
...🌺🌺🌺...
Dua hari dari pamitnya Bella. Mereka semua mengantarkan Bella sampai ke Bandara, termasuk Ayah dan juga Bundanya Jimmy.
"Sayang, hati-hati ya disana. Ingat waktu makan, jangan ceroboh." Ucap bunda ria yang menangis tergugu sembari memeluk sang putri semata wayangnya.
" Sering-sering hubungi Ayah dan Bunda ya. Beli jaket tebal untuk musim salju. Bekas juga tidak apa-apa asal masih baik." Ucap Ayah Fauzi yang juga ikut menangis.
Dia mendapat cubitan dari sang istri ketika mengatakan Bekas yang menandakan mereka tidak begitu mampu membeli yang baru. Jujur saja gengsi berkata seperti itu di hadapan sahabatnya sendiri meski pada kenyataannya memang kebanyakan dari yang mereka kenakan adalah barang preloved.
"Jangan lupa video call kami ya waktu salju turun. Kami juga mau menikmati salju pertama denganmu." Kata Ayu yang meneteskan air mata.
Jimmy dan Mimi mendelik mendengar pernyataan dari Ayu pasalnya ayu bukan orang miskin yang sampai kesusahan menikmati dinginnya salju di negara Jepang.
"Kau kan sudah sering?" Tegur Mimi.
"Hiks...! hiks....! tapi kan semenjak ada COVID aku ga boleh kemanapun sama Papaku." Jawabnya.
"Iya nanti aku akan video call." Bella tersenyum memeluk Ayu dan Mimi.
Bella menatap Jimmy sesaat lalu memeluknya juga. "Ingat pesanku ya? yang akur." Ucapnya yang kemudian melepaskan pelukannya.
Jimmy mengangguk lalu menyeka air matanya yang menetes. Walau bagaimanapun dia begitu tidak rela untuk melepaskan kepergian Bella. Belasan tahun mereka bersama dan sekarang harus berpisah lumayan lama.
"Belajar yang bener! jangan pacaran." Jimmy meledek Bella.
"Siapa? kamu kali yang pacaran melulu!" Cibir Bella yang tak mau kalah.
"Paman doakan semoga lancar kuliahnya dan lulus dengan nilai bagus." Ayah Dandi mengusap perlahan lengan Bella dan kemudian keduanya saling tersenyum hangat.
"Baik-baik ya disana. Tante bakal kangen banget sama kamu Sayang." Kata Bunda suci yang memeluk Bella.
__ADS_1
"Bella juga bakal kangen sama Tante, sama kalian semuanya." Bella mengusap air matanya yang tak sengaja terjatuh membasahi pipi mulusnya.
Guncangan pesawat saat mengudara meninggalkan landasannya membuat Bella sangat gugup. Ini merupakan pengalaman pertamanya naik pesawat. Tangan Bella sampai basah dengan keringat dingin dan juga jantungnya yang berdegup kencang.
"Jangan gugup. Apa kamu takut? ini pasti pengalaman pertamamu ya?" Tanya Dion yang kebetulan juga siswa yang menjadi peserta pertukaran Mahasiswa dari universitas yang berbeda.
Mereka semua yang terpilih dan mendapatkan beasiswa, diberangkatkan dengan pesawat dan hari yang sama. Kini Bella mendapatkan satu teman baru lagi.
Namanya Dion, seorang laki-laki yang berkacamata tebal dan juga penampilan yang klimis. Si kutu buku yang konsisten. Terlihat dengan jelas di tangannya masih menggenggam sebuah buku ensiklopedia geografi.
"Iya, aku takut sekali. Kita berpegangan tangan ya, aku juga takut." Kata Dion. Takutnya Bella sih bukan apa-apa, takutnya Dion sudah luar biasa. Bajunya sampai basah di bagian dada dan keningnya sudah menyembul keringat dingin sebesar biji jagung.
"Huft...! Huft...!" Berkali-kali Dion dan Bella menarik dan menghembuskan nafasnya dalam-dalam berusaha untuk mengurangi ketegangan.
"Apa yang membuatmu tertarik dengan jepang?" Tanya Dion berusaha mengurangi rasa takutnya.
" Aku .. aku menyukai budayanya yang tertib dan disiplin." Jawab Bella. " Kalau kamu?" Bella bertanya balik.
"Aku?" Dion seolah tak yakin dengan jawabannya sendiri. " Aku sih tidak begitu suka. Tapi Ayahku bekerja disana dan ingin aku mengikuti jejaknya, makanya dia ingin aku pandai bahasa Jepang."
