Lebih Dari Pacar

Lebih Dari Pacar
Kemarahannya.


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


...POV Bella....


Aku sama sekali tidak mengerti akan perubahan sikap Kak Rama Padaku. Dalam semalam, dia bisa begitu berbeda. Apakah ini merupakan kesalahanku juga karena berkata yang sesungguhnya tentang adiknya?


Oh, Betapa naifnya aku. Aku berpikir dia akan melindungiku dan menjauhkan aku dari adiknya. Tapi ada satu hal yang kulupakan disini. Mereka itu bertalian darah. Tak ada pertalian yang lebih kuat daripada itu. Disini aku hanyalah orang luar yang tak pantas turut campur dalam segala urusan mereka.


Bahkan mungkin saja baginya, kejujuran ku tempo hari adalah sebuah adu domba baginya. Hemh .……, Harusnya aku sadar itu.


"Hari ini, ada test." Aku membaca email yang masuk pada ponselku.


"Ah, ada email yang belum kubaca. Apa ini?" Aku melupakan satu buah email yang masuk.


Perlahan aku membacanya dengan sangat teliti dan hati-hati. Baris demi baris kubaca.


"Formulir pertukaran Mahasiswa." Aku menggumam setelah membacanya.


Ini sudah satu bulan dari kejadian itu. Kak Rama juga sama sekali belum memberikan kabar. Entah sedang apa Dan dimana dia, aku sama sekali tidak tahu.


Dan Jimmy, dia malah dengan sengaja pindah ke kampus ku. Memang, uang bisa menaklukkan segalanya. Aku merasa lelah dengan sikap Jimmy yang kembali seperti dulu saat kita SMA. Dia yang selalu menempel padaku.


"Aku harus bagaimana?" Aku bermonolog menatap keluar jendela.


Kamarku kini tak berada di lantai atas lagi. Aku sudah berpindah ke tempat penyimpanan yang kusulap menjadi kamarku. Itu semua kulakukan demi pacarku. Agar dia tak marah lagi. Tapi…, sampai sekarang pun masih belum bisa aku memberitahunya.


Terus saja Jimmy menghampiriku sebelum berangkat ke kampus. Dia tak menyerah dan selalu melakukan apapun semaunya. Andai saja aku ini punya uang lebih, aku sudah memilih pergi.


"Apa ku ambil saja tawaran pertukaran Mahasiswa ini? Aku sendiri tak memiliki kejelasan akan hubunganku dengan Rama. Dia menghilang seolah tertelan bumi." Aku bermonolog sembari mulai menyiapkan keperluanku.


Ting tung!


Suara bel pintu itu khas sekali. Jimmy menekannya sambil memainkan bel.


"Iya sabar!" Sahutku yang berjalan keluar dan mengunci pintu.


"Jim, bisa tidak. Jangan jemput atau antarkan aku pulang?"

__ADS_1


" Kenapa sayang?" Tanyanya.


Ah ini satu kata yang ku benci yang meluncur dari mulutnya dan menjadi kebiasaannya sehari-hari. SAYANG kata itu seperti sebuah kata keramat yang membuatku mendapatkan penilaian miring dari anak-anak di kampus.


Mereka berfikir aku ini bukan perempuan baik-baik karena dengan sengaja memacari Kakak dan adik sekaligus. Oh, Tuhan...! Tolonglah aku.


"Jangan panggil Sayang Jim. Kita cuma berteman." Kataku padanya yang terus saja menyunggingkan senyuman manis setelah memasangkan sabuk pengaman padaku. Padahal aku bisa memasangnya sendiri. Tapi, memang perlakuannya berlebihan begini Always.


"Kita, partner Sayang." Jawabnya dengan mengusap rambutku perlahan.


Sikapnya berubah begitu lembut padaku tepat setelah kecelakaan dan itu dan Rama justru menghilang semenjak malam itu. Ah ... apa ini? Aku sungguh tak mengerti.


Bunda suci bilang Kak Rama pergi untuk bertugas. Lalu aku bisa apa ketika dia menghindari ku?


"Jim! hentikan atau aku turun sekarang!" Bentakku padanya. Aku benar-benar marah sekarang. Dia selalu saja bersikap semaunya sendiri.


Dia tersenyum lebih lembut lagi padaku. "Iya iya, jangan marah Bell. Aku hanya bercanda. Jangan terlalu serius lah!" Ujarnya dengan santai.


Akh.………! Aku muak! Selalu saja bertameng BERCANDA untuk menghindari kemarahanku. Bahkan penghinaan pun akan menjadi baik-baik saja jika di ujungnya menggunakan kata BERCANDA.


