
...π¦π¦π¦...
Yang tidak diridhoi, pasti tidak akan bisa terjadi. Itu merupakan satu kepercayaan yang tertanam dalam hatiku, dimana aku mempercayai bahwa sesuatu apapun itu yang terjadi di atas muka Bumi ini, tidak akan bisa terjadi tanpa kehendak dan kuasa Nya.
Dan seperti aku yang saat ini sedang duduk menatap pantulan diri pada sebuah cermin yang menunjukkan wajahku dalam polesan makeup tipis, dengan balutan gaun putih pengantin.
Ini adalah gaun kedua yang kupakai setelah sebelumnya aku mengenakan baju tertutup saat ijab qobul. Dan sekarang adalah seperti acara peresmian saja yang di hadiri oleh para petinggi di perusahaanya bekerja.
"Wah, istriku cantik sekali." Lagi dan lagi, terus dan terus temanku sewaktu SMA yang juga mantan berandal ini rupanya memiliki kebiasaan membuatku selalu tersenyum kepadanya.
Dua bulan setelah Dia mendapatkan restu dari Ayah, dia benar benar menepati janjinya untuk meminangku tadi pagi. Semuanya berjalan dengan haru, acara pernikahan dan ijab berlangsung via video call yang disaksikan oleh kedua orang tuaku, sahabat terbaik orang tuaku, juga sahabatku jimmy yang juga terkejut melihat aku menikah. Hanya kak Rama yang sama sekali tak kulihat gambar wajahnya.
Kemana dia?
"Terimakasih Bie, suamiku juga tampan." kataku yang kemudian menggandegnya berjalan menuju ke ruang tamu yang telah ia sulap menjadi aula pesta kecil kecilan.
"Jangan lepas tanganku atau aku akan diambil oleh tante tante." Ujarnya sambil berbisik menggodaku.
"Apa aku harus memelukmu begini?" aku menggodanya dengan melingkarkan tanganku pada perpotongan pinggangnya.
"Tentu saja. Tapi nanti malam saja, sekarang cukup eratkan gandengan tanganmu." Katanya lagi sambil mengusap pinggangku.
Banyak orang baru yang aku temui, Banyak wajah dan nama baru yang harus aku hapalkan. Dan semuanya merupakan orang penting bagi suamiku dan tentunya aku juga harus bisa menjaga sikap dihadapan mereka.
Ada rasa yang membuatku merasakan tak nyaman sedari tadi. Seharusnya ini baru akan kurasakan 2 hari lagi. Tapi entahlah aku sudah merasakannya sedari pagi dan ini sungguh membuatku takut untuk menghadapi malam hari yang hanya tinggal menunggu beberapa jam lagi.
Aku gelisah menatap jam dinding dan aku sama sekali tak berani untuk duduk atau sesuatu yang buruk akan terjadi. 5jam sudah aku berdiri dan hanya berharap harap cemas dalam hati. Semoga bukan terjadi seperti apa yang sedang menghantui.
"Kamu kenapa?" tanya Robbie yang kini sudah menjadi suami sah ku.
"Bie, apa boleh aku ke kamar terlebih dahulu? Aku sedikit lelah." bohongku yang berbicara lirih dengannya.
"silahkan. tunggu aku di kamar saja. Ini juga sebentar lagi akan selesai. Nanti akan ku pamitkan pada para tamu." Katanya dengan tatapan mata yang teduh.
Mungkin ini terlihat tidak sabaran, Aku segera melepas gaun pengantinku dan menanggalkannya begitu saja di depan pintu kamar mandi kamar pengantin kami.
Aku menangis saat melihatnya. Noda merah yang kerap mengunjungiku dan hadir selama satu minggu dalam setiap bulannya. Masa Haid ku tiba lebih cepat 2 hari. aku tidak tahu, tapi ini mungkin karena faktor pikiranku yang begitu gugup dan stres dalam menyiapkan pernikahanku sendirian tanpa orang tua.
__ADS_1
Meskipun acara ini hanya terbilang tertutup dan sederhana dan di hadiri beberapa orang saja, tapi tak sedikit juga Robbie menggelontorkan dana. Souvenir emas murni dan juga segala pernak perniknya telah memakan banyak biaya. Dan sekarang aku malah mengecewakannya.
setengah jam aku berada didalam kamar mandi mengurung diri dan tak berani keluar sama sekali.
"chagi!, apa kamu masih memakai kamar mandi?"
Suaranya mengagetkanku yang sedang kebingungan di dalam kamar mandi. Aku berjalan mondar mandir dan menggigiti kuku jari tanganku.
"Chagi!" Panggilnya lagi.
"Bie, sayang aku bisa minta tolong?" Kataku yang meragu dan menggigiti bibir bawahku.
"Apa? katakanlah!" Ucapnya yang sepertinya Dia masih menungguku di depan pintu kamar mandi.
"Aku minta tolong belikan pembalut." Kataku dengan perlahan diikuti dengan setumpuk penyesalan.
