Lebih Dari Pacar

Lebih Dari Pacar
~ Haruskah?


__ADS_3


...❤️❤️❤️...


Jimmy masih berada dan mendapatkan interogasi dari Bella. Jimmy sungguh di luar dugaan sekali apa yang dilakukannya. Dia pindah kuliah dan menyusul wanitanya dia begitu yakin jika Bella akan jatuh kedalam pelukannya.


Dan di dalam ruangan yang tidak begitu lebar, Jimmy terduduk dan Bella menatapnya jengah.


"Jim, apa tidak bisa kau mencari tempat lain?" Tanya Bella yang sudah begitu sumpek melihat tingkah Jimmy yang menyebalkan.


"Bell, Aku jauh jauh datang kesini buat kamu." Ucap Jimmy.


"Buat aku? apa maksudnya? aku juga ga minta Jim!"


"Bell, Aku udah bilang. Aku mencintaimu. Tidak salah kan, memperjuangkan cinta kita?"


"Cih! cinta kita? Jim, Aku ini pacar Kakakmu! dan aku juga tidak punya perasaan lagi sama kamu!"


Bella memijit pangkal hidungnya, dia tak habis pikir Jimmy bisa sampai sejauh ini menyusulnya.


"Pacar Kakakku ya? Tapi kakakku sebentar lagi juga akan sampai. Dia merasa tertantang dan akan datang kemari juga."


Bella masih tak percaya. Setahunya Rama sedang bertugas dan tak akan boleh pulang kecuali terjadi hal yang sangat darurat atau hal terburuknya Rama di pecat dari kesatuannya.


Tapi apakah iya, Rama yang begitu terobsesi dengan profesinya bisa sampai merelakan begitu saja, demi apa?


"Jim, udah deh ga usah bercanda. Madam, bisa tidak aku mencari tempat lain saja?"


"Kenapa memangnya Bell?" Madam Yuki yang hanya menyimak sepenggal perdebatan mereka itu masih belum begitu tau apa titik sesungguhnya.


"Madam, saya ini perempuan. Saya tidak mau terjadi sesuatu yang tidak di inginkan. Bagaimanapun wanita dan pria bersama dalam satu atap tanpa ada pengawasan itu tidak baik."


Madam Yuki mengangguk.


"Ayolah Bell memang aku mau ngapain? Aku hanya mau mengenyam pendidikan. Sudah itu saja." Jimny kembali berkilah. " Jangan cemberut gitu dong!" Jimmy mentoel dagu Bella yang mengerucutkan bibirnya.


"Ya sudah, kamu sama madam saja. Kebetulan madam juga hanya sendirian di rumah." Kata Madam Yuki.


Bella terdiam merenung, itu juga masih tidak aman. Bella membutuhkan tempat yang jauh, lumayan jauh dari tempatnya sekarang. Jika dulu saja Jimmy bisa melompat ke balkon kamar Bella. Maka tidak menutup kemungkinan, sekarang juga Jimmy bisa melakukan hal serupa.


Ponsel Bella berdering di sela-sela perdebatan. Memunculkan nomor asing yang tak pernah dia lihat sebelumnya.

__ADS_1


"Siapa lagi ini, ga tau orang pusing apa?" Gumamnya kesal tak karuan.


" Halo!" Hanya itu dan nada bicaranya terdengar begitu ketus.


"Huh... , Huh....! Sayang, bagi alamat kamu sekarang!" Terdengar suara dari seberang yang tak asing baginya. Suara Rama. Ya itu suara Rama.


Bella terbelalak, dia menjauhkan ponsel dari telinganya dan mengamati nomor tersebut dan kemudian sesaat menatap Jimmy sebelum akhirnya kembali menempatkan ponsel di telinganya.


"I... iya Hallo?"


"Bagi alamat? memangnya buat apa? Kak aku di jepang. Bukan di Indonesia."


"Iya aku tau sayang. Aku tau..., Tolong cepat bagi alamatmu. Aku kesana sekarang, aku tahu Jimmy sedang membuat masalah kan?"


"Kak....,?" Bella sungguh tak menduga bila Rama sebegitu perhatian padanya.


"Cepat bagikan!" Serunya kembali menyadarkan Bella dari lamunannya.


Bella kemudian mengirimkan alamatnya berada melalui aplikasi berbagi lokasi.


"Apa? Kak Rama sudah sampai di Jepang kan?" Jimmy berbicara sambil memajukan bibirnya beberapa centimeter sudah seperti paruh bebek.


"Ish...!" Bella memutar bola matanya jengah. Dia begitu malas harus berada ditengah-tengah masalah yang rumit begini. Dia tak menyangka jika pilihannya membuka hati bagi Rama justru akan menghadirkan Maslah yang lebih besar dari sebelumnya.


Bukankah tujuannya menjauh adalah untuk lebih fokus pada pendidikannya?


