Lebih Dari Pacar

Lebih Dari Pacar
9. You make me feel better.


__ADS_3

...🌿🌿🌻🌿🌿...



...🌿🌿🌻🌿🌿...


...POV Bella. ...


Dia menolakku mentah-mentah dan aku masih saja mengharapkannya?


Oh, apa dunia berhenti berputar?


Mengapa mata dan otakku selalu saja tertuju padanya?


Inilah aku si bodoh yang hanya bisa mengharapkannya dalam hayal dan nyata.


Cih, rendahnya aku ini.


Setelah hari itu, aku mengapa aku jadi mengurung diri di kamar?


Hua ..! Hua ....! Hua...


Hemft .....! "Oh, ingusku banyak sekali." Aku menggumam melihat banyaknya ingusku di tisu.


"Aku...siapa? aku dimana?" Oh tidak aku berbicara seorang diri.


Bunda aku sudah gila..


"Bell? Bella!!" Kudengar suara itu menggema memanggil namaku. Ah iya itu ibu peri alias Bundaku.


"Iya Bun?" Sahutku lirih dan bersandar di pintu.


"Keluar! makan dulu Nak. Bunda masak makanan kesukaanmu nih. Soto ayam plus ati ampela." Katanya yang seketika membuatku hampir meneteskan air liurku dan membuat pikiranku tenggelam dalam kuah soto.


Argh!! tidak, tidak, tidak!! Aku harus konsisten dalam misi sakit hati ini. Batinku teguh menguatkan diri. " Semangat!!" Kataku menyemangati diriku sendiri.


"Tidak Bun!! aku diet!!" Seruku.


"Kamu bukan diet tapi mogok makan Nak. Sudah ayo makan!!" Bujuknnya lagi. Oh ayolah ibu peri, tidak bisakah kau mengerti betapa aku si gendud ini ingin merubah penampilan secara drastis seperti bintang iklan?


Kudengar ada suara yang lain. Aku lalu menampelkan telingaku di daun telinga. Lamat-lamat aku mendengar suara Jimmy juga disana.


Hahahaha!! kalian bersekongkol rupanya? Cih! aku tidak akan tertipu!!


"Tidak ibu peri, terimakasih!!" Seruku membalas tawarannya.

__ADS_1


...POV Author....


Di dapur rumah Bella.


" Ada apa? kalian bertengkar lagi?" Tanya bunda Ria yang lalu mengusap pundak Jimmy.


Jimmy, dia lebih senang berada di rumah Bella. baginya rumah ini sudah seperti rumah utama.


"Bun, hanya salah paham. biasa lah dia merajuk." Jawab Jimmy dengan santainya dan mulutnya sudah sibuk mengunyah masakan Bunda Ria yang tak jadi disentuh Bella.


KRIUK...!


KRIUK....!


Renyah suara kerupuk beradu dengan gigi membuat suasana agak sedikit berisik. " Dia itu cemburu Bun karena aku punya pacagh..." Katanya dengan mulut yang penuh makanan.


"Aduh... aduh.... anak tampan bunda rupanya sudah besar." Bunda ria mencubit gemas pipi Jimmy.


Bagi Bunda Ria. Jimmy sudah seperti anaknya sendiri. Sedari kecil selalu menyanding membuatnya memiliki tali ikatan spesial dengan Jimmy layaknya antara orang tua dan anak kandungnya.


"Tunggu!! apa tadi katamu? cemburu?" Bunda Ria mengerutkan keningnya tak mengerti kemana arah pembicaraan Jimmy.


Jimmy mengangguk beberapa kali lalu menelan makanan yang ada di mulutnya dan mulai berbicara. " Iya dia sedang cemburu denganku karena aku punya pacar baru. mungkin dia hanya merasa punya saingan dan dia tak rela berbagi dengan yang lain." jatuh Jimmy dengan santainya.


"Oh aku mengerti mungkin dia hanya kesal saja karena waktumu sekarang sudah terbagi tidak sepenuhnya lagi dengannya nya." Ucap Bunda Ria yang tidak mengerti titik permasalahan yang sebenarnya.


"Kapan kelulusan?" Tanya bunda Ria mengubah topik pembicaraan.


"Minggu depan sudah kelulusan Bun Sebenarnya aku ke sini karena ada yang ingin kubicarakan dengan Bella." kata Jimmy mengungkapkan sebenarnya tentang tujuannya.


Bunda Ria hanya tertawa kecil lalu tangannya menepuk-nepuk pundak Jimmy. "maaf Bunda tidak bisa membantumu gym Bella sedang marah kau tahu sendiri bagaimana sikapmu jika sedang mengurung diri di kamar."


"ya aku paham, terima kasih untuk makanan Iya Bun. Aku pamit pulang." ucap Jimmy yang kemudian meraih tangan Bunda Ria dan mencium punggung tangannya.


Bunda Ria dengan senyumnya mengantar kepulangan Jimmy hingga sampai ke depan pintu rumahnya, sesekali tangannya melambai. Ya, suasana hangat itu terjadi selayaknya antara ibu dan anak.


