
...🌼🌼🌼...
Jimmy bersorak-sorai mendengar perkataan kakaknya pada Bella. Dengan mereka putus, itu berarti dia akan memiliki kesempatan yang lebih lebar.
Namun, bukan Rama bila tidak bijak dalam mengambil keputusan.
"Iya, aku ingin kau meraih mimpimu. Cukup aku yang gagal dalam meraih mimpiku. Aku merelakan profesiku untuk mengejarmu kemari. Tak ada cara lain untuk menjauhkan anak brengsek itu darimu selain dengan tangan dan mataku sendiri." Kata Rama dengan tatapan matanya yang tajam menatap Jimmy.
"Kenapa melihatku seperti itu?" Cicit Jimmy tak suka dengan tatapan mata Rama.
"Sudah cukup!!" Madam Yuki berteriak sekencang-kencangnya.
"Sudah cukup kalian tidak menghormati ku sebagai pemilik rumah ini! Aku tidak suka dengan kelakuan tamu macam kalian. Sekarang kalian silahkan pergi!!" Madam Yuki menunjuk ke pintu utama.
Rama mengerti dan memaklumi sikap Madam Yuki. Tapi tidak dengan Jimmy yang hanya diam dan tak mengatakan apapun.
" Madam, maafkan kami." Kata Rama yang menghampiri Madam Yuki yang berdiri di dekat Jimmy.
"Saya akan menyelesaikan masalah ini di luar dan tak akan mengganggu Madam. Maaf dengan semua ini, dengan semua kerugian yang kami ciptakan. Saya akan bertanggungjawab dan memberikan kompensasi berupa ganti rugi atas kerusakan properti rumah ini." Ucap Rama dengan sopan dan setengah membungkukkan badannya.
Sementara sang adik malah mencibikkan mulutnya seolah meremehkan apa yang Rama lakukan. Rama kembali menepuk bagian belakang kepala Jimmy.
"Tunjukan etikamu! minta maaflah." Ucapnya tegas.
Jimmy mengusap bagian belakang kepalanya yang baru saja mendapatkan teguran. "Dasar pemaksa!" Cibirnya lagi.
"Madam, saya minta maaf," kata Jimmy menurut tak rela.
Bella meraih tangan Madam Yuki, dia sungguh tak enak hati pada pengawas juga sekaligus walinya di sana. "Madam, saya minta maaf atas keributan ini." Bella membungkuk sopan.
"Kalian berdua, segeralah pergi dari sini dan selesaikan masalah kalian di luar. Jimmy, perihal kepindahanmu aku menyatakan angkat tangan," kata Madam Yuki yang menyerah mengatasi sikap Jimmy.
Jimmy hampir mengajukan protesnya tapi di hentikan dengan Rama. "Baik Madam, biar saya yang akan mengurus adik saya. Hari ini juga, saya akan membawanya kembali ke Indonesia," kata Rama.
Jimmy sudah tidak bisa berkutik dengan sikap tegas Rama. Jika Rama sudah mengambil keputusan, tak ada yang bisa membantahnya termasuk sang Ayah. Tetapi ada satu orang yang membuatnya rela mengorbankan sesuatu yang menjadi prioritas dan juga mimpinya selama ini yaitu Bella.
__ADS_1
"Madam, bisakah saya berbicara sebentar secara empat mata dengan Bella. Ada hal penting yang harus saya sampaikan." Kata Rama meminta ijin.
Madam Yuki mengangguk dan memberikan ijinnya. Rama mengajak Bella untuk keluar meninggalkan rumah tersebut. Sementara Jimmy dia mulai menikmati lebam dan perihnya luka di wajahnya.
"Kakakku sudah seperti Jhon Cena saja." Keluhnya sambil mengompres luka di tulang pipinya yang membengkak bak terong ungu 🤣🤣.
Rama mengajak Bella berbicara di teras samping rumah tersebut yang biasa di gunakan untuk mencuci pakaian. Rama menggenggam erat tangan Bella. Bella sudah berusaha sekuat tenaga untuk menahan genangan air matanya, namun akhirnya tetap saja terjun bebas tanpa pembatas. Bella menangis sejadinya dalam dekapan sang kekasih.
"Memangnya harus ya?" tanya Bella dengan suara sumbangnya.
"Harus." Rama menangkup wajah Bella lalu mencium keningnya dengan dalam dan tulus tanpa modus.
"Sayang, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu, tapi aku juga tidak boleh egois untuk terus membuatmu berada dalam hubungan rumit kita. Ada pengganggu dan itu adalah adikku sendiri." Rama membelai lembut rambut Bella.
"Aku merelakan profesiku, dan aku memilih untuk mengalah demi kamu. Memang ada harga mahal yang harus ku bayar untuk suatu yang begitu berharga dan itu kamu juga mimpimu." Rama menarik nafasnya dalam-dalam lantaran berat baginya untuk mengucapkan salam perpisahan.