" Ayahku jadi TKI. Dia buruh pabrik. Setidaknya kalau aku sekolah tinggi, bisa merubah nasib keluarga kami. Lumayan kata temanku bisa bertemu si hot wasabi." Jawab Dion begitu polos menyebutkan salah satu bintang panas.
"Wasabi? yang hot?" Ulang Bella menggumam. Dia juga masih mencerna perkataan Dion.
Memang wasabi itu hot kan? lalu apa yang membuat Bella bingung. Tunggu dulu, sepertinya maksud Dion bukan wasabi.
"Iya, kata temanku kalau bertemu dengannya aku diminta untuk meminta tanda tanganya."
"Wasabi itu kan makanan pedas ya? yang hijau muda dan berbentuk pasta. Memangnya bisa tanda tangan?"
Inilah perbincangan antara si polos dan si lugu yang tiada habisnya. Yang di maksud oleh teman-teman Dion adalah Miyabi. Tapi yang di ingat Dion adalah wasabi. Sungguh Dion, otakmu masih begitu polos.
"Oh? iyakah? kata temanku itu nama manusia." cetus Dion dengan polosnya.
__ADS_1
"Itu nama makanan Dion. kamu tidak percaya. Wasabi itu makanan."
" Kata temanku itu perempuan cantik." Dengan polosnya Dion bersikeras mempertahankan ingatannya yang keliru.
Tak terasa mereka lepas landas dengan mulus dan turbulensi sudah tidak terlalu terasa lagi. Bella melepaskan tangan Dion dan keduanya menikmati pemandangan awan dan sesekali keduanya berfoto bersama menggunakan kamera milik Dion.
Ada tiga orang yang berangkat bersama, tapi salah satunya berada di bangku yang jauh dari kabin mereka.
Di suatu tempat yang teduh dan asri.
"Nek, sudah minum obatnya?" Tanya Robbie sambil melepaskan dasinya setelah selesai bekerja.
"Iya Sudah." Jawab Nenek Mirna dengan suara rendah yang bergetar karena pengaruh usia.
Keduanya lalu duduk di teras belakang rumah menikmati salju yang mulai menebal karena berada di pertengahan musim salju. Sapporo, Hokkaido merupakan tempat teramai saat musim dingin. Disana sering di adakan festival salju/es dimana akan banyak pengukir es handal datang untuk beradu bakat dan mengundang banyak wisatawan.
"Apa Billa sudah sampai?" Tanyanya dengan menatap hamparan putih salju yang menutupi taman bunganya di belakang rumah.
"Belum Nek, lama penerbangan 7 jam 20 menit. Itu kalau tidak ada delay. Semoga saja semuanya lancar dan paket akan sampai dengan selamat." Jawab Robbie sambil tersenyum manis menatap sang nenek.
Nenek Mirna mengangguk dan kembali menatap hamparan salju yang putih menghampar. "Setidaknya nanti saat sakura berguguran, kita bisa menikmatinya bersama. iya kan By?"
" Iya Nek." Jawab Robbie dengan singkat namun mewakili perasaannya yang juga haru mengingat sosok Billa dalam diri Bella.
"Ayo masuk, tidak baik terlalu lama diluar. Nenek tak mau bertambah lagi kan obat yang diminum?"
"Iya, kau tau kan, Nenek sudah sangat malas untuk meminum semua obat itu. Tapi nyawa Nenek juga bergantung pada obat-obatan itu."
Nenek Mirna menerawang mengingat betapa jengahnya dia terus-terusan mengonsumsi obat-obatan tanpa henti selama bertahun-tahun lamanya. Dia si tua yang kesepian yang hanya bertemankan cucu satu-satunya yang peduli dan perhatian.
Jiwa yang rapuh mengingat dan merindukan jiwa sang cucu perempuan yang telah lama berpulang. Satu keinginannya, bisa kembali melihat wajah ayu cucunya Billa dalam diri Bella. Gadis yang memiliki kemiripan di atas 80% dengan Billa.
Robbie, dia hanya bisa menuruti segala keinginan terakhir sang nenek, meski harus di akuinya. Jalan yang ditempuhnya kali ini lumayan rumit dan sulit.
__ADS_1
Tapi jauh di dalam lubuk hatinya, ada kelegaan yang melebihi dari segala jerih payahnya. Yaitu melihat wajah berbinar sang nenek yang lama meredup.