
...💙💙💙💙💙...
"Apa yang kalian lakukan itu jahad!" Robbie mendramatisir keadaanya sendiri.
Dalam sebuah ruangan yang luas bernuansa abu abu, Dia duduk sendirian menatap gambar bakwan udang yang terlihat begitu menggiurkan.
"Bisa bisanya mereka memakan masakan dari calon istriku?" Robbie meremas geram ponselnya. "Genta!" Serunya kemudian memanggil sang sekretaris sekaligus teman curhatnya.
"Siap, apa pak?" Genta rupanya sedari tadi sudah standby di balik pintu kamar Robbie.
"Carikan aku bakwan udang yang enak, yang pakai dun bawang dan juga, udangnya harus sudah di kupas bersih."
Hhhhh...., kumat nih si Bos. Batin Genta menggerutu dalam hatinya.
Tapi walaupun menggerutu, Dia akan tetap melaksanakan perintah sang atasan. Segera dia bergegas menuju ke restoran terbaik. Semua dikelilinginya, samapi lelah dia tapi tak ada yang seperti Robbie sebutkan tadi. Jika pun ada yang di jual di luaran maka sudah pasti rasanya akan sangat berbeda dengan yang Nenek buat.
Berjam-jam pergi, Genta kembali dengan membawa beberapa bungkusan pesanan Robbie.
"Ini Pak Bos." Genta meletakkan bakwan pesanan Robbie di atas meja.
"Banyak sekali?" Cicit Robbie saat menilik hasil buruan Genta.
"Susah Bos, ini saya dapatkan di Rumah makan padang, yang ini saya beli di warteg, yang ini... agak mahal sih Bos, saya beli di restoran dan pesan langsung sama kokinya." Genta memperkenalkan asal muasal bakwan yang di bawanya.
"No!" Ucap Robbie setelah menjuri satu bakwan dari warteg. "Kenapa masih ada kulitnya?"
"Maaf Bos, daripada tidak ada." Jawab Genta yang menunduk takut kena semprot.
"Not bad!" Ucapnya saat memakan bakwan yang kedua hasil dari bei di Rm. Padang ternama. "Tapi ga ada daun bawangnya." Protesnya lagi saat kembali mengecap rasa dari bakwan yang di santapnya.
"Ini, berapa kamu beli?" Robbie menunjuk bakwan yang terlihat menggiurkan tersebut.
Robbie mulai menggigitnya dan mengunyahnya perlahan.
"Satunya, 60 ribu Pak bos."
"Dan kamu hanya beli 4?" Tanyanya dengan nada tak percaya.
"Maaf Pak bos, tapi bagi saya maka 4 bakwan sudah cukup kenyang." Genta menjabarkan alasannya.
"Itu kamu, beda denganku. kembali lagi dan beli 4 atau 5 juga boleh, perutku masih kuat menampung."
Tidak tahu saja bahwa atasannya ini masih bisa melahap seorang manusia hidup hidup. Sebenarnya Dia masih sangat kesal setelah melihat kiriman gambar dimana koki cantiknya justru memasak untuk orang lain.
Sementara itu di tempat lain.
Bella masih bercengkrama dengan sang Bunda dia menceritakan segalanya tentang bagaimana nasib sia menimpanya hingga bagaimana obbie menawarkan pekerjaan sambilan di rumahnya.
Tidak ada satu pu hal yang Bella rahasiakan kepada keda orang tuanya. Semuanya ia ceritakan hanya saja selalu ada pengecualian dalan setiap urusan. Bella merahasiakan soal urusan hati. Dia masih terlampau malu untuk membahas itu. Baginya belum saatnya untuk terbuka mengenai cinta.
Bella juga bercerita tentang Robbie yang sedang berada di Indonesia. Dengan antusiasnya kedua orang tua Bella sangat bersemangat untuk bertemu Robbie. Mereka ingin mengucapkan banyak terimakasih karena telah banyak membantu anak semata wayangnya.
Tapi yang lumrah terjadi adalah orang tua ingin menitipkan barang barang tertentu untuk anaknya dan menghemat bagasi pesawat.
Ketika sedang berbincang tersebut, ada saja orang yang tidak sabaran menyela diantaranya. Siapa lagi jik bukan Robbie? Dia sangat tidak sabaran dan sudah mengerang kesal sebab nomor Bella sedang sibuk melakukan panggilan dengan nomor lain.
"Awas saja kalau sampai yang di telfon itu Jimmy atau Rama." Ketusnya berbicara dengan mata yang memicing.
