
...🍁🍁💮🍁🍁...
...🍁🍁💮🍁🍁...
Dan aku melirik pundakku yang basah akan air matanya. Tidak, tidak ada noda ingus disana. Dia hanya menyebar jenaka untuk merubah suasana dan kami tertawa bersama dengan air mata di masing-masing pipi kami. Tidak mau atau apapun itu, kami hanya berbagi kenyamanan saat ini.
" Bell,..." Dia memanggilku dengan wajah sendunya. Lelaki bertubuh tegap dan kekar menangis di pundakku.
" Hem?" Aku mengambil tisu lalu membersihkan sisa air matanya. Sungguh ini seperti pemandangan saat ibu menyeka air mata si anak.
" Bagaimana hubuganmu dengan Jimmy?" Tanyanya membuat pergerakan tanganku berhenti dan kemudian membuang tisu ke kotak sampah di sampingku.
" Aku? dengannya?" Aku menunjuk batang hidungku lalu terkekeh menertawai diriku sendiri. " Aku memutuskan untuk berhenti mengejarnya dan memilih untuk menjauhinya. Aku merasa tidak bisa bersikap profesional dalam menjalani persahabatan ini." Kataku dengan memandang langit malam.
"Apa kau sudah mengetahui tentang dia dan Eva?"
DEGH...!
Jujur jantungku lebih berdebar lagi saat dia membahas soal hubungan Jimmy dan Eva. Aku berharap dia tak tahu perihal mereka yang tinggal bersama.
"Yang aku dengar mereka sudah putus." Jawabku singkat berharap dia tak mengungkit hal ini lagi. Aku tak mau Jimny menyalahkanku jika sampai kakaknya tau perihal dia dan Eva yang tinggal dalam satu atap saat masih berpacaran.
Kak Rama tersenyum menatapku, dia lalu bersandar pada jendela dan tangannya mengusap punggungku. " Maksudku, apa kau tak ada niatan untuk kembali berjuang? Kan katanya cinta butuh pengorbanan." Katanya lagi.
Ah, ini sosok dirinya yang sebenarnya. Yang Jimmy bilang kakaknya begitu menyebalkan tapi mengapa Rama selalu bersikap baik dan hangat saat bersamaku?
Aku menggeleng. " Sudah cukup Kak. Lelaki masih banyak di dunia ini." Kataku memungkas segala arah pembicaraan yang menuju pada nama Jimmy. berharap pembicaraan akan berbelok ke titik yang lain.
" Kau benar, Aku juga lelaki." Katanya yang berhasil mendapatkan atensiku. Aku menatapnya dan tangannya berhenti bergerak mengusap punggungku.
Apa maksudnya tadi? Dia juga lelaki? aku tau itu tapi bukankah ini suatu frasa yang ambigu? Satu frasa dengan beragam makna.
" Hem, iya. Kau lelaki baik dan dia lelaki yang menyebalkan." Kataku menutupi rasa gugupku.
Oh, tunggu! Mengapa udara jadi terasa panas? apa pipiku memerah?
Sekelebat bayangan melintas di dalam kamar Jimmy. Tapi..., bukankah dia sedang berada di apartemen? atau dia pulang?
Aku hampir ingin membuka mulutku dan mengatakan sesuatu. Tapi, tirai di kamar Jimmy terbuka dan aku benar-benar bisa melihatnya. Dia pulang dan melihatku bercengkrama dengan kak Rama di balkon kamarku.
__ADS_1
Tunggu dulu, apa dia pulang karena tahu orang tuaku tidak di rumah? Dia hanya ingin mengangguku?
Aku harus mencari cara untuk tidak terjebak dan terus menjadi mainannya.
" Benarkah aku baik?" Tanya Kak Rama yang kudengar nada bicaranya berubah. Aku tak melihat tapi aku bisa merasakan. Dia ingin menyampaikan sesuatu.
Dia menggigit bibir bawahnya dan seolah ragu untuk berucap. " Bella." Satu kata?
Padahal aku berharap dia berbicara dengan banyak kata.
" Ya." Jawabku tak kalah singkat.
" Emmm..." Dia gugup dan sesekali terlihat menarik nafasnya.
" Ada apa?"
" Bella, Will you be my girl friend? I think I'm fall in love with you." Katanya sedikit tergagap.
