
...🌟🌟🌟...
Oh, jantungku... apa sekarang aku punya sakit jantung juga? Kenapa berdebar tak karuan begini, dan suhu disini juga menjadi panas dengan tiba-tiba. Apa sedang terjadi anomali cuaca?
Sementara Bella berbincang dengan Bundanya, Robbie dengan tenangnya hanya diam dan menyimak obrolan mereka. Sekelumit perbincangan kecil antara ibu dan anak. Si ibu yang khawatir akan keadaan sang anak. Dan si anak yang berbohong agar ibunya tak khawatir. Sungguh suatu hal yang saling berkesinambungan bukan?
"Sudah?" Tanya Robbie saat Bella mulai mencoba melepaskan kemeja Robbie yang melekat pada tubuhnya.
Bella mengangguk sesaat dan kemudian kembali
fokus pada kemeja Robbie yang di pakainya. Robbie mendekat dan membantunya. Bahkan Robbie juga yang mengikat rambut panjang Bella yang mengganggunya saat bergerak.
"Bie, jangan terlalu baik padaku." Kata Robbie tiba-tiba dengan nada bicara lirih tapi begitu jelas di telinga Robbie.
" Kenapa?" Robbie berjongkok tepat di hadapan Bella. Tatapannya begitu teduh dan mengiba.
"Bie, kita tidak seharusnya begini. Kamu sudah punya tunangan kan? Ini tidak baik Bie."
Robbie mengulum senyumnya lalu meraih tangan Bella. Tatapannya tenang dan datar tanpa keraguan. "Bella Amelia, dengarkan aku baik-baik. Jika cincin ini yang kamu anggap sebagai simbol pengikat, maka kamu salah. Karena satu cincinya lagi belum ada pemiliknya." Ujar Robbie yang kemudian merogogoh saku celananya dan menunjukkan satu cincin yang sama persis dengan yang di pakainya.
"Ini."Robbie menunjukkan satu cincin yang sama dan Bella tertegun melihatnya.
"Bell, sudah lama aku menunggu kesempatan ini. Aku ingin kau tahu, sedari awal kita bertemu, aku sudah jatuh cinta padamu. Tak perduli seperti apa fisikmu dulu, yang jelas bagiku kamunyang terbaik." Kata Robbie dengan begitu lembut
Sungguh dia bisa menghipnotis Bella dan membuat Bella membeku di kursinya. "Bell, bertahun-tahun aku menunggumu. Aku tau kau akan menolakku mentah-mentah. Aku tau itu. Tapi bisakah kau membantuku?"
Darimana hubungannya? setelah mengatakan Cinta malah meminta bantuan. Aneh-aneh saja Robbie ini.
"Ba... bantuan? Apa kau minta aku untuk membalas jasamu yang telah baik padamu selama ini?" Tebak Bella.
"Tidak salah, tapi tidak sepenuhnya benar." Robbie berdiri lalu duduk di meja kecil tepat di hadapan Bella.
Dia menghirup nafasnya dalam-dalam dan mulai berbicara. "Aku punya Nenek, dia satu-satunya keluargaku sekarang. Dia memiliki penyakit yang sudah tak bisa disembuhkan karena usianya yang tak lagi muda. Satu harapanya Bella, dia ingin melihatku berkeluarga."
"Ta... tapi kenapa tidak mencari wanita lain saja? kenapa aku?"
"Karena aku dan Nenekku sudah jatuh hati padamu." Jawab Robbie begitu singkat tapi sudah mewakili segalanya.
Bella terdiam menunduk, dia baru saja putus dan sekarang ada pria yang mengakui perasaannya di hadapannya dengan cara yang begitu sopan. Kepala Bella seolah menjadi hampa, bahkan dia tak tau harus berkata apa.
"Wajahmu begitu mirip dengan mendiang adikku." Robbie menunjukkan sebuah foto dari galeri ponselnya.
Bella semakin tak percaya dan terbelalak melihat gambar seorang gadis yang mirip dengannya. "Ma .. mana mungkin. Dia adikmu?" Bella menatap teduh Robbie, dia menuntut kebenaran.
"Iya, dia Salsabila. Kami memanggilnya Billa. Nama panggilannya saja hanya beda satu huruf denganmu."
Robbie kemudian kembali berjongkok di hadapan Bella, dia mendongak menatap wajah Bella yang jauh dari kata ayu sebab dia begitu pucat sekarang.
__ADS_1
"Bella, aku mau kita bekerjasama di hadapan Nenek. Berpura-puralah menjadi pacarku. Aku tidak tau kapan hari menyedihkan itu tiba. Tapi jika saja hari itu tiba, aku ingin melihat Nenek bahagia. Bell, bantu aku..." Ucap Robbie yang memohon. Bahkan pria yang belum memakai bajunya itu menitikkan air matanya.
"Bie, jangan menangis begitu." Bella mulai berbicara dengan mata yang berkaca-kaca.
"Bell, kumohon. Aku audah tidak memiliki siapapun saat ini. Hanya Nenek yang aku punya. Aku tidak sanggup jika harus menyesal selama sisa hidupku karena tak bisa mewujudkan harapan terakhirnya." Robbie menangis di hadapan Bella.
Tangan Bella terulur mengusap pundak Robbie. Dia ikut hanyut dalam kesedihan orang yang telah banyak membantunya itu.
"Iya aku mau membantumu Bie. Tapi, aku mohon rahasiakan ini dari Keluargaku. Mereka hanya tau aku disini menuntut ilmu. Aku tidak ingin mereka terbebani pikiran karena aku."