"Aku turun saja ya? Aku akan mencari ojek saja." Kataku yang akhirnya mulai berbicara dengannya.


Dia menatapku datar tanpa ekspresi lalu membuka sabuk pengaman ku. " Iya." singkat jawabannya.


Tumben? biasanya dia akan melarangku dan menggunakan banyak alasan. Tapi sekarang? kenapa begitu mudahnya.


Aku tak mau ambil pusing. Aku memilih untuk turun dan mencari ojek online. Tak lama aku pun menemukannya. Beruntunglah aku sebab ada tukang ojek yang baru saja menurunkan penumpangnya.


Aku harus cepat sebelum Jimmy sampai di tempat. Aku harus segera mengisi formulir pertukaran Mahasiswa tersebut. Ini keputusanku.


Disini aku tak merasakan ketenangan lagi. Banyak aspek yang mengusikku dan kurasa ini Waktuku untuk pergi. Aku dan Kak Rama, aku merasa dia mencampakkan ku. Mungkin benar kata Ayu, jika tak baik berada di antara kedua saudara yang berseteru.


Sesampainya di kampus, aku segera menuju ke kantor administrasi. Aku mengurus semuanya, tak semua yang mendapatkan beasiswa mendapatkan penawaran ini. Jadi aku pikir hal ini akan baik untukku.


Negara yang ku pilih adalah Jepang. Jurusan sastra Jepang, aku mendapatkan rekomendasi khusus dari kampus. Aku rasa ini merupakan hal baik bagiku. Walaupun sebenarnya ini hanyalah pelarianku dari rasa tak nyaman.


Aku merahasiakan ini dari semuanya termasuk Ayu, Mimi dan juga Jimmy. Untuk orang tuaku, aku yakin mereka akan sangat senang dengan hal ini. Ini sudah lama mereka rencanakan. Mereka terus memompa semangatku untuk meraih nilai terbaik dari setiap akademik. Agar bisa mendapatkan rekomendasi pertukaran Mahasiswa dan beasiswa di Jepang.

__ADS_1


Ini saatnya bagiku untuk membuat keduanya merasa bangga. Jujur ku akui, apa yang ku alami saat ini malah membuat semangatku drop. Aku benar-benar terpuruk.


"Ayah, Bunda, Maaf sebelumnya aku hanya membuang waktu untuk cinta. Seharusnya aku hanya fokus pada akademik saja." Aku menggumam menatap foto kami saat bersama dalam suatu acara.


...POV Author...


Rama, dia pergi menghilang. Entahlah karena apa. Tetapi kepergiannya membuat Bella terombang-ambing. Bella merasa di gantungkan dan ketidakjelasan hubungan mereka membuat Bella tidak bisa fokus dalam belajar.


Di suatu tempat.


Ibu dan anak sedang berkomunikasi dengan sambungan telepon seluler.


"Ram, apa kamu masih saja menghindari Bella? Ada apa? bisa kamu jelaskan pada Bunda?"


"Bun, Rama mau jujur. Sebenarnya, Bella dan Rama berpacaran."


"Iyakah? Wah, anak Bunda sudah dewasa rupanya."


"Tapi Bun, Rama menjadi ragu akan hubungan Rama.


" Ragu kenapa? Bella itu gadis yang baik. Dia anak rumahan dan juga pintar. Adikmu saja kalah jauh nilainya dari Bella. Lalu, apa yang membuatmu Ragu sayang?"


"Em... Rama Tau kalau Jimmy juga menaruh hati pada Bella. Dan bunda tau bagaimana Ayah dan Jimmy bukan? Keinginanku pasti akan di abaikan. dan Ayah pasti akan membela Jimmy mati-matian."


"Tapi, Ram. Untuk hal ini, ada sesuatu yang kamu tidak tahu. Kami sebenarnya sudah menjodohkanmu dengan Bella saat kalian kecil."


"Karena Jimmy menolaknya kan? dan karena dulu Bella itu jelek dan gendut. Tapi sekarang? Jimmy begitu menginginkan Bella. Aku sudah mengetahui hal ini Bun."


"Entahlah Bun, aku sendiri tak yakin perasaanku ini benarlah cinta atau hanya rasa ingin bersaing dan merusak kebahagiaan adikku sendiri."


"Berhentilah saling menyakiti sayang. Kalian sudah dewasa dan kalian adalah saudara."


"Tapi Rama sudah lelah jika dipaksa untuk terus mengalah Bun."


"Bunda tak memiliki cara lagi untuk meredam amarah dan melerai kalian. Selalu saja seperti ini. Terserah pada kalian saja. Bunda tidak akan ikut campur perihal perjodohan itu."


TUT…! sambungan telepon seluler terputus.

__ADS_1


__ADS_2