
Robbie menelusuri sepanjang jalan dengan perlahan dia begitu mengamati sekelilingnya dia takut jika melewatkan sosok Bella. Tapi nihil, Bella tak ada di sepanjang jalan tersebut.
Tak di dapatinnya Bella disepanjang jalan.
"Ah, apa dia sudah sampai di rumahnya?" Robbie kemudian mencoba menghubungi Bella tapi tak mendapatkan jawaban.
Dia begitu panik sekarang. Langsung menuju ke rumah sewa Bella agaknya suatu pilihan yang baik. Mungkin saja gadis itu sudah pulang dan sedang tidur.
Robbie mengetuk pintu gerbang, tapi tak di bukakan dia mondar-mandir menunggu di depan gerbang dan menunggunya.
"Apa dia marah padaku? sehingga sengaja tak mengangkat panggilanku?" Dia begitu cemas saat ini, Robbie berjalan mondar-mandir di depan gerbang sambil sesekali menggigit bibirnya.
"Bella, ayolah angkat telfonnya. Kamu dimana?" Robbie begitu cemasnya.
Di negara asing Bella hanya sendirian. Minim kenalan ataupun pengetahuan tentang lingkungan sekitar. Madam Yuki yang di hubunginya pun, hanya memberikan jawaban tidak tahu. Pasalnya madam Yuki masih berada di kampus dan tidak tau keberadaan Bella.
Robbie menunggu dan kembali masuk kedalam mobilnya. Dia menyalakan ponselnya dan memeriksa pantauan dari CCTV. Betapa leganya dia dalam rekaman CCTV terlihat Bella memasuki rumah dan tertidur dengan sembarangan di ruang tamu.
"Ah, kau membuatku sangat takut." Robbie bermonolog dan kemudian melajukan mobilnya.
Di dalam rumahnya.
Bella tertidur pulas setelah pulang dan meminum obatnya tanpa makan terlebih dahulu. Dia begitu kesakitan sebenarnya, namun sesakit apapun itu Bella tak menampakkan di depan CCTV. Hanya tampak dari luar, bahwa dia baik-baik saja.
Bella memiliki riwayat sakit magh. Dia yang disana masih baru, sedikit kesulitan menyesuaikan selera lidahnya dengan jenis makanan olahan yang ada disana. Adapun yang di sukainya memiliki harga yang lumayan menguras kantong.
Malam hari.
"Argh...." Bella mengaduh kembali memegangi perutnya. "Sakit sekali." Dia meringkuk meringis menahan sakitnya.
Dia menangis sendirian menahan nyeri. "Ah, Bunda... perutku sakit sekali." Dia menangis menahan sakitnya.
DERT...!
Ponselnya berdering, Bella terbangun dengan susah payah. Dia merangkak meraih ponselnya.
"Halo Bunda." Sapanya menahan sakit.
".........."
"Iya Bun, sudah. Ini baru saja aku mau keluar mencari makan."
"..... ......."
"Iya, Bella keluar dulu ya Bun. Jangan khawatir, aku baik-baik saja."
Bella mengakhiri panggilannya setelah di rasa cukup.
__ADS_1
"Ouh, sakit sekali." Dia mengaduh kesakitan.
Ponselnya kembali berdering dan kali ini dari Robbie.
"Bie, masuk saja. Aku tidak mengunci pintunya. Tolong aku, perutku sakit sekali."
Tak lama kemudian pintu terbuka dengan tergesa-gesa. Robbie berlari setengah mendobraknya.
"Bella? ayo kita kerumah sakit." Ucap Robbie yang dengan segera membopong Bella menuju ke mobilnya.
Dia menempatkan Bella, mendudukanya dengan sangat hati-hati dan merapikan rambut Bella. " Maaf aku selalu merepotkanmu." Ucap Bella.
"Tidak apa-apa, sudah jangan banyak bicara. Simpan saja tenagamu ya. Kita akan segera sampai ke rumah sakit." Robbie yang cemas tanpa sadar menggenggam tangan Bella.
Terlihat sekali kecemasan di wajah Robbie. Sorot matanya menyiratkan tingginya kepedulian. Lebih dari sekedar teman.
Sementara itu Bella, dia hanya bisa menahan sakit sambil memegangi perutnya.
Perjalanan agak terhambat, jalanan yang tertutup salju membuat Robbie hanya bisa berjalan dengan lambat. Dia benci itu. Robbie yang sudah panik meluapkan kekesalannya dengan memukul stir berkali-kali.
" Argh...! Salju sialan!" Dia mengumpat dengan tatapan mata yang lurus menatap jalanan kota yang sepi.
Bella menyunggingkan senyumnya tipis. "Jangan marah Bie, santai saja. aku tidak akan mati hanya karena sakit perut."
"Tolong, tolong...! jangan bicarakan soal kematian. Aku mohon..." Ucap Robbie yang tiba-tiba terlihat begitu ketakutan setelah mendengar kata kematian.
Mereka saling diam setelahnya. Hanya bertemankan kesunyian membelah jalanan kota. Bella sibuk menahan sakitnya. Sementara Robbie mengemudi dengan rasa was-was.
...~~~...
