Lebih Dari Pacar

Lebih Dari Pacar
~ Apa maksudnya?


__ADS_3


Hiruk pikuk perkotaan berpadu dengan ramainya lalu lalang. Rama dia berdiri di depan jendela besar di ruangannya. Menatap jajaran gedung tinggi menjulang di sekitaran.


"Bell, kamu sedang apa sayang?" Gumamnya melamun sendirian.


TOK!


TOK!


Terdengar suara ketukan pintu yang membuyarkan lamunannya. Rama dengan lantangnya menyahut tanpa ingin tau siapa gerangan yang berada di ambang sana.


"MASUK!!" Teriaknya.


Entahlah, tapi semenjak keputusannya itu, dia berubah menjadi sosok yang pendiam dan suka uring-uringan.


Sesosok baya tersenyum kala mendengar suara bariton si sulung yang menggelegar menggema di ruangan kerjanya.


"Kenapa? melamunkan Bella?" Ucapnya yang mendekati sang anak dan menepuk pundaknya.


Rama terkesiap dan kemudian bertakzim mencium punggung tangan sang Ayah. Sebenarnya tak ada yang lebih membuatnya lega kecuali kembalinya kasih sayang sang Ayah untuknya.


"Ayah? aku pikir siapa?" Ucapnya yang kemudian menurunkan nada bicaranya.


Rama begitu malu, dia sudah berani berteriak pada ayahnya sendiri.


"Hem, tidak apa-apa. Memang begitulah singa kan? mengaung untuk meluapkan emosinya. Kamu masih teringat Bella?" Tanyanya yang membuat Rama tercengang. Pasalnya hubungannya dengan Bella belum go publik. Lalu bagaimana Ayahnya bisa tau?


"Jimmy yang memberitahukan kepada Ayah ya?" Celetuknya.


Ayah Dandi mengangguk. " Iya, si bontot itu tidak pernah bisa menyimpan rahasianya dariku." Ayah Dandi kemudian duduk di sofa dan menyilangkan kakinya. Tangannya terulur mengusap daun tanaman hias yang terletak di sudut sofa seolah menikmati setiap usapanya.


"Ram, Jangan terlalu mengikatnya di dalam hatimu. Biarkan dia mengejar mimpinya. Ayah tau kau menyukainya, tapi Ayah ragu kau mencintainya. Ayah rasa perasaanmu hanyalah sebuah rasa yang berdasarkan pada persaingan sengit antara kamu dan Jimmy."


Bagaimana seorang Ayah bisa menyimpulkan seperti itu? Sedangkan Rama sendiri sampai meratapi keputusannya mati-matian. Rama hanya terdiam menyimak setiap apa yang Ayahnya katakan.

__ADS_1


"Ram, Ayah juga pernah muda sepertimu. Dan ayah juga pembangkang sepertimu dulu. Tapi semakin hari, Ayah menyadari satu hal yang pernah Ayah bela mati-matian ternyata hanyalah cinta sementara. Hanyalah pengenalan dari kata cinta yang sesungguhnya." Ucapnya seakan sedang curhat dengan putra sulungnya tentang segala masa lalunya.


"Tapi...." Rama terdiam. Dia meresapi sendiri perasaannya. Dia merenung dan memikirkan apakah benar semuanya yang Ayahnya katakan?


"Santailah, dan nikmati bunga yang ada di sekiramu, mungkin salah satunya nanti adalah tempatmu hinggap dan menyesap madu." Ucapnya tanpa menatap si sulung.


Ayah Dandi kemudian bangkit dan merentangkan kedua tangannya. "Kemarilah singanya Ayah." Itulah julukan sang Ayah pada Rama si sulung yang tegas, keras, dan pembangkang.


Rama mendekat lalu memeluk Ayahnya. "Suatu saat, singa Ayah yang keras kepala ini akan menemukan betinanya, yang bisa membuatmu bertekuk lutut di hadapannya." Ucap sang Ayah sambil menepuk-nepuk punggung si sulung.


"Seperti Ayah yang kehilangan Aungan di hadapan Bunda?" Cicit Rama yang menempatkan posisi tersebut pada Ayah dan Bundanya.


"Hahaha, kau benar sekali. Jangankan Aungan, kamu tau kan di depannya saja Ayah tidak bisa membantah ataupun berbicara dengan nada tinggi." Ucapnya sambil tertawa.


"Kau tau, belum lama Bunda meminta cerai dari Ayah." Kata Ayah Dandi yang kemudian mengurai pelukannya dan berjalan menuju ke pintu keluar.


Rama terbelalak, mereka begitu harmonis dan mana mungkin sampai Bundanya meminta cerai?


"Ayah bohong kan? Kalian kemanapun selalu bersama, mengalahkan anak-anak remaja yang sedang jatuh cinta. Lalu bagaimana bisa?" Tanyanya penasaran.