Ya, Robbie tentu paham akan maksud ucapan Bella. Dia lalu menghapus air matanya dan tersenyum. " Iya, aku berjanji akan merahasiakan hal ini, termasuk dari pihak universitas. Hanya kita dan Nenek yang tahu." Ucap Robbie.
"Simpanlah ini dan pakailah jika ada Nenek." Kata Robbie yang kemudian memberikan cincin dan menggenggamkannya di tangan Bella.
Bella mengangguk.
"Apa tidak dingin?" Tanya Bella kemudian untuk mengurai kecanggungan setelah pernyataan perasaan.
"Ah, iya. Lupa pakai baju." Robbie lalu tertawa dan memamerkan jajaran giginya yang putih.
"Mau ke kamar mandi?" Tanya Robbie pada Bella.
"Iya, tapi kamu jangan dekat-dekat. Aku belum menggosok gigi."
"Ha-ha-ha, kukira apa." Sahut Robbie yang kemudian membantu Bella menuju ke kamar mandi.
...~~~...
Di suatu tempat yang berada di belahan bumi lain.
"Haruka, apa kamu benar-benar menyerah untuk mendapatkan Robbie?" Tanya seorang wanita cantik berpakaian seksi pada temannya yang tengah menikmati secangkir coklat panas.
"Menyerah? enak saja! tentu tidak. Meski dia lari kemanapun, aku akan mengejarnya." Jawab Haruka yang merupakan salah satu anak dari kolega bisnis Robbie.
"Kamu benar-benar nekat. Lalu, apakah sudah ada perkembangan?" Tanya Rumi, teman Haruka.
"Ah, aku sampai pusing untuk membuatnya terjerat. Dia begitu sulit di dapatkan." Ucap Haruka.
"Kamu saja yang bergerak lambat. Tinggal berikan saja ini." Rumi menunjukkan sebuah botol yang berisi butiran pil kecil.
Haruka tersenyum senang, dia begitu hapal dengan pil tersebut. "Kenapa tidak bilang dari awal kalau kau ada ini? Tau begini kan, tidak harus pesan." Ucapnya lalu tertawa.
...~~~...
Seharian Robbie bekerja penuh dengan semangat. Dia tersenyum sepanjang hari dan sesekali mengusap-usap cincin yang ada di jari manisnya.
Duh elah, di usap terus biar keluar jin atau bagaimana?
"Genta, antarkan aku pulang. Tapi sebelumnya kita mampir ke rumah sakit." Katanya dengan menatap layar monitor.
__ADS_1
"Iya Pak, siap." Jawab Genta yang kemudian meninggalkan ruangan atasannya.
Selama dalam perjalanan dia hanya mengulum senyumnya dan hal itu mengundang perhatian dari Genta.
" Bos, lagi senang ya?" Tanyanya pada atasannya yang hanya mendapatkan anggukan dan dua alis yang bergerak turun naik.
Genta membawakan tas dan obat Bella, sementara Bella berjalan dengan di papah Robbie.
"Em, apa masih lemas?" Tanya Robbie begitu perhatian.
"Iya, kakiku seperti yupi Bie." Sahut Bella.
"Ha-ha-ha, yupi." Robbie tertawa geli mengingatnya. Sebenarnya Robbie paling anti dengan makanan manis yang bertekstur kenyal seperti permen jelly itu apalagi yang bentuknya seperti cicak atau hewan melata lainnya.
Di sebrang jalan.
"Haruka, coba lihat siapa itu yang bersama Robbie?" Ucap Rumi yang kemudian menunjuk arah dia melihat Robbie.
"Oh, itu rupanya yang di gembar-gemborkan sebagai tunagannya? jelek begitu." Haruka mencibir.
"Lihat saja, kalau aku tidak bisa mendapatkannya, maka orang lain juga tidak." Ucap Haruka memandang tak suka.
" Lalu, kalau kamu mendapatkannya apakah kamu mau membaginya?" Celetuk Rumi tanpa filter.
"Ih, dasar bodoh!!" Haruka memaki temannya yang agak lemot. "Urusan ranjang aja nomor Wahid!" Celetuk Haruka memprotes temannya.
"Hehehehe!" Alih-alih marah, Rumi malah tertawa-tawa di sebelah Haruka yang terbakar api cemburu.
"Besok, pokoknya aku harus bisa membuatnya putus dari pacarnya dan menikahiku. Mana obatmu tadi?" Haruka meminta obat perang**Ng dari Rumi.
"Ini, tapi jangan di habiskan." Kata Rumi.
...~~~...
"Bie, kamu pulanglah. Ini sudah malam." Bella meminta Robbie untuk pulang mengingat waktu sudah malam.
"Bell, malam ini aku menginap disini ya? kamu masih sakit. Kalau terjadi apa-apa bagaimana?"
"Bie, aku sudah bisa kok. Tidak apa-apa.."
"Bella, wajahmu saja masih pucat
Tidak apa-apa ya aku menemanimu disini. Kamu butuh teman kan?" Robbie tidak bisa tenang jika membiarkan Bella seorang diri saat sakit.
"Tapi kamu tidur di kamar tamu yang sempit itu. Tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa, I'm Ok!" Jawab Robbie yang tersenyum senang.
Bella, untuk mendapatkanmu memang harus perlahan-lahan. Andai saja ada cara singkat untuk mendapatkan hati dan dirimu. Gumam Robbie dalam hatinya.
__ADS_1