
...πππ...
...πππ...
Dalam balutan langit malam, Rama dan Bella menghabiskan waktu bersama. Keduanya seolah terikat janji untuk seia sekata. Tak ayal dalam setiap pembicaraan keduanya memiliki kesamaan persepektif tentang suatu hal yang sedang di bahas.
Mereka masih bersantai di bangku taman belakang rumah dan pandangan mereka tertuju pada satu bintang.
"Itu..." Sebut Bella dan Rama bersamaan dan di susul tawa setelahnya.
"Hahahaha! Kakak duluan." Bella mempersilahkan.
Rama menggeleng. "Tidak, kau duluan."
Bella mengangguk. " Baik." Lalu sekilas senyuman terbit di ujung bibirnya. " Bintang itu paling terang dan cantik ya Kak?" Ucap Bella menunjuk pada satu bintang.
Di angguki oleh Rama yang juga tersenyum menatap sang bintang. "Iya cantik, sama sepertimu." Celetuknya perlahan berharap Bella tak mendengarnya tapi sayang suasana yang sunyi membuat telinga Bella lebih peka menangkap suara.
Bella membulatkan matanya dan dengan polosnya dia balik bertanya. "Tapi kata Jimmy aku ini jelek, tembem dan pendek."
Rama semakin terkekeh di buatnya. Tangannya terulur lalu mengusap pucuk kepala Bella. " Tapi tidak bagiku. Kau tau apa itu persepektif dan relatif? Keduanya saling berhubungan. Bagiku kau itu Cantik meski yang lain bilang kau jelek. Makanya kau harus selalu dekat denganku agar selalu cantik dan tutup telingamu dari perkataan yang tidak penting lainnya." Ucap Rama dengan teduhnya.
Bella tertegun beberapa detik setelah mendengar penuturan dari Rama. Pipinya memerah dan jantungnya berdegup kencang. Seketika itu juga kadar oksigen di sekitarnya terasa menipis dan membuatnya menghela dan menghembuskan nafasnya dalam-dalam.
"Kau kenapa? malu?" Celetuk Rama dengan santainya.
"O.... Em... anu. Itu... aku anu... " Bella tergugup dibuatnya.
Rama mengulum senyumnya lalu berdiri dan memasukkan tangannya kedalam saku hoodienya. "Ayo masuk, ini sudah malam." Ucapnya yang kemudian berjalan terlebih dahulu sebab dia tau di belakangnya ada seorang gadis yang tengah tersipu malu dengan pipi merahnya.
"Darimana kalian?" Tanya Jimmy saat Bella dan Rama sampai di teras depan rumah. Tentu saja Jimmy hanya berpura-pura dan sekedar berbasa-basi pasalnya sedari tadi dia selalu menjadi mata-mata dan mengintai keduanya.
Rama tersenyum tipis. Tipis sekali bahkan sampai tak terlihat dan tak disadari oleh lawan bicaranya. " Bukanya kau sudah tau semua? mengapa harus banyak tanya?" Jawab Rama dengan tenangnya.
__ADS_1
Apa?
Kakak tau aku sedari tadi mengintip? Jimmy tak mengira jika pengintaiannya akan terbongkar sebegitu mudahnya.
Bella terbelalak dia yang sama sekali tak tau jika Jimny sedari tadi mengamati mereka berdua. "Kau menguping?" Tanyanya dengan air muka yang terkejut.
"Hem!" Alih-alih menjawab dengan penjelasan rinci. Jimmy malah hanya berdehem dan berlalu pergi lantaran kepalang malu.
"Kak jadi dia?" Bella masih tertegun tak percaya.
Rama seketika menarik pergelangan tangannya dan mengajaknya masuk. " Sudah abaikan saja. Ayo cantik masuk. Di luar dingin."
Aku selalu tersipu di buatnya. Dia pandai sekali membesarkan hati wanitanya. Tidak seperti Jimmy yang selalu mengataiku jelekπ. Bella membandingkan kakak beradik itu dalam pikirannya.
Hari demi hari berlalu.
Tanpa Bella sadari, satu hal yang menjadi kebiasaan baru mereka adalah makan malam bersama di balkon Bella atau hanya sekedar menonton drama bersama di laptop dengan tenang dan santai dalam keheningan malam.
Seperti malam ini. Rama datang melalui balkon kamar Jimmy buang kosong dan menuju ke balkon kamar Bella. Tak seperti Jimmy yang asal masuk tanpa permisi, Rama hanya berani menginjakkan kakinya di luar kamar.
