Lebih Dari Pacar

Lebih Dari Pacar
~ ngapain?


__ADS_3


...🐼🐼🐼...


Robbie tertawa. " Sudah ya, besok lagi. Aku buru-buru. Bye ..!" Lagi-lagi dia pergi setelah mengusuk pucuk kepala Bella.


Dan yang ditinggalkan oleh Robbie hanya bisa melongo tak percaya.


Bella memasuki rumahnya, rumah sewa yang berornamen klasik yang begitu kental. Bella yang hanya sendiri mulai berdesir hatinya kala mengingat Ayah dan bundanya. Kerinduan itu mulai muncul dan menyapanya, membuatnya merasakan haru yang tak berkesudahan.


Rindu ini berat kalau kata Dylan. Tapi kalau kata Bella, berat banget... mana sendirian jauh pula.


Menghubungi Ayah dan Bundanya? Tidak mungkin, ini sudah terlalu malam tak enak saja rasanya mengganggu kedua orang tuanya hanya untuk sekedar berucap rindu. Suara letupan air mendidih menyadarkannya dari lamunan.


Bella kembali fokus memasak mie instan yang di buatnya. Untuk mengusir rasa sepinya, Bella lebih memilih untuk berselancar di dunia Maya. Dia kembali membaca, dan melihat beberapa video lucu yang bertaburan disana.


Tapi...


Dia kembali teringat Robbie. Lelaki yang baru di temuinya tadi terlalu rapi untuk dikatakan sebagai mahasiswa. Robbie masih menggunakan kemeja putih dan celana stelan jasnya yang berwarna hitam. Bella mulai memikirkan sesuatu, apakah teman lamanya itu ikut kerja paruh waktu?


"Apa dia bekerja? penampilannya terlalu formal untuk ukuran mahasiswa tadi." Bella menggumam dengan mulut yang penuh dengan mi instan.


DERT..! Satu notifikasi pesan masuk.


"Dari siapa ya?" Dia bermonolog. waktu sudah menunjukkan pukul 22 malam hari, agak aneh jika ada yang mengirimkan pesan di jam jam seperti itu bukan?


Bella membulatkan matanya sempurna. Pesan itu dari Robbie.


"Sudah tidur?" Robbie.


"Belum, masih makan mi. Kenapa?" Bella.


"Bisa ganti nama kontakku di ponselmu?" Robbie.


"Kenapa memangnya?" Bella acuh dan terus saja makan.


"Mata dan hatiku sakit melihatnya, kau menamaiku SI BRENGSEK kan?"


"Uhuk...! uhuk...!" Bella terbatuk-batuk, dia tersedak makanannya. Bagaimana bisa tahu sedangkan Robbie tak pernah membuka atau menyentuh ponselnya?


"Tau darimana? Jangan sok tau deh!" Balas Bella berkilah dan kemudian segera mengganti nama kontak Robbie.


Bego... sumpah bego banget aku.. Gimana bisa bego begini sih? ini kan udah jaman canggih, bisa lihat nama kita di ponsel orang di simpan sebagai apa? ah, kok aku juga jadi penasaran... Em .. apa coba juga kali ya?


"Widih, langsung di ganti. Makasih ya, namaku terlihat tampan di daftar kontakmu." Robbie.

__ADS_1


"it's okay, Kamunya aja yang baperan By. Kemarin ku namai itu kan karena tidak tau kalau itu kamu." Bella.


"Oh. Besok ada waktu?" Robbie.


Bella terdiam, dia berfikir sedalam mungkin. Jika lelaki bertanya seperti ini, maka kemungkinan besar mereka akan mengajak pergi atau apalah. Ini waktu yang pas bukan untuk mengobati hati dengan pergi mengunjungi tempat baru, untuk jalan-jalan, untuk self healing.


Tapi .. sayangnya.


Bella tidak bisa, jadwalnya begitu padat untuk seminggu kedepan.


"Ga bisa deh, jadwalku padat seminggu kedepan." Bella.


...🐼🐼🐼...


Robbie mengulum senyumnya dia baru saja selesai mengikuti kelas malam. Matanya lurus menatap sebuah rumah bertingkat dua dengan sinar lampu kamar yang masih menyala.


" Benar, dia belum tidur." Robbie menggumam dan menghela nafasnya lega. Dia begitu lega ketika separuh hatinya sudah berhasil di usungnya lebih dekat. Ini merupakan sebuah kemajuan yang pesat bukan? saat bisa berdekatan dengan seseorang yang kita sukai barang sejengkal dua jengkal.


Tak lama dari itu, lampu kamar di ruangan atas meredup perlahan dan mulai padam. Robbie terus memantaunya dari dalam mobilnya dia mengulum senyumnya hingga tak terlihat lagi remang pergerakan yang mengambang.


Namun, Beberapa detik kemudian Robbie terlonjak kaget saat tirai kamar Bella tiba-tiba terbuka dan menampilkan sosok berwajah sangat putih lengkap dengan baju putihnya.


" Shitt....! Damn....!" Robbie mengumpat dan memegangi dadanya yang begitu terhenyak kaget. "Bell....! jangan begitu ya lain kali." Sambungnya lagi yang kemudian terkikik sendirian di dalam mobilnya yang terparkir di depan rumah sewa Bella.


Bella menikmati malamnya dengan menatap langit malam dan hamparan salju, sedangkan Robbie di bawahnya menarik kurva di sudut bibirnya membuat lengkungan indah menghiasi wajahnya. Dia tersenyum begitu manis dan bahagia kala melihat sang dambaan hati tengah menikmati indah karya sang Maha Kuasa.


...°°°...


