
...~•~ ...
...~•~ ...
Kicau suara burung yang saling bersahutan, saling bercuit menyingkap tabir kesunyian. Dua sejoli tengah bergelung dalam hangatnya peraduan.
Tangan kekar masih melingkar sedangkan si empunya samar samar menderukan nafas yang perlahan membelai ceruk wanita cantik yang kini tengah tersenyum menatap garis wajah sang suami yang terlelap dalam damai.
Robbie masih terpejam dan selah enggan untuk kembali menghadirkan kesadaran setelah semalaman ia menggempur sesuatu yang telah sah mendapatkan perijinan.
Bella tersenyum mengamati wajah pria yang kini telah seutuhnya menjadi miliknya. Pria yang beberapa tahun yang lalu pernah menolongnya dari kenakalan anak anak remaja. Pria yang dalam diam melindungi dan selalu menjaganya.
"Kenapa? aku tampan ya?" Tanya Robbie saat dia menyadari bella masih setia memandangnya dengan menyimpan gurat keceriaan dibalik senyuman.
Bella mencubit gemas hidung sang suami. "Iya, kalau kamu jelek mana mau aku sama kamu. Setidaknya menikah untuk memperbaiki keturunan kan?" Kata Bella yang sebenarnya menuntut sahutan Ya.
Robbie tergelak dan kembali mengeratkan pelukannya. Dia kembali menempatkan bibirnya di perpotongan leher sang istri. Menghirup kembali aroma manis dari Vanilla yang bercampur bunga pheonny.
"Iya, anak anakku nanti harus semua wajahnya mirip aku." Kata Robbie.
"Emm... kalau mirip dengan Jimmy juga tidak mungkin. Masa iya turunannya kamu miripnya sama orang lain." Bella pun balas mengeratkan pelukannya.
Membicarakan Jimmy membuat Robbie mendongakkan kepalanya. "Bagaimana kabarnya anak itu? terlihat aku lihat dia menangis saat kita menikah."
ya, memang saat melihat resepsi pernikahan secara online Jimmy menangis dan tak malu menunjukkan wajahnya yang sembab pada Bella.
"Entahlah, banyak yang tidak ku ketahui setelah aku kemari. Duniaku terasa seperti terisolir." Kata Bella yang sebenarnya menyatakan kegelisahannya.
Robbie mengusuk pucuk kepala istrinya. "Aku tahu kamu bosan tapi... ini sudah kebijakan dari negera ini. Semuanya sekarang dirumahkan termasuk aku yang kini hanya akan bekerja dari rumah." Kata robbie.
Pandemi yang tak kunjung usai memang membuat beberapa negara memiliki kebijakannya masing masing semata mata untuk menjaga kesejahteraan dan keamanan rakyatnya.
"Jadi, kita akan begini terus? dirumah terus?" tanya Bella yang sebenarnya Dia menginginkan sesuatu.
"Aku tahu kamu mau jalan jalan seperti Ayah dan Bunda kan?" Robbie menebak dengan presisi.
__ADS_1
Bella mengangguk cepat.
"Tapi maaf, belum bisa Chagiya. Kita tidak boleh kemana mana. Semua destinasi wisata sedang ditutup. Ayah dan Bunda juga sekarang sedang masa karantina dan tidak bisa kemana mana. jadi sama saja dan jangan ngiri." kata Robbie yang kemudian mengecup pipi Bella.
Masih bercengkrama dengan hangatnya tiba tiba saja pintu kamar mereka di ketuk oleh asisten rumah tangga.
"Tuan sarapannya sudah siap." Kata si Asisten rumah tangga.
"Iya!" seru Robbie yang menyahuti.
Robbie segera bangun tapi tidak dengan Bella yang masih menyembunyikan dirinya di dalam selimut. Dia terkesan sangat malu dan menunggu Robbie untuk keluar terlebih dahulu.
"Kenapa tidak segera keluar?" Tanya Robbie yang masih bersolek setelah selesai mandi.
Memang pria berhidung mancung ini terkesan tidak romantis sama sekali. Setidaknya seharusnya dia membopong atau membantu sang istri untuk membersihkan diri kan? Tapi tidak, itulah robbie dia memiliki cara sendiri agar istrinya bisa mengekspresikan diri.
"Aku tahu kamu malu. Aku keluar dulu ya, mandilah dan panggil aku jika butuh sesuatu. I Love You!" kaa Robbie yang kemudian mengecup pucuk kepala sang istri dengan sayangnya.
