Lebih Dari Pacar

Lebih Dari Pacar
12. can I feeling happy?


__ADS_3

...🍃🍃🌻🍃🍃...



...🍃🍃🌻🍃🍃...


...POV Bella...


Kupejamkan mata ini, mencoba tuk melupakan.


Segala kenangan indah tentang kita berdua Jim.


Jim, kau telah banyak berubah. Aku sudah tak mengenali siapa dirimu yang sesungguhnya.


Bermodalkan alasan kau tak bisa tidur sendirian, lalu dengan mudahnya kau melupakan aturan agama.


Kau menyingkirkan segala pantangan yang Tuhan berikan.


Jimmy, tak bisakah kau menjaga kepercayaan ku terhadapmu?


Ku kira dulu selamanya kau tetap akan menjadi lelaki baik.


Tapi..... waktu menjawab semuanya.


Waktu menunjukkan segalanya.


Segala kepahitan dan rasa perih ini.


Jim, aku berjanji mulai detik ini akan kuhapus namamu dari dalam hatiku.


Cukup kita hanya sebagai teman masa kecil dan tak lebih dari itu.


" Jimmy!! I hate you!!" Aku berseru, suaraku menghambur tersebar ke penjuru.


Sesak dadaku, panas telingaku saat mendengar pengakuannya bahwa dia sudah tinggal satu atap bersama wanita lain.


Cinta sepihak ini, selalu saja menyiksaku. Entah sudah berapa kali aku berjanji pada diriku sendiri untuk mengusir dan menghapus satu nama itu dari hatiku. Tapi apa?


Aku.... aku si bodoh ini.


Aku si lemah ini, dengan mudahnya luluh. Dengan mudahnya kembali dalam jeratnya yang berbalut kata sahabat.


Satu-satunya orang yang sangat kubenci di dunia ini adalah aku.


AKU!!!


Aku sangat membenci diriku yang lemah ini.


Aku menangis tersedu-sedu meluapkan kesedihanku dengan berteriak kesal dan memukul-mukul dadaku.


Sesak sungguh sesak.


Rasa perih ini bukan hanya sekali dua kali kudapati.


Rasa sakit ini, rasa sesak ini sudah berulang kali!


Selalu datang lagi dan lagi.


Dalam saat sedih seperti ini, tiba-tiba saja aku mengingat satu nama yang sering membuatku tertawa.


Robbie.

__ADS_1


"Bie? dimana kamu?" Aku bertanya pada foto kami yang ku ambil saat kami bervideo call saat lalu.


Lama sudah tak kudengar kabarnya lagi. Sedari kelulusan nomornya sudah tak bisa kuhubungi.


Aku selalu menantikan dia yang yang akan menghubungiku.


Entahlah, tapi saat bersamanya kurasa hangat suasana kami bercengkrama.


Tidak kudapati hal itu dari siapapun termasuk Jimmy.


"Bie, kau dimana? apa kau sudah lupa denganku?" Aku menggumam berbicara sendirian pada hamparan air yang berada dalam cekungan. Kami menyebutnya dengan waduk buatan.


DERT...!


DERT...!


Ponselku bergetar, aku sudah hampir membulatkan mataku dan melonjak kegirangan. Kukira panggilan dari Robbie, nyatanya dari Bunda.


"Ya Hallo, Bunda?"


"...………………………… "


"Iya, aku akan pulang sebentar lagi."


"……………………………………"


"Iya." Tidak ada pilihan lain aku harus datang.


"Huft!!" Aku membuang nafasku kasar berharap segala beban yang bertumpuk di dadaku musnah begitu saja.


"Acara makan malam ya?" Kataku menggumam sendirian.


Panggilan yang baru ku tutup tadi adalah Panggilan dari bunda yang memberitahukan tentang acara makan malam dengan keluarga Jimmy.


Jika orang lain hanya bisa mencicil rumah sebagus yang kami tepati selama 10 tahun. Maka tidak dengan keluargaku yang bisa mencicil sesuka kami sampai lunas. Mereka bilang tak masalah walaupun harus 50 tahun. Karena, Ibuku dan ayahnya Jimmy bersahabat baik.


Ingin rasanya aku meniru ibuku yang bisa dengan mudahnya menjaga perasaannya terhadap Ayahnya Jimmy meski mereka sudah lama bersama.


Tapi aku?


Aku rapuh? Jimmy..., dia begitu sempurna untuk ku jauhi. Daya pikatnya begitu pekat.


" Ah sudahlah, lebih baik nikmati saja setiap goresan luka yang menganga ini. Kapan lagi aku akan tersakiti?" Aku tertawa menertawai kebodohanku sendiri.


Aku pulang sendirian dari taman. Sekedar menggugurkan pekatnya rasa sakit hatiku. Aku berjalan sambil menendang beberapa batu kerikil dan tak sengaja mengenai seseorang berambut panjang dan mengenakan gaun serba ketat membelit tubuhnya.


