Lebih Dari Pacar

Lebih Dari Pacar
72. final


__ADS_3

...~•~...



...~•~...


"Maaf pak, rapat hari ini dengan investor baru akan segera di gelar 15 menit lagi." Kata sekertaris Jimmy.


"Baik, siapkan semuanya. Jangan lupa jamuan makan yang terbaik." Ia menimpali dengan mata yang tetap fokus pada layar tab nya.


Sekertaris mengangguk dan segera menjalankan perintah. Sementara itu Jimmy, ia kembali duduk dan menyiapkan dokumen yang di butuhkan untuk menunjang persentasi.


"Ok, semuanya sudah bagus." Gumamnya menilai segala sesuatu yang telah ia persiapkan.


Aku tak menyangka jika untuk mengobati rasa sakitku aku akan menjadi hectic begini. Bella, sudah sepantasnya kamu berbahagia meski penyesalan teramat membebaniku. Seharusnya aku sadar, jika sedari dulu aku menyimpan rasa yang berbeda untukmu.


"Pak, mari...! kita harus segera menyambut kedatangan investor kita." Ucap si sekretaris dengan berdiri di ambang pintu dan menunggu Jimmy untuk bangkit.


"Ya." Jimmy bangkit dan mengaitkan kancing jasnya. ia berjalan dengan gagah dan mendahului si sekretaris.


Di sebuah ruangan.


"Ayah, Bunda sama sekali tidak menyangka jika Jimmy bisa berubah seperti ini. Dia sekarang bisa bertanggungjawab dengan dirinya sendiri dan juga perusahaan ini." Ucap seorang wanita yang mulai merasa bisa mempercayai putranya.


"Em..." Ayah Dandi mengangguk. "Sudah seharusnya dia menjadi dewasa. Banyak luka dan rasa sakit yang sejatinya menuntun manusia untuk menjadi yang lebih baik."


"Tapi aku masih tidak paham dengan caramu yang ingin Rama keluar dari profesi lamanya. Bukankah semua profesi itu sama saja, punya kelebihan dan juga resikonya masing-masing?"


"Iya, semuanya mempunyai resiko. Tapi ... sebenarnya aku tidak bisa jauh dari anak anakku. Aku tidak ingin salah satu dari mereka meninggalkanku. Itu akan teramat menyakitkan Bun." Lelaki paruh baya itu berbicara dengan kabut gundah yang membuat wajahnya tertunduk lesu.


Terulur mengusap perlahan dan memeluknya dari belakang. "Iya, aku sekarang paham akan kemauan dan cara berpikirmu Yah. Maaf aku pernah salah sangka akan kemauanmu."


Di apartemen Rama.


"Sayang, jangan nanti sakit tangannya." Rama mengingatkan buah hatinya agar tak bermain pintu.


"Kak, jangan mainan pintu ....!" Seru Tamara yang berjalan dengan perut buncitnya dengan membawakan sarapan pagi untuk suaminya Rama.


"Iya Papa." Celoteh Leon si bocah kecil yang kini sudah berumur 4 tahun.


"Nah, begitu. Duduk manis dan makan sama Papa." Rama mengusap lembut rambut Leon.


"Mama mam sama dedek sini." Leon melambaikan tangannya mengarahkan sang Mama untuk duduk di sampingnya.


"Iya sayang." Tamara duduk meski dengan susah payah dan perutnya yang terasa begah.


Rama menatap istrinya, ia juga ikut menghela nafasnya. "Masih terasa kontraksi?" Tanyanya sambil mengusap pinggang bagian belakang istrinya.

__ADS_1


"Huft....!" Tamara menghela nafasnya dalam-dalam, dia mengangguk. "Ia." Jawabnya singkat.


"Ayo makan, setelah ini kita antar Leon ke sekolah dan menuju ke Rumah sakit." Kata Rama.


"Rumah sakit? Leon boleh ikut?" Bocah kecil itu membulatkan matanya berharap Papa dan Mamanya akan memberikan ijin.


"Tidak, Kakak harus sekolah. Mama, biar Papa yang antar. Kakak kan mau jadi polisi?"


"Iya, Leon mau jadi polisi ganteng kayak Papa." Celoteh si anak kecil itu yang mengidolakan sosok Papa tirinya yang masih menyimpan foto lamanya saat memakai seragam abdi negara.


"Kalau mau jadi polisi harus rajin sekolahnya, harus nurut sama Papa sama Mama, harus pin...?"


"Ter! Yeay... Leon mau jadi polisi." Leon bertepuk tangan dengan wajah penuh semangat.


"Iya, .Papa dukung kamu Nak." Ucap Rama.


"Apa tidak ada yang lain yang tidak beresiko saja Mas? Polisi loh..." Celetuk Tamara yang tak merelakan jika anaknya menjadi polisi.


Rama terkekeh. "Kamu ini sama dengan Ayah. Tidak mau jauh dari anak. Leon kan masih kecil sayang, semuanya masih bisa berubah, jangan terlalu di anggap serius." Ucapnya memberikan nasihat kepada sang istri.


Selesai makan dan mereka semua berangkat mengantarkan Leon dan setelahnya mereka menuju ke Rumah sakit.