...Pov Bella. ...
SUrga dunia macam apa yang membuatku sekarang berjalan merambat seperti cicak begini? Ini sungguh sakit, dan untung saja suamiku tidak banyak menuntut.
Karena film bodoh itu yang bermain banyak gaya, aku sempat berfikir bahwa memang semuanya itu mengasyikkan. Tapi sekarang?
"Auh...! Ini sangat sakit bahkan terkena air mandi saja seperih ini?" Aku mengatupkan mulutku mencoba menahan rasa nyeri yang menjalar sampai ke ujung kaki dan membuatku meringis kesakitan.
Badanku terasa remuk setelah semalaman dia mengajakku bermain tanpa jeda. Mau marah, tapi aku duluan yang memulainya? Ah, dasar bodohnya aku...
Aku baru selesai mandi setelah 30 menit berendam dengan air hangat untuk merilekskan tubuhku. Aku berniat untuk merapikan tempat tidur dan mencuci sendiri seprei kami. Aku akan sangat malu jika seprei itu di cuci oleh orang lain.
Tapi...
Saat aku keluar dari kamar mandi, seprei kami sudah berganti dengan yang baru dan sangat rapi. Aku hanya bisa tertegun dan membulatkan mataku. Kini aku sungguh tidak akan punya nyali untuk menemui asisten rumah tangga kami.
Dengan segera aku memakai baju dan menutupkan handuk di atas kepalaku dengan harapan supaya mereka tidaka kan melihat wajahku saat aku menemui suamiku yang tidak tahu malu.
Dengan malu malu aku memberanikan diri berjalan berjinjit menuju ke ruang makan. tapi nihil, suamiku tidak ada disana. Aku kelimpungan mencarinya.
__ADS_1
"Nyonya mencari siapa?" Tanya salah satu asisten rumah tangga yang bertanggung jawab mengurusi taman.
"A... aku mencari suamiku." kataku dengan terus memakai handuk sebagai penutup kepala.
"Oh, Tuan? Tuan sedang menjemur seprei Nyonya. tadi saya lihat dia di belakang." Kata si pengurus taman.
Di belakang? ngapain?
"ya sudah, saya akan menemuinya." Kataku yang kemudian pergi untuk menemui Robbie.
Aku segera melesat jauh melampaui yang tak terlihat. Aku segera berlari menuju tempat untuk menjemur baju dan karena tak melihat dengan baik aku menabrak seseorang sampai kami terjatuh d tanah.
"Aduh!" Keluhku yang juga setelahnya diikuti suara yang sangat akrab di telingaku.
"Aduh!" Keluhnya lalu aku membuka handuk yang menutupi penyamaranku.
"Ngapain jalan harus di tutupin kepalanya sih?" protesnya sambil memijit kakinya yang sakit karena terjatuh.
Aku mendongak dan melihatnya. Itu adalah suamiku yang tengah berada pada mode on untuk memarahiku.
"Bie, kamu ngapain?" tanyaku. " Aku cariin malah di belakang. Seprei kita tadi yang bawa pergi siapa?" Celetukku cepat cepat sambil setengah berbisik padanya. Padahal ya..., para asisten disini hanya sedikit saja mengerti bahasa Indonesia.
Dia lalu menjitak keningku dengan gemasnya dan memutar kepalaku untuk melihat sesuatu. "Itu kan yang kamu cari?" tanyanya setelah mataku menangkap sprei putih yang berkibar di tiup angin.
"Kok udah bersih? siapa yang cuci? sumpah Bie, aku malu banget." Kataku sambil memejamkan mataku mengekspresikan menhan malu.
Dia tertawa lalu mencubit kedua pipiku. "Bell, bel..!" Dia menggeleng.
"Malu, kenapa Chagi? malu sama aku? itu aku tadi yang cuci. Sudah aku tebak kamu pasti bakal begini."
Sumpah demi tempe orek! aku bisa bernafas lega sekarang. Kalau saja yang mencuci adalah orang lain, Aduh....! mau jadi apa mukaku ini?
"Makasih ya, kamu udah cuci." Kataku yang tersipu-sipu saat melihatnya.
"Sudah seharusnya, Chagi. Karena aku juga yang sudah mengotorinya." Katanya yang kemudian membantuku untuk berdiri.
Terkadang, sebagai wanita, Kita tidak membutuhkan sikap manis yang berlebihan dari pasangan. hanya dengan pengertian dan perhatian seperti ini saja wanita sudah merasa begitu diistimewakan.
__ADS_1