Robbie bersiul senang saat melangkahkan kakinya memasuki kamarnya dia menari dan tersenyum lebar. "Huh, begini rasanya dekat dengan yang kau cintai?" Dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan menatap langit-langit kamarnya seolah ada wajah Bella disana.


"Kamu lagi apa? Sudah tidur?" Lirihnya dan kemudian teringat akan sesuatu. "Ah iya, CCTV hanya di area umum saja. di area pribadi tidak ada."


Ya kali di kamar mandi dan di kamar tidur mau kau tempeli juga CCTV By. Bisa hancur masa depan anak gadis orang.


Robbie, si anak bandel yang terkenal suka membolos dan membuat masalah itu nyatanya adalah anak manis yang nihil pengalaman dalam hal percintaan. Dia begitu pemalu untuk memperkenalkan dirinya pada gadis. Hingga dia lebih memilih menjadi si bandel agar tak perlu repot-repot menyingkirkan predikat takut wanita, sebab wanita duluan yang akan minggir jika dimana dia berada.


Tapi itu dulu, masa-masa dia SMA. Dan sekarang?


Sekarang sudah jauh berbeda, Robbie menjadi rebutan para gadis dan dia hanya menunjukkan sosok cool dan arogannya saja. Dia selalu memamerkan jari manisnya yang sudah melingkar sebuah cincin disana. Cincin yang sengaja dibelinya untuk nanti wanita spesial di hatinya.


"Kamu, sabar ya. Sebentar lagi kamu bakal tersemat di jari manis Nyonya Robbie Fredly." Robbie berbicara pada sebelah cincin yang masih tersemat rapi pada kotak bludru merah marun.


Harapannya sederhana, dia hanya ingin bersanding dan memberikan segalanya pada satu wanitanya. Wanita yang benar-benar menjadi pelabuhan terakhirnya, bukan yang sekedar haha hihi bersama lalu berpisah dan berkata maaf pada akhirnya.


Tapi, semuanya tak melulu berjalan mulus dan selembut sutra. Pasti ada saja halangan yang menanti di tiap waktunya. Meskipun dia tak pernah merajut tali asmara, tapi hal itu tak membuatnya di jauhkan dari ancaman wanita agresif.

__ADS_1


Ada satu nama perempuan yang semenjak Robbie berada di Jepang, wanita itu sudah jatuh hati padanya dan selalu berusaha untuk mendekati si pemuda pewaris perusahaan yang berkecimpung dalam bidang jasa antar barang atau ekspedisi.


Pagi hari, setelah semalam dia tidur dengan begitu nyenyak, pagi harinya Robbie memutuskan untuk memulai langkahnya dalam mendekati Bella.


"By, sarapan dulu!" Seru Nenek saat melihat Robbie yang malah sudah sibuk bersiap dengan menenteng jasnya.


Robbie menghampiri sang nenek lalu mencium punggung tangannya dan tersenyum manis. " Nek, Oby ke tempat Bella dulu ya. Doakan Oby agar bisa mendekatinya, supaya cepat juga membawanya kemari untuk bertemu dengan Nenek."


"Oh, Kau mau mengajaknya makan? Ah, iya kalau kau membawanya kemari itu terkesan terlalu terburu-buru. Dia bisa salah paham. Em..." Nenek menggumam lalu mulai menatakan makanan kedalam kotak makanan.


"Ah tidak," Nenek mengganti wadahnya dan memindahkannya kedalam kotak sekali pakai.


"Kenapa di ganti Nenek?" Robbie kebingungan melihat sang Nenek yang sibuk mengganti wadah makanannya.


Nenek tertawa kecil lalu mengusap pundak cucunya dengan lembut. " Ini, nanti katakan saja kau membelinya dari luar. Jangan bilang ini masakan rumah. Nenek takutnya dia akan merasa canggung dan malah menjauh karena kamu yang terkesan agresif."


Wah, Nenek Mirna benar-benar sangat teliti mengamati sesuatu bahkan dari kemungkinan terkecil saja tak lolos dari pantauannya.


"Iya Nek, terimakasih." Robbie lalu tersenyum dan berangkat meninggalkan rumah. Sang Nenek hanya tersenyum dan melambai di ambang pintu mengantarkan keberangkatan si cucu terbaik yang di milikinya.


Robbie sudah berada di depan rumah sewa yang ditempati Bella. Dia berdiri di depan gerbangnya dan menarik nafas dan menghembuskannya berkali-kali.


"Ah, kenapa aku jadi nervous begini?" Robbie memainkan bibirnya. Dia begitu gugup sekarang.


Ayolah hanya mengajaknya sarapan bersama.


Dia menekan bel setelah mengumpulkan keberanian. Memasang wajah termanis yang di milikinya.


Terdengar suara bel berbunyi dan Bella membukanya.


" Pagi!" seru Robbie menyapa dengan begitu semangat Tapi yang di sapa malah terlihat begitu pucat dengan senyum yang seolah terpaksa bercampur dengan rasa nyeri.


"Pagi, kamu ngapain ke sini?" Tanya Bella dengan nada suara yang teramat pelan.


Salju masih menebal dan bahkan kabut salju masih menutupi sinar matahari yang seharusnya bisa menghangatkan tubuhnya.


"Kok ngapain?" Robbie menggumam, Bella terlihat tak seperti biasanya.


"Ya ngapain pagi-pagi udah kesini? ada perlu apa?" Tanya Bella yang terlihat lesu seperti orang yang tak suka.


Kenapa tiba-tiba menjadi tak suka? padahal semalam dia begitu antusias?


Mohon like dan vote ya, karya ini sedang diikut sertakan dalam sebuah lomba.


Jan lupa tinggalkan jejak😊

__ADS_1


__ADS_2