Siapa sangka Jimmy yang telah diantar pulang langsung bergegas naik menuju ke lantai 2 kamarnya. Dia dengan gesitnya melompat dan sekarang sudah berdiri di balkon kamar Bella.


"Bell Aku tahu kamu ada di dalam, jika kamu tidak ingin berbicara denganku tidak apa. Kamu sudah memblokir nomorku, Aku pun tahu itu dan aku hanya bisa memberikan ini tolong kamu baca ya." kata Jimmy sembari menelusupkan secarik kertas yang sudah terlihat rapi melalui celah jendela kamar Bella.


Bella yang masih bersungut-sungut menahan amarahnya hanya terdiam menatap kertas itu bergerak semakin kedalam semakin masuk dan merambah ke dalam kamarnya.


"cih apa-apaan?" Bella berdecih lalu bangkit dan mengambil sepucuk Surat yang Jimmy berikan.


"zaman apa ini? masih mengirimkan kertas buluk seperti itu?" kata Bela memberikan komentar pada penampilan surat yang Jimmy berikan.

__ADS_1


Walaupun pada akhirnya dia tetap memungut surat itu dan membacanya dengan sangat teliti dan hati-hati.


Bukan kata puitis, ataupun tulisan yang bertumpuk banyak berbaris-baris, hanya satu kalimat Maafkan aku tembem.


Bella yang semakin kesal kemudian meremas kertas tersebut sampai kusut lalu membuangnya ke dalam kotak sampah.


...🌿🌿🌻🌿🌿...


Saat dalam kekesalan bella benar-benar marah, tapi perutnya mulai merasa kelaparan dan dia akhirnya menyerah. Bella keluar menuju dapur saat tiada orang di rumah.


Bella memakan segala apa yang ditemukan di kulkas. Ya dia benar-benar kelaparan setelah mengunci pintu dua hari dua malam dan tidak keluar dari kamar sama sekali. di dalam kamar bella hanya memakan beberapa biskuit dan meminum air mineral yang di bawanya.


"Apakah aku sudah jauh lebih kurus coba kita lihat berapa berat tubuhku sekarang." katanya berbicara dengan dirinya sendiri dan mulai menginjak 1 timbangan kecil.


"belum turun sama sekali aku rasa aku harus lebih sering mengurung diri mulai saat ini." katanya yang laki-laki bermonolog dengan dirinya.


Selesai makan dan merapikan semuanya tanpa jejak yang tersisa, Bella kemudian memutuskan untuk kembali ke dalam kamarnya.


di dalam kamarnya ponselnya berbunyi sesaat sebelum dia mulai meletakkan pokoknya di tepian ranjang.


"siapa lagi itu yang menggangguku?" Dia kemudian bangkit dan mengambil ponselnya yang tergeletak diatas nakas.


Dilihatnya nama yang tertera dalam panggilan tersebut dan seketika itu juga dia mulai tertawa menerbitkan senyum hangatnya yang selama ini tertahan.


'hai Robbie apa kabar?' katanya yang begitu nanti saya sampai dia melambaikan tangannya berkali-kali senyum lebar terpancar di bibirnya.


ya mood-nya berubah seketika kala si pemanggil itu rupanya adalah Robbie.


Mereka bercengkrama dan saling bercerita ini dan itu. Walaupun hanya dalam panggilan video saja tanpa bella sadari, di sini peranan Robbie amat besar. Senyuman Robbie berpengaruh padanya setiap kata yang diucapkan mempengaruhi suasana hati Bella. Dan itu sama sekali tidak Bella sadari.


...Di dalam kamar Jimmy....


" Bella, Aku tahu kamu masih marah padaku karena aku menolak perasaan mu. tapi asal kamu tahu aku telah membalaskan Rasa sakit hatimu kepada Sonia kemarin." Jimmy berbicara seorang diri sambil menatap lurus kearah jendela kamar Bela seolah disana Bella tengah berdiri dan menatapnya.


Jimmy, dia kemudian menatap foto-foto mereka berdua yang masih akur. Dan belum seperti sekarang ini yang sering bertengkar.


"Andaikan kita bukan sahabat, sudah tentu aku akan menjadikanmu pacar." Jemari Jimmy mengusap gambar Bella.


"Aku menyukaimu lebih dari kau menyukaiku. Tapi.... aku terlalu menyayangimu dan sangat takut kehilanganmu. Saat kita tidak berpacaran, setidaknya tidak akan pernah ada kata putus." Jimmy tersenyum melihat gambar mereka.


"Selamanya, selamanya aku selalu ingin berada di dekatmu. Melihatmu dan menjagamu dan selalu memilikimu sebagai sahabatku." Ucap Jimmy dengan senyuman penuh makna dan di akhiri dengan ciuman pada gambar wajah Bella.


Author :" Jim, tolong anda jelaskan apa maksud anda ini ya! banyak pembaca yang tak paham dengan pola pikir anda."


Jimmy : " Kenapa? kepo ye...? Hahahaha!! serah gue lah idup juga idup gue."

__ADS_1


Author :" Wah songong nih anak, belum pernah kena plot twist ya? ati-ati aje lu. Author murka, berantakan idup lu tong!!"


__ADS_2