Lebih Dari Pacar

Lebih Dari Pacar
~> d. Mendadak pergi.


__ADS_3

...🦢🦢🦢....


Terus berikan dukungan kalian berupa like, komentar dan vote ya.


Em..., bagi yang sudah memberikan dukungannya sejauh ini, jangan lupa juga follow ig Mimi @melitaeka9.


...🦢🦢🦢...


" Bell? Bella... Maafkan aku..." Jimmy memeluk Bella.


" Kau selalu menyakitiku Jimmy!!" Bella memukul-mukul punggung Jimmy. Dia meluapkan segala emosinya. Bella begitu marah sekarang.


" I'm sorry bi, I'm sorry. Aku tak rela kau ada yang memiliki terlebih itu adalah kakak ku sendiri. Sekarang aku sadar, betapa aku mencintaimu." Kata Jimmy masih dengan memeluk Bella.


Bella tak menggubrisnya, telinganya seakan tuli dan dia hanya perduli dengan rasa sakit di hatinya setelah menerima pelecehan.


" Don't cry baby. Ok I wanna go now. I love you." Kata Jimmy yang kemudian mengecup sekilas bibir Bella.


Peristiwa terakhir saat bersama Jimmy, saat dimana Jimmy terang-terangan mengungkapkan kecemburuannya membuat Bella menangis tergugu di dada bidang sang pacar Rama. Ada rasa penyesalan di sana, menyesal bukan karena menolak hasrat Jimmy kala itu. Tapi Bella menyesal karena berkali-kali mengusir Jimmy dengan kasarnya.


Apa Jimmy mengalami kecelakaan tunggal karena dia begitu sakit hati dan kemudian mulai menenggak minuman keras dan mengakibatkan dirinya hilang kendali? Pemikiran itu selalu berputar-putar di kepala Bella.


Ada satu pertanyaan di benaknya, Dia bertanya-tanya apakah Jimmy mulai mencintainya?


Bella, disaat dia mulai membuka hati untuk pria lain, di saat itu pula Jimmy mengungkapkan perasaannya. Selalu saja di Dunia ini ada saja hal yang datang menghampiri di waktu yang tidak tepat. Tidak bisakah orang yang kita sukai itu balas menyukai kita di saat kita sedang sendiri?


Mengapa harus selalu datang di saat kita sudah memiliki sandaran?


"ssst...!" Rama menenagkan Bella berharap Bella akan menghentikan tangisnya. Bella Sedari tadi hanya menangisi keadaan Jimmy.


Kini di dalam satu ruangan itu ada tiga orang yang terlibat rumitnya hubungan. Jimmy mencintai Bella, sedangkan Bella masih berusaha untuk melupakan Jimmy dan belajar mencintai seorang Rama, dan Rama sudah jelas dia mencintai Bella. Jadi dalam hal ini dua Kakak beradik mencintai satu wanita yang tak tau nantinya hatinya akan berlabuh pada siapa.


Tangan Rama terulur menepuk-nepuk lembut punggung sang kekasih yang sedari tadi sesenggukan. Ada sedikit rasa yang aneh, rasa tidak suka ketika wanitanya menangis tersedu untuk lelaki lain. Sebenarnya dia ingin meledak saat itu juga. Tapi Rama, dia masih berusaha berlapang dada, menanamkan rasa toleransi dan mencoba memahami.


Dia mencoba mengerti bahwa adiknya dan pacarnya adalah sahabat baik sebelum akhirnya dia menjadi pacar dari sahabat sang adik. Ya, aku harus mengerti situasi ini. Yah, walaupun sebenarnya aku sangat ingin menyumpal mulutnya dengan bibirku agar dia terdiam dan tak menangisi lelaki lain di hadapanku.


Meski batinnya meraung, tapi Rama tetap berusaha untuk bersikap tenang. Sesekali kecupan hangat ia daratkan di kening sang pacar agar lebih tenang. Rama ingin menularkan ketenangan pada pacarnya.

