riwayatku!! Bella menggigit bibirnya.


CUP!


Satu kecupan mendarat di bibirnya yang sedang bergerak ragu.


"Jangan di gigit begitu, nanti berdarah. Sudah ayo masuk. Nenek sudah menunggu." Ujar Robbie yang kemudian membuka pintu dan turun.


Di balik punggungnya si pemilik hidung lancip itu terus saja mengulum senyumnya. Entah apa yang dia saksikan sewaktu Bella terlelap tadi. Yang jelas dia begitu senang dan menikmati.


Bella mulai mengikuti langkah kaki Robbie. Awalnya dia mengekor di belakangnya, tetapi karena terlalu lamban, Robbie menggendengnya dan keduanya berjalan beriringan.


Mata Bella masih begitu takjub menelusuri setiap sudutnya, memindai setiap ukiran yang bergambarkan naga.


"Bagus sekali Bie." Celetuknya tanpa sadar memuji rumah Robbie yang bergayakan culture Jepang.


Selalu di awali dengan senyuman saat dia hendak bicara. "Iya, Chagi... dan semua ini akan menjadi milikmu juga setelah kau menjadi Nyonya Robbie." Ucapnya yang terdengar begitu tulus.


"Ih, apaan sih! Kan belum tentu jodoh." Kata Bella.


"Jodoh ah! pokoknya harus jodoh! kalau tidak jodoh aku paksa." Ucap Robbie yang berapi-api membuat Bella terhenyak kaget dan tertawa setelahnya. Mana bisa manusia menentang kuasa Tuhannya?

__ADS_1


"Ish, jodoh kok maksa!" Cicit Bella.


"Harus, pokoknya Harus!" Lagi. Robbie menegaskan apa yang menjadi keinginannya.


Tak terasa karena perdebatan kecil itu, keduanya berjalan terus hingga sampai di teras luar yang langsung berhadapan dengan pohon sakura yang tertutup oleh salju. Setiap dahan dan rantingnya memutih karena timbunan salju.


"Ini sakura kan?" Bella terkagum melihatnya.


"Iya, pohon ini akan tampak cantik nanti di musim semi." Ucap Robbie.


"Wah .....!" Bella memandang takjub. Memang selama dia disana belum pernah yang namanya pergi jalan-jalan. Dia hanya berkutat dengan tugas dan juga rumah sakit.


Ayo masuk dan kita temui Nenek. Lagi-lagi Robbie menggandeng tangan Bella. Bella berusaha mengontrol hati dan pikirannya. Semenjak mimpinya tadi dia selalu merasakan sengatan yang berbeda kala Robbie menyentuhnya. Gelanyar aneh yang muncul dan membuatnya berfantasi di luar alur.


Mereka memasuki sebuah kamar, dan terasa hangat di dalamnya. Bella yang mengenakan jaket tebal mulai merasa kepanasan.


"Itu Nenek.." Robbie menunjuk seorang tua renta yang duduk di sebuah kursi roda dengan telinganya yang memakai alat pendengaran.


"Bie, kamu sudah pulang sayang?" Tanya sang Nenek dengan tangannya yang bergerak-gerak mencoba meraih dan mencari keberadaan cucunya.


Robbie mendekat lalu memeluk sang Nenek. " Robbie disini Nek." Ucapnya yang kemudian snag Nenek mencari arah sumber suara.


"Oh, kamu disini? Pandangan Nenek semakin hari semakin buruk saja. Kalau tidak dekat begini nenek tidak akan bisa melihatmu." Ucapnya yang menangkup wajah Robbie lalu meraba kedua pipinya.


Nenek tersenyum. " Sangat mirip dengan Ayahmu. Aku sangat senang bisa melihatmu sampai sebesar ini."


"Bie, mana janjimu... Kamu berjanji akan membawa Bella kemari. Nenek sangat ingin menemuinya dan melihat wajahnya."


Nenek mulai merabanya dan kemudian menangkup wajah Bella lalu memandangnya dengan sangat lekat. "Ya Tuhanku.....! Dia.... dia...." Nenek lalu menangis haru sambil memeluk Bella.


"Bie, dia sangat mirip dengan adikmu. dia Billa. Wajahnya, hidungnya, dagunya... Terimakasih Bie..." Nenek begitu bahagia. Tangis harunya mewakili kebahagiaannya.


"Bella, boleh Nenek mencium pipimu?" Tanyanya dengan nada bicara yang bergetar.


Bella mengangguk dan tak terasa dia juga ikut merasakan keharuan yang begitu mendalam. Gadis itu seolah hadir sebagai oase ditengah terik gurun pasir.


Nenek kemudian mencium kedua pipi Bella lalu kembali memeluknya dengan begitu eratnya.


"Terimakasih, telah memenuhi keinginanku yang terakhir. Sedari dulu, Nenek hanya belum bisa merelakan kepergian almarhumah adik Robbie. Dia meninggal tapi tak pernah aku melihatnya untuk yang terakhir kali. Dia pamit tapi tak pernah kembali. ..." Ujar Nenek Mirna yang sudah berderai air mata.


"Nek, jangan menangis. Ini Bella sudah ada disini." Bella kembali memeluk Nenek Mirna dan menenangkanya. Dia terbawa suasana.


Robbie pun yang hanya berdiri menatap keduanya yang saling berbagi kasih untuk pertama kali bertemu pun ikut menitikan air mata. Bella menatapnya sekilas dan kembali menatap wajah keriput yang masih memeluknya.