Rama mengangguk dan menampilkan senyum manisnya. " Iya, maaf agak telat. Tadi harus mengurus Lala lantas."
"Lama lantas? parah tidak?" Tanya Bella antusias yang kemudian mendekat sambil membawa laptop dan minuman bersoda.
"Tidak, hanya saja yang menabrak kabur jadi aku harus mengejarnya. Untungnya tertangkap meski harus jatuh." Jawabnya yang seolah jatuh dari sepeda motor itu bukan hal yang menyakitkan bagi Rama.
Bella yang masih menggelar kasur tipis dan menata meja kecil langsung berhenti. Dia mengamati Rama yang ternyata berdiri dan menopang tubuhnya dengan satu kakinya.
Haruskah sampai seperti ini? Demi menepati janji menonton film kesukaan adik kecilnya, Rama harus mengabaikan rasa sakitnya?
Bella mendekat dan memeriksa kaki Rama dengan menjinjing celana panjang Rama yang berbahan dasar kain juga longgar di bagian bawah hingga engkel dan mata kaki Rama terlihat.
Nampaklah sebuah luka goresan yang cukup lebar dan terlihat mulai membengkak. Bella memandang Rama dengan berkaca-kaca. Demi menepati janji dengannya dan hanya untuk hal yang tidak penting begini Rama sampai seperti itu? mengabaikan kakinya yang terluka.
Demi janjinya padaku, dia sampai... Bella langsung memeluk erat tubuh Rama.
__ADS_1
"Pasti sakit ya? mana lagi yang sakit?" Tanyanya dengan mata yang memindai tubuh Rama.
"Auh...!" Rama mengaduh saat sikunya tak sengaja tersenggol. Rama sengaja menutupi luka di sikunya dengan hoodie yang longgar.
"Siku ku sakit Bell." Ucapanya Lirih dengan ekspresi wajah meringis menahan sakit.
"Apakah sudah di obati?" Tanya Bella. " Kau sudah makan belum?" Tanyanya lagi dengan raut wajah khawatir yang tak dapat disembunyikan.
Rama hanya mengangguk untuk menenangkan Bella yang mulai banyak bertanya bahkan menangis di dadanya. Sebenarnya dadanya juga sedikit nyeri lantaran hantaman saat terjatuh dari sepeda motor tadi.
Tapi beberapa saat setelah dia mengangguk perutnya justru berbunyi. Memberikan sinyal kelaparan. " Kau bohong!" Cecar Bella yang memukul perlahan dada bidang Rama.
"Duduklah! akan kubuatkan mi seduh." Ucapnya memberikan perintah layaknya komandan kepada bawahannya.
Rama menggeleng mengamati kepergian gadis kecilnya. Tetap saja dia menjadi gadis yang perhatian dan baik. Batinnya.
Beberapa sat kemudian, Bella datang dengan membawa semangkuk mi instan dan dua telur rebus di atasnya.
"Makanlah." Ucapnya sambil menyodorkannya pada Rama.
Rama mengambilnya menggunakan tangan kirinya lalu mulai menyendok mi instan tersebut.
"Tunggu! aku suapi ya Kak? Kasihan tanganmu masih sakit." Ucap Bella tak terbantahkan membuat Rama hanya diam menerima perlakuan baik dari wanita yang kini sudah beranjak kian dewasa.
"Terimakasih." Ucap Rama di sela-sela makannya.
Bella tersenyum tulus. " Makanlah yang banyak, biar cepat sembuh. Maaf hanya ada ini. Bunda sedang keluar kerumah Nenek bersama Ayah jadi tak menyiapkan banyak makanan di rumah." Ucap Bella.
" Kau berani tidur di rumah sendiri?" Tanya Rama.
Bella mengangguk lalu kembali menyuapi Rama. " Makanlah dulu. Nanti lagi ngobrolnya." Ucapnya sudah mirip seperti istri bawel yang menasehati suaminya yang bandel.
"Kau juga makan Cantik, biar cepat besar." Kata Rama jahil lalu menepuk-nepuk pucuk kepala Bella.
"Iya, dan aku akan menagih janjiku padamu saat kita besar."
__ADS_1
"Kau masih ingat janji itu?" Tanya Rama membahas sebuah janji yang pernah Meraka ikrarkan saat kanak-kanak.