__ADS_1


CUP!


Satu kecupan ia dapatkan dan ada seseorang yang lain menghitung setiap kecupan yang mendarat di kening Bella.


Satu, ouh Bella. Bisakah kau diam? Dia mengambil banyak keuntungan dari tangisanmu. Bisakah kau mendekat padaku daripada terus menempel padanya? Karena kau terus seperti itu aku jadi malas untuk membuka mata. Telingaku saja sudah panas mendengarkan kalian saling berbicara. Jimmy menggerutu di dalam hatinya.


CUP 2X.....! mendarat di kening dan pipi Bella.


"Sudahlah kau sudah setengah jam menangis seperti ini sayang." Rama mengusap surai Bella dengan lembut dan sayang tatapan mereka saling beradu.


Dua, ouh Rama! Kau terlalu banyak menciumnya!! bibirmu itu minta dintampol ya!😡


Jimmy menahan rasa geram dalam hatinya dengan terus menutup matanya meski sebenarnya dia sudah tersadar dan telinganya sudah aktif mendengar.


Hanya saja, karena ada Rama di dalam ruangan itu jadi Jimmy malas untuk menyapa atau melihat wajah rivalnya. Musuh dalam selimut tepatnya. Jimmy selalu menganggap Rama demikian meskipun pada kenyataannya Rama sudah terlampau banyak dan sering mengalah demi adiknya.


"Tapi Kak, dari tadi dia belum membuka matanya. Aku takut.... aku takut ...." Bella tak meneruskan ucapannya sebab Rama sudah mengecup bibirnya.


Tiga. Damn!! Rama bisakah kau pelankan suara kecapan itu? telingaku seperti tertusuk tusuk!! Tuhan ini sangat menyiksaku. Tapi akan lebih tersiksa lagi jika aku membuka mataku sekarang. Jimmy kini merasakan apa yang dulu Bella rasakan.


"Dia kuat, tidak apa-apa. Adikku itu bukan orang yang lemah. Dia hanya mengalami pergeseran rahang dan tulang leher, tidak apa-apa. Aku sudah berbicara dengan dokter tadi."


Rahang bergeser dan juga tulang leher bergeser katamu tidak apa-apa? Ouh, manis sekali kakakku ini, dia pikir aku ini makhluk bertulang lunak atau bagaimana? lagi Jimmy menggerutu.


Dering ponsel membuat Rama merenggangkan pelukannya. Dia kemudian mengangkat panggilan dari atasannya dan beberapa saat kemudian ia berpamitan untuk pergi.


"Sayang, maaf tapi aku harus pergi. Ada sedikit Masalah di kantor. Kau tidak apa-apa disini sendirian?" Tanya Rama memastikan. "Atau aku bisa mengantarmu pulang." Tawarnya lagi. Dia khawatir pacarnya akan ketakutan berada di rumah sakit sendirian. Dia belum lupa akan Bella yang bahkan tidak berani memasuki rumahnya karena menonton film horor.


Bella menggeleng sambil tersenyum manis. Dia hanya berusaha meyakinkan Rama jika dia baik-baik saja walaupun sendirian.


"I'm Ok." Katanya yang kemudian memberikan seulas senyum meyakinkan.


Lagi Rama memeluk dan mengusap punggung Bella dan di akhiri dengan kecupan di kening Bella.


"Terimakasih, pacarku ini sudah mau menjaga adikku." Ucap Rama sambil tersenyum dan mengusap kedua pipi Bella. " Kabari aku saat dia bangun ya." Pintarnya sebelum kemudian pergi menjalankan tugasnya.


Empat..! Damn!! baru berapa menit kalain disini tapi suara kecupan sudah memenuhi ruangan ini!! Ouh.. aku sungguh kepanasan sekarang. Jimmy mendumel dalam batinnya.