"Bie, kemarilah." Nenek melambai pada Robbie. Mengisyaratkan agar si hidung mancung itu ikut bergabung.


Robbie membaur dan mereka berpelukan bertiga dengan Robbie dan Bella yang berdiri memakai lututnya (Bertekuk lutut).


"Berjanjilah Pada Nenek, kalian akan selalu bersama." Ujar sang Nenek yang begitu sendu.

__ADS_1


"Aku ingin melihatmu bahagia bersama orang yang tepat Robbie. Aku bisa melihatnya, kau begitu mencintainya. Dan kau, Bella. Mengapa kau masih meragukan cucuku?"


Mengapa nenek bisa tahu? Aku sendiri tak bisa meraba perasaanku. Aku masih tenggelam dalam kebingungan.


"Nek, dia sudah tak meragukanku lagi. Lihat, dia memakai cincin yang kusiapkan sedari lama." Ucap Robbie meredam suasana. "Iyakan Chagiya?" Tanyanya guna meyakinkan sang Nenek.


Nenek tersenyum kala melihat Bella yang mengangguk sambil menyeka air matanya dan tangannya yang bergerak turun naik mengusap perlahan punggung Robbie seolah menguatkan.


"Chagiya.... panggilan itu merupakan panggilan sayang kakekmu dulu kepada Nenek. Nenek jadi teringat kenangan bersamanya." Ucap sang Nenek yang kemudian mengulum senyumnya di tengah tetesan air mata.


"Nenek merestui kalian berdua. Berjanjilah untuk tetap bersama dalam suka dan duka ya. Nenek akan sangat bahagia bila melihat cucu nenek hidup bahagia dengan wanita pilihannya." Ujar sang Nenek dengan nafasnya yang tiba-tiba tersengal.


"Nek sudah. Nenek bilang akan senang jika Bella kubawa kemari. Tapi mengapa malah menangis begini?" Robbie mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan kondisi sang Nenek.


"Berjanjilah dulu sama Nenek, kalian akan tetap bersama sampai tua kan?"


"Iya Nek, kami berjanji." Ucap Bella dengan senyuman manis yang mengiringi membuat Nenek Mirna menjadi Tersenyum bahagia mesti bulir air mata belum surut dari wajah keriputnya.


"Iya kan Chagi?" Bella menanyai Robbie yang menatap jauh kedalam mata sang Nenek yang menyimpan sesuatu.


"Ah, Nenek lelah sekali. Maklum lah, keadaan nenek sudah sulit di sembuhkan." Nenek mulai menghentikan tangisnya dan kini sedang berbincang ringan dengan Bella yang masih bertekuk lutut di hadapannya.


"Apa Nenek mau istirahat? Bella antar ya?" Ucap Bella.


"Iya, ayo Bie antarkan Nenek." Ucapnya meminta tolong.


Nenek Mirna sudah tidak bisa bergerak bebas lagi, untuk sekedar tidur saja, dia memerlukan bantuan dari orang-orang sekelilingnya. Biasanya hal ini akan dilakukan oleh perawat saat Robbie tidak di rumah.


Setelah menempatkan Nenek di atas ranjang, Nenek menggenggam tangan Robbie sebelum akhirnya terlelap.


Nenek menyatukan tangan Robbie dan Bella dalam sebuah genggaman Nyang di kunci oleh tangan keriput itu di atas dan bawahnya.


"Kalian berjanjilah akan terus bahagia dan bersama sampai tua." Ucap Nenek lagi.


Sementara Bella dan Robbie memilih mengangguk dan memberikan senyuman terbaiknya. Mereka tau di saat seperti ini pilihan terbaiknya adalah menuruti dan mengiyakan semua kemauan sang Nenek.


Rumah Robbie terasa begitu hangat, hingga Bella mulai kepanasan. Melihat itu, Robbie meminta pelayan untuk membelikan baju ganti untuk Bella.


Bella yang baru mandi dan selesai mengeringkan rambutnya kini tampak lebih segar dari sebelumnya. Bella yang mengira bahwa Robbie masih sibuk dengan pekerjaannya, dan meninggalkannya sendirian di ruang tamu kemudian memutuskan untuk melihat pemandangan sekitar melalui jendela besar.


Sat Bella tengah asik melamun, sepasang tangan melingkar di pinggangnya. Bella tanpa menoleh sudah dapat menebak itu siapa melalui aroma parfum maskulin yang menguar perlahan.


"Bie, jangan peluk begini. Malu nanti jika ada yang melihat."


"Tidak ada siapa-siapa. Juga Nenek masih tertidur."


"Bell, ceritakan apa tadi yang kamu mimpikan."


"Kenapa? aku hanya bermimpi kita bermain bersama." Bella kelabakan saat Robbie mulai mengulik tentang mimpi Bella yang agak terdengar menggelitik lantaran memakai soun effect yang lumayan membuat Robbie terpancing.

__ADS_1


"Bermain? bermain apa?" Robbie terus mengulik sementara yang di ulik sudah merah 0adam mukanya.


Adakah pembahasan lain? mengapa dia begitu penasaran akan mimpi mesumku tadi? apa aku mengatakan yang tidak-tidak saat bermimpi? Oh... dia sepertinya hanya ingin memancing ku untuk berterus terang. Tidak cukupkah itu hanya terjadi di dalam mimpiku saja? Tuhan, bisakah kau membantuku?


__ADS_2