Panggilan berakhir juga dengan di tutup sebuah kontak nomor yang Bella kirimkan pada Bundanya.
__ADS_1
"Hallo!" Ucap bella menjawab panggilan dari si kuda poni.
"Kenapa begitu suaranya? Tidak suka aku menelfon?"
"Bukan begitu Bie, aku tdi baru saja selesai ngobrol sama Bunda. Dia cemas denganku kenapa nomorku sempat tidak bisa di hubungi."
"Oh, aku kira...." Ucap Robbie yang lagi lag salah tingkah dan menunjukkan cengiran kudanya.
'Kamu kira apa? aku pacaran begitu di telfon? " Bella menggeleng sambil tersenyum tipis. Dia masih membersihkan wajahnya dengan makeup remover.
"Aku bukan tipe wanita yang mudah membuka hati Bie, kamu tahu itu. Aku takut kecewa, aku takut ptah hati lagi..."
Perkataan Bella yang teramat jujur tanpa sentuhan membuat hati Robbie menjadi hancur lebur.
Apa ini berarti aku sudah tidak memiliki kesempatan sama sekali? Batin Robbie galau.
"Tapi Bie, aku berkata begini tidak bermaksud membuatmu kecewa. Justru akau ingin kamu tahu dari awal bahwa aku masih berusaha untuk menyembuhkan lukaku sendiri."
Bella menjelaskan semuanya pada Robbie. Terlihat dalam video call air muka Robbie berubah menjadi kusut dan layu.
"Jangan begitu mukanya, Aku jadi tidak enak hati denganmu." Kat Bella yang telah selesai dengan urusan makeupnya.
"Dapat salam tadi dari Ayah dan Bunda." Kata Bella yang ingi mengubah topik pembicaraan.
"Salam?" Ulang Robbie dengan raut wajah yang kembali ceria. satu awalan bagus bukan? jik menginginkan buahnya maka panjat pohonnya. Begitu istilahnya kira kira.
"Mereka bilang ingin bertemu denganmu."
"Uhuk...! Uhuk....!" Robbie tersedak ludahnya sendiri. "Maksudmu mereka ingi menemuiku begitu?" Tanya Robbie yang begitu antusias dan mendapatkan anggukan dari Bella.
"Iya kuda poni, Mereka ingin bertemu dengan pemuda tampan dan baik hati yang telah membantu anaknya ini."
Mendengarkan sanjungan Bella membuat Robbie menjadi urung untuk marah ataupun berkeluh kesah. Bahkan Dia sampai melupakan persoalan Bakwan udang tadi.
Bella tertawa melihat reaksi Robbie yang begitu berlebihan menurutnya. Robbie sampai lupa akan kesedihannya setelah kepergian sang Nenek.
"Mereka bukan pemilih dan pasti akan sangat senang kan pemberianmu walaupun hanya berupa jeruk. Panggil Om dan Tante saja." Jawab Bella yang sembari berjalan untu menggambil minum.
"Oh, aki kira ini momen yang baik untuk memperkenalkan diri sebagai calon suamimu kelak kan?"
"Uhuk...! Uhuk....!" Bella tersedak minumnya. "Bie, jangan terlalu jauh menghayal, kita tidak pernah tahu kan jodoh ita sapa nantinya?"
"Jodohku maunya ku dirimu~~~~ " Robbie menyanyikan sepenggal syair lagu yang sempat tenar pada masanya.
"Kalau bukan?" Tandas Bella yang seolah menolak jika harus bersama dengan Robbie.
"Harus, pokoknya harus kamu!"
"Idih maksa, emangnya punya kenalan orang dalem?" Celetuk Bella dengan mulut yang mencibik meledek Robbie.
"Punya lah, Nih amplopnya sudah saya siapkan. Kamu siap siap aja, merawat diri, siapa tau sebulan lagi kita merrid?"
"Hahahaha! Bie, Bie, " Bella menggeleng sambil tertawa renyah.
Pernahkah kalian mendengar istilah UCAPAN ADALAH DOA?
Panggilan video call berakhir dengan tawa keduanya. siapa yang tahu saat panggilan tersebut berlangsung Bella sudah menolak panggilan rama selama beberapa kali?
Bella sangat siap untuk move on, sedangkan Rama siap untuk kembali mengejarnya. Masih akan ada kemungkinan dalam setiap liku perjalan hidup manusia. Kita itu mahluk yang buta akan arah takdir.
__ADS_1
Di belahan Bumi lain.