__ADS_1


Rama pergi dan kini tinggallah Bella yang menjaga Jimmy. Bella mendekat dan duduk di bangku dekat dengan ranjang. Dia menatap nanar sosok yang terbaring lemah tersebut.


"Jim, bangun. Kau sudah tidur terlalu lama. Apa kau tak ingin bertemu denganku, sampai-sampai kau tak mau membuka matamu?"


"Kenapa kau sampai seperti ini? kenapa kau sampai mabuk? ada apa? ada masalah apa Jim?"


"Maafkan aku yang kemarin mengusirmu. Aku memang ingin kau pergi, tapi tidak dengan cara yang begini. Aku sakit melihatmu begini. Bangunlah eoh...!" Bella mengusap perlahan dan sangat hati-hati punggung tangan Jimmy yang sudah terpasang selang infus.


Tak ada jawaban ataupun respon yang berarti, Bella kemudian meletakkan kepalanya dan menatap lekat punggung tangan Jimmy. Sungguh situasi saat ini adalah mirip seperti seseorang yang sedang menangisi belahan jiwanya.


Air mata Bella meluncur dan jatuh di punggung tangan Jimmy. Dia bisa merasakan basah dan hangat disana. Perlahan Jimmy membuka mata tanpa sepengetahuan Bella. Jimmy menarik sedikit kurva hingga tercipta senyum tipis di sudut bibirnya.


Haruskah aku mengalami kecelakaan lebih parah dari ini, hingga kau mau mengakui betapa berartinya aku bagimu?


"Aku belum mati, jangan meratapiku seolah aku ini mayat yang terbujur kaku." Ucap Jimmy dengan suara yang pelan dan berat. Teramat pelan, tapi semuanya begitu jelas ditelinga Bella di saat yang begitu sunyi.


Bella, jantungnya berdegup kencang dia merasakan kelegaan yang luar biasa. Dia begitu senang karena sahabatnya telah siuman. " Kau sudah bangun?" Bella menyeka air matanya dengan asal. Dia tak memperdulikan lagi soal riasan.


"A.... Aku panggilkan dokter ya?" Ucap Bella yang tergagap karena terlampau bahagia.


Wajah sembab, mata bengkak dan merah karena terlalu banyak menangis itu merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Jimmy. Dia merasa senang, sebab seperti apapun Bella mencacinya, sesungguhnya itu semua tak selaras dengan hatinya.


" Jangan, cukup kau disampingku. Temani aku," Lirih Jimmy berbicara dengan tangan yang lemas berusaha menggapai dan menggenggam tangan Bella.


Bella menyadari itu, dia kemudian kembali duduk Setelah sebelumnya bangkit dan hendak memanggil dokter. Ada satu hal yang Bella lupakan disini, Bella melupakan pesan kekasihnya untuk mengajarinya jika sang adik sudah terbangun. Bella masih terbawa suasana haru sekarang.


"………" Bella mengangguk masih dengan air mata yang bercucuran. Sebisa mungkin dia menahan tapi nyatanya gagal. Bella menghambur memeluk Jimmy.


" Jangan pernah ulangi hal ini lagi Eoh? kenapa kau mabuk? kenapa? ada apa? Ceritalah padaku jika ada masalah. Bukankah kita sahabat baik?"


" Kita sahabat? adakah sahabat yang merasa sakit melihat sahabatnya bahagia? Aku sakit melihatmu bersama dengan Rama."


Mendekati titik permasalahan lagi dan Bella lebih memilih untuk tidak menjawabnya atau akan terjadi perdebatan sengit diantara keduanya.


" Aku malas bertengkar denganmu. Cukup kau sembuhkan dulu lukamu dan kita bisa bertengkar lagi." Bella lalu melepaskan pelukannya dengan wajah masam. Sedangkan Jimmy malah tertawa senang dengan tertahan.


Akhirnya ada juga kesempatan baginya untuk berduaan meski harus menunggu sang kekasih dari sahabatnya pergi dengan mendadak.

__ADS_1


__ADS_2