Bukan malah kembali menjadi wasit dalam pertengkaran Kakak beradik seperti ini.


"Bell, Madam tinggal sebentar ya. Ada telepon." Ucap Madam Yuki yang memang ponselnya sudah berdering. Madam Yuki kemudian berjalan keluar rumah untuk menerima panggilan.


Di luar Rumah.


" Pak Robbie, Maaf tapi saya tidak bisa menghandle masalah ini. Masalahnya bertambah runyam dengan datangnya pacar Bella." Kata Madam Yuki yang rupanya tengah melaporkan situasi terkini pada Robbie.


"Apa? bagaimana bisa?" Robbie memekik keras.


"Iya, dari yang saya tangkap Jimmy si anak titipan dari profesor itu, dia adalah adik dari pacar Bella. Pokoknya rumit!" Keluh Madam Yuki.


"Jadi maksudnya adalah Kakak beradik sedang memperebutkan Bella begitu?" Tebak Robbie yang sudah gusar berjalan kesana kemari.


"Haik!" Seru Madam Yuki menjawab dengan yakin.

__ADS_1


Ponsel belum terputus dan masih berbincang. Sosok Rama sudah datang sambil berlari. Rupanya saat bertanya alamat tadi Rama sudah berada dekat dengan alamat Bella sekarang hanya saja asisten dari ayahnya salah menuliskan satu angka nomor rumah.


Rama langsung masuk begitu saja dan tak lama setelahnya terjadi keributan yang sungguh tak disangka.


Terjadi baku hantam yang entah bagaimana ceritanya terjadi begitu brutal. Rama melampiaskan semua kemarahannya. Dia yang merelakan profesinya demi sang pacar harus memergoki sendiri saat pacarnya kembali di cium paksa oleh adiknya sendiri.


"Jimmy!! kamu mau cari mati ya!" Rama memekik lalu meninju begitu saja Jimmy dari belakang setelah menarik Jimmy yang sedang mencium paksa Bella.


" Kak!" Bella memekik ketakutan tapi tubuhnya juga membeku seketika melihat kegiatan adu jotos yang seru tersebut.


"Keterlaluan kamu Jim!!" Maki Rama. "Dasar kurang ajar! Baji**an!!" Lagi Rama terus meneriakkan kata makian dan tangannya tak berhenti sampai Jimny tersungkur dengan nafasnya yang tak teratur.


Bella gemetaran melihat dengan mata kepalanya bagaimana Rama memukuli secara brutal bahkan ketika sudah selesai dengan adiknya, Rama masih saja menendang dan memukul meja di ruang tamu. Bella takut Jimmy akan tamat dengan tragis jika Rama tak berhenti.


"Sudah Kak! dia adikmu! dia bisa mati!!" Bella memekik keras dan madam Yuki masuk dengan tergesa tanpa sempat menutup panggilan telepon selulernya.


"Bella, tenang ya. Tenang. Sebentar ya, aku ambilkan kotak obat." Madam Yuki berlari pergi mengambilkan kotak obat.


Rama mendekati Bella meski dengan nafasnya yang terengah-engah. "Sayang, kamu ga apa-apa kan? Kamu baik-baik saja kan? dia..."


Ucapan Rama terhenti saat Bella langsung memeluknya. Bella masih gemetaran dan kaku dia begitu ketakutan. Sementara Jimmy, dia tergeletak lemas di lantai menatap langit-langit.


"Aku .. aku baik-baik saja." Bella mengangguk beberapa kali, meyakinkan Rama kekasihnya.


Madam Yuki kembali dan mengobati Jimmy, sedangkan Bella mengajak Rama untuk duduk menjauh dari Jimmy lalu mengobati tangannya yang terluka saat menghantam meja dari kayu yang usianya lumayan tua tapi sangat kokoh.


"Aku tak bisa membiarkannya untuk terus berada di sekitarmu." Kata Rama.


Bella berhenti mengusap tangan Jimmy dengan kapas yang dibasahi dengan alkohol pembersih luka. Bella menatap sendu wajah Rama. Firasatnya tak enak akan hal ini.


"Aku sudah memikirkan semuanya matang-matang. Kita tak bisa terus berada dalam lingkaran yang rumit ini. Aku dan adikku mencintaimu, itu tak bagus." Kata Rama dengan tenang. Dia mencoba setenang mungkin saat berbicara meski debaran jantungnya sudah tak karuan.


"Aku merelakan hubungan kita." Kata Rama yang terdengar tegas.


JLEB...!


Begini ya, rasanya di putuskan ketika masih sayang sayangnya?


?


Air mata Bella mengucur begitu saja. Dia meratapi apa yang Rama katakan. Semudah itu cintanya menyerah dan pasrah?

__ADS_1


Apakah ini semua memang pantas berakhir begini?


"Haruskah?" Cetus Bella yang terdengar begitu tak rela.


__ADS_2