"Lembur lagi pak? Apa saya juga belum boleh pulang?" Tanya Tamara sang sekretaris Rama.
"Siapa yang suruh kamu pulang?" Ketus Rama menyahut.
Kalau Bapak mau begadang sendiri sih terserah. Cuman gara gara Bapak selalu ajak saya begadang begini, ini kantung mata saya sudah seperti kantung doraemon.
Tamara hanya mampu melayangkan protes dalam hatinya. Dia lalu kembali ke meja kerjanya yang brad di depan ruangan Rama.
"Baiklah Pak, kalau begitu saya akan kembali ke meja saya." Pamitnya.
Semenjak kepulangannya yang terakhir, Rama menjadi semakin kacau dan uring uringan. Dia kerap kerja lembur tapi tak mau sendirian. Dia selalu meminta Tamara untuk lembur dengannya.
Ponsel Tamara berdering dan itu merupakan panggilan dari baby sitter yang menjaga bayinya.
"Hallo Bu, kenapa belum pulang?" Taya si baby sitter.
"Maaf Mbak, saya gak terlambat. Atasan meminta saya untuk embur." Jawab Tmara.
"Tapi Bu, bagaimana? Ini susunya Leon sudah habis dan dia masih rewel juga. Bu, apa tidak bisa minta cuti? kasihan leon butuh Ibu."
"Baik Mbak saya akan pulang sekarang juga. Saya akan minta ijin."
Selesai dengan panggilannya, Tamara kembali masuk ke dalam ruangan Rama.
"Pak, Saya mau minta ijin pula duluan. Bayi saya susunya habis." Kata Tamara yang sukses membuat Ram melongo.
"Bayi katamu?" Tanyanya tak percaya.
Rama yang tidak pernah tau secara keseluruhan tentang data diri sekretarisnya ini. Yang Dia tahu, Tamara adalah orang yang kompeten dan disiplin dalam bidangnya.
"Kamu bohong ya? kemarin saya periksa, kamu tidak ada cuti bersalin?" Rama menaruh curiga.
"Pak, bisa saya jelaskan lin kali? Saya harus seger pulang, Bayi saya sakit dan ASI simpanan saya habis di rumah. Anak saya mempunyai alergi susu pak, Saya harus segera pulang, ni sudah lebih dua jam dari jam lembur saya." Terang Tamara menyebutkan secara rinci semua alasannya.
Rama terdiam dan kemudian berdiri lalu menyambar kunci mobilnya.
"Baiklah ayo saya antar untuk memeriksa kebenarannya."
"Terserah bapak." Kata Tamara yang tak mau ambil pusing. Yang ada di kepalanya saat ini hanyalah bayangan anaknya yang menangis dan kehausan.
Selama dalam perjalanan, terlihat sekali betapa cemasnya Tamara. Dia sampai menggigiti kuku kukunya.
Rama sesekali mencuri pandang dan ikut merasakan hawa kecemasan pada diri Tamara.
Sampailah mereka di sebuah rumah yang berada paling ujung dan mepet dengan persawahan pada gang kecil di pinggiran kota. Rama pikir, paling tidak rumah Tamara akan berada di suatu apartemen kelas menengah dan bukan seperti ini.
"Mbak, sudah dari tadi dia menangis?" Tanya Tamara yang tak langsung menggendong si buah hati, melainkan dia hanya berdiri beberapa meter dari si pengasuh bayi.
"Lumayan Bu, dan panasnya semakin naik." Kata si baby sitter.
"Ah, sebentar Mbak saya bersih bersih da ganti baju dulu ya. setelah in kita ke bidan untuk memerikskannya." terlihat sangat jelas kabut kekhawatiran di wajah Tamara dan Rama hanya bisa tertegun melihat interaksi antar ibu dan anak tersebut.
"Pak, bisa bantu gendong dia sebentar? Saya juga akan mempersiapkan perlengkapannya jik nanti ad apa apa."
Pengalaman pertama menggendong bayi, seperti apa rasanya?
Rama menjadi sangat kaku seperti robot. Tapi anehnya Leon bayi Tamara malah tertidur di gendongan Rama.
__ADS_1
Kamu mengantuk, setelah lelah memeras air mata? Lucu sekali, sama sepertiku. Rama mengulum senyumnya dan memberanikan diri untuk mencium bayi yang baru berusia dua bulan itu.
Harum. Hei tampan, siapa namamu sayang? Batin Rama kembali bertanya meski hanya dalam hatinya.