Bella menggeleng tak rela. Dia menggeleng beberapa kali. Itu merupakan tanda jika dia sama sekali tak siap melepaskan sesuatu yang telah mengisi hari dan hatinya beberapa waktu ini.
"Kak," lirih Bella tak rela.
"Bella, bukankah cinta tak boleh egois? bukankah cinta itu pengorbanan? Dengan mengakhiri hubungan kita ini, bukan berarti semuanya ikut berakhir. Tidak..." Rama sedikit memberikan jarak, lalu mengusap air mata Bella.
"Sudah jangan menangis lagi." Rama menenangkan Bella dalam pelukannya begitu hangat untuk terakhir kalinya.
Hari ini salju turun lumayan lebat. Impian Bella memang melihat turunnya salju bersama orang terkasihnya, tapi tidak dalam rangka putus begini. Bella semakin mengeratkan pelukannya. Dia benar-benar tak rela jika harus putus dengan jalan cerita yang sangat memaksa seperti ini.
"Bisa berikan aku ciuman terakhir? Aku tau setelah ini kita tidak akan bisa melakukannya lagi," pinta Bella yang menepikan rasa gengsinya untuk pertama kalinya.
Tak menjawabnya, tapi Rama segera mewujudkannya dengan semangat. Dia juga menitikkan air matanya di sela-sela ciuman terakhir mereka. Begitu hancur hati mereka ketika keadaan memaksanya untuk rela.
Di lain tempat, seseorang yang menatap layar ponselnya mengerang frustrasi dan menggebrak meja kerjanya.
"****!!" Robbie mengumpat menatap layar ponselnya yang terhubung dengan CCTV di rumah sewa tempat Bella.
Semua rumah itu memiliki CCTV termasuk ruang tamu. Hal itu Robbie lakukan demi penjagaan ketat bagi Bella. Robbie tak mau ada hal buruk yang menimpa Bella nantinya. Tetapi kejutan yang disajikan Kakak beradik itu sungguh membuatnya terperangah dan marah dalam satu waktu.
"Tadi adiknya, dan sekarang Kakaknya. Damn...! kalian...!" Robbie terus mengutuk tindakan kakak beradik tersebut.
__ADS_1
"Genta!" seru Robbie berteriak.
"Ya pak!" Genta menyahut sambil berlari tergopoh-gopoh. "Ada apa?"
"Mulai besok, kirimkan satu orang yang mengawasi Bella. Mau menyamar sebagai apapun aku tidak perduli pokoknya setiap hari harus ada laporan dari lingkungan Bella tinggal."
"Maaf Pak, itu terlalu beresiko. Disana banyak polisi berpatroli. Kurasa dengan menempatkan Bella bersama madam dalam satu rumah sudah cukup," terang Genta.
Robbie terdiam sesaat. "Tapi di rumah madam tak ada CCTV !" kata Robbie.
"Baiklah, aku akan menghubungi temanku yang sering berpatroli disekitar lingkungan Bella tinggal," kata Genta mengusulkan ide yang lebih bisa di masuk nalar.
"Hem!" Hanya deheman beserta anggukan dari sang atasan cukup membuat Genta mengerti dan menjalankan tugasnya.
...🌺🌺🌺...
Bella melepaskan ciumannya dan mengusap wajah Rama seolah meraba dan mengucapkan salam perpisahan dari setiap sentuhan lembutnya.
"I love you," kata Bella tanpa suara dan hanya nanar yang basah berkaca-kaca.
"I love you too Sayang," balas Rama yang juga sama tanpa suara. Laki-laki bertubuh kekar mantan abdi negara itu juga basah dan memerah. Rama kemudian menyudahi semuanya dan memakai kacamata hitamnya lalu mengajak Bella masuk.
"Madam, saya sudah selesai. Terimakasih atas semuanya. Dan maaf sudah merepotkan," kata Rama berpamitan.
"Jim, ayo pulang!" ucap Rama terdengar lugas. Jimmy tak bergeming sedikitpun. Dia enggan untuk beranjak.
"Ayo!" Rama menarik paksa Jimmy.
Kakak beradik itu meninggalkan negara yang dingin tanpa kerelaan. Dan selama dalam perjalanan pulang, keduanya hanya saling diam. Bahkan seperti dua asing yang tak saling mengenal.
***
Sesampainya di bandara Soekarno-Hatta. Rama sudah disambut dengan sang Ayah Dandi yang begitu bangga dan tersenyum lebar.
"Anak-anak Ayah." Sambutnya dengan merentangkan kedua tangannya.
"Ayah," Rama memeluk ayahnya. "Maaf aku sedikit kasar dengan anak kesayanganmu," ucapnya menyindir sang ayah yang lebih condong pada Jimmy.
__ADS_1
Ayah Dandi tertawa terbahak-bahak dia terlihat begitu bahagia. "Kau juga anak kesayangan Ayah sekarang. Menurut pada Ayah, dan urus perusahaan kita maka Ayah akan sangat menyayangi kalian," ucapnya terdengar memberikan patronasi.