Terdengar suara seperti lemari terbuka dan derap langkah kaki mendekati pintu. "Ini Chagi, Apa lagi?" Tanya dengan mengetuk pintu kamar mandi.
"Ambilkan baju ganti juga lengkap dengan dalama*nya." lirihku.
Dia tidak menjawab tapi aku tau dia sedang bergerak melaksanakannya. "Ini Chagi.." Katanya lagi.dan aku hanya mengeluarkan tanganku untuk menggapainya tanpa berani melihat wajahnya.
"Apa?" Dia berbalik badan dengan tangannya yang masih tersimpan di dalam saku celananya. "Kemarilah, ada apa?" Dia berbicara tanpa mengurangi senyumannya.
"Maaf...!" kataku dengan menunduk.
Tidak kusangka bila Dia akan memelukku dengan begitu hangatnya. Tangannya perlahan mengusap punggungku.
"Apa yang perlu dimaafkan? itu sudah menjadi hal yang wajar kan bagi setiap wanita? Kita hanya perlu menundanya kan, Bukan menghapuskannya." Ucapnya penuh pengertian.
Apalagi yang kuragukan dan kurang dari sosok seperti Dia ini. Begitu pengertian dan menjadikanku sebagai ratunya. Ternya Dia sama sekali tidak egois dan bukan pemaksa.
"Apakah terasa sakit?" dia menyingkapkan anak rambutku lalu mengusap keningku dengan lembutnya.
"sedikit nyeri." Kataku dengan menggerakkan tanganku menyimbolkan cubitan kecil.
"Tidurlah, aku tahu Kau lelah. dulu Aku pernah merawat nenek yang sampa jatuh pingsan karena siklus haidnya. dia memilki miom sebelum masa menopause nya tiba dan terpaksa melakukan tindakan pengambilan miom yang membesar. Sedari kecil aku hidup berdua denganya. Sedikit banyak aku tahu dan paham tentang reproduksi wanita. Jadi jangan khawatir aku tidak akan marah padamu karena hal ini." Katanya.
Ah~~~, syukurlah. Aku bisa bernafas dengan lega sekarang.
__ADS_1
Dia membawaku menuju ranjang dan bahkan menatakan kain tepat dimana tempatku akan berbaring. Tidak kusangka Dia akan seteliti ini.
"Heran ya?" dia menanyaiku yang hanya berdiri mematung melihatnya. "AKu terbiasa melakukan ini dahulu saat nenek belum menjalani operasi pengangkatan miom. darah haidnya begitu banyak saat dia kesakitan sampai pingsan."
"dah, tidurlah, aku akan mandi." Katanya setelah menatakan tempat untukku.
Dia memasuki kamar mandi dengan senyuman yang mengiringinya. siapa sangka anak yang sewaktu SMA begitu banyak membuat onar, begitu ditakuti para gadis nyatanya memiliki sisi yang tak kebanyakan pria miliki. Dia tegas dan lembut pada waktunya.
Tak berselang lama saat aku tegah menyelami pikiranku memikirkan mengapa jodoh mempertemukanku dengan Dia, rupanya Dia sudah selesai dengan ritual mandinya dan menaiki ranjang di sebelahku.
Seharusnya malam pengantin tidak seperti ini kan? Aku tahu sedang ada sesuatu yang bergejolak dalam dirinya, tapi... Dia bisa menyembunyikannya dariku serapi mungkin.
"kenapa belum tidur?" Tangannya menelusup di bawah tengkukku dan secara tidak langsung membawaku tertarik kedalam dekapannya.
"Malam pengantin kita harus jadi seperti ini gara gara aku. Maaf ya?"
"Tidak apa apa Chagi, aku tidak masalah. Sudah Ayo tidur!" Dia mengecup pucuk kepalaku seolah tan ingin membahas hal ini lagi.
Perlahan, aku pun ikut terlelap saat dengkuran halus darinya mampu menghipnotisku yang tadinya susah terlelap.
"Thank you Chagiya, i love you!" ucapku lalu mengecup sekilas pipinya.
...~~~...
Di lain tempat.
"Rumi, ajak Haruka pulang!" Kata Ayah Haruka di seberang panggilan telepon saat menghubungi sahabat baik anaknya.
"tapi paman, Dia menolakku bahkan melemparkan tasnya ke wajahku. Dia mengamuk disini aku butuh bantuan paman. dia frustasi setelah mendengarkan kabar pernikahan Robbie."
"Aish...! dasar pembuat masalah. baiklah jaga Dia, Biarkan paman yang akan menyeretnya pulang!"
"Ba.... baik paman."
...πΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌ...
Mohon ramaikan dan tinggalkan jejak setelah membaca ya..
Terimakasih untuk yang sudah mampir sedari awal sampai ke tahap ini. I Love you more para pembaca setia. Jangan lupa masukkan kedalam daftar favorit kalian ya..!
__ADS_1