4 tahun berlalu. Rama dan Tamara menikah setelah mengantongi restu dari Ayah dan Bunda. Kini keduanya tengah di berikan amanah berupa bayi perempuan yang siap di lahirkan kedunia. Sementara itu, Jimmy, dia telah selesai dengan kasusnya dengan Eva.


Jimmy masih membujang dan jadi gila kerja. Sementara Eva harus mendekam di penjara.


Di tempat yang lain, Bella dan Robbie.


Niat kedua pasangan ini yang ingin menunda momongan berhasil, keduanya memulai program kehamilan tepat setelah wisuda di gelar dan kini Bella tengah menunggu proses persalinan secara normal berlangsung.


"Ada aku Chagi, aku akan menemanimu." Ucap Robbie.


"Ada kamu sih, cuman yang merasakan sakitnya tetap aku kan?"


Robbie menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Iya sih, tapi kan aku siap siaga buat kamu Chagi." Ujarnya yang tak ingin sang istri semakin menjadi dengan kelakuan absurd nya selama hamil.


"Auh.. ! sakit Bie...!" Bella meremas lengan sang suami.


Robbie menjadi gugup dan panik. Namun, Dia tetap bersikap seolah Dia bisa mengatasi kepanikan tersebut. "Tenang sayang, atur nafasnya, tarik nafas..... Buang. Tarik, buang." Robbie memberikan interupsi layaknya saat berada dalam kelas kehamilan.


"Kata Bu Dokter kamu semuanya baik kan sayang, jadi harus semangat dan optimis!" Robbie mengepalkan tangannya layaknya semangat yang membara.


Keduanya masih berjalan jalan di koridor kamar bersalin sesuai dengan anjuran Dokter. Hingga keduanya bertemu dengan seseorang dari kisah masa lalunya.


"Kak Rama?" Celetuk Bella dengan mata yang membulat.


"Bella?" Rama menyahut.

__ADS_1


"Apa kabar?" Tanya Rama dengan tangan yang terulur ingin menjabat.


Bella tersenyum dan seketika lupa akan rasa sakitnya. "Aku baik. Di .. dia istrimu?" Bella menatap Tamara.


"Iyalah Dia istriku. Kamu tidak lihat akibat perbuatanku padanya? Kamu apa kabar Bie?" Tanya Rama pada Robbie.


Robbie tersenyum dan menerima uluran tangan Rama. " Aku baik Ram."


"Mereka siapa?" Tamara mulai bersuara.


"Kenalkan, aku adalah anak dari tetangga Bunda suci yang juga anak dari sahabatnya Ayah Dandi." Kata Bella tanpa menyebutkan jika dia adalah mantan pacar Rama.


Tamara hanya mengangguk dan tersenyum. Hingga keduanya tiba-tiba meringis kesakitan secara bersamaan.


"Kau sudah mau melahirkan Chagi." Robbie dengan gugup membawa Bella masuk kedalam kamar rawatnya.


"Sayang, ayo kita ke kamar saja dan tunggu Dokter sampai." Kata Rama yang juga membawa Tamara masuk kedalam kamarnya.


...~•~...


"Wah, cucu Ayah sudah lahir." Ayah Fauzi bersorak Sorai saat berjalan menyusuri lorong.


"Santai Ayah, jangan seperti itu." Bunda Ria lebih tenang.


Hinga Saat mereka bertemu dengan tetangganya.


"Dandi!" Seru Bunda Ria dengan gaya bicaranya yang tomboi.


"Wah, Ria!" Keduanya berjabat tangan dan berhenti di depan kamar rawat ibu dan anak.


"Jenguk siapa kesini?" Tanya Ayah Dandi.


"Cucu dong!" Sahut Bunda Ria dengan sombongnya.


Ayah Dandi mencibirkan mulutnya. " Halah, jangan sombong kamu Ya! Aku juga punya cucu. Fresh from the oven." Ujarnya berbangga hati.


"Ayah!" Seru suara yang bersamaan dari dua orang yang berbeda yang sama-sama tengah membuka pintu.


Mereka semua saling diam dan mengamati satu sama lain. "Menantumu kok ada disini Ya?" Ayah Dandi mulai penasaran.


"Hahaha, kaget ya? kamu kira tadi aku main main waktu bilang jenguk cucu? Menantuku pulang membawa Bella. Mereka ingin melahirkan di negaranya."


"Ouh! sungguh takdir yang bersahabat dengan kebetulan. Kalian benar-benar beruntung menerima cucu di hari yang sama." Kata Bunda Suci dengan wajahnya yang berbinar senang.


"Anakmu laki laki atau perempuan Ram?" Tanya Ayah Fauzi.


"Perempuan Om." Jawab Rama.

__ADS_1


"Ayah Fauzi dan Bunda Ria membelalakkan matanya dan kegirangan bersama. "Wah.... cucu kami laki laki. Jadi bisa kita jodohkan?" Serunya.


Rama dan Robbie hanya bisa pasrah menangani euforia keempat paruh baya yang tengah bersorak gembira. "Benarkah? wah kebetulan cucuku Perempuan. Fix kita jodohkan mereka."Kata Ayah Dandi Final.


__ADS_2