Kya.....! What is this?? Dia menembak ku? Dia mengatakan ingin menjadi pacarku?
Oh tuhan aku ingin salto, aku ingin koprol depan belakang, aku ingin berguling di pantai. Otak bawah sadarku justru membawaku berimajinasi di saat yang tidak tepat.
" Hahaha....!" Aku tertawa sambil melamun membayangkan jika aku sedang berlompatan di taman bunga.
" I wanna be your man. Can i?" Tanyanya lagi.
Bibirku kaku dan entah bagaimana aku malah mengangguk dengan senangnya tanpa bisa berbicara panjang lebar lagi. Dia membuatku merasakan ribuan kupu-kupu menggelitik di perutku. Sensasi apa ini?
Aku masih membeku, tanganku langsung berubah dingin dan berkeringat. Pertama kalinya dalam hidupku ada seorang pria menyatakan perasaannya.
" Bella? Will you?" Tanyanya lagi.
" Yes, I will." Jawabku yakin.
Dia tersenyum senang lalu memelukku dengan begitu eratnya. " Jagan sekuat ini, aku tidak bisa bernafas." Keluhku dalam dekapannya.
Masih terluka saja sekuat ini, apalagi kalau sembuh total? Pasti Errrrr luar biasahh!
" Sudah malam, kau tidurlah. Besok kita akan kencan." Katanya yang melepas pelukannya.
" Kencan? Mwo? Apa?" Aku sungguh terlihat begitu antusias. Akhirnya aku punya pacar dan kami akan pergi berkencan. Oh astaga....! Haruskah aku mengikatnya malam ini agar tak usah pergi?
__ADS_1
Dia mengangguk dengan wajah tampannya dan jangan lupakan senyuman manisnya. " Iya date, kencan. Oh apa kau sibuk? kau tidak bisa ya?" Katanya.
" Bi... bisa kok. Bisa banget...!" Kataku yang tersipu malu.
" Manis sekali.." Pujinya kepadaku dan kemudian tangannya mengusap pipiku yang memerah.
Kya...! Aku ingin menari dan merayakan ini sekarang. Batinku meronta ingin segera menari menirukan balon angin yang berada di depan konter HP seberang jalan.
Yah, di elus doang ga di cium😒. Ih... apasih? kenapa aku jadi banyak mau?
Di sebuah apartemen.
" Argh....!" Jimmy menendang meja yang berada di ruang tamunya.
" Sial!! kenapa aku dulu menolaknya berkali-kali?" Dia menjambak rambutnya dan frustasi.
" Selama SMA, sudah berapa kali aku menolaknya? Dan sekarang dia menjadi pacarnya Kakakku?" Jimmy terdiam sesaat di berfikir.
"Apa sebaiknya aku adukan pada Ayah kalau dia sering menyelinap ke kamar Bella?" Jimmy menggumam mempertimbangkan. " Ah tidak, tidak! tidak, tidak! itu akan sama saja dengan aku melancarkan aksi mereka."
" Damn!! I hate this feeling!!" Teriaknya mengerang kesal dan melempar jaketnya ke sembarang arah.
Kalau kata Ti patkai sih. Yah, begitulah cinta. Deritanya tiada akhir.
Tidak ada teman untuk berbagi keluh kesah, Jimny memutuskan untuk bersahabat dengan beberapa botol miras. Dia membukanya lalu menenggaknya tanpa aturan. Saat sedang mabuk parah,
DRING....!
DRING!
DRING!
Ponsel Bella berdering dan waktu masih menunjukkan pukul 2 dini hari. Bella terbelalak kala melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
" Jimmy?" Gumamnya sebelum mengangkatnya.
" Ha..." Belum sempat menyapa, tapi di ujung sana si penelepon sudah meracau ria.
"Bella I love you....!" Teriak Jimmy membuat Bella sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Bella, can we go back in time? I want to fix everything. I want to fix our relationship. Why are you so mean? You're mean Bella!! You evil!!" Kata Jimmy memarahi Bella.
__ADS_1
Reaksi Bella, " Ah.., dasar gila! pasti dia mabuk!" Bella memasang mode mute lalu meletakkan ponselnya di atas nakas. " Sana, kau curhat sana dengan operator!" Cicit Bella tak kalah kesal.
" Menganggu orang sedang tidur saja." Bella kembali menarik selimutnya dan melanjutkan mimpinya.