Aku rasa anggota tubuhnya itu tersiksa. Ada yang menjerit tercekat, ada yang kedinginan, ada yang tertekan hingga yang lainya mencuat ke permukaan.


Tapi, ku akui.


Wanita itu berparas cantik. Tapi tunggu,, dia... dia Eva?


Oh, astaga dia pacar Jimmy. Dia pasti datang untuk membesuk Jimmy. Atau Jimmy sengaja mengundangnya juga untuk acara makan malam?


Argh...! Apalagi ini? Jim, tak bisakah kau biarkan aku hidup tenang sebentar saja?


Can I feeling happy?


When????


...POV Author...

__ADS_1


Acara makan malam di adakan di rumah Bella. Bella sepulangnya dari taman dia sudah sangat sibuk membantu Bundanya untuk mempersiapkan segala macam menu.


Tapi, karena hatinya yang sedang tak baik-baik saja, membuat Bella melakukan kesalahan sampai menggores jarinya secara tak sengaja dengan pisau.


Sakit sih, tapi tak sesakit hatinya.


Makan malam di mulai dan Bella sengaja turun agak terlambat. Setidaknya, dia mengulur waktu agar tidak terlalu lama menatap pasangan yang berada satu meja di depannya yaitu Jimmy dan Eva.


Ups! dalam meja makan ini hanya Bella yang jomblo.


Ohh Bella yang malang.


"Kemana Bella?" Tanya Bunda suci yang clingukan mencari keberadaan Bella.


"Dia sedang mandi. Tadi dia berpesan agar kita makan duluan." Jawab Bunda Ria.


"Mungkin dia lama karena menghindari ku Bun." Celetuk Jimmy sesuka hatinya.


"Kenapa harus menghindarimu? bukanya katamu dia sahabat terbaikmu sedari kecil? jadi seharusnya kalian melepaskan kerinduan kan? berbincang atau sebagainya." Kata Eva dengan polosnya.


"Ya dia iri, karena aku sudah punya pacar dan dia masih jomblo Va." Sahut Jimmy.


"Eh!! siapa yang iri?" Balas Bella.


" Pacaran apa untungnya pacaran?" Ketus Bella berbicara dengan menarik kursi lalu duduk.


"Lalu kenapa lama? sengaja menghindari ku kan? iri aku sudah punya pacar dan kau belum." Kata Jimmy dengan memandang remeh Bella.


" Iri?" Bella balas memandang remeh Jimmy. " Nih!!" Bella menunjukkan jari tengahnya dengan ujung yang terbalut plester.


"Eh, tidak sopan!" Protes ayah Fauzi memelototi Bella.


"Yah, aku hanya menunjukkan jariku padanya agar dia tau. Aku lama karena harus mengobati jariku!" Bella menjawab Ayah Fauzi.


Ayah Fauzi, Ayah Dandi, Bunda suci dan bunda Ria. mereka semua mengangguk bersamaan. Sementara Jimmy melanjutkan makannya.


"Bagaimana enak kan?" Tanya Bella pada Jimmy dengan kakinya yang sengaja menendang kaki Jimmy hingga Jimmy yang duduk tepat di depannya melihatnya secara intens.


Jimmy melihatnya tanpa ekspresi. " Enaklah jelas, aku memasaknya sepenuh hati Samapi jariku terpotong. mungkin dalam laukmu itu ada campuran dari daging jariku!" Ucap Bella begitu mudahnya.


Astaga!


Berbicara seperti itu saat sedang makan? mungkin bila Bella berbicara lantang maka yang lain akan memuntahkannya dengan segera.


Tapi tidak,


Bella berbicara hanya dengan menggerakkan bibirnya dan tanpa suara diselingi dengan wajah yang sangat menyebalkan meledek Jimny yang asik makan.


Ayo muntah lah. Aku tau kau itu sangat jijik dengan hal begini. Muntah lah, jangan di tahan. Biar mudah aku mengusirmu secara halus dan perlahan.


Agar kau segera pulang dengan pacarmu yang berpakaian kurang bahan ini.


Kau mau aku merasa jijik, lalu muntah dan acara ini kacau kan?


Jangan harap!! lihat ini!!


Bukanya melepehnya atau memuntahkannya, Jimmy malah tambah semangat memasukkan makanan kedalam mulutnya.


Dengan tatapan mata yang mengintimidasi lawannya yaitu Bella. Mereka berdua saling adu pandang dan nyaris melotot.


Pulang sana! Bella mengusir Jimmy melalui tatapan matanya.

__ADS_1


Cih!! tidak akan!! Balas Jimmy yang kemudian kembali melahap makanannya dan membalas tatapan mata Bella tak kalah tajam.


Kedua orang tua mereka hanya bisa menggeleng dan menghela nafasnya dalam-dalam.


__ADS_2