"Bell maafkan aku ya. Kamu terlalu lama menunggu siang tadi." Kata Robbie mengutarakan penyesalannya.
Bella tersenyum dengan wajah yang pucat pasi. " Bie, tidak apa-apa. Aku tau kamu sibuk kan? tadi aku langsung pulang, hanya saja tubuhku ini terlalu ringkih dan belum bisa menyesuaikan dengan suhu dingin disini."
"Oh, Maafkan aku." Tetap saja Robbie bersi keras meminta maaf akan keterlambatannya siang tadi yang menelantarkan Bella yang menunggunya hingga setengah jam dalam udara dingin.
"Kau sudah makan?" Tanya Robbie.
Bella menggeleng.
" Kamu punya magh, tapi tidak bilang. Aku merasa bertanggung jawab atas keadaanmu."
"Bie, kamu itu sudah cukup baik padaku. Jangan menyalahkan dirimu atas semua ini."
"Ayo makan. Aku suapi, jangan membantahnya!" Kata Robbie yang memaksa dan kemudian menyodorkan sendok di hadapan Bella.
Bella hanya menurut lalu membuka mulutnya. Dia malu sebenarnya, tapi tak ada pilihan lain. Di tangannya sudah terpasang selang infus dan dia hanya bisa berbaring menerima perlakuan baik temannya.
__ADS_1
"Kamu begini padaku nanti tunangan mu marah."Celetuk Bella saat melihat sebuah cincin melingkar di jari manisnya.
Robbie menjadi gugup lalu menyembunyikan jarinya.
"Tidak usah disembunyikan Bie. Aku melihatnya tadi waktu kamu menggenggam tanganku. Tunanganmu pasti beruntung sekali mendapatkan pria yang begitu baik sepertimu." Ucap Bella sembari mengulum senyumnya. Tak ada kekecewaan yang tersirat di sela-sela ucapannya. Bella mengatakannya dengan lancar tanpa kendala.
"Em .., Bell tunaganku itu sangat baik. Dia tidak akan marah padaku selagi aku berbuat baik. Aku bahkan sudah sering menceritakan tentang dirimu padanya." Ucap Robbie dengan tangan yang terus bergerak aktif menyuapi Bella.
"Oh, sungguh indah. Kamu baik dan mendapatkan calon istri yang baik juga. Aku ikut senang Bie." Bella tersenyum. "Jangan lupa undang aku ya." Sambungnya lagi dan membuat Robbie menjadi mematung.
Cincinku ini baru tersemat sebelah, dan sebelahnya lagi ku simpan sengaja untukmu Bella. Aku berharap suatu hari nanti kau mau menerima cintaku.
"Tentu, kamu harus datang. Jika kamu tidak datang maka pernikahanku pun akan batal." Celetuk Robbie.
"Hahahaha, segitunya Bie. Memang aku mempelainya? kalau aku tak datang, tidak akan berpengaruh juga lah buat kamu."
" Sangat berpengaruh Bella, dan aku berjanji untuk itu. Di pernikahanku harus ada kamu, atau tidak menikah selamanya." Celetuk Robbie menatap lekat wajah pucat yang duduk bersandar tak berdaya di hadapannya.
DEG!
Perasaan apa ini? aku merasa ucapannya sungguhan. Dia sepertinya menyatakan sesuatu yang terselubung. Tapi apa itu? Bella membatin dalam diamnya.
"Malam ini kutemani ya? aku akan menunggumu." Kata Robbie.
"Tidak usah Bie, aku bisa sendiri. kemampuan berbahasa ku lumayanlah."
"Jangan sok kuat Bella. Siapa yang akan membantu ke kamar mandi?"
Benar memang, untuk berbicara tentu Bella pandai melakukannya. Tapi untuk berjalan dan menuju ke kamar mandi dengan membawa tiang penyangga infus sendirian apa dia bisa?
Mengangkat kepalanya saja sudah begitu sulit.
"Ok!" sahut Bella tanpa suara tapi mendapatkan balasan senyuman dari Robbie.
"Dah, sekarang kamu tidurlah." Robbie membantu Bella untuk kembali berbaring.
Saat Robbie membantunya, tak sengaja bibir Bella menempel di pipi Robbie. Ini sudah yang ke dua kalinya. Dan saat ini juga degup jantung keduanya menjadi tak normal.
"Kau sudah mencium pipiku dua kali Bella. Apa kau sengaja?" Cetus Robbie menatap lekat Bella.
Tak ada jarak diantara keduanya, bahkan nafas mereka saling menderu dan menyapu satu sam lain. Bella tergugup dan tak berani menatap Robbie.
"Ini tidak sengaja Bie. Yang dulu juga tidak sengaja." sergah Bella dengan tersipu malu.
Robbie mengulum senyumnya saat melihat Bella yang kemudian menyembunyikan wajahnya kedalam selimut. Pipinya memerah seperti udang rebus sekarang ini dan jangan sampai Robbie melihatnya atau bisa di salah artikan nanti semuanya.
"Sengaja pun boleh Bell, aku ikhlas malah." Ujar Robbie sambil terkekeh dan kemudian mengusuk pucuk kepala Bella.
__ADS_1