"Ayah tidak mau anak ayah sakit, terluka, atau menderita. Tapi kamu malah memilih profesi itu, profesi yang memiliki tingkat cidera tinggi dan beresiko. Apalagi kamu yang memilih tugas di lapangan daripada di kantor. Biar apa? biar keren?" Sang ayah mengomel.


"Ayah, pertanyaan Rama belum di jawab. Kenapa Bunda sampai meminta cerai?" Ulangnya.


Ayah Dandi mendengus menghela nafasnya dan memegang handel pintu. Dia bersiap untuk membukanya. "Karena kami berdebat saat Jimmy kecelakaan. Saat itu Ayah juga teringat kamu. Melihat adikmu terluka begitu, membuat Ayah juga takut jika hal buruk menimpamu."


Ah, ternyata begitu pemikiran Ayahnya yang selama ini di salah tanggapi oleh anaknya sendiri.


"Lalu Bundamu berpikiran sama denganmu, dia berpendapat jika penolakan itu merupakan bentuk dari tidak kepedulian. Padahal tidak bagi Ayah. Kamu itu sama persis seperti ibumu cara berpikirnya." Ucap Ayah Dandi yang menggeleng dan kemudian keluar meninggalkan ruangan sang anak dan mendapatkan tatapan teduh dari Rama.


Ayah, ternyata begitu caramu menjagaku. Caramu mencintaiku. I Love you Ayah. Batinnya bergemuruh bahagia.


...~~~...


Matahari menyingsing, tapi tetap saja tak menepiskan hawa dingin di kota yang memutih tertutup salju. Robbie tertidur di samping Bella dengan kepalanya yang menunduk, menggunakan satu tangannya sebagai bantalan.

__ADS_1


Bella yang sudah terbangun lebih dahulu menatapnya sayu. Hangat, dan tenang, itulah perasaan yang saat ini Bella rasakan. Jauh dari pikiran tentang hubungannya yang baru saja berakhir dengan Rama.


Bie, kamu begitu baik. Tapi, tidak seharusnya kita begini. Aku takut kedekatan kita ini akan menimbulkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat tunanganmu marah padaku nantinya. Bie, harus dengan apa aku membalas semua kebaikanmu ini? Dari dulu kamu selalu ada di saat susahku. Kamu juga yang berada di balik rasa percaya diriku. Kamu yang mendukungku di saat sulit. Terimakasih, my sunshine. Batinnya yang menatap wajah teduh Robbie yang terkena pancaran sinar kuning keemasan mentari pagi.



Robbie terbangun dan menatap teduh Bella. "Udah bangun?" Tanyanya kemudian dengan suara serak khas bangun tidur.


Bella tersenyum begitu manisnya menerima pertanyaan yang beriring dengan tatapan teduh sang Sunshine. "Iya.." Jawabnya dengan suguhan senyum manis yang tiada duanya.


Hati Robbie menghangat kala menerima senyum terbaik dari Bella. Hal ini merupakan sesuatu yang di idamkan dari lama. sesuatu yang selama bertahun-tahun hanya tumbuh dalam angannya saja.


"Hoamzz....!" Robbie menguap untuk menguraikan rasa gugupnya.


Astaga, begini rasanya ketika membuka mata sudah melihat tampilan bidadari surga? Bella, jika boleh dan kamu tidak menolaknya. Aku ingin memelukmu sekarang juga. Membawamu kedalam hangat dekapku. Batin Robbie mendamba sebuah adegan mesra.


"Kenapa melamun?" Celetuk Bella yang memutuskan lamunannya.


"Bie, hari ini kamu tidak usah menunggu ku lagi ya." Kata Bella tiba-tiba.


Robbie terdiam dan kembali duduk di kursinya. " Kenapa Bella?" Tanyanya dengan suara lembut sambil mengusap pucuk kepala Bella.


Ayolah, wanita mana yang tak memerah pipinya saat menerima perlakuan yang halus, lembut dan hangat seperti itu?


Bella menggigit bibirnya, dia bermain sebentar disana untuk mengusir kegundahannya. Takut berucap, tapi harus.


"Bie, aku tidak mau menjadi sesuatu yang mengganggu diantara hubunganmu dan tunanganmu. Ini tidak benar. Tidak ada hubungan pertemanan antara lelaki dan perempuan." Ucapnya sambil tertunduk dan menyelipkan anak rambutnya.


Robbie, merubah air mukanya. Dia terlihat serius sekarang. "Tunangan? suatu saat aku akan memberitahukan kepadamu tentang dia yang begitu spesial di hatiku. Tapi percayalah, dia bukan seseorang yang jahat dan mudah marah." Terang Robbie.


"Tapi Bie...." Ucapan Bella terhenti kala jari telunjuk Robbie bertengger di bibirnya pucatnya.


"Stop! just quite and follow my lead." Final Robbie berbicara lalu bangkit dan berdiri pergi.


Bella hanya tercenung diam memikirkan apa yang baru saja Robbie katakan.

__ADS_1


"Apa maksudnya? dan dia terlihat tidak suka aku menolak perlakuan baiknya?" Gumam Bella.


__ADS_2